
Suara dering telpon dari tas Lintang membuat sang pemilik terusik dan perlahan membuka mata. Tubuhnya terasa berat kala ia ingin menggeliatkan badan, dan Lintang tersadar bila masih ada tangan serta kaki di atas tubuh miringnya.
" Satya." Gumam Lintang.
Ia menoleh ke belakang, hanya satu jengkal saja wajah Satya tepat berada di depan wajahnya. Hembusan nafas hangat menerpa wajahnya.
Menatap wajah Satya yang terlelap damai. hidung mancung bibir tebal dan bulu mata lentik yang indah. Bila ia tamati dengan lama, satya terlihat sangat manis dan menggemaskan saat tidur. Tidak ada sedikit pun guratan kesedihan di wajahnya.
Memang, Satya tidak pernah merasa kekurangan dalam dirinya atau keluarganya. Keluarga Satya terbilang jauh dengan masalah, apa lagi ia tidak pernah mendengar Satya mengeluh dari keluarganya.
Begitu damaikah kehidupan Satya?
Ia sangat iri, sungguh! Mempunyai keluarga lengkap dan penuh kasih sayang. Tidak ada kekurangan yang Satya rasakan dari ke dua orang tua dan juga kakaknya.
Ya, Satya pernah bercerita bila mempunyai kakak perempuan yang akan menikah bulan depan dengan lelaki pegawai sipil. Dan mungkin Satya akan merasa kehilangan kakaknya bila tidak tinggal di rumah. Tidak akan ada yang teriak-teriak di jahilinya. Satya maupun ke dua orang tuanya juga tidak bisa melarang, bila kakak iparnya nanti akan membawa kakaknya pergi dari rumahnya.
Bukan pergi selamanya, jadi tidak perlu di tangisi. Kapan saja kakak dan kakak ipar bisa berkunjung ke rumah orang tuanya. Ayah dan mamanya pun tidak sabar ingin mempunyai cucu dan ingin menggeser tahta putranya sendiri yang masih menjadi beban orang tuanya.
Ah.. Menyebalkan bukan?
Tapi begitulah kenyataannya. Anak terakhir akan kalah dengan cucu baru yang menggemaskan.
Masih memandangi wajah Satya begitu lama, tidak menghiraukan suara panggilan telpon dari dalam tasnya. Yang entah berapa kali berdering.
" Aku memang cekep Lin!" Gumam Satya pelan, membuat Lintang membulatkan mata menatapnya.
Perlahan Satya membuka mata, tersenyum lebar menatap Lintang sambil mengerlingkan sebelah mata untuk menggodanya.
Lintang berpaling, dan memukul kencang tangan Satya yang melingkar di tubuhnya.
" Ih.. Lepasin. Berat Sat!" Seru Lintang, mendorong tubuh Satya agar menjauh.
Sungguh ia malu saat ketahuan menatap Satya begitu lama.
Satya sedikit menjauhkan tubuhnya dari Lintang yang kini sudah duduk sambil menggeliatkan tubuhnya.
" Cari kesempatan dalam kesempitan!" Gerutu Lintang.
Satya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Antara benar ucapan Lintang dan salah dalam mengartikan.
Ingin melindungi telinga gadisnya dari suara sialan yang terlalu lama menikmatinya dan kesempatan tak datang dua kali bisa memeluk Lintang di saat dia tertidur. Hingga dirinya ikut terbuai dalam tidur nyenyak, memeluk gadis yang di sukainya dan bermimpi indah.
Suara dering ponsel kembali terdengar.
" Angkat Lin, dari tadi bunyi terus." Perintah Satya, ia juga mulai duduk dan merenggangkan tangannya yang kebas akibat membantali kepala Lintang.
Lintang berjalan ke arah meja, mengambil ponselnya dan tertulis nama Bundanya di layar ponsel.
" Hallo?" Jawab Lintang.
" Mbak ada di mana? Kok belum pulang, sudah malam loh!" Tanya sebrang telpon, mengawatirkan dirinya yang terlalu terlelap dari tidurnya dalam pelukan lelaki.
Lintang sedikit mengintip tirai untuk melihat luar jendela. Dan benar hari sudah mulai gelap, dan melihat jam dinding sudah menunjukkan angka sembalan lebih.
" Hallo mbak? Mbak di mana?" Tanyanya lagi dengan lembut.
" Maaf bun aku lupa ngabarin bunda. Malam ini aku nginap di rumah Lintang." Ucap Lintang berbohong.
Terdengar suara nafas kelegaan dari ibu tirinya.
" Maaf Bun, sudah buat bunda khawatir. Hp aku tadi juga gak sengaja ke sellen, jadi gak dengar bunda telpon." Kata Lintang, merasa bersalah sudah membuat ibu tirinya mengkhawatirkannya. Dan Ia juga tidak berpamitan atau mengirim pesan bila keluar rumah.
" Iya gak apa-apa mbak? Bunda cuma khawatir aja, kok mbak gak pulang sama ngabarin bunda."
" Aku ketiduran."
Ya, memang terlelap sekali Lintang tidur Bersama lelaki yang memeluknya erat.
" Ya sudah mbak tidur lagi, pasti capek. Jangan begadang."
Menghembuskan nafas berat. Sungguh, bukan maksud ingin membohongi bundanya. Tapi ia juga tidak mungkin untuk pulang ke rumah di jam malam seperti ini. Apa lagi perjalanan sangat jauh. Kasihan Satya.
Mata tak sengaja melihat Satya yang mengerutkan kening padanya.
" Kamu bohongin tante Saskia?"
" Kamu mau di nikah paksa sama om Teguh! Gara-gara bawa anak perempuannya ke hotel!"
" Enggak apa-apa, nikah muda juga bagus." Jawab Satya enteng, membuat Lintang melototkan mata.
" Gila!" Umpat Lintang.
Di umur yang belun genap dua puluh tahun, harus menikah? Apa lagi yang akan menikahinya juga masih mahasiswa, yang belum mempunyai pekerjaan.
Sungguh konyol bila harus menikah dini. Ia tidak ingin menyia-nyiakan usia mudanya untuk mencari pengalaman lebih di luar kehidupan penuh tantangan.
Sebenarnya memang bagus menikah muda, tapi itu bukan tipe Lintang namanya. Ia masih ingin menikmati kebebasan tanpa adanya ikatan.
Mungkin akibat dari perceraian ke dua orang tuanya atau mungkin juga karena ambisinya
Ya, mungkin karena itu.
Lintang mengendus dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Satya yang tersenyum menggodanya di atas ranjang.
Menyebalkan.
" Kalau Lintang bohong sama tante, berarti malam ini aku sama Lintang? Berduan? Oh... Astaga! Kuatkan imanku malam ini Tuhan." Gumam Satya, kembali melemas mengingat pembicaraan Lintang dengan Ibu tirinya.
Bukan Satya tidak senang, justru ia senang sekali. Hanya saja, ia memikirkan dosa dan nafsunya. Entah ia bisa menahannya semalaman atau tidak, di tengah malam dengan hawa semakin mendukung.
Secara lelaki normal, pikiran satya kembali gesrek. Ia pun menggelengkan kepala, mengusir segala bisikan setan yang ingin mempengaruhi pikirannya. Sungguh ajaib setan dengan cepat berbisik di telinganya.
" Satya?" Panggil Lintang, membuat Satya menoleh ke pintu kamar mandi setengah terbuka hanya memperlihatkan kepala Lintang.
" Apa?" Jawab Satya, membuatnya mengerutkan kening saat melihat Lintang tersenyum lebar dan wajah terlihat malu.
" Ada apa?" Tanyanya, mulai penasaran.
Lintang sedikit melambaikan tangan, menyuruh Satya untuk mendekat. Ia rasanya juga malu, tapi mau bagaimana lagi.
Satya semakin penasaran, ia turun dari tempat tidur. Dan menuju tepat di depan pintu kamar mandi.
" Kenapa?" Tanya Satya.
" Boleh minta tolong gak Sat." Ucap Lintang.
" Mau minta tolong di mandiin?"
" Mau kamu aku bunuh di sini!" Ketus Lintang Lintang, membuat Satya tertawa.
" Terus mau minta tolong apa Lintang?"
Wajah Lintang kembali malu dan menghembuskan nafas berat. Ia tidak mungkin terus menerus di kamar mandi.
" Tolong belikan aku pembalut. Aku lagi dapet." Kata Lintang sambil menyengir kuda.
" What!" Pekik Satya, membulatkan mata.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃