
" Masuk?" Perintah Teguh, melihat putrinya yang sudah datang di antar remaja lelaki tepat di depan di rumahnya. Dan dirinya sedang berdiri tepat di depan pintu rumah.
Lintang mengikuti ayahnya dari belakang, Ia tau bila ayahnya akan memarahinya dan dirinya akan kembali memberontak karna tak terima pasti dengan perkataan pedas ayahnya. Tapi, ia akan mencoba mengontrol emosinya kali ini dan tidak ingin berdebat ataupun bertengkar dengan ayahnya. Lintang sudah lelah dan ingin menjadi anak yang seperti dulu. Patuh dan takut dengan ayahnya sebelum ke dua orang tuanya berpisah.
Teguh duduk di sofa tunggal, menatap nyalang putri satu-satunya itu. Lintang menundukkan kepala berdiri tepat di depan ayahnya.
Terdengar langkah kaki menuju arahnya, dan suara yang terdengar cemas.
" Lintang? Sudah pulang nak?" Ucap Saskia.
Cemas dan begitu lembut suara Bundanya, sungguh bundanya tak pernah sedikit pun meninggikan suara kepadanya. Ia mendongak, menatap bundanya dengan senyum tipis.
" Maaf Bun?" Kata Lintang, hanya itu yang bisa ia katakan bila salah.
" Duduk, ayah ingin bicara." Sela Teguh, sebelum istrinya menyuruh Lintang untuk ke kamarnya.
Saskia ingin sekali protes, matanya sudah sangat membulat ke arah Teguh. Bukan waktunya untuk membahasnya sekarang. Apa lagi ini sudah tengah malam, dan putri sambungnya pasti sangatlah lelah.
Lintang mengangguk, berjalan menuju sofa panjang dan mendaratkan pantatnya di sofa empuk. Rasanya bukan pantatnya saja yang ingin ia daratkan, punggungnya pun rasanya ingin sekali ia daratkan. Sungguh, ia sangat lelah. Tapi ia juga pastinya tak akan pernah bisa tidur, karna dalam pikirannya hanya tertuju pada mamanya? Yang berbaring di rumah sakit, dan entah bagaimana kabarnya sekarang. Lintang ingin menelpon suami baru mamanya.
Saskia ikut duduk di samping Lintang, mengusap bahu Lintang dengan lembut.
" Kamu dari mana Mbak?" Tanya Saskia.
Seharusnya Saskia tidak perlu tanya lagi, kemana putri sambungnya itu tidak pulang-pulang sampai tengah malam begini. Saskia tau kemana tujuan putrinya, hanya saja ingin Lintang berkata jujur padanya. Meskipun alasan Lintang pastinya bukan itu. Karna putrinya selalu menutupi apa yang selama ini ia dan suaminya tidak pernah tau apa yang di lakukannya.
Lintang bimbang, haruskah ia jujur saja selama ini. Ataukah ia tetap ingin menyembunyikan semuanya sendiri. Apa lagi tentang mamanya, ingin sekali Lintang mengatakannya pada Ayahnya. Tapi ia tidak bisa, dan ia juga pasti tau akan ada hati yang terluka bila Lintang mengatakan tentang mamanya yang menggugat cerai ayahnya tanpa adanya alasan pasti. Dirinya juga tidak ingin egois, untuk ayahnya kembali pada mamanya.
Tidak akan bisa, karena ayahnya sudah menikah dengan wanita yang sabar. Wanita yang menganggapnya sebagai anak kandung bukan sambung. Wanita yang selalu ada di tengah-tengah untuk melerai saat ia dan Ayahnya bertengkar.
Menatap ayahnya, ia tahu bila ayahnya sedang ingin menunggu jawabannya. Dan kenapa ia bisa di antar remaja lelaki yang menyentuh rambutnya dengan lembut.
" Siapa lelaki tadi?" Tanya Teguh.
Tepat sekali apa yang di pikirkan Lintang. Ayahnya pasti akan bertanya tentang Satya?
" Teman ku." Jawab Lintang " Aku habis dari rumah sakit sama dia, njenguk teman lain yang lagi di rawat di rumah sakit." Imbuhnya.
Sedikit ada kebohongan, tapi juga ada kejujuran bila dirinya memang habis dari rumah sakit. Bukan menjenguk saja, melainkan juga bertanggung jawab biaya pengobatannya. Hanya saja, ia tidak berani mengatakan.
Lintang mengerutkan kening, seperti tidak asing amplop coklat yang di sodorkan ayahnya di atas meja.
Logo rumah sakit.
Mata melebar, saat melihat logo rumah sakit Ferdi menginap di sana. Dan amplop coklat itu yang dirinya cari pagi tadi di sekolah.
Lintang menatap ayahnya, yang menatapnya dengan datar. Beralih pada bundanya yang juga sama menatapnya, seperti ingin meminta penjelasan padanya.
Ayah dan Bundanya pasti sudah membukanya dan melihat rincian biaya obat dan juga atas nama pembeli. Lintang tidak bisa lagi untuk menyembunyikan semuanya, dan tanpa sengaja matanya beralih melihat abbas di anak tangga.
" Bunda, Ayah sudah tau semuanya." Isyarat bibir abbas tanpa suara. dan bisa di mengerti oleh Lintang.
Dan semuanya harus Lintang katakan, tidak bisa di sembunyikan lagi.
" Iya, aku yang membayar semua pengobatan Ferdi masuk rumah sakit. Karna aku sekarang mempunyai tanggung jawab yang besar pada mereka." Ucap Lintang, to the poin.
" Ayah ingin tau, Dana dari mana kamu bisa merawat anak-anak jalanan." Tanya Teguh, kali ini dengan nada begitu lembut. Tidak ingin menghakimi anaknya sendiri yang berbuat baik meskipun ia juga penarasan uang dari mana Lintang peroleh.
Dirinya dan sang istri tidak pernah memberikan uang lebih dari seratus ribu perhari untuk uang jajan ke tiga anaknya. Dan Lintang anak yang tidak pernah mengeluh atau meminta lebih dari uang jajan yang sudah di berikan tiap harinya. Berbeda dengan ke duananaknya, tapi meskipun begitu Teguh dan Saskia tidak pernah mengeluh atau pun menyetop uang jajan Abbas dan Ali bila sudah melebihi dari seratus ribu. Asal uang yang di berikan di gunakan dengan baik, tidak menjerumua ke hal yang salah.
"Aku kerja sambilan, Kerja freelance. Uang gajian dari kerja sambilanku bisa buat mereka makan. Tapi mereka juga tidak diam, anak-anak juga ikut bantu aku." Terang Lintang.
" Jangan tanya Bun? Kenapa aku melakukan ini? Dan bukan maksud aku menyembunyikan semuanya." Menatap Bundanya dan berganti menatap Ayahya.
" Sebelum aku kenal Bunda, Abbas dan Ali. Aku lebih dulu mengenal mereka, mereka sudah seperti saudaraku sendiri. Mereka teman kesepianku, hiburan melupakan sejenak rasa sedih. Bila bukan mereka, mungkin aku tidak akan menjadi anak sekuat ini. Tidak akan mengerti arti kerja keras dan juga tanggung jawab. Maaf, bila selama ini aku membuat Ayah marah dan Bunda menangis, hanya gara-gara sikap aku selama ini." Imbuh Lintang,
mata berkaca-kaca menundukkan kepala seperti ia menyesal telah berbuat kasar dan semena-mena pada ke dua orang tuanya. Semua itu ia lakakun bukan karena sengaja, tapi memang sulit sekali untuk memafkan dan juga menerima orang baru dalam hatinya dulu.
Tapi kini tidak lagi, saat tau bunda dan dua adik tirinya baik, menerimanya dengan tangan terbuka.
Saskia merengkuh tubuh putrinya, membawanya kedalam pelukannya. Menangis bersama, merasakan apa yang di rasakan putri sambungnya. Ya, dia sendiri, tidak ada kasih sayang yang di curahkan dari ke dua orang tuanya pasca bercerai. Dia anak terlantar, dari keegoisan ke dua orang tuanya. Hingga itu Lintang memilih jalan salah dan benar apa yang ia inginkan. Tidak peduli pada cemooh atau pujian orang tentang dirinya.
Teguh, merasa bersalah dengan putrinya. Semua ini bermula hanya karna sebuah perceraian, Tanpa adanya pengertian keinginan seorang anak. Andai waktu itu dirinya sadar, mungkin... Ia akan membawa putrinya setelah bercerai dari istrinya dulu. memberi pengertian dan juga curahan kasih sayang yang lebih, agar putrinya tidak seperti ini sekarang.
Mulai hari ini Teguh akan berjanji, ia akan mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya pada putri dan dua anaknya dengan adil dan akan membuat mereka seperti tidak kekurangan kasih sayangnya.