Our Story

Our Story
Di larang bolos



" Kamu kemarin bolos sekolah?" Tanya Satya, duduk di samping Lintang. Saat gadis itu sedang istirahat di kantin bersama dua temannya dan menikmati seporsi bakso masing-masing.


Dua teman Lintang, Yasmin dan Bimo terkejut melebarkan mata menatap Satya. Yasmin yang siap kembali ingin menyuapkan makanan ke dalam mulut seketika menjadi patung. Bimo yang menganga lebar dengan pentol jatuh kembali ke dalam mangkoknya. Dan Lintang hanya menatap sinis dan mengendus sebal kedatangan Satya.


" Kalian juga bolos kan? Kemana?" Tanya Satya pada Yasmin dan Bimo yang masih dalam keterkejutannya.


Lintang berdecak sebal, menendang kaki Yasmin dan Bimo dari bawah meja membuat mereka tersadar dan saling menatap.


Bagaimana kakak kelas ini tau? Pikir Yasmin dan Bimo.


Hingga kembali menatap Satya dan sedikit menganggukkan kepala ragu-ragu.


" Bolos kemana?" Tanya Satya lagi, kini pada Bimo.


Membuat Bimo segera membersihkan ujung bibirnya yang basah dan kembali normal seperti biasa, walaupun jantungnya sedang dag dig dug ser ketahuan kakak kelas pergi dari sekolah saat masih jam pelajaran.


" Eemm.. Ke rumah Yasmin Kak." Jawab cepat Bimo.


Yasmin melototkan mata, menjadi alasan Bimo ke mana tujuannya bolos. 'Rumahnya' Bukankah seharusnya jujur saja, kenapa berbohong dan parahnya bolos ke rumahnya. Tidak menarik sekali! Pikir Yasmin.


" Aku lihat kamu ngajak teman kamu kemarin... Siapa namanya. Dia juga ikut ke rumah Yasmin?" Tanya Satya lagi.


Kenapa di intograsi seperti ini? Kenapa juga harus detail? Apa setiap saat lelaki di sampingnya ini harus tau, apa saja yang ia lakukan dan dengan siapa saja?


Menyebalkan.


" Oh.. Iya mas. Galuh, teman sebangku aku." Jawab Bimo menganggukkan kepala.


Kakak kelas ini juga tau sekali satu temannya yang ikut bolos bersamanya. Seperti mata-mata saja. Pikir Bimo.


" Ngapain saja bolosnya." Tanya lagi Satya, yang membuat Bimo dan Yasmin mengerutkan kening.


Lintang berdecak sebal, menajamkan mata menatap Satya. " Bisa gak, gak tanya tanya sampai akar-akarnya segala.. Keluarga aja bukan, ngapain ngurusin kita." Sungut Lintang.


Yasmin dan Bimo, melebarkan mata. Begitu beraninya Lintang dengan kakak kelas. Apa lagi kakak kelasnya laki-laki. Kalau kalau kakak kelas enggak terima bisa menjadi perkelahian kembali. Lintang sungguh membuat dua temannya ketakutan dan terancam ikut masalah nantinya.


Satya menatap datar Lintang, gadis di sebalahnya ini tak mengenal takut. Berbicara sesuka hati, bila hatinya sudah dongkol. Tidak mempedulikan di tempat umum ataupun sendiri. Dia akan mengeluarkan kata-kata sedikit menyakitkan bila orang tidak akan tau jelas sifat gadis itu. Gadis keras kepala, bibir yang pedas dan juga tatapan mata horornya.


Bukannya menjawab dan mempedulikan ucapan Lintang, Satya masih menatap Bimo. Seakan menunggu jawaban pada lelaki di depannya. Dan apa saja yang di lakukan Lintang bersama mereka.


Ya, Satya mengetahui Lintang yang bolos sekolah dengan tiga temannya. Saat dirinya tidak melihat Lintang, Bimo dan Yasmin beristirahat di kantin kempat biasa mereka duduki. Karna penasaran, Saat jam istirahat usai, Satya mencoba berjalan ke kelas Lintang. Sayangnya, bangku Lintang dan Bimo tidak di tempati mereka. melainkan teman lainnya. Dan tidak mendapati tiga orang di dalam kelas. Padahal pagi itu Satya melihat Lintang sekolah. Tapi kenapa jam pelajaran ke dua tidak ada?


Oh... Sungguh gadis ini sangat suka sekali membuat ulah dan membuatnya khawatir.


Bimo yang di tatap seperti itu sedikit takut Dan Lintang semakin emosi dengan Satya.


Mendesah kasar, menatap sebal pada Satya. " Nonton film sama nobar, lapar makan. Sore pulang!" Ketus Lintang, Kini membuat Satya menoleh ke arahnya.


" Kurang lengkap!! Kalau kurang lengkap besok-besok kasih gps aja, atau perlu pasang tu perekam... biar jelas ngapain saja kalau kita bolos." Imbuh Lintang, melototkan matanya pada Satya yang masih menatapnya datar.


Tatapan Satya memang datar, tapi sangat menakutkan. Dan tidak berlaku untuk Lintang, takut dengan lelaki itu. Oh, Lintang memang gadis yang tak pernah takut dengan siapa pun termasuk Satya. Ya, meskipun sedikit aneh di hatinya.


" Lain kali jangan di ulangi bolos." Nasehat Satya, melihat Lintang dan beralih pada dua teman Lintang.


Dan Lintang hanya berdecak, tidak mempedulikan nasehat Satya. Berbeda dengan Yasmin dan Bimo, yang mengangguk patuh serta tersenyum paksa.


Satya menyambar minuman Lintang, meneguknya santai tanpa lagi mempedulikan gadis itu melototkan mata. Dan Lagi dua temannya yang juga sama tercengangnya, mengambil minuman Lintang yang mau dirinya minum.


Yasmin, Bimo saling melirik. Bertanya tanya dalam hati dan menatap Lintang yang terlihat kesal karena kakak kelasnya.


Ada hubungan apa Lintang dan Satya. Apa mereka sudah saling mengenal lebih?


*****


" Dek, keluar. Aku sekarang ada di depan rumah kamu."


Satu pesan masuk di ponsel Yasmin. Dari Aiman.


" Ngapain Kak Aiman ke sini?" Gumam Yasmin.


Berjalan ke arah kaca, melihat penampilannya. yang hanya mengenakan celana pendek dan juga baju oblong. Yasmin berjalan cepat menuju lemari, mengambil celana training panjang. Ia tau Aiman pasti akan marah, bila dirinya keluar dari rumah hanya mengenakan celana pendek hingga memperlihatkan pahanya.


Berlari keluar kamar, menuruni anak tangga. dan berhenti saat mamanya menyapanya.


" Mau kemana Yas.. Buru-buru banget!" Tegur Ranti, duduk di depan tv sambil menikmati cemilan.


" Ke depan sebentar ma?" Jawab Yasmin. Tidak ingin mamanya tau bila ada lelaki di depan rumahnya sedang ingin menemuinya.


Bukan malu, tapi takut. Karna itu, Yasmin tak pernah bercerita bila mempunyai kekasih, apa lagi Bimo. Ia harus menyembunyikannya, Bila Bimo tau, pasti sahabatnya itu tak bisa merahasiakannya dan akan mengolok-olokkannya. Seperti ucapannya waktu lalu.


Masih kecil pacaran? Sekolah yang bener! Di tinggal nangis! Di sakiti nangis! Dikit-dikit nangis!!


Menyebalkan.


Hingga itu lebih baik merahasiakannya.


Yasmin, membuka pagar rumah. Menutupnya kembali dan berjalan cepat menuju Aiman yang duduk di atas mobil, sambil memegang ponsel.


" Kak Aiman ngapain ke sini?" Ucap Yasmin, membuat Aiman menatapnya. mematikan layar ponsel dan menaruhnya di saku celana, berdiri tersenyum hangat dan mengacak-acak rambut kekasihnya.


" istt.. Kakak!" Seru Yasmin sebal. Aiman tertawa dan mencubit pipi tembem Yasmin.


" Mau ajak kamu jalan-jalan, Tapi sudah malam."


" Kenapa gak dari tadi sih!! " Sebal Yasmin.


Malam-malam kekasihnya mau mengajaknya keluar. Mana bisa! Apa lagi ada mamanya di rumah. Bila gak ada sudah pasti Yasmin mau, walaupun cuma sebentar. Kapan lagi coba!


" Cafe lagi ramai.. Maaf ya, gak bisa balas pesan adek." Kata Aiman.


Yasmin mengerti, tidak akan marah karna itu memang sudah resikonya. Berpacaran dengan lelaki yang sudah dewasa dan mempunyai pekerjaan. Andai bila yang ia pacari usianya sama dengannya, mungkin ponsel Yasmin akan selalu berbunyi setiap menitnya. Dan satu, Yasmin juga bukan tipe gadis yang suka sekali berpacaran alay seperti ramaja-remaja lainnya.


" Enggak apa-apa kak." Jawab Yasmin tersenyum. Aiman tersenyum dan kembali mengusap pipi kekasih kecilnya.


" Ini kakak bawain makanan kesukaan kamu."


" Kakak ke sini cuma mau anterin ini?" Kata Yasmin.


Membuat Aiman mengangguk tersenyum. " Sama ingin ketemu pacarku, kangen." Imbuh Aiman. Hingga pipi Yasmin terasa panas, merah tomat dan menyembunyikan salah tingkahnya.


" Udah malam, sana masuk. Besok sekolah kan?" Ucap Aiman.


" Iya." Jawab Yasmin.


" Jangan bolos lagi!"


" Eh!!" Terkejut Yasmin.


Mendengar ucapan Aiman. Kekasihnya tau dari mana dirinya bolos. Dan dirinya tersadar kala Bimo pernah memposting status mereka di aplikasi chat yang pastinya Aiman juga melihat status Bimo.


Oh.. Bimo sial*n." Umpat Yasmin dalam hati.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃