
" Ma... Jangan ma. Jangan lakuin itu Ma!!" Ucap Yasmin, di saat mencoba memperebutkan gunting di tangan Ranti yang ingin mencoba bunuh diri.
" Jangan halangin Mama Yas. Minggir!!" Jerit Ranti, mempertahankan gunting di tangannya yang akan di ambil paksa anaknya.
" Enggak, aku gak mau." Kata Yasmin. menggelengkan kepala, rasa cemas takut menjadi satu, saat mamanya tak bisa mengontrol emosi dan berbuat nekat seperti saat ini.
" Bik imah!!" Teriak Yasmin. Mencoba memanggil Bik Imah untuk membantunya merebut gunting dari Mamanya.
" Mama gak mau hidup lagi Yasmin.. Mama gak mau hidup, mama mau ingin sama Ayah kamu!! Mama mau nyusul Ayah kamu!!" Seru Ranti dengan air mata mengalir deras di pipinya.
Sekuat tenaga mencoba mempertahankan gunting dan mendorong putrinya agar melepaskan tangannya.
" Mbak Yasmin!" Panggil Bik Imah, terkejut melihat anak dan ibu memperebutkan gunting.
" Bibik! Tolong bantuin!" Perintah Yasmin. meringis kesakitan saat gunting di ujungnya mulai melukai tangannya.
" Yasmin?" Lirih Lelaki di belakang Bik Imah, dengan cepat menerobos masuk ke dalam kamar.
Mencoba mencengkram kuat pergelangan tangan mama Yasmin, membuat Mama Yasmin merintih kesakitan dan berhasil melepaskan gunting di tangannya. Memberontak untuk minta di lepaskan, tapi lelaki itu tak ingin melepaskannya hanya sedikit mengurangi cengkramannya, agar tidak lagi melukai tangan Mama Yasmin.
Yasmin memberikan gunting pada Bik Imah, dan memeluk erat mamanya dari samping untuk menenangkannya.
" Ma.. Jangan lakuin itu lagi Ma. Jangan!! Yasmin gak mau di tinggal Mama... Yasmin gak mau sendiri Ma!!" Isak Yasmin memeluk tubuh Ranti erat.
Seperti terhipnotis, Ranti tersadar. Tidak memberontak tubuhnya lunglai terjatuh di lantai dengan pelukan Yasmin yang masih erat dan tangan sudah terlepas dari cengkraman lelaki itu.
" Jangan tinggalin Yasmin Ma, Jangan tinggalin Yasmin. Yasmi takut sendiri!" Lirih Yasmin. Membuat Ranti terisak, menangis bergetar dalam pelukan anaknya.
Ya, saat Ranti ingin bunuh diri tidak memikirkan putrinya. Tidak ada dalam pikirannya tentang Yasmin. Yang saat itu ia pikirkan, hanya ingin mengakhiri hidupnya. Karena sudah tidak kuat dan malu dengan putrinya.
Yasmin mendirikan mamanya membawa kembali duduk di atas ranjang. Menyelimuti kaki mamanya, mengusap ke dua pipi mamanya yang basah dan memberikan minum untuknya.
" Apa mama gak kasihan sama aku, kalau mama lebih milih sama Ayah? Aku sendiri ma.. Aku gak punya saudara, gak punya siapa-siapa di sini? Aku cuma punya mama, aku takut. Yasmin mohon.. Jangan tinggalin Yasmin." Ucapnya serak menggenggam tangan mamanya.
Menundukkan kepala, air matanya jatuh tidak sanggup membayangkan bila ia sendiri tanpa ke dua orang tuanya. Sungguh, Yasmin takut. Rapuh, dan tidak sanggup menjalani hidupnya sendiri tanpa mamanya. Hanya mamanya yang Yasmin punya, hanya mamanya satu-satunya keluarga Yasmin.
Yasmin tidak masalah bila mamanya pergi ke luar kota bersama sahabatnya, tidak masalah bila mamanya pulang malam hari. Ia tidak akan marah lagi, asal mamanya masih bersamanya, masih tetap bersamanya.
Bik Imah menghampiri Yasmin, membawakan botol obat yang terjatuh di lantai. Beruntung botol obat mamanya tidak terbuka membuat kapsul obat di dalamnya masih terselamatkan. Bila obat-obat itu berhamburan di lantai, sudah di pastikan ia akan membeli obat dengan harga menguras dompet sakunya.
" Minum obatnya dulu ya ma?" Bujuk Yasmin, membuat Ranti mengangguk tanpa membantah dan meminum obat yang sudah di siapkan putrinya.
" Sekarang mama tidur ya, Yasmin akan menemani mama." Perintah Yasmin, membaringkan tubuh mamanya dan menyelimutinya hingga sebatas dad*.
" Maaf mas, Mamanya mbak Yasmin ma-,"
" Iya bik, saya akan tunggu Yasmin di ruang tamu." Potong lelaki yang sudah ikut membantu menyelamatkan mama Yasmin dan melihat bagaimana keadaan Yasmin sangat rapuh.
Menangis dan begitu ketakutan.
Bik Imah mengangguk tersenyum, berjalan di belakang lelaki dan menutup pintu kamar majikannya.
" Bibik tinggal ke dapur sebentar mas?" Pamit Bik Imah, membuat lelaki itu mengangguk tersenyum.
Lelaki itu hanya diam, menatap pintu kamar begitu lama. Enggan sekali untuk beranjak dari depan pintu kamar tertutup. Ia takut, bila mama Yasmin akan kembali mengamuk atau menyakiti Yasmin.
" Saya akan tetap di sini bik? Hanya ingin memastikan Yasmin baik-baik saja." Jawab lelaki itu. Membuat bik Imah mengangguk.
" Ini minumannya saya taruh di sana."
" Iya, makasih Bik." Jawabnya lagi.
" Kalau Bibik boleh tau, Nama mas siapa?" Tanya Bik Imah, belum mengetahui nama lelaki teman Yasmin.
" Saya Aiman bik." Jawab Aiman tersenyum.
" Oh.. Mas Aiman." Mengangguk-angguk mengerti.
Ya, lelaki itu adalah Aiman. Kekasih Yasmin, datang ingin menemui kekasihnya yang selama satu minggu tidak ada kabar dan datang ke cafenya. Yasmin juga tidak membalas pesannya, telponya pun di abaikan oleh gadis itu. Merasa cemas, Aiman memutuskan untuk ke rumah Yasmin. Ingin menanyakan kabar. Tapi justru, yang di lihatnya saat ini sangatlah memprihatinkan. Apa lagi tangisan pilu kekasihnya.
Terdengar suara pintu terbuka, membuat Bik Imah dan Aiman menoleh. Yasmin keluar dari kamar mamanya, dengan mata sembab.
Menutup pintu dan melihat dua orang di hadapannya. Kekasihnya, Aiman datang ke rumahnya dan membantu dirinya menyelamatkan ibunya yang akan mencoba bunuh diri.
" Kak?" Lirih Yasmin, mata kembali berkaca-kaca memanggil kekasihnya.
Aiman menghampiri Yasmin, membawa tubuh kekasihnya ke dalam pelukan. Yasmin menangis kembali, menumpahkan semua rasa sedih, takut dan juga rindu pada kekasihnya.
Bik Imah yang melihat Yasmin dalam pelukan lelaki bernama Aiman juga ikut bersedih. Dan perlahan menjauh meninggalkan anak majikannya dengan temannya.
" Maaf, Kakak baru datang ke rumah kamu dek? " Ucap Aiman, mengusap punggung Yasmin.
" Maafin kakak. Kakak gak tau kamu seperti ini. Maafin kakak?" Imbuhnya, mengucapkan beribu kata maaf sebagai kekasih tidak tau apa yang terjadi dengam Yasmin selama satu minggu ini.
Tapi juga bukan salahnya, Yasmin tidak bercerita dan tidak pernah memberi kabar. Hingga dirinya tidak tau apa yang terjadi dengan kekasihnya.
" Aku takut kak, aku takut!" Sesak Yasmin. Begitu takutnya gadis ini saat ibunya berusaha bunuh diri. Dan bagaiman bila tak ada Aiman, mungkin ia sudah melihat ibunya bunuh diri secara langsung.
Yasmin semakin memeluk Aiman erat, begitu pula aiman memeluknya erat, mengusap punggung Yasmin dan menenangkannya.
Kekasih macam apa dirinya. Tidak mengerti keadaan Yasmin hingga kekasihnya ini sangatlah sedih.
" Ada aku Dek.. Jangan nangis lagi. Aku janji, akan ada untuk kamu." Ucap Aiman.
" Jangan tinggalin aku." Pinta Yasmin lirih.
" Tidak, kakak tidak akan ninggalin kamu. Aku sayang kamu Yas." Jawab Aiman. mengecup puncak kepala Yasmin, memeluknya erat. Tidak akan ia tinggalkan Yasmin, apapun yang terjadi ia akan tetap di sampingnya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃