
Tidak perlu mewah untuk membuat kekasih tersenyum, tidak perlu pula membawa kekasih berlibur ke luar negeri untuk membuatnya bahagia.
Cukup hal sederhana saja, membawa sang kekasih apa yang di inginkan. Selagi masih wajar dan tidak menguras dompet terlalu banyak. Ya, meskipun dirinya tak masalah akan uangnya yang sedikit terkuras. Toh... dirinya sudah bekerja dan mempunyai usaha sendiri, menyenangkan kekasih sekali-kali tidaklah masalahkan. Selagi masih ada kata batas.
Di sinilah Aiman dan Yasmin sekarang, pusat mall terbesar di kotanya dan elit di kalangan menengah atas. Bukan Yasmin yang meminta, Tapi Aiman sendiri yang mengajaknya ke mall elit tanpa berkata terlebih dulu pada kekasihnya.
Yasmin, bukan gadis desa ataupun gadis lugu yang tidak pernah tau isi dalam mall apa. Gadis ini juga dulu termasuk keluarga kaya, di mana masih ada ayahnya. Dan pernah menginjakkan mall manapun termasuk yang di masukinya sekarang.
Memasuki Mall, Aiman tak pernah melepas tangan Yasmin dari genggamannya. Gadis itu juga menolak atau memberontak tangannya di genggam oleh Aiman. Berjalan berdua di keramaian.
Ada banyak sepasang mata mencuri pandang pada mereka. Bukan, tapi tepatnya pada Aiman. Lelaki tampan berjalan dengan gadis sma, yang orang-orang pasti kira mereka adik kakak, bukan sepasang kekasih. Apa lagi Yasmin kalah tingginya dengan Aiman.
Risih, tentu saja sangat tidak nyaman. Apa lagi, mata para wanita itu menatap Aiman seperti terpesona. Cemburu, tidaklah... Untuk apa cemburu hanya karena tatapan para wanita pada kekasihnya. Justru seperti ada rasa bangga tersendiri memiliki kekasih tampan yang banyak melirik Aiman.
" Kita makan dulu atau, ..."
" Aku mau ke tamezone dulu kak." Potong Yasmin. " Boleh?" Imbuhnya, sambil tersenyum manis.
" Hhmm.. Boleh. Ayo?" Jawab Aiman, mengacak rambut Yasmin dan merangkul bahu kekasihnya berjalan menuju eskalator.
" Enggak naik lift aja kak?"
" Enggak... lebih enak pakai eskalator, gak sesak apa lagi ngantri." Jawab Aiman.
Aiman lebih suka menaiki eskalator dari pada harus berdesakan dan mengantri menaiki lift. Yasmin hanya bisa mengangguk dan menurut apa kata kekasihnya. Mungkin memang benar, lebih enak menaiki eskalator, bisa leluasa melihat kanan kiri toko-toko penjual barang apa saja.
Aiman mengisi saldo, mengisi empat ratus ribu tanpa menghiraukan protesnya Yasmin terperangah karena membelinya koin begitu banyak.
" Biar kita puas mainnya." Ucap Aiman.
Gampang sekali kekasihnya bilang, apa lagi uang itu susah di dapatkan. Bekerja keras hingga malam. Tapi Aiman seakan tidak peduli, karna ini adalah hari kesenangan. Kapan lagi menyenangkan diri sendiri bersama kekasih.
Hidup juga butuh liburan, bukan mencari cuan terus.
Permainan pertama, street basketball. Bermain bola basket, melemparkannya ke dalam ring dengan waktu satu menit. Yasmin dan Aiman dengan cepat melempar-lemparkan bola basket ke dalam ring. Tawa senang begitu jelas di mata dua insan.
tak puas dengan bermain satu tempat. Yasmin berganti tempat, bermain ace angler. Permainan memancing atau sejenis menangkap ikan. kembali menjajahi permainan, Yasmin begitu semangat menggeret kesana kemari tangan Aiman untuk mengikutinya. Foto box pun tak lupa Yasmin ketinggalan. mengambil beberapa gaya foto bersama Aiman, dari foto berwajah jelek, tertawa dan juga memeluk Aiman begitu mesra.
Tiga lembar foto. Satu foto dengan empat gaya berbeda dan dua lembar foto dengan foto begitu mesra, Aiman mencium puncak kepala Yasmin dan Lintang menyandarkan kepalanya di bahu Aiman.
" Bagus kan kak?" Senang Yasmin, melihat hasil foto cetakannya.
" Hmm.. Iya bagus. Nanti kakak minta satu." Kata Aiman, membuat Yasmin mengangguk mantap dan tersenyum lebar.
Sebelum mengakhiri permainan, Yasmin meminta Aiman mencoba permainan capit boneka.
" Gak dapat juga gak apa-apa kok kak?" Kata Yasmin, dirinya hanya penasaran saja. Dan selalu tidak mendapatkan boneka bila bermain capit seperti ini.
Menyebalkan.
" Kakak coba dulu." Kata Aiman.
Percobaan pertama, capit sudah mengait di kepala boneka. tapi sayang, boneka tidak bisa naik. Membuat Yasmin dan Aiman berdecak. Percobaan ke dua, capit sudah mengait kembali ke badan boneka sudah terangkat, membuat Yasmin senang dan kembali teriak histeris saat boneka itu kembali jatuh di atas boneka. Aiman yang tak ingin melihat kekasihnya kecewa, mencoba sekali lagi untuk ke tiga kali. Kembali capit mengait kencang dan dengan cepat menekan tombol agar capit itu cepat terangkat dan masuk ke dalam lubang pembuangan.
" Waa!!! Teriak Yasmin senang, mengambil boneka yang terjatuh di kotak pembuangan. Memeluk boneka dan juga memeluk kekasihnya karna begitu senangnya.
" Makasih kak?" Ucap Yasmin. Mendongakkan kepala menatap Aiman.
Aiman terkekeh, mengacak rambut Yasmin gemas. " Sama-sama, sayang." Ucap Aiman.
" Ayo kita cari makan, kakak sudah lapar."
" Ayo... Aku juga lapar kak." Semangat Yasmin, membawa boneka dalam pelukannya.
Berjalan menuju restoran japang, berlambang mangkuk berwana kuning. Memesan makanan dan minuman berbeda.
Yasmin memilih menu makanan kesukaannya, teriyaki chiken ball dan segelas mixed lime juice. Aiman memilih Yakiniku veggie biff dan dua air mineral. Tak lupa beberapa cemilan ringan eby fry, egg roll dan shumay.
Makanan yang kerap kali Yasmin pesan ketika jenuh dengan makanan cafenya. Tidak mungkin juga kan setiap hari harus makan itu-itu saja. Dirinya juga sama, dan tidak mengharuskan juga tiap hari Yasmin harua makan makanan cafenya. Begitu pula karyawannya. Setiap minggu juga ia membelikan makanan luar pada karyawannya.
" Habis ini mau kemana lagi?" Tanya Aiman, sambil menikmati makanannya.
" Kakak gak capek?" Tanya Yasmin.
" Buat kamu, kakak gak akan capek." Jawab Aiman.
Blushh.. Sungguh ucapannya!! membuat Pipi Yasmin merona. Dan berikut kemudian, Yasmin berdecak saat mendengar kembali ucapan kekasihnya.
" Eh.. enggak kerasa juga sudah jam tujuh malam." Kata Aiman memandang jam yang ada di ponselnya.
" Pulang ya?" Ucap lembut Aiman.
" Aku mau nonton?" Kata Yasmin.
" Nontonnya kapan-kapan saja, ini juga sudah malam. Kamu masih pakai seragam sekolah." Sergah Aiman, ucapannya memang lembut tapi tatapannya sangatlah tegas.
Membantah pun juga tidak bisa. Apa yang di katakan Aiman memang benar, dirinya masih memakai seragam sekolah meskipun sudah di samarkan dengan jaketnya dan juga banyak yang melihatnya.
Aiman paham, kekasih kecilnya ini masih ingin sekali menikmati hari kencannya. Dan masih ingin menonton, tapi bagaimana bisa. Yasmin masih memakai seragam sekolah, apa lagi ini sudah malam dan banyak orang-orang melihatnya. Aiman tidak suka bila ada orang yang berpikiran negatif tentang kekasihnya.
Pada akhirnya Yasmin hanya mengangguk pasrah dan tersenyum. Mengiyakan ajakan pulang Aiman, meskipun hatinya enggan sekali pulang. Dan tidak apa, yang terpenting hari ini Yasmin senang, bisa berjalan bersama Aiman dan juga memiliki kenangan boneka serta foto box menggemaskan.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃