
Flas back.
" Lintang?" Panggil lembut suara wanita yang telah melahirkannya dan mencampakkan dirinya sendiri saat masih membutuhkan kasih sayang.
Lintang yang saat itu sedang bermain monopolly bersama Abbas dan Ali di ruang tamu sore hari. dua anak remaja dan satu anak kecil terdiam, menoleh ke sumber suara yang memanggil nama Lintang. Lintang menatap tajam wanita yang melahirkannya datang sendiri ke rumah bundanya.
Lintang berdiri, Abbas dan Ali juga ikut berdiri. Abbas tau siapa wanita yang bertamu di rumahnya saat suasana dalam rumah begitu ceria dengan mereka yang asyik tertawa bermain monopolly dan kini kembali tegang dengan kehadiran ibu kandung Lintang tanpa di undang. Rumah akan kembali memanas dan akan terjadinya drama menangis lagi.
" Lintang?" Panggilnya kembali dengan lembut dan mata berkaca-kaca.
Lintang tidak menjawab. Justru menatap adik bungsunya. " Ali, tolong panggilkan bunda... Bilang ada tamu dek." Perintah Lintang, Ali mengangguk dan berlari cepat menuju Bunda dan Ayahnya yang sedang berada di ruang makan.
Ayah dan Bundanya yang juga sempat ikut bermain dengan mereka. Ayahnya yang kalah dan menyerah lebih dulu sebelum mendapatkan coretan spidol kembali dari anak-anaknya berdalil lapar, meminta istrinya untuk menemaninya ke ruang makan.
Sore itu benar-benar hangat dan terasa seperti keluarga harmonis tanpa adanya gangguan. Hanya ada suara canda tawa menghiasi bibir mereka. Dinding ruang tamu menjadi saksi pertama, anak dan Ayah tidak ada perdebatan saling melempar canda dan tertawa.
" Silahkan masuk tante." Ramah Abbas, mempersilahkan tamu di sore harinya masuk ke dalam rumah.
Lintang beranjak dan menjauh dari wanita yang kini menginjakkan kakinya ke dalam rumah bundanya.
" Silahkan duduk tante." Kata Abbas lagi.
Ibu Lintang Hanya mengangguk tersenyun, tapi tak kunjung juga duduk di sofa. Wanita itu masih setia berdiri, dan menatap Lintang dengan senyum hangat. Wajah Lintang terdapat coretan spidol di dua pipi wanita itu.
Bukan hanya Lintang saja, beralih melihat Abbas. remaja itu juga terdapat coretan, tapi tidak sebanyak Lintang. Rosa, Ibu Lintang, tersenyum bahagia melihatnya. Putrinya begitu akrab dengan dua adik tirinya.
" Siapa Mas Abbas?" Tanya Saskia dari dalam berjalan sedikit cepat sambil merapikan jilbabnya.
Abbas menoleh ke belakang. Tapi ia tidak tidak mau menjawab, hanya sedikit menggeserkan tubuhnya agar bundanya bisa melihat sendiri siapa tamu di sore hari itu. Yang pastinya akan membuat mood Lintang kembali seperti dulu.
Saskia menegakkan kepala, tatapan tertuju tepat dengan wanita cantik tapi terlihat pucat. Dan Saskia sedikit terkejut melihatnya.
" Mbak Rosa?" Lirih Saskia, membuat Rosa tersenyum mengangguk.
Saskia melirik putri sambungnya, tatapannya kembali datar. Tidak ada guratan keceriaan seperti tadi sebelum ibu kandungnya datang. Dan Saskia bisa menebak, bila hati Lintanh jelas kembali marah.
" Mbak Lintang!! Ayah hapus kumisnya!!" Seru Ali, berlari ke arah Lintang memberitahukan bila ayahnya berusaha untuk menghapus kumis yang di buat Lintang karena ayah sambungnya kalah dalam bermain.
Teguh tersenyum menggelengkan kepala, berjalan kembali ke ruang tamu untuk menemui anak-anaknya dan juga melihat siapa tamu di sore hari.
" Ayah curang mbak.. Masak Ayah minta bunda bantuin bersihkan kumisnya! Kan gak boleh.. Permainannya belum selesai juga." Adu Ali pada Lintang tepat di hadapan Lintang dan Rosa yang mendengarnya.
" Ayah kan sudah enggak ikut lagi... Mangkanya minta tolong bunda bersihin." Kata teguh belum sadar akan siapa tamu di rumahnya sekarang.
" Ya tapi kan itu enggak ad-,"
" Ali?" Sela Saskia, membuat Ali menoleh.
" Ada tamu dek.. Gak boleh keras-keras ngomongnya." Tegurnya membuat Ali meringis dan menutup bibirnya.
Kini Teguh beralih menatap tamu, matanya sama seperti Lintang di awal. Begitu tajam melihatnya, dan wajahnya begitu kaku serta rahangnya sedikit mengeras. Menunjukkan rasa tidak sukanya pada tamu di sore harinya.
" Mas?" Sapa Rosa tersenyum.
Ada rasa sesak saat ia bisa melihat kedekatan Teguh bersama anak-anak sambungnya dan juga Lintang yang sangat terlihat bahagia sebelum kedatangan. Di atas bibir mantan suaminya, masih terdapat coretan spidol yang setengah terhapus. Itu bertanda benar, bila keluarga ini bermain menyenangkan di sore hari.
Rosa kesepian, di dalam rumah tidak ada suara tawa anak-anak. Hanya dirinya saja bercanda dengan suaminya, dan suaminya selalu menghiburnya kala ia merindukan putrinya.
Bisakah ia bermain dengan putrinya? Memanjakan putrinya seperti dulu, tidur memeluk putrinya seperti dulu dan berbagi cerita setiap hari saat menjelang tidur. Rosa merindukan itu semua.
Memikirkan itu semua entah kenapa tiba-tiba membuat bayangan kepalanya berputar-putar, menutup mata rapat mencoba menghilangkan rasa nyeri di kepala tanpa terasa hidung mengalir darah segar hingga mereka yang melihat terkejut. Tubuh Rosa terhuyung ke belakang dan hampir jatuh bila tidak ada orang yang dengan cepat menahan tubuhnya.
" Mbak Rosa!"
" Rosa!"
" Tante!"
Teriak bersamaan, Saskia, Teguh dan Abbas. Lintang tercekat iya ingin menolong, tapi tubuh seolah tertahan di tempatnya.
" Sayang?" Panggil lelaki yang menahan tubuhnya dari belakang. Suami Rosa, Roy.
" Duduk dulu mbak." Kata Saskia khawatir. Roy mengangguk, membawa tubuh Rosa untuk di dudukkan di sofa.
" Abbas tolong ambilkan tissu nak?" Perintah Saskia pada Abbas. Abbas mengangguk dengan cepat mengambil tissu di ruanv tv dan kembali memberikan pada Roy.
Roy dengan berhati-hati membersihkan hidung istrinya yang mengeluarkan darah, Rossa hanya bisa memejamkan mata, menyandarkan kepala di bahu suaminya. Tubuhnya mulai panas dan bibirnya mulai meracau.
" Lintang.. Mama kangen nak, Mama kangen Lintang." Lirih Rosa, masih terdengar oleh mereka.
" Maaf, Saya harus membawa rosa ke rumah sakit. Sekali lagi, maaf sudah mengganggu waktu kalian." Ucap Roy, menatap Teguh dan Saskia.
Roy mengangkat tubuh kurus Rosa, terlihat jelas wajah begitu khawatir.
" Tunggu!" Cegah Teguh.
" Saya tidak ada waktu untuk menjelaskan, saya harus membawa istrinya secepatnya! Saya enggak ingin kehilangan istri saya." Potong Roy cepat, berjalan tergesa-gesa keluar rumah membawa Rosa dalam dekapannya.
Teguh mengerutkan kening, Apa maksud dari perkataan Suami mantan istrinya, Begitu pula dengan Lintang.
Ibunya tiba-tiba saja mimisan, wajahnya juga terlihat pucat dan baru menyadari bila tubuh ibunya juga kurus. Wajah suami baru ibunya juga terlihat sangat khawatir, matanya pun juga terlihat sangat memerah saat menggendong ibunya tadi. Dan ucapan terakhir membuat hatinya berdebar.
Tidak ingin kehilangan istrinya?
Apa ibunya sakit. Apa ibunya memiliki penyakit yang serius, Apa sebegitu seriusnya hingga suami ibunya mengatakan hal seperti itu.
Tanpa terasa Air mata Lintang menetes membasahi pipinya. Untuk pertama kali Lintang menangis di hadapan Bunda dan Ayahnya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃