
Dunia itu kejam, sekejam lidah tak bertulang menghina orang tanpa belas kasihan.
Apa yang di alami Lintang dan Yasmin, begitu membekas di ingatan. Rasa trauma anak remaja karna bullyan membuatnya tak ingin lagi terjerumus kembali di lembah hitam. Tapi rasa trauma itu membuat anak semakin menjadi kuat dan tanggu melawan ketidak adilan untuknya.
Lintang, bukan gadia lemah yang mudah di tindas. Yasmin bukan gadis manja yang hanya tau menangis dalam bullyan. dua gadis ini, gadis pemberani menyuarakan hati kala sudah di ambang batas kesabarannya habis. Gadis gadis ini, akan memberontak saat dirinya sudah lelah akan kesabarannya yang tak di anggap orang-orang pembully.
Pagi ini suasana di kelas begitu ramai, tak ada pelajaran atau tidak ada guru di dalam kelas. Karna hari ini guru-guru sedang rapat, menentukan ujian sekolah kelulusan bagi kakak kelas.
Lintang, memilih menenggelamkan pikirannya dengan tidur di atas tangan melipat pada meja. Yasmin menutup mata, bersandar pada dinding. hanya dua gadis ini yang tak bersuara sama sekali. Tidak mempedulikan gosib sana sini, triakan-triakan ataupun tertawa kencang dari dalam kelas.
Lintang mulai sedikit terusik, membuka mata dan menegakkan tubuhnya.
" Rame?" Keluh Lintang. membuat Yasmin membuka mata, juga terusik karena teriakan-teriakan teman perempuannya tidak kunjung diam.
Lintang berdiri dari duduknya. membuat Yasmin mendongak menatapnya.
" Mau kemana? Di larang keluar sebelum bel istirahat." Kata Yasmin. Mengingatkan perintah guru, sebelum menghadiri rapat.
" Kamar mandi! Mau ikut?" Jawab Lintang, melilitkan jaket di pinggangnya, dan mengambil ponsel di dalamntasnya. sambil tersenyum penuh arti pada Yasmin.
Yasmin yang sudah memahami maksudnya, menaikkan alis menimang nimang ajakan Lintang. Ikut tersenyum mengangguk dan berdiri di depan Lintang. Jenuh juga bila harus di dalam kelas hanya mendengar jeritan dan kshebohan teman-temannya.
" Yok." Kata Yasmin semangat. Mengambil jaket dan juga kunci motor, menaruhnya ke dalam kantong seragam.
" Ketua? Ijin ke kamar mandi bentar!" Seru Lintang, pamit pada ketua kelas yang sedang ngobrol bersama gengnya.
" Oke!" Balas ketua kelas. Lintang dan Yasmin berjalan keluar di hadang sahabatnya datang dari arah luar kelas.
" Mau kemana?" Tanya Bimo, menatap bergantian dua sahabat gadisnya.
" Kamar mandi!" Ucap Lintang. membuat Bimo menelisik Lintang yang berdecak karna introgasi sahabatnya. Kembali menatap Yasmin, mengalihkan tatapannya ke mana saja tanpa mau menatap balik padanya.
" Aku ikut!" Kata Bimo. Sudah tau tujuan Lintang dan Yasmin kemana, bukan ke kamar mandi. dua sahabatnya ini juga membawa jaket.
" Nanti ketahuan!" Kata Yasmin.
" Enggak akan!" Jawab Bimo. " Sudah sana duluan, aku nyusul nanti." Imbuhnya, membuat Lintang dan Yasmin hanya bisa mengangguk dan berjalan lebih dulu ke tempat biasanya mereka jenuh bila di dalam kelas.
Berjalan menuju toilet di sudut sekolah paling samping, berbelok arah memutar kebelakang sekolah, terdapat tembok pagar menjulang tinggi di sampingnya terdapat pintu pagar kecil bergembok.
" Di gembok?" Ucap Yasmin, membuat Lintang mengangguk. Berdecak sebal melihat pintu pagar yang kini tergembok.
" Balik nih!" Keluh Yasmin. Sedangkan mata Lintang masih mencari-cari cara untuk keluar dari sekolah.
Pandangannya menemukan kawat kecil, dengan senyum mengembang ia mengambilnya. Dan berjongkok di depan pagar.
" Buat apa?" Tanya Yasmin. mengerutkan kening melihat Lintang membawa kawat dan berjongkok mencoba memasukkan ke lubang kunci gembok.
" Memang bisa?" Tanya Yasmin lagi. Mana bisa kawat berukuran kecil bisa membuka gembok. Ini bukan film, begitu gampang membuka gembok dengan mudah.
" Coba dulu yas.. sapa tau bisa?" Kata Lintang, tetap mencoba mengotak-atik gembok berwarna kuning. Berharap bisa terbuka. Sedangkan Yasmin mengawasi sekeliling takut bila ada guru yang memergoki dirinya dan Lintang.
" Balik saja Lin.. Keliatannya gak bi-," Belum sempat meneruskan kata, Mata Yasmin terbelalak melihat Lintang berhasil membuka gembok kuning dengan kawat kecil.
" Ayo?" Ajak senang Lintang, membuka pagar dan keluar terlebih dulu. Yasmin ikut senang, ternyata sahabatnya ini serba bisa membuka gembok tanpa mengeluarkan otot.
" Aku parkir di luar, lebih enak kalau bolos gini." Kata Yasmin, mendengar saran Lintang beberapa hari yang lalu. Merencanakan bolos sekolah bila tak ada pelajaran di dalam kelas.
Ya, tiga sahabat itu sepakat sekali merencanakan bolos sekolah. Meskipun belum di rancang sepenuhnya dengan matang.
Lintang dan Yasmin mengenakan jaket hoodynya menutup kepalanya sambil berjalan menunduk menuju parkiran luar berprabayar.
Lintang dan Yasmin sudah berada di tempat perkir, menunggu satu sahabatnya lagi yang pastinya sedang mengawasi situasi sebelum bertindak.
" Lin, Yas!" Panggil Bimo, berlari cepat menuju sahanatnya. Lintang dan Yasmin tersenyum dengam kehadiran Bimo, dan juga satu teman sebangku Bimo.
" Galuh!" Ucap Yasmin.
" Hehehe, aku ikut. Bosen di kelas terus." Kata Galuh. dan melempar tas Yasmin pada pemiliknya.
Yasmin menerimanya dan membuka tasnya yang ternyata di dalamnya juga terdapat buku-buku Bimo. Sedangkan tas Lintang di dalamnya terdapat tas Galuh, yang tak seberapa ada buku di dalam tasnya.
Lintang mengeluarkannya dan memberikan tasnya pada Galuh.
" Nanti ketahuan?" Panik Yasmin, dua bangku deretan belakang punya dirinya dan Bimo tidak ada yang menempati.
" Tenang... Sudah di atur." Jawab Bimo sunyum bangga.
Gadis yang menyukai Bimo, ia suruh untuk duduk di bangku Yasmin dan di bangkunya ia meminta teman lainnya untuk menempatinya dan memberikan uang sogok padanya.
" Yok lah jalan. sebelum ada yang lihat." Kata Lintang, membuat tiga temannya mengangguk.
" Kemana ini?" Tanya Yasmin.
" Jangan di mall, bahaya." Kata Galuh.
" Ke rumah singgah aja, gimana. Mau?" Ucap Lintang.
" Rumah siapa itu?" Tanya Bimo.
" Penampungan bagi anak yang gak punya orang tua." Jawab Lintang.
" Oke lah! Ayo." Semangat Yasmin, Bimo dan Galuh saling memandang. Galuh sedikit mengangkat bahu dan menganggum setuju, lebih baik ke rumah singgah dari pada harus kena rahasia di mall waktu masih jam sekolah.
Lintang berboncengan dengan Yasmin, Galuh berboncengan dengan Bimo. Lintang menjadi petunjuk, sebelum tiba di rumah singgah Lintang mampir ke minimarket membeli beberapa cemilan untuk teman-temannya dan juga anak-anak rumah singgah. Tak ketinggalan, Bimo, Yasmin dan Galuh juga membeli beberapa cemilan. Meskipun tak sebanyak Lintang berbelanja tapi setidaknya mereka membawa oleh-oleh bagi anak-anak rumah singgah.
Yasmin, Bimo dan Galuh sedikit tercengang melihat rumah singgah yang ternyata bukan rumah seperti panti asuhan. Rumah sederhana di pemukiman sedikit kumuh dan jauh dari tetangga. Rumah bertuliskan banner rumah singgah kita, ternyata rumah tanpa adanya pengurus-pengurus di dalamnya. Anak-anak yang jauh lebih muda dari mereka bertiga yang berkunjung.
Anak-anak singgah mengerubuni Lintang, tersenyum bahagia akan kehadirannya apa lagi melihat Lintang membawa dua kantong plantik berisi cemilan. Seakan menunjukkan Anak-anak singgah memang menantikannya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃