
Mungkin benar, sudah seharusnya berdamai dengan masa lalu. Dan sudah seharusnya saling memafkan, walaupun masih ada rasa sedikit sakit. Tapi pasti akan menghilang dengan seiringnya waktu dan akan terganti dengan kebahagiaan.
Apa yang di katakan istrinya beberapa waktu lalu membuat teguh tersadar. Dan sudah memikirkan dengan matang apa yang harus ia lakukan saat ini.
Memaafkannya.
Kini, dirinya sudah berdiri di depan rumah sakit bersama sang istri. Ia sudah menuntaskan hatinya untuk memafkan mantan istrinya yang sekarang sedang berada di rumah sakit, untuk berjuang demi hidup.
Saskia, mengusap lembut lengan suaminya. membuat ke duanya saling menatap. Saskia tersenyum hangat meyakinkan suaminya untuk melangkah bersama dan tak ingin mengingkari janji pada putri gadis kecilnya.
Teguh membalas senyuman istrinya, semangatnya untuk melangkah bersama dengan istrinya terasa ringan. Mendapatkan dukungan dan kepercayaan, mungkin bila ia tak bersama dengan Saskia. Dirinya pasti masih akan menaruh kemarahan dan kekecawaan pada mantan istri dari putrinya itu.
Bagaimana sang mantan memintanya bercerai, bagaimana dia bilang bila tidak mencintainya dan juga sudah berpaling dengannya.
Hatinya begitu remuk reduh, begitu sakit dengan perkataan istrinya dulu dan sudah menghianati cinta serta rumah tangganya yang begitu sempurna di matanya.
Teguh jelas saja tidak terima akan penghianatan ibunya lintang. Menerima perceraian dan tidak akan memaafkan perbuatan mantan istrinya.
Dan kini teguh mengerti, bila dirinya hanya di bohongi oleh mantan istrinya itu. Teguh tau bagaimana setianya Rosa padanya dulu, dalam keadaan susah maupun senang Rosa selalu menemaninya dan membangkitkan kekuatannya bila ia tidak sendiri. Ada istri dan juga anaknya yang akan selalu mendukungnya.
Rosa membohonginya, membodohinya dan membuatnya menjadi suami yang tidak bertanggung jawab sepenuhnya. Meninggalkan Rosa dengan penyakit yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.
Berdiri di depan pintu kamar ruang inap Rosa, Teguh menghembuskan nafas berat. Sekali lagi mencoba kuat dan biasa saja, tapi hatinya tidaklah seperti apa yang di inginkannya.
" Ayah?" Panggil Lintang, membuat Teguh dan Saskia menoleh ke sumber suara. Mendapati Lintang berdiri tak jauh darinya dengan seragam sekolah masih menempel di tubuhnya.
Lintang berjalan, ada senyum di bibir Lintang dan juga mata memancarkan rasa bahagia melihat kehadiran ayahnya di rumah sakit.
" Ayah, Bunda." Sapa Lintang.
Teguh tersenyum, mengusap pipi putrinya yang kini sudah menginjak remaja. Dulu, pipi Lintang sangat gembul badannya terisi dan tak begitu tinggi. Tapi seiringnya waktu, putrinya sudah tumbuh besar rambutnya begitu panjang, tingginya seperti mamanya tubuhnya tidaklah begitu gemuk dan wajahnya begitu cantik.
" Ayah, mau njenguk mama." Kata Teguh,
membuat Lintang tidak bisa lagi menyembunyikan senyumannya. Lintang menghambur kepelukan ayahnya, rasa haru dan bahagia dalam hati keluar sudah dari dalam dirinya.
" Makasih Yah, makasih sudah menuruti permintaan Lintang." Ucap Lintang.
" Sama-sama." Jawab teguh, mengusap punggung putrinya.
Saskia juga merasa senang, ikut bahagia melihat anak dan ayah saling berpelukan. Pertama kali, ayah dan anak berpelukan setelah sekian lama anaknya memusuhinya dan menyalahkan ke dua orang tuanya yang menelantarkannya.
Saskia tidak akan marah, tidak akan cemburu karena semuanya sudah berakhir dan sudah memiliki keluarga masing-masing. Saskia tau, bila teguh hanya menghargai ibu Lintang dan tidak memanggil nama di depan putrinya. Hingga itu tidak perlu ada yang perlu di cemburukan. Kecuali, teguh masih mencintainya.
Nyatanya, teguh sudah tidak mencintai ibunya Lintang. Teguh hanya mencintainya, dan cintanya hanya untuknya. Itu yang di katakan berulang-ulang padanya. Saat berhubungan pun hanya namanya yang di sebutkan dalam alunan sangat merdu dan menggoda.
" Ayo yah, bun. Kita masuk." Ajak Lintang, membuat Saskia tersadar dari lamunannya.
Saskia tersenyum, mengikuti langkah Lintang yang sudah membuka pintu kamar inap. Dan pandangan pertama yang ia lihat, mantan istri teguh berbaring lemas dengan infus dan juga alat pernafasan di wajahnya.
" Lintang?" Lirih Rosa, matanya menatap putrinya dan dua orang yang berada di belakangnya.
Roy, yang melihat kehadiran mantan suami rossa tersenyum. Ia sudah tau bila mantan suami istrinya itu akan ke rumah sakit menjenguk Rosa. Ia juga sudah tau, kehadiran teguh di rumah sakit, karena Lintang yang mengatakan padanya, ingin mendamaikan ke dua orang tuanya saling memaafkan walaupun tidak lagi bersama.
Karena Lintang tau ayah dan mamanya sudah memiliki keluarga sendiri.
" Ma.. Lintang datang, sama Ayah dan Bunda." Ucap Lintang, berdiri di samping Mamanya dan mengusap pelan tangan yang tidak tertancap selang infus.
Rosa tersenyum, tangannya begitu lemah seakan tidak ada tenaga mengangkatnya dan menyentuh pipi putrinya.
Lintang membawa tangan mamanya pada pipinya, tangan yang tak sehangat seperti dulu, tidak lagi sekuat dulu saat menguncit rambutnya dan tidak ada lagi cerah di kulit tangannya.
Lintang meneteskan air mata, melihat keadaan mama yang semakin hari semakin melemas dan memburuk. Ia ingin mamanya sembuh, Tapi dokter seakan sudah tidak bisa lagi menyembuhkan mama dan Tuhan, juga tidak akan mungkin mengubah takdir yang sudah di gariskannya.
Saakan Tuhan berkata, sudah waktunya.
Bisakah Tuhan mengambil nyawanya saja, untuk menggantikan mamanya. Ia ingin melihat mamanya sembuh, ingin melihat mamanya bahagia sama seperti ayahnya yang kini hidup bahagia dengan istri dan anak-anak barunya.
Ia rela menukar nyawanya, ia juga sudah merasakan senang pahitnya kehidupan. Ia ingin mendonorkan tulang sum sumnya pada sang mama, tapi perkataan dokter membuat dirinya dan papa tirinya tercengang.
Sudah delapan puluh persen, penyakit mamanya menjalar keseluruh tubuh dan otaknya, dan Lima belas persen meskipun sudah di oprasi kemungkinan tak akan selamat. Karena tubuh mamanya sudah melemah.
Papa tirinya menyayangkan dan tidak ingin Lintang mendonorkan tulang sum-sum pada istrinya. Bukan tidak cinta, bukan. Hanya saja perkataan dokter membuat hatinya sudah hancur dan tidak ada harapan lagi bagi Rosa untuk sembuh serta selamat dalam oprasi.
Roy juga sudah berjanji pada rosa untuk menjaga putrinya, dan membuat putrinya bahagia. Sudah cukup penderitaan Lintang yang di alaminya karena perceraian ke dua orang tuanya. Rosa ingin masa depan putrinya cerah dan bahagia. Dan Rosa ingin Lintang bisa menjaga Roy, yang akan hidup tua sendiri tanpa pendamping.
Roy bilang, tidak akan lagi menikah. Sudah cukup, dua kali saja dan sudah cukup dua orang mengisi hatinya.
" Makasih, sudah bawa ayah kamu ke sini?" Kata Rosa lirih, mengusap air mata putrinya.
" Kami akan keluar, mama bisa bicara berdua sama ayah." Kata Lintang.
Rosa menatap Roy, seperti meminta ijin padanya. Roy mengangguk tersenyum, mengijinkan istrinya berbicara pada mantan suaminya. Begitu pun Saskia, yang juga tersenyum dan mengangguk saat Rosa menatapnya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
Hay, apa kabar.😁😁
Maaf ya kalau enggak pernah update. Maklum lah karena kesibukanku di dunia lain. Hahahah, bercanda.😅😅
Oh iya, Kali ini aku akan habisin cerita ini. setelah itu baru aku akan kembali fokus dengan cerita yang lain, tapi bukan di lapak ini. Mau cari pengalaman di lapak lain. Nanti aku kasih tau kalau sudah banyak bab, dan tentunya gratis tidak ada koin-koin kok.😀
Oke salam hangat dari Cuzie😘