Our Story

Our Story
tersadar



Pagi di hari minggu, di sambut hangat matahari menyinari bumi. Tidak ada yang hangat selain rumah penuh dengan canda tawa bersama orang-orang tersayang.


Pagi ini, bibir Yasmin tak hentinya tersenyum dan tertawa kecil mendengar celotehan dan godaan Bima pada Lintang. Yasmin terhibur dengan kehadiran dua sahabatnya, Kehadiran dua sahabat menginap di rumahnya sedikit melupakan beban begitu banyak di otaknya.


Mama yang sudah bangun dan seperti biasa akan menjemurnya di taman pagi hari, di temani dengan kekasihnya yang memberikan makan ikan membuat hatinya seakan hangat sekali. Sedangkan dirinya duduk di samping mamanya dan memijat punggung tangannya sambil sekali-kali mencuri pandang tubuh kekar kekasihnya.


" Dia pacar kamu Yas?" Tanya lirih Mama.


Yasmin tentu terkejut, menoleh ke hadap Mamanya. Untuk pertama kali setelah beberapa minggu, mamanya membuka bibir untuk berbicara padanya.


Apa ini mimpi? Atau dirinya salah dengar hingga berhalusinasi rindu dengan suara mamanya yang lembut itu. Ia benar-benar rindu suara mamanya lagi, berharap itu bukan mimpi.


" Ma?" Lirih Yasmin, menggigit bibir bawah dan mata berkaca-kaca, seakan dirinya takut dan kecewa bila hanya mimpi.


Ranti tersenyum kecil, terlihat kurus dan mata begitu cekung. Tapi masih terlihat sangat cantik bagi Yasmin. Yasmin memeluk Ranti, rasa bahagia dan juga senang tidak bisa di sembunyikan lagi kala mamanya sedikit mulai sedikit bisa sembuh.


Mamanya mau berbicara dengannya, mamanya tersenyum cantik dan mamanya sudah sembuh. Tuhan mengabulkan doanya.


" Mama sudah sembuh?" Isaknya, melepas pelukan dan menatap wajah ibu yang melahirkannya.


Ranti mengusap pipi kanan Yasmin yang basah. Pipi putrinya sedikit tirus, wajahnya terlihat lelah dan kantung mata menghitam. Terlihat jelas bila putrinya bekerja dengan keras demi biaya pengobatan dan juga kebutuhannya. Ranti merasa bersalah, sudah membuat anaknya menderita lagi. Tapi dirinya tidak berani untuk keluar rumah, rasa trauma masih menghantuinya. Ingatannya tentang dirinya di keroyok pun masih membekas di otaknya hingga terkadang terbawa mimpi.


Membuatnya kembali meraung ketakutan dan menangis. Kadang berhalusinasi dan berbicara sendiri seperti orang gila, hingga membuatnya terdorong untuk mencoba bunuh diri.


Sungguh, bukan maksud ia mempermalukan putrinya. Ia ingin berubah dan tidak ingin lagi menjalani pekerjaan sebagai wanita malam. Ranti mengira tidak apa menjadi istri ke dua dari lelaki yang sering sekali mengajaknya berkencan atau menemaninya ke luar kota. Pria itu mencintainya, pria itu juga yang menginginkannya sebagai istri ke dua dan pria itu juga yang akan menjanjikan hidupnya serta putrinya terjamin.


Janji manis mana yang tidak tergiur dan juga tergoda. Pria itu begitu royal dengannya, tidak pernah meminta pun pria itu selalu memberikan hadiah padanya. Mobil, perhiasan, tas branded dan juga pakaian selalu dia berikan padanya.


Ranti percaya bila pria itu mencintainya, hingga akhirnya dirinya mau di jadikan istri ke dua meskipun putrinya tidak menyetujui pernikahannya ia akan tetap menikah, karna Ranti juga sudah mencintainya. Bukan hanya cinta saja, tapi uang juga bisa membuat hidupnya bahagia.


Ternyata itu hanya angan-angan belaka, semua telah sirna. Impian ingin menjadi istri dari orang kaya tidaklah semulus yang ia kira. Apa lagi pria itu sudah memiliki istri dan anak-anak yang sudah besar. Semua sudah hancur, dan dirinya menjadi korban kekerasan dari istri sah dan anak-anaknya.


" Maafin Mama." Lirih Ranti.


" Enggak apa-apa ma, gak apa-apa. Mama sudah sehat begini, Aku bersyukur." Ucap Yasmin, memegang tangan ibunya dan menciumnya berkali-kali.


" Mama harus sehat, jangan tinggalin aku." Imbuhnya.


" Iya." Jawab Ranti, mengangguk pelan. Kembali Yasmin memeluk ibunya, menangis tersedu di dekapan Ranti.


" Yas?" Panggil Aiman lembut. Ibu dan Anak melepas pelukan, menatap Aiman berdiri di samping Yasmin.


" Kak? Mama sudah mau bicara?" Kata Yasmin, memegang tangan kekasihnya mengguncangnya begitu semangat. Rasa senang tidak bisa ia pendam sendiri.


Aiman mengusap puncak kepala Yasmin, tersenyum hangat pada kekasihnya. Menatap mama Yasmin yang juga tersenyum dan mata berkaca-kaca.


Ya, mengingat semalam ibu Yasmin kembali meraung menangis membuang semua barang-barang dalam kamar dan beruntung di saat dirinya tepat waktu datang ke rumah kekasihnya hingga melihat kembali ibu Yasmin dan juga Bik Imah saling merebut kembali pisau di ruang tengah.


" Apa anda gak kasihan sama Yasmin! Dia rela pulang sekolah kerja demi pengobatan anda, tapi anda malah mencoba bunuh diri! Tolong mengertikan Yasmin.. Jangan egois menjadi ibu. Yasmin hanya butuh anda tetap selalu ada di sisinya. Rela lakukan apapun asal anda tetap bersamanya. Saya mohon, jangan lakukan ini lagi.. kasihani Yasmin. Saya gak bisa lihat Yasmin menangis, saya sangat menyayangi anak Anda tente."


Seperti batu menghantam kepalanya. pikiran Ranti kembali terbuka, mendengar setiap kata demi kata terlontar dari bibir lelaki itu. lelaki yang menggagalkannya bunuh diri dua kali, kini menguapkan rasa kesal padanya karna tidak ingin Yasmin kembali bersedih. Lelaki ini menyayangi putrinya, selalu membantu putrinya diam-diam tanpa sepengetahuannya.


Beruntungnya Yasmin, di kelilingi orang-orang yang menyayangi dan mencintainya. Yasmin tidak kekurangan kasih sayang dari orang-orang terdekat, tapi dia kekurangan kasih sayangnya dari ibunya sendiri. Miris, dirinya hanya mementingkan kebahagiaannya tanpa mengerti ada kesedihan di hati putrinya.


Putrinya yang sudah mengatakan ketidak setujuannya untuk menikah dengan lelaki beristri tidak di hiraukan dan inilah akibatnya sekarang. Putrinya harus menanggung malu dan juga menjadi garda depan melindunginya dari orang-orang jahat, serta mencari uang demi pengobatannya.


Ranti akan mencoba damai serta mencoba melupakan tentang pengeroyokan agar ia bisa kembali sembuh dan juga berjanji tak akan mengulangi Kesalahan ke dua kali.


" Ayo kita masuk, kita sarapan bersama." Ucap Aiman. kembali mengusap puncak kepala Yasmin.


" Hmm.. Iya kak." Jawab Yasmin tersenyum lebar.


" Ayo ma?" Ajak Yasmin, membantu ibunya berdiri dan berjalan memegang lengan ibunya menuju meja makan.


" Mbak Yasmin.. Ibuk? " Bik Imah sedikit terkejut melihat kedatangan Yasmin bersama ibunya di meja makan di ikuti Aiman berada di belakangnya.


" Bik.. Mama sudah mau di ajak bicara sekarang." Riang Yasmin, menarik kursi untuk ibunya duduk.


" Alhamdulillah." Ucap syukur Bik Imah, ikut senang dengan kesembuhan majikannya.


Yasmin duduk di samping ibunya, Aiman memilih duduk di samping Yasmin.


" Lintang sama Bimo mana Bik?" Tanya Yasmin, tidak melihat batang hidung dua sahabatnya


" Aku di sini!" Seru Lintang, masuk dari halaman belakang rumah.


" Ngapain?" Tanya Yasmin mengerutkan kening.


" Cari inspirasi, bagaimana cara mendiamkan jin tomang yang usil!" Sebal Lintang, sebal pada siapa lagi bila bukan Bimo. Yang mengusik kesenangannya saat menghirap rokok di balkon pagi hari.


Sebal karna rokoknya di ambil Bimo, di remas hingga hancur dan di buang di tong sampah.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃