Our Story

Our Story
Pagi mengejutkan



Seperti sepasang kekasih, dengan kepala gadis menyandar di bahu kekar yang juga terlelap dan menyandarkan pipinya di atas kepala gadis itu.


Terdengar suara bising roda berjalan dan juga orang-orang mulai berlalu lalang kesibukan pagi hari di rumah sakit. Pria yang sebagai sandaran bahu gadis itu, mengerjabkan mata perlahan-lahan. Memijat pangkal hidung saat tidurnya terusik dengan roda stroller makanan dan pandangan sedikit menyilaukan mata.


Bahunya sedikit berat dan menoleh ke sampingnya. Masih terlihat gadis itu tertidur lelap di bahunya sebagai bantal. Tersenyum saat melihat wajah manisnya yang masih menutup mata. Bila masih tertidur, wajahnya tidak begitu judes seperti biasa ia tunjukkan pada siapapun. Gadis ini sangat manis.. sama seperti Yas min.


Menggelengkan kepala, kenapa bisa ia membandingkan Yasmin dengan gadis yang ada di sampingnya ini. Ia berdecak, membuat gadis yang masih tertidur kini sedikit terusik dan perlahan membuka mata masih dengan kepala menyandar di bahunya.


" Kamu sudah bangun." Tanyanya, membuat Lintang yang sudah bangun melebarkan mata mendengar suara pria di sampingnya.


Dengan cepat Lintang mengangkat kepalanya dan duduk tegap menoleh ke sampingnya.


" Astaga..!" Ucap Lintang dalam hati, kala mengetahui siapa lelaki yang ada di sampingnya dan tertidur di sandaran bahunya.


Aiman.


Ya, lelaki itu ternyata Aiman. Lelaki yang entah kenapa bisa kembali lagi ke rumah sakit setelah semalam mengatakan akan pulang dan kini malah berdua bersama dalam keadaan yang sangat membuat mereka sungguh canggung di pagi hari.


Bukannya semalam memang Aiman pulang dan pergi dari rumah sakit? Tapi kenapa ini bisa di rumah sakit lagi. Apa lagi tanpa sengaja Lintang tertidur di bahu Aiman. Padahal semalam ia tidur sendiri di luar ruang inap. Setelah mendesak Satya untuk pulang juga, karna ia takut lelaki itu akan di cari oleh ke dua orang tuanya. Sudah cukup merepotkan Satya, dan melihat wajah satya sangat lelah dari pada dirinya.


Awalnya Satya menolak perintah Lintang, tapi dengan desakan dan juga ancaman dari gadis yang di sukainya. Satya pun memutuskan pulang dan berjanji akan kembali pagi-pagi untuk menemuinya.


Tapi lihat lah? Siapa yang ada di sampingnya sekarang. Aiman, kekasih sahabatnya yang di lihat dari penampilannya dan juga wajah khas bangun tidur, sudah di pastikan bila kekasih sahabatnya ini semalam menaninya dan tidur bersama di sampingnya.


Ah... Sial, kenapa bisa! dan bagaimana bila ada yang melihatnya tidur bersama Aiman. Tidak peduli bila itu orang lain, tapi yang ia takutkan adalah sahabat atau Satya yang melihatnya. Sungguh ia tidak bisa membayngkan itu, walaupun itu adalah sebuah ketidak sengajaan. Tapi bisa mengakibatkan keburukan dalam persahabatan.


Memalingkan wajah, mendesah berat dan meraup muka yang terlihat memalukan untuk di lihat pagi hari. Berdiri dari duduknya, dan berjalan meninggalkan Aiman yang menatapnya menuju toilet umum rumah sakit.


Aiman menatap punggung sahabat pacarnya. Dalam situasi seperti ini pastinya Lintang akan semakin tambah cangguh dengannya. Padahal yang di lakukan tidaklah mamalukan, hanya saja bisa membuat hati pacarnya terluka bila melihatnya.


Sungguh, Aiman juga tidak tau kenapa ia kembali lagi masuk ke dalam rumah sakit saat tidak sengaja melihat teman lelaki Lintang pergi dari rumah sakit meninggalkan Lintang sendiri pastinya di luar ruang inap. Mungkin saja teman Lintang sedang mengambil baju ganti atau mencari makan malam untuk mereka berdua. Ya, mungkin saja.


Tidak ingin sahabat kekasihnya sendirian, ia berinisiatif menemaninya hingga teman Lintang datang dan dirinya bisa meninggalkan Lintang dengan lega.


Melihat Lintang memejamkan mata menyandarkan kepalanya di pilar tembok dan juga tangan bersendekap dada membuat dirinya tidak ingin mengganggu tidur Lintang. perlahan-lahan ia duduk sedikit jauh dari Lintang, sudah satu jam lebih Aiman menunggu teman Lintang tapi tak kunjung datang. Membuat dirinya yakin bila teman Lintang tidak akan kembali lagi ke rumah sakit.


Akhirnya Aiman memutuskan untuk menemani Lintang hingga pagi ini dengan dirinya yang senang hati menjadi sandaran kepala Lintang. Dan akan kembali ke rumahnya bila sudah pagi tanpa sepengetahuan Lintang. Nyatanya apa, ia sudah bangun terlebih dulu tapi tak kunjung pergi, malah memilih menikmati wajah Lintang hingga gadis itu terbangun dan terkejut melihat dirinya.


Entah kenapa dirinya seperti ini?


Aiman bangkit dari duduknya, melangkah mengikuti jejak Lintang menuju toilet. Dirinya ingin mencuci wajah sebelum ia pergi dari rumah sakit dan kembali ke rumahnya.


****


Lintang yang sudah selesai dari toilet, kembali menuju ruang inap Ferdi. Tidak mendapati kekasih Yasmin, ia bernafas lega. Rasa ingin selalu menghindar dari lelaki yang berstatus pacar kekasih sahabatnya itu. Tidak tau kenapa, rasanya seperti ada yang mengganjal saja di hatinya. Mungkin karna, sudah beberapa kali ini mereka bertemu tapi tak pernah berinteraksi sedekat pagi ini meskipun tidak mengucapkan sepatah kata pun.


" Pagi sekali?" Tegur Lintang, membuat lelaki itu tersenyum lebar.


" Kangen kamu." Jawabnya menggoda gadis di pagi hari. Lintang berdecak, menatap malas pada lelaki yang selalu membuatnya geleng-geleng kepala setiap hari dengan tingkah lakunya.


" Basi!" Gerutu Lintang, Satya tertawa mendengarnya.


" Kamu baru bangun? Aku bawain sarapan buat kamu sama Tina." Kata Satya, mengangkat kantong plastik putih berisi bungkus makanan kertas coklat.


" Makasih. aku panggil Tina, biar dia makan terlebih dulu. Aku nanti saja makannya, gantian nunggu ferdi." Jelas Lintang, Satya mengangguk. duduk di kursi menunggu Tina terlebih dulu keluar dan setelah itu ia masuk untuk melihat keadaan ferdi.


" Sarapan dulu Tin." Perintah Satya.


" Iya Mas. Makasih." Kata Tina, duduk di samping Satya dengan sebungkus plastik di hadapannya.


" Aku tinggal masuk dulu, mau lihat Ferdi." Pamit Satya. Tina hanya mengangguk terseyum.


Satya masuk ke dalam ruang inap Ferdi. Melihat Ferdi yang sudah siuman dan sudah duduk di sandaran tempat tidur sambil menerima suapan makanan dari Lintang.


" Mas." Sapa Ferdi terlebih dulu. Satya tersenyum dan berdiri di samping Lintang yang sedang duduk.


" Masih ada yang sakit gak?" Tanya Satya.


" Enggak ada mas, cuma kaki saja yang sakit. Kalau jahitanya cuma linu." Jelas Ferdi.


Ya, memang kaki ferdi sebelah kiri mengalami kesakitan. Tapi dokter belum memastikan lebih tepatnya patah tulang atau retak. Karna Ferdi belum menjalani foto ronsen.


" Kata dokter kemarin, hari ini kaki kamu akan di ronsen. Biar jelas, dan bisa langsung di tindak." Kata Satya. Ferdi dan Lintang mengangguk.


" Makasih Mas, sudah bantu ngurusin aku di rumah sakit." Ucap Ferdi.


" Sama-sama." Jawab Satya tersenyum. memulai obrolan ringan sambil menunggu Lintang selesai menyuapi Ferdi makan. Rasanya ia juga ingin makan di suapin Lintang.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃