
" Aku senang, kamu sudah memafkan mama dan Ayah kamu." Ucap Satya, duduk di samping gadis manis menatap puluhan motor depan parkiran rumah sakit.
Lintang tersenyum tipis, menatap Satya. " Makasih, karena ucapan kamu. Mungkin aku masih tidak akan pernah mau memafkan ke dua orang tuaku... Sakit, masih membekas. tapi seiringnya waktu akan menghilang sendiri." Ucap Lintang, mendongak menatap langit malam tanpa bintang.
" Kamu bilang... tidak akan ada yang namanya bekas orang tua, apa lagi bekas anak. Walaupun keluarganya sudah tidak lagi utuh. Tetap saja, sebenci-bencinya anak, itu tetap orang tua kita. Darahnya mengalir di tubuh kita, dan tidak akan pernah bisa di ganti yang lain." Imbuhnya, sambil mengingat ucapan Satya beberapa waktu lalu yang memberikannya nasehat di saat ia bimbang dengan pilihannya sendiri.
Mungkin bila ia tidak mendengar kata-kata Satya waktu itu, Lintang pastinya masih dengan kebimbangan hati. Antara memafkan tulus atau terpaksa.
Baginya ucapan Satya itu membuatnya tersadar, bila yang namanya ikatan darah tidak akan bisa untuknya membenci dalam. Meskipun itu menyakitkan hati, tetap saja pasti akan ada rasa kasihan dan juga memafkan walaupun di akhir penyesalan yang dalam.
Ucapan satya sangat membuat hati dan pikirannya terbuka. Terbuka, untuknya memafkan dan mencoba berdamai dengan masa lalu, serta mencoba memperbaiki hubungannya dengan ke dua orang tuanya serta menerima pilihan orang tuanya yang ingin kembali memiliki keluarga utuh dan menemukan kebahagian.
Lintang harus menerimanya, apapun itu. Ia juga tidak boleh egois. Mama, Ayahnya, juga perlu bahagia dan perlu kembali melanjutkan hidupnya.
Satya tersenyum, ucapan darinya bukan sepenuhnya dari pemikirannya. Tapi itu kutipan dari ayahnya, yang pernah mengatakan padanya saat ia bertanya tentang arti keluarga dan perpisahan.
Ya, Yang di ucapkan ayahnya benar. Yang ada hanya mantan istri, atau mantan suami. Tapi tidak ada yang namanya mantan anak atau mantan orang tua meskipun mereka sudah berpisah.
malam dimana Lintang kembali menyenderi, di jembatan penyebrangan tengah malam hari. Mungkin itu akan menjadi kebiasaan Lintang mulai ini, dia suka dengan malam di atas jembatan penyebrangan, melihat lampu-lampu kendaran di bawah sana.
Satya tau, sebenarnya Lintang bukan orang yang pendendam. Gadis itu hanya merasa kecewa. Sendiri di saat ia madih membutuhkan seorang ayah dan ibu.
" Ya.. Mungkin kita juga tidak akan ada, bila tidak ada mereka." Kata Satya.
Lintang tersenyum. benar, Mungkin dirinya tidak akan ada, bila tidak ada dua orang saling mencintai dan berpisah dengan pilihan mereka sendiri. Tanpa harus meminta pendapat dari seorang anak yang sudah melengkapi hidup mereka dulu.
" Sudah malam, kamu sudah makan?" Tanya Satya, membuat Lintang menoleh ke arahnya.
Menggelengkan kepala. " Aku sampai lupa dari siang belum makan?" Ucapnya.
Satya berdecak, sudah ia duga bila Lintang melupakan kebutuhannya sendiri. Terlihat, Gadis di sampingnya sedikit kurus, lingkaran mata terlihat sedikit menghitam dan cekung.
" Sudah aku ingatkan berapa kali? Kalau kamu juga harus jaga kesehatan, dan teratur makan? Lihat.. Kamu sedikit kurus sekarang." Jujur Satya, Lintang mengecurutkan bibir.
Bukan hanya Satya saja yang bilang bila dirinya sedikut kurus. Yasmin, Bimo dan Galuh mengatakan bila dirinya juga kurus. Padahal ia tidak menjalankan progam diet, memang kesibukan dan pikirannya sangat menguras hingga melupakan makan dan istirahat yang tepat.
" Ayo, kita cari makan. Aku enggak ingin lihat kamu kurus kayak gini! Jelek." Kata Satya, berdiri dari duduknya dan menatap Lintang dengan senyum menggoda serta mengulurkan tangannya di hadapan gadis itu.
Menyebalkan.
Lintang menerima uluran tangan Satya, berdiri dari duduknya dan melangkah bersama menuju parkiran motor.
" Tumben pakai motor ini?" Ucap Lintang, saat berhenti tepat di depan motor Satya yang terparkir mencolok dari motor yang lain.
Motor copling, kesayangan pertama Satya hasil kerja kerasnya mendapatkan hadiah dari ayahnya.
" Yang punya motor lagi marah, gak di bolehin lagi makai." Jawab Satya.
Bagaimana yang punya tidak marah! Setiap pagi mamanya harus mengisi bensin, karna anaknya laki bila meminjam tidak pernah mengisinya kembali dan selalu habis di pakainya entah kemana saja. Sampai bensin menipis dan pernah mogok di jalan saat mamanya mengendarainya menuju minimarket.
" Jangan tanya kenapa? Aku lupa ngisi bensin, pagi di pakai mama ke pasar, belum sampai ujung gapura motornya mogok." Imbuhnya, sambil memakaikan helm di kepala Lintang.
" Pantas di sita." Gumam Lintang.
" Hhmm.." Sambil mengangguk lemah. " Udah di larang pakai motor itu lagi sama yang punya. Suaminya juga marah, kalau masih pakai motor istrinya. Katanya Motorku bakal di lelang. Sadis kan! pasangan suami istri itu!" Adu Satya.
Bukannya prihatin, Lintang malah tertawa mendengar aduan Satya. Padahal yang sedang di bicarakan orang tuanya, tapi seakan satya seperti tertindas orang lain saja.
" Ayo naik?" Perintah Satya. Lintang menyentuh bahu satya, untuk naik ke atas boncengan motornya.
" Kamu mau makan apa?" Tanyanya, menoleh ke belakang sebelum melajukan motornya keluar dari parkir rumah sakit.
" Cari bakso saja, aku pengen yang kuah-kuah." Jawab Lintang.
Untung Lintang bukan seperti gadis yang lain, bila di tanya mau makan apa. Jawabannya, selalu terserah. Oh... Menyebalkan. Membuat para lelaki bingung dengan sendirinya.
Satya mengangguk, mulai menjalankan motornya keluar parkir rumah sakit. Sambil mengobrol dan mencari warung bakso.
Di sisi lain, Yasmin bersama Aiman duduk berdua di teras rumah. Yasmin menyandarkan kepalanya di bahu Aiman. Menatap Langit malam yang begitu cerah tanpa Bintang.
" Makasih kak, sudah bantu aku selama ini. Maksih mau menerimaku apa adanya. Aku tidak tau harus membalas kakak dengan apa?" Ucap Yasmin sungkan.
Ya, Yasmin baru mengetahui bila Aiman selama ini membantunya lewat melalui bik sum tanpa sepengetahuannya. Kekasihnya memberikan kebutuhan keluarganya tanpa ada yang kurang sedikitpun.
Kecurigaan Lintang saat melihat Bik Sum membawa kebutuhan makanan begitu banyak dan struk belanja melebihi uang yang dirinya berikan. Lintang meminta Bik Sum untuk jujur dengannya. Lintang takut bila bik Sum memakai uang gajinya hanya untuk membayar sebagian kekurangan bahan makanan selama ini.
Nyatanya bukan bik Sum yang membantunya, Tapi kekasihnya. Dan Kartu debit yang berikan Aiman pada Bik Sum, di gunakan begitu baik olehnya, tanpa mau memanfaatkannya.
Sungguh beruntung Lintang mempunyai pembantu seperti bik Sum. Bukan hanya setia, tetapi juga pengertian.
Aiman mengusap tangan mulus yang berada di genggamannya. Awalnya gadisnya marah, mengetahui ia membantunya. Tapi dengan pengertian dan juga sabarnya, Aiman bisa meluluhkan hati Yasmin.
" Tahun ini kamu sudah lulus sekolah kan?" Tanya Aiman.
" Iya. Doain, semoga aku lulus." Jawab Yasmin.
" Kalau begitu, aku ingin setelah kamu lulus kita nikah."
" Eh!" Terkejut Yasmin, menjauhkan kepalanya dari bahu Aiman.
Mata melebar menatap Kekasihnya, Ajakan untuk menikah setelah ia lulus sekolah.
Apa artinya Yasmin di lamar?