
Duduk berdua, di balkon. Menatap langit tanpa bintang, hanya bulan sabit yang menerangi cahaya malam. Embusan angin malam seakan tak membuat dua insan kedinginan, saling memeluk dan saling memberi kekuatan.
Yasmin begitu lelah, lelah batin dan juga tenaga. Lelah dengan semuanya, apa yang menimpa dirinya selalu saja terus-menerus tanpa henti. Seandainya ia tidak memiliki hati yang kuat, mungkin, Dirinya pasti akan memilih jalan buntu. Seperti, bunuh diri. jalan satu-satunya ia ingin hidup damai di alam lain.
Tapi Yasmin sadar bila itu bukan solusi yang baik. Meninggalkan sendiri ibunya di saat keadaan seperti ini, Arwah yasmin pasti tidak akan tenang dan pastinya akan ada penyesalan yang tiada henti walaupun sudah berpindah alam.
Ah.. Membayangkan itu semua membuat Yasmin mendesah dan kembali memeluk erat lelaki di sampingnya.
" Kenapa?" Tanya Aiman lembut, membelai rambut Yasmin dan menatap wajah manis kekasihnya.
" Enggak apa-apa kak? Cuma capek aja." Jawab Yasmin.
" Kalau capek gak usah kerja."
" Mana bisa, aku baru tiga hari kerja. masak minta libur? Apa lagi kerjaku setengah hari saja." Jawab Yasmin.
Menolak usulan kekasihnya, Baru tiga hari dirinya bekerja dan meminta ijin libur membuatnya akan di cap sebagai karyawan tak teladan dan memanfaatkan kebaikan orang tua Lintang yang sudah memberikan dirinya pekerjaan.
Ia tidak ingin di mungsuhi teman kerjanya, ia hanya ingin damai dan tenang dalam bekerja. Apa lagi saat mengingat Ibunya Lintang menawarkan pekerjaan untuk menunggu tempat kasir saja. Yasmin menolak, karna itu sudah ada yang menempati karyawan lama dan ia meminta pada ibu Lintang untuk memberikan pekerjaan seperti yang lainnya saja.
Ia lebih suka menyibukkan diri dan juga membantu yang lain. Karna itu tidak akan terasa waktu jam bekerja hingga menunjukkan waktu pulang.
" Kamu gak perlu kerja lagi dek? Cukup di rumah saja, belajar dan merawat ibu kamu." Kata Aiman. Membuat Yasmin melepas pelukannya dan mengerutkan kening menatap Aiman.
" Maksud kakak? Aku gak boleh kerja lagi gitu?" Tanya Yasmin, Aiman mengangguk.
" Kalau aku gak kerja, bagaimana aku, mama sama bibik makan. terus bayar sekolah, bayar listrik rumah dan bayar pengobatan mama. Uang gajiku juga gak akan cukup untuk satu bulan? Aku harus cari kerja sampingan lagi, kalau aku ingin milih... Aku ingin putus sekolah saja." Jawab panjang Yasmin, merinci seluruh pengeluaran hidup.
Ya, Yasmin mengakui. Uang gajinya tak akan mungkin cukup untuk kebutuhan rumah dan juga perawatan mamanya. Gaji sebagai pelayan toko roti tidaklah besar, apa lagi kerja Yasmin setengah hari. Mungkin akan setengahnya saja. Hingga itu Yasmin memutar otak, bagaimana ia harus mencari pekerjaan tambahan.
Aiman mengubah posisi duduknya. Lebih menghadap Yasmin, matanya memerah dan berembun. Ia melihat jelas, Yasmin sangat tertekan dan juga berusaha untuk tegar.
Aiman, menangkup ke dua pipi Yasmin. mengusapnya dengan lembut.
" Mulai sekarang kamu gak perlu kerja lagi. Aku akan menanggung semua kebutuhan kamu dan ibu kamu." Kata Aiman, mengambil dompet di atas meja, mengambil dua kartu debit dan kredit menyodorkannya pada Yasmin.
" Ini buat adek." Kata Aiman. " Besok jangan bekerja ya, tetap sekolah dan rawat ibu saja. Aku enggak ingin kamu capek." Imbuhnya, dengan wajah khawatir.
tapi Yasmin justru mengartikannya sebagai tatapan kasihan, hingga membuat hati kecilnya mencoles marah.
" Terima kasih kak.. Tapi aku enggak ingin ngerepotin kakak." Kata Yasmin, menolak dua kartu Aiman.
" Yas?"
" Aku tau kakak kasihan sama aku.. Tapi bukan begini caranya, Seakan aku seperti memanfaatkan pacarku saja yang kaya. Aku masih kuat, masih bi-,"
" Bukan begitu Yas!" Sela Aiman. menaruh kartu atm di meja dan meraih ke dua tangan Yasmin untuk di genggamnya.
" Aku tau kamu kuat, aku juga tau kamu lelah. Tapi apa salahnya yas... Aku bantu pacar aku sendiri. Ini rasa khawatirku, bukan rasa kasihan." Imbuhnya. Menatap manik hitam Yasmin yang mengembun.
" Apa ini bisa di bilang sugar daddy! Agar kita bisa saling menguntungkan!" Kata Yasmin, membuat Aiman menajamkan mata.
" Yasmin!" Geram Aiman.
Dari mana kekasihnya ini begitu tau tentang kata sugar daddy. Dan kenapa juga Yasmin menganggapnya seperti itu, iya tulus membantunya tanpa harus meminta imbalan seperti para gadis yang menyerahkan keperawanannya dan juga kenikmatan di atas ranjang. Ia tidak bisa membayangkan itu, apa lagi bila Yasmin bersama orang lain.
" Kalau kakak gak mau... Maaf, aku juga gak akan bisa menerima itu!" Tolak Yasmin lagi. Melepas tangannya dari Aiman dan berdiri dari duduknya.
" Aku capek, besok juga sekolah. Aku ke kamar dulu, mau tidur. Selamat malam." Pamit Yasmin, berjalan meninggalkan Aiman di teras balkon dan masuk ke dalam kamarnya tanpa mempedulikan Aiman yang berdiri menatapnya.
Menutup pintu kamar dan menyandarkan punggungnya menutup mata tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja.
Sungguh ia tidak ingin di kasihani, apa lagi melihat tatapan Aiman. Seperti dirinya menjadi beban saja bagi Aiman dan juga seperti pacar yang menyusahkannya dirinya. Padahal ia tidak pernah meminta apapun padanya. Ya, meskipun terkadang hanya mengeluh saja. Ia benci di kasihani dan ia benci dengan tatapan itu.
Aiman menghembuskan nafas kasar, Yasmin salah mengartikan tatapan. Aiman sungguh khawatir dan ingin membantu kekasihnya tanpa meminta imbalan.
Aiman berdiri, mengambil dompet dan juga ponselnya. Meninggalkan dua kartu atm di atas meja, saat ia akan turun tangga. Ia menatap lama pintu kamar Yasmin, hanya bisa menatap tanpa mau mengetuk.
" Bik.. jangan kunci pintunya dulu. Saya mau pulang." Cegah Aiman, melihat Bik Imah yang akan mengunci pintu rumah.
" Gak jadi nginap di sini mas?" Tanya Bik Imah.
" Enggak bik, saya ada urusan." Jawab Aiman.
Niat Aiman memang ingin menginap di rumah Yasmin untuk pertama kalinya. Karna memang sudah malam dan juga ingin menghabiskan waktu berdua dengan kekasihnya. Tapi karna perkataan Yasmin dan juga saling berdebat, lebih baik Aiman pulang menjernihkan pikiran yang kacau.
" Oh.. iya Mas, hati-hati di jalan." Ucap Bik Imah, membuka pintu dan juga pagar rumah untuk Aiman mengeluarkan mobilnya dari garasi.
" Bik?" Panggil Aiman membuka pintu kaca mobil.
" Iya mas?" Jawab Bik Imah kala mendekat.
" Ini uang belanja untuk kebutuhan rumah, kalau sudah habis tolong kabari saya bik." Kata Aiman, memberikan uang sepuluh lembar uang merah di dalam dompetnya.
Bik Imah sedikit ragu untuk mengambil uang Aiman. " Ambil Bik.. dan jangan bilang pada Yasmin." Paksa Aiman, dan sedikit mengancam pada Bik Imah untuk tidak memberi taukan Yasmin.
Bik imah mengambilnya dan mengangguk patuh pada Aiman. Mungkin Bik Imah juga mengerti kenapa Aiman tidak boleh memberitaukan Yasmin, karna Yasmin adalah gadis tidak suka di kasihani. Itu sebabnya Aiman bekerja sama dengan Bik Imah.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃