
" Kamy Mau kemana Lin?" Tanya Teguh, melihat putrinya turun dari tangga. melewatinya yang sedang menonton tv bersama Saskia dan Ali.
" Mau ke panti, Aku mau nginap di sana malam ini." Jawab Lintang, membawa tas yang sudah berada di punggungnya.
" Enggak boleh... Besok saja. Sekarang kembali ke kamar." Larang Teguh, berdiri menghampiri putrinya. Yang sudah memakai sepatu.
" Ini belum malam, masih jam enam." Kata Lintang, melihat jam yang masih menunjuk di angka enam.
" Ayah gak ijinin kamu menginap di sana Lintang! Masuk." Lintang mengerutkan kening mendengar Ayahnya yang melarangnya pergi ke panti.
Padahal bila Lintang sudah minta ijin, ayahnya tidak akan melarang dan membiarkannya ke panti hingga esok hari kembali. Tapi kali ini ayahnya sungguh menyebalkan.
" Kenapa? Bukannya dulu sudah sepakat kalau aku boleh main dan menginap di panti. Kenapa sekarang ayah berubah."
" Buat apa ke panti, kamu sudah punya rumah. dan gak perlu menginap-nginap di sana. Sekarang ayah minta kamu masuk, jangan pernah pergi lagi ke panti. Ayah gak mau itu Lintang!"
" Alasan ayah apa ngelarang aku ke panti." Tanya Lintang, tak takut bila harus mengadu mulut lagi dengan ayahnya.
Lintang paling tidak suka di atur-atur lagi oleh orang tuanya. Bila dulu dirinya penurut, sekarang enggak lagi. Percuma karna itu semakin membuatnya kesal.
" Mas? Biarin, lintang menginap di sana malam ini. Enggak apa-apa." Kata Saskia, menjadi penengah di antara Lintang dan ayahnya.
" Gak boleh.. meskipun malam ini saja tetap gak boleh. Aku gak mau Lintang bertemu sama dia lagi." Kata Teguh.
Membuat Lintang mengerutkan kenig ' Dia ' Siapa yang ayah maksud ' Dia'. Apa itu mamanya yang ayahnya maksud.
Ah.. sekarang Lintang mengerti, dari mana mamanya mendapatkan alamat rumah ibu tirinya ini. Itu pastinya dari pihak panti, yang memberikan alamat ibu tirinya. Dan membuat keributan di rumah yang sudah mulai tenang ini, di usik oleh mama kandungnya. Hanya demi ingin bertemu dengannya.
" Mas, biarkan malam ini saja?"
" Enggak boleh!" Suara Teguh sedikit meninggi, membuat Saskia sedikit terkejut.
Lintang tak pernah melihat ayahnya bersuara lantang pada ibu tirinya. Ini untuk pertama kali Lintang melihatnya dan membuat ibu tirinya terdiam.
Lintang menatap tajam ayahnya yang juga sama menatapnya tajam. Mengalihkan tatapannya ke ibu tirinya.
" Aku masuk ke kamar Bun." Pamit Lintang, melangkah pergi saat Saskia hanya mengangguk dan sedikut tersenyum. Lintang tau bila ibu tirinya itu sedang menahan tangisannya. Dan tak ingin anak-anaknya tau bila dirinya menangis, akan bisa mengakibatkan Anak-anaknya menyalahkan ayah tiri dan juga Lintang.
Menaiki anak tangga saat akan menuju kamarnya, Lintang melihat Abbas yang berdiri tak jauh dari kamarnya. Menatapnya datar dan dirinya hanya bisa menghembuskan nafas berat.
" Maaf, sudah buat Bunda di bentak sama ayah tiri kamu." Kata Lintang, sebelum masuk ke dalam kamarnya.
" Itu wajar, karna Bunda bela mbak." Jawab Abbas, membuat Lintang yang sudah membuka pintu menatapnya kembali.
" Bunda akan bela anak-anaknya, meskipun anaknya tetap salah. Bunda juga akan melindungi anak-anaknya, walaupun nyawa juga taruhannya. Termasuk, mbak Lintang." Imbuhnya lagi. Melangkah pergi masuk ke dalam kamarnya.
' Termasuk dirinya'.
Ya, termasuk dirinya. Ibu tirinya melindunginya. Lintang kembali menghembuskan nafas, masuk ke dalam kamar dan meringkuk kembali ke atas ranjang. Menumpahkan semua tangisannya di bawah kasur dan selimut.
*****
" Aku pikir mbak gak bisa nangis, taunya cuma marah doang." Cibir Abbas, mengambil helm dari tangan Lintang saat sudah sampai di depan sekolah Lintang.
" Siapa yang nangis?" Sangkal Lintang.
" Siapa lagi kalau bukan mbak yang nangis. Tu.. Matanya masih bengkak!" Seru Abbas. selalu memperhatikan mata Lintang dari sarapan hingga sampai di depan sekolah.
" Kurang tidur! Mangkanya mataku memang begini."
" Hilih... Alasan." Cibir Abbas. " Tambah jelek banget mbak." Imbuhnya membuat Lintang memukul lengannya dan Abbas tertawa karena Lintang mulai cemberut.
" Aku lihat mata Bunda juga sama kayak kamu mbak." Lirih Abbas.
" Gara-gara aku ya Bas, Bunda nangis. Maaf." Kata Lintang.
Merasa bersalah sudah membuat ibu Abbas menangis akibat di bentak oleh ayahnya hanya karna membelanya terus-menerus. Bukan maksud ingin membuat ayah dan ibu Abbas bertengkar, tapi sungguh. Ia hanya ingin menenangkan diri, itu saja. Tapi malah kini malah permasalahannya merambat ke mana-mana.
" Minta maafnya sama Bunda, bukan sama aku mbak!" Kata Abbas. " Dah, aku jalan dulu. Sudah mau telat." Pamit Abbas membuat Lintang hanya mengangguk. Dan menatap motor Abbas yang mulai menjauh.
Lintang melangkah gontai berjalan melewati halaman sekolah, berhenti saat namanya di Panggil. Kembali berdecak dan berjalan kembali, tak menghiraukan lelaki yang sedang mengejarnya.
" Lintang?" Panggil Satya, saat sudah menjajarkan jalannya bersama Lintang.
" Apa?" Jawabnya ketus. Tanpa mau menatap Satya.
" Kamu habis nangis?" Ucap Satya, memperhatikan mata Lintang sedikit membengkak.
" Enggak. Kurang tidur."
" Jangan bohong Lin?" Masih berjalan beriringan, melewati kelas-kelas dan siswa siswi yang sedang melihatnya berjalan bersama.
" Ngapain aku bohong!" Ketus Lintang. " Udah sana, jalan ke kelas kamu sendiri. Jangan ngikuti aku." Usir Lintang dengan lirih. Risih sekali rasanya kakak kakak kelasnya melihatnya, apa lagi saat berjalan dengan Satya.
" Aku mau antarin kamu sampai kelas."
" Apaan sih..! Aku gak buta, gak perlu di antar juga." Jawab Lintang, berjalan terlebih dulu agar tidak terlalu dekat dengan Satya. Satya hanya menggelengkan kepala, tidak marah dan mengikuti Lintang dari belakang hingga gadis itu masuk ke dalam kelasnya.
Di dalam kelas Lintang, teman-temannya heran dan juga mulai bisik-bisik kehadiran Satya yang melongok di ambang pintu kelas. Menatap Lintang yang berjalan ke bangkunya.
Lintang duduk di bangkunya, meletakkan tas di atas meja. Membenamkaj wajahnya di atas tas sambil menutup mata.
" Kamu kenapa?" Tanya Yasmin pada Lintang.
" Enggak apa-apa. Cuma ngantuk saja." Jawab Lintang. Membuat Yasmin ber'o ria dan menganggukkan kepala, kembali melanjutkan tugas sekolahnya yang belum usai.
" Udah ngerjain PR belum. kalau belum cepat nih kerjain sebelum bel bunyi." Kata Yasmin, membuat Lintang menoleh ke arahnya dan melihat Yasmin menyalin jawaban dari buku milik orang.
" Nyontek dari siapa?" Tanya Lintang.
" Bimo? Bimo nyontek dari Anis." Jawabnya.
" Ada gunanya juga?" Cibir Lintang membuat Yasmin tertawa. Dan kembali tegap mengambil buku di dalam tas, ikut menyalin jawaban dari buku Bimo yang ternyata sama nyonteknya dari Anis. Teman kelas yang menyukai Bimo.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃