
Lintang menelungkupkan tubuhnya di atas kasur busa lantai dan memejamkan mata. Rasa lelah tubuh dan pikirannya membuat ia kembali menangis di sore hari tempat ternyaman untuknya menyendiri.
Rumah singgah.
Ya, Lintang tidak ingin pulang. Gadis itu memutuskan untuk membelokkan motornya menuju rumah Singgah. Ia masih ingin menyendiri, ingin menangis saat mengingat wajah pucat dan racauan ibunya yang tak sadarkan diri.
Ia bukan ingin menjadi anak durhaka, hanya saja ia belum bisa untuk berdamai dengan masa lalu yang sulit baginya untuk bertahan sendiri di usia yang masih sangat remaja. Belum sepenuhnya mengerti tentang kerasnya hidup, apa lagi dirinya dulu sangat di manja oleh ke dua orang tuanya dan apapun ia tidak pernah kekurangan sedikit pun.
Lintang yang harus berjuang hidup dengan neneknya dulu. Ia harus menerima ejekan dari teman-temannya saat membawa gorengan ke sekolah dan di titipkan ke kantin. Lintang yang juga membantu neneknya saat mendapatkan pesanan gorengan begitu banyak di sore dan juga menjajakan di sekitaran taman. Ia ingat betul, bagaimana dulu perjuangannya untuk bertahan hidup dengan neneknya tanpa bantuan dari ibu atau ayahnya.
Miris sekali kan?
Sungguh miris, ia hampir saja menjadi pengamen jalanan dan putus sekolah bila tidak ingat betul ucapan dan semangat neneknya untuk dirinya.
Ia kembali bersemangat, tapi semangatnya tidaklah bertahan lama. Kala Neneknya meninggalkannya untuk selama-lamanya. Dan yang lebih parah ia di usir adik ibunya, Ralat, bukan di usir, melainkan di titipkan di panti asuhan karna adik ibunya tidak ingin merawatnya. Apa lagi ekonominya sangatlah pas-pasan, dan tak sanggup untuk menampung dirinya.
Awal tinggal di panti asuhan, ia sepanjang malam menangis meratapi nasibnya begitu buruk.
Kenapa Ibu dan ayahnya meninggalkannya?
Tidak kah salah satu dari orng tuanya mau menampungnya.
Kenapa justru seakan dirinya sebagai beban saja.
Tapi ia sadar, di panti itu bukan dirinya saja yang tidak di inginkan. Melainkan banyak anak yang justru dari kecil di buang, dan tidak bisa merasakan kasih sayang dari orang tuanya.
Ia tidak boleh menangis lagi, ia harus tegar dan harus menerima semua jalan hidupnya yang entah kapan ia bisa bahagia.
Ketika ayahnya menjemputnya dari panti. Lintang begitu benci dan kecewa, saat mengetahui ayahnya kembali menikah. Apa lagi kehidupan ayah dan ibu sambungnya terlihat sangatlah cukup baik di banding dirinya di panti atau bersama almarhum neneknya.
Kebencian dan kecewa sedikit mulai berkurang, kala ibu sambungnya tulus sekali merawat dan membelanya. Padahal Lintang sering sekali membuat ibu sambungnya menangis. Dan dari situlah ia sadar tidak seharusnya, melibatkan ibu sambungnya dalam masalahnya bersama ayahnya.
Baru saja ia merasa tenang dan bahagia dengan keluarga baru ayahnya. Lintang kembali merasakan kemarahan saat ibunya datang untuk pertama kali ke rumah ayahnya dengan seorang lelaki yang sudah di asumsikan Lintang bila itu pasti ayah tirinya.
Apa ia senang dengan kehadiran ibunya.
Jawabannya, Tidak.
Apa lagi drama yang di tunjukkan ibunya, seakan-akan ia lupa dengan ibu kandungnya sendiri. Padahal ia mengingat jelas, siapa ibu kandungnya yang dulu ia sayang setelah ayahnya.
Tapi Itu dulu, sebelum ke dua orang tuanya mencampakkannya.
Setelah kejadian itu, selama satu bulan lamanya ia mulai akrab dengan bunda dan juga adik-adiknya. Tawanya selalu menggema di rumah bundanya, saat mengerjai adiknya atau melihat kelakuan adiknya yang merajuk dan mengadu pada bunda atau ayahnya. Dirinya seperti melupakan kedatangan ibu kandungnya dan kembali akrab dengan ayahnya seperti dulu.
Tawanya seakan kembali lagi sunyi, dengan kedatangan ibu kandungnya lagi di rumah bundanya. Tapi kedatangan itu sangatlah berbeda, senyuman hangat bibir yang pucat, mata sendu dan juga wajah yang terlihat sangat tirus.
Apa lagi ibunya yang hampir terjatuh bila tidak ada yang cepat menangkapnya. Hidungnya mengeluarkan darah segar, bibirnya mecarau memanggil namanya, mengatakan rindu padanya.
Hati Lintang seperti teremas kuat, matanya berkaca-kaca tidak bisa memungkiri bila dirinya juga sama rindunya dengan ibunya. Tapi rasa gengsi dan marah masih menyelimuti hatinya.
Untuk pertama kali ia menangis di hadapan Bunda dan Ayahnya. Untuk pertama kali pula Ayahnya melihat tangisannya. Lintang menyeka Air matanya, berusaha untuk tetap tegar walau hati menangis. Dan di situlah ayahnya membiarkannya untuk menginap di rumah Yasmin, karna tau putrinya butuh ketenangan.
Mendengar suara tangisan Lintang dan gemetar punggungnya yang tengkurap.
Lintang membuka mata, mengusap air matanya dan merubah tubuhnya menjadi duduk. Menatap tajam lelaki yan berdiri di hadapannya.
" Kenapa kamu di sini!" Seru Lintang, seperti tidak suka dengan kehadiran lelaki yang selalu membuntutinya.
Satya.
" Aku dari tadi pagi sudah di sini." Jawab Satya, dan menatap mata Lintang yang memerah.
Satya mendekat, berjongkok tepat di depan Lintang. " Kamu kenapa menangis?" Tanyanya lembut. Membuat Lintang melengos ke samping, seperti tidak ingin lelaki itu melihatnya dengan keadaan seperti ini.
Menyedihkan.
" Lintang?" Panggilnya lembut, membuat Lintang mendongak menahan air mata agar tidak menangis di hadapan Satya.
Sungguh ia tidak ingin lemah atau pun seperti gadis-gadis lain yang menangis mengadu pada lelaki yang mengasihaninya. itu justru membuat hatinya tambah sakit. Tapi emang seharusnya ia butuh teman, butuh pendengar jeritan hatinya. Rasanya lelah sekali memendam semua sendiri tanpa ada yang mengerti bagaimana perasaannya.
Miris sekali.
Satya menangkup pipi Lintang dengan ke dua tangannya, menghadapkan wajah Lintang dengan wajahnya. Berjarak lima jengkal, bisa melihat jelas kantung mata Lintang mulai membengkak, mata memerah dan nafas tidak beraturan.
" Apa ada yang menyakiti kamu Lin?" Tanya Satya, kentara sangat khawatir dari suara dan wajahnya.
Sumpah, Satya tidak bisa melihat Lintang seperti ini. Hatinya sangat sakit, gadis yang di sukainya menangis. Untuk pertama kali Satya melihat Lintang bersedih.
" Lin-,"
" Apa aku egois, apa aku sudah di anggap anak durhaka hingga aku tidak bisa memaafkan ke dua orang tuaku Sat. Aku terlalu kecewa, terlalu marah sama mereka yang sudah menelantarkan aku dulu setelah mereka bercerai dan memilih pergi tanpa bertanya Aku ikut siapa! Aku anak terlantar satya, aku di abaikan, Seakan mereka saja yang terluka, padahal aku juga sama terlukanya!
Aku sakit, aku tidak terima ke dua orang tuaku bercerai... Apa lagi sekarang, ayah dan mama sudah memiliki pendamping baru. Ayah bahagia, mama juga bahagia. Hanya aku yang menderita Sat, hanya aku!" Isak Lintang, Tidak bisa lagi membendung air matanya. Runtuh sudah pertahannya di hadapan lelaki.
Satya terkejut mendengarnya, Ternyata Lintang adalah anak broken home. Hasil dari perceraian ke dua orang tuanya, yang mengakibatkan Lintang menjadi gadis brandal dan juga pecandu nikotin.
Lintang begitu ternyata ada sebabnya. Dan tidak menyangka bisa mengakibatkan gangguan kebribadian. Bukan salah Lintang, tapi salahkan ke dua orang tuanya, yang tidak mengatakan dan juga tidak bertanya baik-baik tentang sebab perpisahan ke dua orang tuanya serta dengan siapa nanti Lintang akan ikut. Seakan ke dua orang tuanya melupakan Lintang, setelah bercerai tidak ada ke dua orang tuanya memberi perhatian atau menanya kabar. Mereka lenyap memilih pergi tanpa membawa anaknya.
Satya mengusap ke air mata Lintang, memeluk gadis rapuh ke dalam pelukannya. Hingga gadis itu kembali terisak dalam pelukannya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃