
Aiman kembali menatap datar mantan kekasihnya yang menangis, menghembuskan nafas berat dan berdiri tepat di hadapan marsya yang hanya di batasi meja bar.
Kelemahan Aiman, wanita menangis di hadapannya. Meskipun wanita itu pernah menyakitinya.
" Jangan menangis. Kamu maunya apa sekarang." Kata Aiman, membuat Marsya mendongak menatapnya dan mengusap pipinya yang basah.
" Aku mau kita jalan Ai... Meskipun kita sudah gak ada hubungan lagi." Ucap Marsya. " Sekali ini saja, aku janji gak akan maksa kamu lagi lain waktu." Imbuhnya. Memelaskan wajah, berharap Aiman mau menurutinya. Meskipun itu memaksa dan menangis di hadapan mantan kekasih yang masih di cintainya.
Aiman kembali menghembuskan nafas berat, pandangannya mulai beralih menimang-nimang apakah ia harus menuruti permintaan wanita ini atau kembali menolaknya. Tapi bila menolak, akan ada banyak drama dan bila menuruti permintaannya mantan kekasihnya ini juga gak akan menempati janjinya bila sudah terpenuhi ke inginannya.
" Ai?" Panggilnya lagi dengan lirih.
" Iya." Jawab Aiman, membuat Marsya tersenyum mengmbang mata berbinar. tidak sia-sia dirinya menangis. Pasti Aiman tak akan bisa menolak dan akan menurutinya.
" Ayo?" Senang Marsya, turun dari duduknya mengambil tas dan menunggu Aiman.
" Doni?" Panggil Aiman, membuka pintu dapur. Membuat Doni menoleh ke arah bosnya.
" Aku tinggal sebentar." Pamit Aiman.
" Oke bang!" Jawab Doni, berjalan keluar dapur saat tak ada lagi drama mantan kekasih Aiman di luar bar tandernya.
Aiman berjalan di belakang Marsya, keluar cafe menuju parkir mobil wanita itu.
" Kamu yang nyetir ya Ai?" Kata Marsya, membuat Aiman mengerutkan kening.
" Kamu saja, aku lagi malas." Jawab Aiman, memutar jalan ke depan mobil dan membuka pintu mobil di samping kemudi.
Bila dulu Aiman memperlakukan Marsya sebagai putri raja. Kini tidak lagi, Aiman enggan sekali membukakan pintu mobil untuk Marsya atau menjadi sopir Marsya bila keluar bersama. Toh.. wanita itu yang meminta menemaninya jalan-jalan bukan dirinya. Dan untuk apa menjadi sopir bila wanita itu sendiri bisa menyetir.
Marsya memanyunkan bibirnya, sedikit menghentakkan kakinya kala aiman menolak untuk menyetir. Marsya masuk ke dalam mobil, duduk di balik kemudi dan menaruh tasnya di belakang kursi.
" Biasanya kamu gak pernah nolak Ai?" Cemberut Marsya, menyalakan mobil dan melaju pelan keluar parkir cafe.
" Aku lagi capek, kalau gak mau juga gak apa-apa. Gak usah keluar." Jawab Aiman menyandarkan tubuhnya di jok dan mulai membuka ponselnya.
" Cckk.. Nyebelin kamu Ai?" Sebal Marsya, tapi tetap mau menyetir mobil. Bagaimana pun ia ingin keluar dengan Aiman dan mencoba meraih hati lelaki itu agar mau memafkannya serta mau di ajak menjalin hubungan kembali.
Satu pesan dari Yasmin, membuat Aiman tersenyum membukanya.
" Masih ramai kak?" Tulis Yasmin, setengah jam yang lalu.
Aiman mulai mengetik. " Lumayan, belum tidur dek." Balas Aiman. Geli sendiri dengan panggilan baru untuk Yasmin.
" Kita ke tempat makan favorit kita ya Ai?" Ucap Marsya, membuat Aiman menoleh sebentar dan mematikan ponselnya.
" Terserah." Jawab Aiman. membuat Marsya hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Di tempat lain, Yasmin yang sudah hampir tertidur karena menunggu balasan pesan dari kekasihnya itu kini terbangun. Dan melihat balasan dari kekasihnya membuatnya tersenyum. Dan tersenyum lebih gila saat membaca balasan dari Aiman.
" Dek?" Ulang Yasmin, membuat pipinya memanas dan hampir berteriak saat Aiman memanggilnya 'Adek'.
" Ih.. Geli!!" Seru Yasmin. tertawa lagi memperhatikan pesan Aiman.
" Balas apa ini?" Tanyanya sendiri, menggigit bibir dan mengulum bibirnya. Rasanya malu sekali Aiman memanggilnya 'Adek'.
Yasmin tak pernah seperti ini, membalas pesan Aiman ya membalasnya seperti biasa. Tapi ini sangat beda. Kaku dan bingung sendiri setelah menjadi pacar Aiman. Beberapa kali Yasmin mengetik dan beberapa kali Yasmin menghapusnya. Hingga pesannya kembali kosong dan dirinya mulai gemas sendiri.
" Jangan telat makan ya kak, kalau capek istirahat. Biar bang Doni yang kerjain tugas kakak." Tulis Yasmin, dan mengirimnya langsung sebelum dirinya berubah pikiran lagi.
Yasmin kembali menaruh ponselnya di samping bantalnya. memeluk guling gemas dan mencoba memejamkan mata meskipun bibirnya tersenyum kembali.
Aiman dan Marsya turun dari mobil, berjalan bersama masuk ke dalam restoran tempat favorit makanan mereka sewaktu masih pacaran dan jaman kuliahnya dulu sebelum Marsya memutuskan hubungan melanjutkan studynya kembali ke luar negeri.
" Sedikit berubah ya tempatnya?" Ucap Masya, setelah memesan makanan untuknya dan Aiman.
" Iya." Jawab Aiman, meneliti tempat di mana dulu sering kali dirinya dan Marsya ke tempat ini selesai kuliahya.
Restoran terkenal dengan menu indonesianya. Masakan penuh dengan rampah-rempah dan juga menggiurkan di lidah serta mulut tak berhenti untuk mengunyahnya di tambah perut yang tak bosannya menampungnya berkali-kali.
" Aku di sana jarang sekali menemukan makanan kita. Kebanyakan selalu cepat saji. Bosan." Keluh Marsya.
Aiman hanya diam mendengar Marsya berbicara dan kembali melihat ponselnya yang bergetar.
" Tempat ini tempat makan yang selalu kita kunjungi selepas mata kuliah selesai. tempat ini juga, kita berbagi suka dan senang bersama. Ingat kan Ai?" Ucap Marsya. Membuat Aiman menatapnya.
" Itu dulu." Jawab Aiman datar.
" Kalau kita sekarang mulai lagi gimana?"
" Enggak akan. Dan gak akan pernah bisa lagi." Tegas Aiman.
" Kenapa? Bukannya kamu masih sayang sama aku Ai?" Kata Marsya, percaya diri sekali Aiman masih mencintainya.
Tersenyum simpul, menatap Marsya. " Udah enggak lagi, semenjak kamu ninggalin aku." Jawab Aiman dingin.
Benar, tak ada cinta atau sayang lagi dari Aiman semenjak Marsya mencampakkannya hanya demi ambisinya. Bukan tidak senang melihat Marsya mengejar karir dan sukses dari dirinya. Tapi caranya yang mininggalkannya membuatnya sakit hati dan tak ada lagi yang harus Aiman pertahankan hubungan di antara dirinya dan Marsya.
Perjuangan Aiman selama bersama Marsya dan juga cintanya dengan wanita itu membuatnya seakan buta, serta tak mempedulikan ucapan orang-orang tentang Marsya yang selingkuh di belakangnya. Karena dirinya juga tidak pernah melihat atau mengetahuinya langsung. Bila bukan ada seseorang yang mengirimkan foto-foto Marsya begitu mesra dengan lelaki bule itu.
Itulah sebabnya Marsya meninggalkannya tanpa penjelasan dan tanpa kata-kata salam berpisah.
" Tap-,"
" Kalau kamu masih bahas soal ini, lebih baik aku pulang." Potong Aiman.
" Jangan..." Cegah Marsya. " Oke, oke.. Aku minta maaf. Jangan pergi, aku gak akan bahas lagi Ai." Imbuhnya, menyentuh tangan Aiman hingga Aiman menarik tangannya dari Marsya membuat Marsya mengerucutkan bibirnya.
Aiman berubah.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃