Our Story

Our Story
Fakta



Sesuai perintah Papa angkatnya, Lintang menunggu Mamanya di ruang igd. Menghapus sisa-sisa air mata saat ia merasakan dering ponsel bergetar di saku sekolahnya.


Tina.


Ah.. Ia sampai melupakan obat Ferdi. Lintang mengangkat telpon dan meminta Tina untuk turun ke tempat ruang penebusan obat. Ia sudah membayarnya tapi belum juga mengambil obatnya.


Mengakhiri telponnya. Suami baru mamanya datang menghampirinya, mengatakan bila semuanya sudah selesai dan mamanya akan segera di pindahkan. Lintang mengangguk dan kembali memegang tangan mamanya.


Tangan yang di mana dulunya selalu memberikan kasih sayang, memberikan perhatian lebih. Mengusap, memijat dan juga menyuapinya makan, kini terasa sangat rapuh dan lemah.


Dua perawat datang, mendorong brankar mamanya menuju ke ruang rawat icu untuk mendapatkan penanganan lebih karna mamanya belum juga sadarkan diri.


Lintang dan Roy berjalan mengikuti perawat dan berhenti di depan ruang yang belum bisa di jenguk. Lintang dan Roy hanya bisa melihatnya dari jendela kaca putih, memperhatikan bagaimana dua perawat itu memasangkan alat-alat jantung serta selang hidung pada Rosa.


Sungguh menyedihkan, air mata Roy dan Lintang jatuh begitu saja menatap Rosa yang tak berdaya. Roy segera menghapus air matanya, ia tidak ingin anak sambungnya melihat dirinya menangis dan mengatakan bila itu sandiwaranya saja hanya untuk mengambil hatinya.


Tidak.


Ia tidak ingin anak tirinya berprasangka buruk padanya. Seperti ini saja, rasanya ia sangat malu. Menyembunyikan penyakit serius Rosa pada anaknya, karna permintaan konyal Istrinya sendiri yang tidak ingin anaknya tau tentang penyakitnya.


" Bapak dan adik bisa bergantian masuk ke dalam bila ingin melihat ibu Rosa." Kata perawat setelah selesai dengan semua peralatan medis di tubuh Rosa.


" Makasih Sus." Ucap Roy, dan Lintang mengangguk.


" Kamu bisa masuk ke dalam dulu, menemui mama kamu." Kata Roy, menatap putri sambungnya yang masih menatap lekat istrinya dari jendela kaca.


Lintang menoleh ke belakang, mata berembun sedikit tersenyum dan mengangguk mendengar perintah suami baru mamanya.


Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Lintang memakai baju pengunjung rumah sakit dan masuk dengan pelan menuju ranjang berbaring mamanya di sana. Duduk di kursi samping rosa, memegang tangan mamanya yang terdapat selang infus menancap di sana.


" Ini pasti sakit kan ma?" Mengusap-usap punggung tangan mamanya.


" Maafin aku ma, maaf, bila selama kita bertemu aku menghindar dari mama. Maafin aku, sudah buat mama menangis waktu itu. Maafin aku yang egois ingin di mengerti. Hatiku masih sakit? Sakit melihat ke dua orang tuaku berpisah dan pergi meninggalkan aku sendiri. Mama pasti mengerti, bagaimana perasaanku saat itu. Sampai saat ini pun aku belum bisa melupakannya, aku sendiri ma, Aku berjuang sendiri? Aku lelah. Aku frustasi hampir ingin bunuh diri bila aku tidak mempunyai akal dan hati yang kuat. Itu semua karna perceraian mama dan ayah, membuatku menjadi seperti ini, anak nakal." Kata Lintang, bercerita sambil menangis.


Mengingat perjuangannya sendiri di dunia yang kejam tanpa pendamping. Hampir bunuh diri, bila dirinya tidak begitu ingat akan neneknya. Perceraian ke dua orang tuanya lebih dari menyakitkan, dunianya hancur. Dunia anak-anaknya tidak ada lagi, di dewasakan dengan keadaan yang sangat sulit sekali baginya untuk berjuang. tanpa adanya dukungan.


Percerain ke dua orang tua, sangat berdampak bagi jiwa anak-anak. Apa lagi tidak ada pengertian dari ke dua orang tuanya, semakin membuat anak merasa tidak di hargai lagi. Dan itu termasuk ada pada Lintang.


" Cepat bangun ma, Mama harus berjuang sembuh untuk aku. Aku tidak ingin sendiri lagi." Lintang memeluk perut mamanya, menangis kesegukan.


Ia tidak sanggup bila melihat salah satu dari orang tuanya harus pergi untuk selama-lamanya. Tidak apa-apa mereka berpisah, asal mereka masih bisa di lihat dan di peluk. Tapi bila sudah beda alam, itu lain cerita dan membuatnya semakin sendirian dalam kesepian.


" Aku ke depan dulu ya ma, suami mama mingkin juga ingin melihat mama. Om itu baik, Lintang suka dengan pilihan mama." Pamit Lintang, tersenyum mengusap tangan mamanya. Bangkit dari duduknya, mencium kening ibunya cukup lama dan mengusap pipi tirus Rosa sebelum melangkah keluar bergantian dengan suami baru mamanya.


Suara derit pintu membuat Roy kembali cepat-cepat menghapus air mata dan juga menutup galeri ponselnya. Roy menangis, melihat foto-foto bersama dengan Rosa. Dimana tiga tahun lebih ia bisa merasakan cinta kembali dan seperti harus merelakan kembali cintanya pergi untuk selama-lamanya.


Apa takdirnya seperti ini? Di tinggalkan mendiang istri pertama dan juga anaknya yang sudah berbeda alam dengannya. Dan kembali lagi akan di tinggalkan Rosa yang sudah mengisi kekosongan hatinya selama tujuh tahun ia berjuang melupakan kenangan pahit yang menghantuinya.


Hanya Rosa yang bisa menyembuhkan hatinya, mengisi hatinya dan juga memberikan warna baru untuknya selama ini. Tidak peduli penyakit Rosa, tidak peduli seberapa biaya yang setiap bulan ia keluarkan untuk Rosa kemoterapi di rumah sakit. Karna sejatinya, cinta bisa membuat dirinya buta meskipun wanita itu mempunyai penyakit.


" Kamu sudah selesai?" Tanya Roy, berdiri menghampiri putri sambungnya.


Lintang mengangguk tersenyum tipis. " Om mau menemui mama?" Tanya Lintang.


Roy menoleh sekilas ke arah Rosa, ingin sekali menemuinya tapi ia tidak bisa. Bila ia menemuinya, ia akan menangis di samping tubuh lemah istrinya dan Ia tidak ingin anak Rosa tau itu.


" Nanti saja." Jawab Roy. " Minum dulu, om sudah beli minuman buat kamu." Ujarnya, sambil mata menunjuk kursi penunggu.


Roy dan Lintang duduk, Lintang menerima botol air mineral dan meminumnya hingga setengah.


" Kamu kenapa bisa ada di sini?" Tanya Roy.


" Aku sedang menjenguk temanku yang di rawat di sini."


Roy mengangguk, kembali mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


" Sejak kapan mama punya penyakit ini Om." Tanya Lintang.


" Satu tahun, sebelum mama kamu bercerai dengan ayah kamu." Jawab Roy.


Rosa pernah menceritakan semuanya sebelum mereka menikah. Bagaimana dan kenapa Rosa memilih bercerai dari suaminya dulu yang tidak pernah sekali mantan suaminya itu kasar padanya.


Bukan tidak cinta, justru merelakan cinta demi kebaikan suami dan anaknya. Tapi malah semakin membuat mantan suami dan anaknya membencinya.


" Sebab itu mama menggugat cerai ayah. Dan ayah juga tidak tau apa alasannya?" Lirih Lintang.


Ingatan-ingatannya kembali seperti dulu. Di mana ayahnya begitu kesal, kecewa dan marah pada mamanya yang menggugat cerai tanpa alasan yang logis. Ayahnya begitu marah, percecokan antara ayah dan mamanya tidak pernah ia dengar atau lihat di dalam rumah. Untuk pertama kali, suara ayahnya meninggi dan juga untuk pertama kali ayahnya menampar mamanya. Untuk pertama kali juga ayahnya menyesal telah menampar mamanya.


Tidak ada keharmonisan lagi dalam rumahnya Dulu. Tidak ada lagi canda tawa dari dalam rumah, rumahnya penuh dengan pertengkaran dari ayah dan mamanya hingga ayah sudah merasa lelah di titik terendah. Dan sepakat untuk bercerai, meskipun tidak tau apa penyebabnya mereka bercerai.


Kini Lintang tau, kenapa mamanya begitu keras ingin bercerai. Mamanya tidak ingin anak dan suaminya terbebani dengan penyakitnya.