Our Story

Our Story
Sepasang anting



di mana ada ijab khabul, pasti ada pesta pernikahan. Ya, pesta pernikahan Yasmin di adakan di sebuah hotel bintang lima. Rombongn keluarga Aiman dan juga Yasmin sudah berada di hotel, tempat menginap dan juga pesta pernikahan.


Sore ini Yasmin tampil cantik dengan gaun putih ekor panjang di tambah mahkota kecil di atas kepala. Gaun yang di pilihnya bersama mama mertua. Selera yang sama dan elegan, meskipun sedikit terbuka di bagian dada Yasmin. Tapi memang itulah pilihan Yasmin dan juga mama mertua, ya walaupun sedikit terdapat protesan dari Aiman karena gaun Yasmin yang terbuka. Tapi tak apa, hanya sekali dalam seumur hidup. Demi membahagian mama dan istrinya.


Di salah satu ruang kamar, sedikit ada perdebatan di antara dua sahabat wanita yang sedang di paksa dan enggan melakukan.


" Aku gak mau!" Seru Lintang, merasa dongkol dengan paksaan dari Yasmin saat mereka sedang di rias oleh wo.


" Pokoknya kamu harus mau Lintang!" Seru Yasmin, tak mau ngalah dengan Lintang.


" Aku gak pd, dan aku gak biasa pakek baju kayak gitu Yasmin! Gila apa, kamu sudah nyiksa aku pakek kebayak tadi pagi, sekarang kamu maksa aku lagi pakek dress kayak gini! Oh.. No." Jengkel Lintang.


Sungguh, ia di buat jengkel sedari pagi oleh Yasmin yang memintanya untuk memakai baju kebaya di akad nikah dan sekarang menyuruhnya untuk memakai dress berwarna pastel.


Ia tidak akan menyangka bila ia juga harus ikut berdandan untuk menemani sang mempelai wanita. Niatnya memang menemani, tapi tidak juga harus memakai baju yang membuat dirinya ribet sendiri. Lintang sungguh malas dengan itu, tapi demi mama Yasmin yang memintanya ia terpaksa dan rela di make up dan di sanggul kecil rambutnya.


Gila.


Banyak pujian dari sahabat dan juga ke dua orang tuanya serta dua adiknya yang ikut menjadi tamu undangan di acara akad nikah Yasmin. Ayah dan Bundanya, begitu memuji kecantikan Lintang. Meminta foto bersama, untuk di abadikan.


Sungguh, kebaya itu membuat Lintang tak betah memakainya. Selesai dua hingga tiga jam akad nikah, ia terbebas dari siksaan kebaya dan cepat memilih ganti baju yang nyaman.


Dan kini, harus memakai dress yang sudah di siapkan Yasmin lagi di acara resepsi pernikahannya. Apa lagi, bahunya terbuka serta panjagnya hanya sampai di bawah lutut. Dan itu membuatnya semakin tak percaya diri.


" Terus kamu mau pakek apa! Mau pakek celana robek-robek dan kemeja di pesta pernikahanku! Itu bukan ke pesta lin.. Tapi mau ngelamar kerja." Ketus Yasmin.


Sudah di pastikan, Ya. Lintang akan memakai celana jins dan kemeja putih.


Yasmin memutar kursinya untuk menghadap Lintang yang terdiam di belakangnya.


" Please lin.. pakai ya, sekali ini saja. Demi sahabat kamu ini." Melas Yasmin, berharap sahabatnya akan luluh dan mau memakainya.


" Pakai saja lah lin! Dari pada itu anak nangis, terus gak selesai-selesai make upnya. Kasihan juga kan ibu periasnya." Kata Bimo.


" Iya kapai aja, cuma sekali Lin. demi sahabat kamu yang mau nikah." Imbuh Galuh.


" Please!" Melas Yasmin lagi.


Lintang menatap Yasmin, bergantian dengan Bimo dan Galuh. Ia pun juga menatap dua wanita perias yang sedang menunggu Yasmin berbalik. Lintang pun mendesah dan berdecak. dan terpaksa ia mengangguk menyetujui permintaan Yasmin.


" Ah... Makasih Lintang!" Riang Yasmin, berdiri dan memeluk sahabatnya.


" Mbak, tolong nanti rias ini juga ya." Kata Yasmin pada salah satu perias pengantin.


" Iya mbak." Ucap perias itu dengan senyum dan anggukan.


" Ya sudah sana cepat ganti, satu jam lagi kita akan turun." Kata Yasmin.


" Iya." Pasrah Lintang. Menoleh ke arah Bimo dan Galuh yang menahan tawa.


Dua sahabat lakinya tau, bila Lintang anti sekali baju ala-ala gadis manja.


" Bangk*k!" Umpat lintang pada dua sahabat lelakinya. Dan mereka tak bisa menahan tawa mendengar umpatan Lintang.


****


" Tuh kan.. Kamu cantik Lin pakai baju itu!" Seru Yasmin, melihat Lintang yang sudah di make up dan memakai baju yang di pilihnya khusus untuk sahabatnya.


Bukannya tersipu, malah Lintang berdecak. " Aku gak PD Yasmin!" Jengkel Lintang.


" Ih.. Sekali ini aja, percaya diri kenapa sih Lin! Jangan di lepas, sebentar lagi turun ke bawah." Larang Yasmin.


" Iya, iya bawel." Gumam Lintang.


Dan kembali duduk di depan cermin, sambil menatap wajahnya yang sudah di rias. Sedangkan Yasmin, masih di pakaikan gaun oleh dua penata rias di belakangnya.


" Mbak Lintang, mau pakai anting-anting gak. Biar tambah anggun." Saran penata Rias, membuat Lintang menoleh ke samping.


Lintang menatap ke cermin, melihat telinganya yang tidak pernah lagi memakai anting. Dan ia teringat akan pemberian dari Satya.


" Sebentar mbak." Ucap Lintang, mencari tasnya yang ada di atas ranjang. Menggeledah tas dan menemukan kotak hitam pemberian dari Satya.


" Kamu pasti cantik kalau pakai itu di acara nikah Yasmin."


" Pakai ya, jangan pernah di lepas."


Menggigit bibir dalamnya, mata pun mulai mengembun saat mengingat pemberian Satya di malam ia pamit untuk selama-lamanya.


Lintang menggeleng, tidak boleh menangis lagi. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Menghembuskan nafas berat dan kembali berjalan menuju penata rias yang merias wajahnya.


" Mbak, bisa minta tolong pakaikan ini." Kata Lintang, memberikan kotak hitam pada perias.


Perias pun menerimanya dan melihat isi kotak hitam. Sepasang anting tindik berbentuk bulan di tambah hiasan bawahnya berbentuk bintang.


" Bagus banget mbak Lintang." Puji perias melihat anting pemberiam Satya.


" Apanya yang bagus mbak." Kepo Yasmin, selesai memakai gaun dan sepatu tingginya. Menghampiri Lintang dan penata rias.


" Ih.. Bagus banget. Punya siapa ini mbak." Tanya Yasmin.


" Punya mbak Lintang Mbak." Jawab Perias.


" Bagus Lin, kenapa gak di pakai sih!" gerutu Yasmin. Punya sahabat gayanya terlalu tomboy sekali. Tidak ada anggun-anggunnya.


" Baru ingat." Jawab Lintang seadanya, membuat Yasmin berdecak.


Suara ketukan pintu dari luar dan membukanya perlahan.


" Yasmin! Sudah nak, ayo kita ke bawah. Semua tamu sudah datang." Kata Mama mertua. Membuat Yasmin mengangguk tersenyum.


" Tolong Pasangin ya mbak, itu gak tau telinganya masih berlubang apa gak." Kata Yasmin, sebelum pergi meninggalkan Lintang sendiri. " Aku tunggu cepat di bawah, awas sampai gak keluar. Aku suruh Bimo dan Galuh nyeret kamu." Ancam Yasmin.


" Iya!" Jawab Lintang seadanya. Pusing sekali dengan kecerewetan serta ancaman pengantin baru.


Lintang kembali duduk di depan cermin saat penata rias mulai memakaikan anting di telinganya. Sepasang anting sudah menempati telinga Lintang. Seperti bukan dirinya, terlihat lebih cantik memakai anting pemberian Satya.


" Kamu cantik banget pakai ini." Puji perias.


" Makasih mbak." Jawab Lintang tersenyum.


Perias pamit, ke gedung bawah bersama perias lain untuk memastikan sang pengantin dan yang lainnya terlihat menawan di hadapan para tamu.


Kini Lintang sendiri, masih menatap dirinya di hadapan cermin. Sepasang anting yang ada di telinganya, membuat dirinya menitikan air mata.


Bayangan di mana Satya memberikan sepasang anting padanya. Tersenyum manis yang tak akan pernah di lupakannya.


" Aku kangen kamu Satya. Kangen kamu." Gumam Lintang, menundukkan kepala dan menangisi lelaki yang selalu ada untuknya.


" Lintang?" Panggil Bimo, membuat Lintang segera menghapus air matanya.


Bimo masuk ke dalam kamar, melihat Lintang yang sibuk menundukkan kepala.


" Kamu nangis Lin." Tanya Bimo.


" Enggak." Elak Lintang, dan berdiri dari duduknya. " Ayo." Imbuhnya.


Lintang yang akan berjalan di hadang Bimo, dan membuat Lintang menatapnya.


" Kamu gak bisa bohongin aku, kamu nangis. kenapa. Kangen, sama Satya." Cecar Bimo.


" Enggak." Jawab Lintang, tersenyum pada Bimo. Bila dirinya tidak merindukan Satya.


Bohong.


Nyatanya ia memang merindukan Satya.


Bimo memeluk Lintang. Mengusap punggung sahabatnya. " Kamu gak bisa bohongin aku Lintang, aku tau kamu kangen sama Satya." Ucap Bimo.


Ya, ia merindukan Satya. Dan Lintang kembali menangis dalam pelukan Bimo, sahabatnya.