Our Story

Our Story
Damai



Kini tinggalah berdua, Rosa dan Teguh. Mantan suami istri dan orang tua dari putri satu-satunya mereka di masa lalu. Teguh, duduk di samping brankar rosa, menatap sendu mantan istri yang sudah pucat dan lemah tak berdaya. Menyesali perbutannya yang pernah membenci mantan istrinya tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.


Menyedihkan, bukan?


Tidak tau apapun pada mantan istrinya sebelum bercerai darinya.


" Apa kabar mas?" Ucap Rosa lirih, tanpa melepas oksigen di hidungnya. Tersenyum hangat pada mantan suaminya.


" Aku baik Rosa, sangat baik." Jawab Teguh membalas senyum Rosa.


Ia tau tidak seharusnya berkata begitu, tapi ia juga tidak tau harus menjawab apa dan berkata apa. Sedangkan senyumnya pun juga sangat terpaksa, bibirnya menahan getar matanya seperti berkabut. Ia tidak boleh menangis, rosa tidak suka di kasihani. Hingga itu, ia memilih memendam perasaan dan sakitnya sendiri.


Suami macam apa dia dulu bersama rosa, tidak tau keadaan ibu putrinya.


Teguh menundukkan kepala, tidak bisa lagi menahan tetesan mata yang jatuh di pipinya. Rasanya masih sulit menerima kenyataan ini, sulit juga melupakan masa lalu yang selalu bersama istri dan putrinya dulu. Kenang-kenangan itu akan selalu ada, meskipun ia sudah mempunyai keluarga baru.


Ia juga tidak boleh egois, hanya karena masa lalu ia menyakiti wanita tulus yang mau menerimanya dengan tangan terbuka. Saskia, istrinya sekarang dan menua bersama dengannya.


" Ayahnya Lintang menangis?" Kata Rosa.


Ayah Lintang?


Ya, dia selalu mengatakan ayah Lintang. Selalu berkata ayahnya Lintang, panggilan dulu yang selalu di banggakannya.


Teguh mengusap mata mendongak untuk menatap mantan istrinya.


" Apa karena ini, kamu meminta cerai Ros?" Ucap Teguh sendu.


Tidak bisa lagi untuk di tutupi, mengelak untuk mencari alasan lagi pun juga tidak bisa. Ia ingin berkata jujur, berterus terang kenapa ia meminta cerai. Memang benar, rosa meminta cerai karena sakitnya ini. Dan juga ia tidak ingin menjadi beban untuk ayahnya Lintang. Walaupun sebenarnya, itu sudah kewajibannya sebagai suami. Menggantikan peran ke dua orang tua karena sudah mengambil putinya untuk di jadikan pendamping hidup. Bukankah memang itu tanggung jawabnya?


Ya, tapi Rosa tetap tidak ingin melihat Teguh menderita karenanya. Apa lagi putrinya.


Tapi sayangnya, perbuatannya malah menimbulkan hal yang sebaliknya. Putrinya menderita akibat perceraian ke dua orang tuanya dan mantan suaminya membencinya.


Waktu itu ia tidak bisa memikirkan resiko apa yang akan di ambilnya. Tindakannya di lakukan begitu saja tanpa memikirkan akibatnya. Dan ini yang terjadi sekarang, karena dirinya anaknya merasakan ketidak adilan dan juga tidak mempunyai kasih sayang dari ke dua orang tuanya yang tidak lagi bersama.


Resiko bercerai, anak menjadi sasaran ke dua orang tuanya. Andai waktu itu ia tidak meninggalkan Lintang, mungkin putrinya bisa mendapatkan kasih sayang meskipun itu tidak lengkap. Sayangnya ia terlalu egois mementingkan diri sendiri.


Percuma menyesalinya, karena penyesalan tidak akan bisa di ulang lagi dan memperbarui apa yang dulu ia buat tidak akan bisa.


Tapi untungnya, putri satu-satunya itu tidak terjerumus lebih ke dalam pergaulan bebas. Dan ia bersyukur, mantan suaminya menikah dengan wanita yang tepat. Menganggap putrinya sebagai anaknya juga, memberi kasih sayang yang lebih dan juga bersabar menghadapi tingkah laku lintang yang dulu begitu nakal.


Lintang sendiri yang bercerita, bagaimana bundanya itu sayang sekali dengannya. Memberikan tutur kata lembut dan penuh pengertian padanya. Rosa sangat bersyukur itu. Kini ia tidak perlu khawatir dan tenang bila meninggalkan lintang untuk selama-lamanya.


" Maaf mas." Hanya itu yang bisa di katakan Rosa.


" Apa aku dulu menjadi suami yang tidak berguna, sampai kamu menyembunyikan sakit kamu ini sama aku rosa."


Rosa menggeleng lemah. " Ayahnya Lintang sangat bertanggung jawab. Aku tidak bisa melihat Mas dan Lintang menderita karena aku. Aku juga tidak ingin menjadi beban bagi Mas dan Lintang. Maaf, bila perbuatan aku membuat mas kecewa." Kata Rosa, mulai menitikan air di sudut matanya.


Teguh menghapus air mata rosa Mengusapnya dengan lembut, ia juga merasakan sakitnya penderitaan rosa yang dia pendam sendiri tanpa mau memberitahukannya.


" Aku sudah memafkan kamu rosa, sudah. Karena putri kita dan istriku yang membukakan pikiranku." Jawab Teguh.


Istri?


Ya, tidak perlu di tanya siapa istri yang di maksud teguh. Tentu saja Saskia, istrinya yang sekarang. Istri yang berjiwa sabar dan tulus.


" Aku tenang sekarang bila Ayahnya Lintang mendapatkan pendamping yang baik. Lintang juga mendapatkan kasih sayang bundanya tulus, menganggap Lintang seperti anaknya sendiri."


" Ya, meskipun awalnya penuh dengan perjuangan naklukin hati putri kamu." Sambil tertawa mengingat keras kepalanya dan sulitnya Lintang menerima dirinya serta Saskia.


Rosa tidak bisa tersenyum lebar, putrinya sama dengannya dulu. Gadis pendiam, tidak banyak bicara dan sulit bergaul. Itulah Lintang dan dirinya.


" Aku boleh meminta satu permintaan mas." Ucap Rosa.


" Apa, selagi aku bisa." Jawab Teguh, tersenyum hangat pada Rosa.


" Bila suatu saat putriku meminta permintaan pada Mas, tolong kabulkan ya. Dan tolong, jaga putri kita." Permintaan yang sederhana tapi ada maksud yang tersembunyi, dan Teguh belum mengerti apa permintaan itu.


Teguh mengangguk tersenyum, mengusap tangan kurus mantan istrinya dan berkata.


" Ya, aku akan memenuhi permintaan kamu Rosa."


****


" Ayah sama Bunda pulang dulu, kamu mau ikut ayah apa masih mau di sini." Ucap teguh, berdiri di depan putrinya.


" Aku mau di sini dulu yah, gakpapa kan?"


" Iya gak apa-apa, kabarin ayah apa bunda kalau mau menginap di sini."


Lintang mengangguk tersenyum. senang ayahnya mengijinkannya lebih lama bersama mamanya.


" Bunda pulang dulu ya mbak, jangan lupa makan." Perhatian saskia.


" Iya, bunda sama ayah hati-hati."


" Iya." Jawab Saskia tersenyum.


" Saya pamit, terima kasih sudah memberi waktu saya bersama Rosa berdua, menyelesaikan urusan yang belum selesai." Kata Teguh pada Roy dan Mengulurkan tangan di hadapannya.


" Sama-sama, Makasih sudah datang dan maafkan kesalahan Rosa dulu." Roy seperti mewakili perminta maafan rosa pada mantan suaminya.


Rosa beruntung bertemu dengan Roy, lelaki kaya yang bertanggung jawab dan juga menerimanya apa adanya.


Teguh tersenyum. " Saya sudah memaafkannya, dan makasih kamu sudah menerima Rosa dengan keadaannya sekarang."


Roy dan Teguh saling berpelukan, tidak ada lagi beban di antara mereka yang kini sudah terselesaikan masalah di masa lalu. Dan tidak ada kata dendam maupun kecewa dari ke dua orang yang sudah mengisi hati Rosa.