
Bukan tidak sopan, atau tidak mempunyai tata krama baik di hadapan kakak kelas. Tapi memang ini dunia remaja putih abu-abu, di mana semua anak akan mengalami fase pertumbuhan jati diri sesungguhnya.
Yasmin dan Lintang menjadi perbincangan hangat bagi kakak kelas mereka. Ada sebagian memuji keberanian, sebagian juga menghina mereka karena bertengkar dengan kakak kelas. Tapi Yasmin dan Lintang begitu cuek, tak merespon apa yang di katakan kakak kelas tentang fenomema mereka. Toh tak peduli lagi apa yang kakak atau adik kelas katakan.
Melawan bila benar, Jangan takut bila tak salah.
Menghindar juga tidak di benarkan, menghadapi pun juga butuh kepercayaan serta keberanian. Serba lalah.
Diam selalu di injak, berani semakin di benci.
Apapun keadaannya, Lintang dan Yasmin akan menghadapinya. Sudah cukup untuk di tindas, sudah cukup untuk di diam. Waktunya memberi peringatan.
Sediam-diamnya sifat orang, bila sudah tak tahan. Akan menunjukkan sifat aslinya.
Buruk pun akan akan terlihat, meskipun tak sepantasnya di perlihatkan.
Diamnya Yasmin, bukan berarti takut ataupun membenarkan ucapan orang. Tapi, Yasmin juga tak perlu terus-terusan diam, atau menghindar. Hanya saja, Yasmin tak suka keributan. Tapi bila diamnya di acuhkan, dan semakin jadi, Yasmin sudah tidak punya lagi kesabaran dan akan melawan meskipun itu bukan bersama Lintang. Bukan pengecut, hanya saja suka kedamaian.
Dan Lintang, gadis yang paling tak suka di tindas. Gadis yang lebih pemberani, pemberontak dan diam-diam menghanyutkan. Sama lah seperti Yasmin. Hanya saja, Lintang orang yang sangat terang-terangan menunjukkan wajah tak suka bila melihat orang yang tidak di sukainya ada di depannya. Begitu pun orang yang tidak menyukainya, Lintang semakin menjadi menunjukkan ketidak sukaannya.
Cara bicaranya yang kasar, tatapan mata elang yang tajam sudah membuktikan Lintang orang yang jahat atau judes. Walaupun nyatanya tidak benar. Lintang gadis baik, gadis hambel han gadis setia kawan bila mendapatkan teman yang sefrekuensi dengannya.
Yasmin, Gadis yang penyendiri, gadis jarang berbicara dan mata yang sendu. Membuat orang mengira gadis itu lugu dan pendiam. Nyatanya orang yang sudah mengenal betul Yasmin pasti akan menggelengkan kepala. Karna Yasmin bukanlah gadis seperti itu.
Dan tidak melupakan tentang Bimo. Teman setia kawan Yasmin, pembela dan juga pelindung Yasmin dari para orang yang membulynya.
Bimo, tubuh sedikit berisi, tinggi dan juga tampan. Bila sedikit mau menurunkan badannya. Meskipun di bully, Bimo sama halnya dengan Yasmin. Tidak peduli omongan orang, meskipun sebenarnya juga ingin sekali menurunkan berat badannya.
Susah menurunkan berat badan, kalau tak ada sang penyemangat.
Masa putih abu-abu mereka bukan untuk mencari cinta. Tapi mencari pengalaman putih abu-abu yang berwarna.
" Rasanya aku lega deh... Bisa keluar begini tanpa takut lagi." Ucap Yasmin, duduk di ujung kantin. Tempat Favorit baru untuk tongkrongan mereka.
" Emang kamu sebelum-belumnya takut?" Tanya Lintang. Duduk di depan Yasmin.
" Hhmm, sedikit. Tapi sekarang enggak... Cuek aja, layani kalau ada yang ngajak bertengkar." Jawabnya dengan senyum.
" Ya harus begitu. Di tindas kok diam, jangan mau lah.. Sama-sama makan nasi kan." Kata Lintang dan di anggukkan Yasmin.
" Hay?" Sapa kakak kelas laki-laki di hadapan Yasmin dan Lintang yang menatapnya mengerutkan kening.
" Boleh ikut gabung gak." Ujarnya lagi, membuat dua gadis itu saling menatap dan Lintang hanya mengangkat bahu saat Yasmin minta pendapat.
" Duduk saja kak." Ucap Yasmin senyum canggung.
" Makasih." Senyum Ramah kakak kelas, duduk di samping Yasmin. Membuat Yasmin sedikit menggeser duduknya.
Kini kembali, banyak siswa siswi melihat ke tempat Yasmin dan Lintang duduk karena kedatangan kakak kelas yang ikut nimbrung dengannya.
Bimo datang. Seperti biasa memesan makanan simpel jam istirahat yang tak terlalu banyak.
" Mas." Sapa ramah Bimo, menganggukkan kepala dan tersenyum kaku.
Dan bingung kenapa kakak kelasnya ada di tempat duduknya sekarang. Drama apa lagi ini? Pikir Bimo.
Semoga saja tak ada drama seperti kemarin yang belum redup karena pertengkaran Yasmin Lintang dan kakak kelasnya.
" Mau gabung, boleh kan?" Ucap kakak kelas pada Bimo.
Sedangkan Yasmin dan Lintang acuh. Mulai menikmati makanan yang baru saja datang tanpa menunggunya.
" Aku gak pernah lihat kalian? Kalian anak baru?" Tanya Kakak kelas. Menatap Yasmin dan Lintang bergantian.
" Kalau ini siswi baru Mas?" Tunjuk Bimo pada Lintang. " Kalau yang itu sudah lama, cuma gak pernah keluar saja dari kelas." Jelas Bimo, melihat Yasmin dan Lintang seperti enggan menjawab.
" Oh!!" Gumamnya sambil mengangguk-anggukan kepala.
" Makan Mas." Tawar Bimo. Kenapa juga dirinya yang gugup sedangkan dua temannya malah asyik diam menikmati makan tanpa beban.
" Iya." Jawabnya tersenyum.
Bimo seperti malu-malu makan, atau memang susah sekali menelan bakso pentolnya. Padahal yang di pilihnya bukan kasar. Mungkin gugup saja, duduk tepat di depan kakak kelasnya. meskipun hanya terpisah meja saja.
Apa Yasmin enggak gugup, duduk di samping kakak kelas?
Melihat Yasmin, sangat begitu tenang sekali. Dan tidak keberatan kakak kelas duduk di sampingnya. Lintang, jangan tanya. Sebelas dua belas dengan Yasmin. Cuek dan tak terganggu sama sekali.
" Nama kamu siapa?" Tanya kakak kelas pada Bimo.
" Bimo Mas." Jawab Bimo. " Kalau ini Lintang, dan itu Yasmin. Kita teman satu kelas." Jelasnya lagi,
Yasmin hanya menganggukkan kepala, tersenyum sekilas menatap kakak kelas. sedangkan Lintang tentu hanya melirik acuh, dan kembali menikmati makanannya tanpa menunjukkan senyuman ramah seperti Yasmin dan Bimo.
Tak tertarik dengan perkenalannya.
" Gak pesen makanan Mas?" Tanya Bimo.
" Itu?" Jawabnya, dan tiba pesanannya yang di antar si penjual langganannya.
" Makasih Bang." Kata kakak kelas.
" Oke mas." Jawab penjual bakso.
" Makan?" Kini tawar Kakak kelas.
" Iya Mas." Jawab Bimo, kini makan tak ada gugup, malu atau tak enak makan sendiri sedangkan kakak kelasnya tidak memesan apa-apa.
Nyatanya salah, pesanan kakak kelasnya tiba dan Bimo bisa makan menikmati dengan tenang meskipun otaknya sedang berpikir, untuk apa kakak kelasnya datang ke tempat meja makannya.
Kakak kelas Bimo, makan dengan tenang tanpa bertanya lagi. Tidak ada candaan atau obrolan di antara Yasmin, Lintang dan Bimo seperti biasanya.
Bimo pun juga lebih banyak diam dan hanya melirik dua sahabatnya yang sama diamnya serta sudah menghabiskan setengah bakso di mangkok dan minuman masing-masing. Tanpa mempedulikannya yang melas.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
Maaf, updatenya lama. Dan maaf judulnya aku ganti ya.🙏🙏