Our Story

Our Story
terkejut



Dua gadis saling berhadapan duduk di meja kantin dengan wajah menekuk sambil menikmati makanan yang ada di hadapannya.


Kembali mengingat perdebatan kecil dengan lelaki, Membuat mood dua gadis sedikit berantakan. Lintang yang tak tau kenapa bisa memikirkan lelaki menyebalkan dan juga suka mengatur hidupnya. Lelaki yang berdebat dengannya hanya perkara makanan tidak habis. Lelaki yang akan mengambil sisa makanannya dan tidak elok rasanya, hingga ia menarik kembali makanannya dari hadapan Satya. Lintang yang tidak suka di paksa dan juga tidak suka di ancam membuatnya kembali marah dan kembali jutek dengan lelaki itu. Hingga kini dirinya masih marah tidak jelas.


Sedangkan Yasmin, gadis ini marah. Karena kekasihnya menatapnya dengan kasihan, dirinya tidak butuh di kasihani seperti dirinya orang pengemis saja. Yang di butuhkan Yasmin hanya support, kata-kata semangat dan perhatian keluar dari bibir Aiman, Tidak lebih. Dan mungkin itu sudah membuatnya jauh lebih baik.


Menolak pemberian kekasihnya, iya, ia akan menolak pemberian kekasihnya berupa uang. Ia takut, takut bila suatu saat akan ada yang mengungkitnya dan takut bila ia akan menjadi terbiasa bergantung pada Aiman. Ia ingin mandiri, ia ingin bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Ya, walaupun itu akan sangat sulit. Tapi setidaknya ia bisa menjadi gadis kuat tanpa bantuan siapapun. Berjuang demi hidup dan kesembuhan ibunya.


Bimo yang sedari tadi melihat dua sahabatnya diam mengaduk-ngaduk makanan, mengerutkan kening.


" Kalian kenapa?" Tanya Bimo.


Yasmin dan Lintang menoleh ke bimo dan saling menatap. Saling mengode dan saling mengerutkan kening hingga mendesah bersama.


" Enggak apa-apa." Jawab bersamaan Lintang dan Yasmin.


" Cih, Bisa barengan gitu!" Gerutu Bimo, menggelengkan kepala. Yasmin dan Lintang tertawa kecil mendengar gerutuan Bimo.


" Kamu kenapa Yas? Ada masalah di toko?" Tanya Lintang, begitu menelisik kantong mata Yasmin sedikit sembab. Bimo juga ikut memandang Yasmin, dan benar ada yang aneh di mata gadis itu.


" Kamu habis nangis?" Imbuh Bimo, baru menyadari mata sahabatnya sedikit bengkak.


" Enggak!" Elak Yasmin. " Semalam kurang tidur saja, nungguin mama." Imbuhnya.


Mana mungkin Yasmin berani mengatakan sejujurnya bila dirinya semalam habis menangis dan berselisih paham dengan kekasihnya. Apa lagi Bimo tidak tau kalau dirinya sudah mempunyai kekasih, dan berpacaran dengan pemilik cafe. Bukan tidak mau mengasihtaukan pada Bimo, hanya saja ia belum siap untuk mempublikasikan hubungannya dengan Aiman.


Entah kenapa? Tapi ia lebih suka seperti ini. Berpacaran tanpa ada yang tau. Seperti cinta sembunyi-sembunyi dan itu sangat menantang baginya. Tidak akan yang mengganggu atau mengusik tentang hubungannya bersama Aiman.


" Emang mama kamu kenapa?" Khawatir Bimo.


" Mama enggak apa-apa, cuma gak bisa tidur aja katanya.. Minta di temani nonton tv." Jawab Yasmin, lagi-lagi berbohong. Bimo dan Lintang mengangguk.


" Kamu sendiri kenapa Yas, kayak gak semangat gitu!" Tanya Yasmin.


" Gak tau... Tiba-tiba suntuk aja. Pengen bolos!" Jawab Lintang.


" Gila kamu! Jangan bolos... minggu depan udah pengumuman kenaikan kelas." Cegah Bimo melipat ke dua tangannya di dad*, tidak memperbolehkan Lintang bolos sekolah lagi.


Apa lagi Bimo sudah di peringatkan oleh kakak kelas yang menyukai Lintang. Untuk tidak menuruti Lintang bolos sekolah. Bukannya takut, hanya saja memang tidak baik bolos sekolah apa lagi mereka akan naik kelas tiga. Dan kesibukan mereka juga akan di mulai saat menaiki kelas baru serta kelulusa tahun depan. Bimo berdoa semoga Yasmin tidak mengalami kesulitan lagi.


" Hah... Gak nyangka ya. Sudah mulai naik kelas." Ucap Yasmin, menghembuskan nafas lelah. " Semoga aku tidak kesulitan membagi kerja dan sekolah." Imbuhnya lirih.


" Masalah itu.. Aku akan minta bunda buat ngurangin dikit jam kerja kamu. Biar kamu juga bisa fokus sama kelulusan nanti." Kata Lintang, menenangkan hati sahabatnya yang resah karna pekerjaan dan sekolah.


" Eh.. Gak usah Lin." Tolak Yasmin cepat. " Aku gak pengen ngerepotin kamu sama bunda kamu lagi. Lagian aku juga sudah bagi waktu antara sekolah, belajar sama kerja. Udah jangam bilang sama bunda kamu lagi, enggak enak tau.. aku sama bunda kamu. Apa lagi sama mbak-mbak toko. Takut mereka nanti iri dan bilang pilih kasih." Jelasnya.


Sungguh, Yasmin merasa tak enak hati dengan bunda dan teman-teman barunya di tempat kerja. Ibu sambungnya Lintang begitu baik dengannya, dan teman baru di tempat kerja juga sudah mulai menerima baik dirinya. ia tidak ingin ada masalah di tempat kerja, yang ia inginkan hanya ketenangan. Itu saja.


" Yakin kamu bisa bagi waktu?" Ulang Bimo, masih belum bisa percaya jika Yasmin membagi waktunya dengan tepat.


" Yakin! Seratus persen yakin dan bisa!" Semangat Yasmin. Membuat Lintang dan Bimi menatapnya lama, dan tersenyum serta menganggukkan kepala. Bila percaya dengan ucapannya.


****


" Mama pengen tau pacar kamu?" Ucap wanita paruh baya cantik, duduk menikmati makan siangnya bersama suami dan Anak bungsu di dalam ruang kantor presdir.


" Kalau ada waktu Aiman akan kenalin mama sama dia." Jawab anak bungsunya, Aiman.


" Kapan?" Tanya Mama Aiman, Papanya hanya menyimak percakapan anak dan istri.


" Gak tau kapan ma." Jawabnya sambil mengedikkan bahu.


" Pa.. Anak papa ini beneran punya pacar gak sih! Kok jawabannya meragukan gitu." Mama Aiman, gemas mendengar jawaban anak lelakinya. Memutar-mutarkan jawaban saat di tanya kekasihnya, seakan ada yang di sembunyikan atau juga bohong tentang dia yang mempunyai kekasih.


Papa Aiman hanya bisa mengedikkan bahu dan menikmati makan siang buatan istrinya dari pada harus mengurusi percintaan anak bungsunya yang belum jelas itu.


" Ih.. Papa! Gak anak gak bapak sama saja di tanya." Gerutu Mama Aiman. membuat anak dan bapak mengulum senyum.


" Mama pengen tau.. Siapa nama pacar kamu Aiman. Jawab yang serius, kalau enggak mama pukul nih.. pakek sendok!" Ancam Mama sambil mengangkat sendok, udah mulai geram dengan jawabam datar anaknya.


Aiman tertawa dan suaminya hanya bisa menggelengkan kepala. Istrinya ini sungguh menggemaskan, tidak ada yang berubah sama sekali dalam dirinya waktu masih muda dan sudah tua begini.


" Ih.. Anak ini!!" Geram mama, membuat Aiman menghentikan tawanya.


" Maaf ma." Ucap Aiman, sela tawanya reda.


" Ayo cepat katakan siapa nama pacar kamu Man!" Seru mama Aiman.


" Namanya Yasmin ma? Yasmin alana putri." Jawab Aiman, meneguk air dalam gelas.


" Namanya bagus sekali!" Seru mama Aiman. " Dia kerja di mana?"


" Dia masih sekolah Ma, kelas dua sma."


" Apa!" Teriak bersamaan, sepasang suami istri. membuat Aiman sudah menduga bila ke dua orang tuanya akan terkejut mendengar jawabannya.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃