
" Kamu dirikan rumah singgah ini sendiri? Kamu juga yang membiayai mereka semua setiap bulannya?" Ucap Galuh.
" Iya." Jawab Lintang mengangguk tersenyum.
Yasmin, Bimo dan Galuh. Merasa takjub dengan Lintang, mendirikan rumah dan memberikan kebutuhan setiap harinya pada rumah singgah di huni oleh tujuh anak-anak yang belum terlalu dewasa.
" Orang tua kamu tau Lin?" Tanya Bimo.
" Enggak, keluargaku enggak tau soal rumah singgah. Cuma kalian yang aku beritahu." Jawab Lintang. membuka bungkusan plastik mengeluarkan semua cemilannya.
dan ada satu lagi yang sudah tau tentang rumah singgah sebelum sahabatnya.
" Terus kamu bisa memenuhi kebutuhan mereka dari mana? Uang jajan kamu banyak ya, dari ayah kamu!" Kata Yasmin.
" Uang jajanku cuma lima puluh ribu sehari. Mana cukup buat kebutuhan anak singgah tiap hari?" Kata Lintang, membuat semua temannya kembali memicingkan mata.
" Terus! kamu kok bisa memenuhi kebutuhan mereka?" Ucap Bimo, penasaran.
Bila Lintang hanya mendapatkan uang jajan sama rata seperti dirinya setiap hari. Lantas bagaimana Lintang bisa menghidupi tujuh anak rumah singgah itu dengan baik tanpa kekurangan apapun.
Yasmin mengerutkan kening, mengingat bagaimana saat Lintang bisa membuka gembong pagar hanya dengan kawat. Dan seperti keahliannya sebagai pencuri.
" Kamu mencuri Lin! Buat menghidupi kebutuhan mereka!" Tuduh Yasmin, membuat Lintang dengan cepat melempar cemilan kacang ke arahnya.
" Sembarangan kalau ngomong!" Sungut Lintang.
" Habisnya aku lihat kamu tadi buka gembok pagar dengan kawat mudah banget! Kayak ahli pencuri tau!" Seru Yasmin, melipat bibirnya ke atas.
Bimo dan Galuh sedikit terkejut mendengarnya, gembok pagar yang sudah terbuka itu bukan kelalaian dari penjaga sekolah. Melainkan Lintang membukanya dengan cerdas.
" Aku coba-coba, liat di film juga ada yang gitu! Pakek penjepit rambut lagi. Mana punya aku jepit rambut." Jawab Lintang.
Membuat Yasmin memagut-magut mengerti. Ya, ternyata film ada sebagian memberi pelajaran bagus dan bisa di contoh. Meskipun gak sepenuhnya.
" Terus! Dapat uang dari mana. Ada donatur tiap bulan?" Kata Galuh, masih penasaran akan Lintang dan rumah singgah.
" Aku kerja." Jawab Lintang. " Di sini enggak ada Donatur tetap! Kalau mau ngasih, ya ngasih saja seiklasnya sama mereka. Apapun mereka terima, asal itu berguna dan bisa mengeyangkan." Imbuhnya lagi.
" Kamu kerja! Kerja apa. Perasaan aku lihat kamu nyantai-nyantai saja. Pulang sekolah ya pulang. gak kemana-mana." Cetus Bimo, Yasmin dan Galuh, mengangguk angguk, merasa benar perkataan Bimo hingga membuat Lintang berdecak sebal.
" Karjaku nguras otak bukan nguras otot." Sebal Lintang.
" Kerja apa? Judi online?" Ulang Galuh.
" Itu bukan kerja bod*h!" Seru Yasmin. memukul lengan Galuh, hingga yang punya lengan meringis.
" Pokoknya kerja halal, bukan situs p*rno. Apa lagi j*di online gak banget lah!" Timpal Lintang. " Udah deh... Kenapa bahasnya tentang aku sih.. Yang lainlah. Nonton apa nobar kek!" Sebal Lintang. Dirinya di sidang begitu dalam hingga akar-akarnya.
Lintang berdiri dari duduknya, berjalan masuk ke dalam, membuka kamarnya dan kembali lagi ke ruang tamu dengan membawa laptop di tangannya, menaruhnya di tengah-tengah mereka bertiga.
" Nonton Yas? Ada film baru nih.. masih on going." Kata Lintang, membuka laptop dan mencari-cari film korea terbaru.
" Wah.. Oke-oke." Senang Yasmin, menggeser duduknya merapat ke Lintang. Ternyata dua gadis ini sama sukanya dengan film korea.
Bimo dan Galuh berdecak sebal. Saling menatap dan mengedikkan bahu.
" Mabar!"
" Oke." Sahut Galuh, mengambil ponsel dan mulai bermain game online bersama Bimo.
Empat remaja asik sendiri, saling menikmati permainan dan nonton hingga siang hari. Hingga tak terasa cemilan sebegitu banyaknya habis.
Bimo mencampakkan ponselnya, merebahkan tubuh telantang dan mendesah pelan sambil menatap dua gadis yang masih menikmati nontonnya.
" Lapar nich!" Seru Bimo, Galuh mendenger dan juga ikut mencampakkan ponselnya.
" Astaga!! Aku lupa." Ucap Lintang, melihat jam dinding menunjuk di angka satu siang. Dan berdiri dari duduknya, berjalan ke belakang untuk memastikan sesuatu.
Yasmin, Bimo dan Galuh saling menatap, saling mengedikkan bahu dan juga ikut beranjak mengekori Lintang dalam rumah.
Lintang membuka salah satu kamar yang tak tertutup rapat. Melihat ke arahnya dengan menghembuskan nafas pelan. Menatapnya dengan rasa bersalah.
" Kenapa?" Tanya Yasmin, juga ikut melihat ke dalam kamar.
" Aku lupa kalau mereka belum makan siang. Sekarang mereka tidur." Gumam Lintang.
membuka pintu kamar lebih lebar dan mematikan tv menyala, serta membersihkan sisa cemilan berserakan di lantai bersama Yasmin. Galuh dan Bimo, memindahkan anak-anak yang tidur terlelap ke atas kasur tanpa ranjang.
" Aku mau masakin mereka makan dulu. Kalian terusin aja nonton." Kata Lintang.
" Enggak Ah.. Bosen. Aku bantuin kamu saja." Ucap Yasmin.
" Cari makan di luar saja. Sekalian buat anak-anak.., Masaknya nanti sorean." Usul Bimo.
" Iya.. Mending gitu, kalau nunggu kamu selesai masak lama. Bukannya makan siang malah makan sore." Imbuh Galuh, setuju dengan saran Bimo.
" Masalah uang tenang saja... Kali ini aku sama Bimo yang traktir." Galuh tersenyum bangga. Sedangkan Bimo yang awal senang kini malah melebarkan mata, mendengar namanya juga terseret.
" Aku setuju!" Seru Yasmin. " Ya sudah sana cepat kalian cari makan. Aku sama Lintang nunggu di rumah saja. Kasihan kalau nanti anak-anak sudah bangun gak lihat kita, apa lagi makanan gak ada."
" Ya sudah, Ayo Bim?" Rangkul Galuh, membawa Bimo keluar dari rumah untuk mencari makanan buat dirinya dan anak-anak singgah.
" Anj*ng loh!" Umpat Bimo, melepaskan rangkulan Galuh yang tertawa karna umpatannya.
Bukan marah karna mengeluarkan uang buat anak-anak singgah, tapi marah karna Galuh ternyata mengajaknya patungan buat beli makanan. Dan tau bila Galuh sedang ingin memerasnya.
" Biarin saja Galuh sama Bimo ngluarin uang. Kan mereka keluarganya kaya." Senyum Yasmin, membuat Lintang menggelengkan kepala.
" Ya sudah ayo, kita siapin makanan buat anak-anak nanti malam sebelum kita pulang." Kata Yasmin, senang bila membantu Lintang dan juga anak rumah singgah. Lintang hanya bisa mengangguk dan berjalan terlebih dulu menuju dapur dan membuka pintu belakang yang di sambut langsung dengan luasnya belakang rumah tanpa pagar pembatas.
Terdapat pohon jambu air, di bawahnya terdapat ranjang anyaman biasa anak-anak singgah bermain dan duduk-duduk di sana.
" Aku lama-lama betah di sini." Cetus Yasmin berdiri di samping pintu dan menatap belakang rumah.
" Kalau betah tiap hari atau seminggu sekali ke sini gak apa-apa. Anak-anak pasti juga senang." Jawab Lintang mengeluarkan beberapa sayur di dalam kulkas.
" Anak-anak bisa masak?" Tanya Yasmin.
" Biasanya Tina yang masak, di bantu mila sama Ferdi. Tapi tumben sekali Tina sama Ferdi belum pulang."
" Memang Tina sama Ferdi kemana? Aku kok gak liat mereka sama sekali."
" Tina ijin bantu tetangga katanya ada pesanan kue banyak. Kalau Ferdi, sekarang sudah dapat kerjaan, cuci mobil." Jawab Lintang. Membuat Yasmin mengangguk lagi dan membantu Lintang yang mulai memotong sayuran.
Ya, Ferdi anak laki-laki paling tua di rumah singgah setelah Tina. Ferdi memang berniat mencari kerjaan, tak mungkin terus-menerus di rumah sedangkan Lintang yang memenuhi kebutuhannya dan anak-anak singgah. Kue-kue buatan Tina dan anak-anak singgah juga sepenuhnya berjalan lancar. Dengan niat baik dan ingin membantu meringankan Lintang. Ferdi bekerja dan Lintang juga tidak bisa melarangnya. Karna memang suatu saat nanti Ferdi akan menikah dan juga harus menjadi lelaki yang bertanggung jawab.
*Mungkin ini contoh awal yang baik.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃*