
Empat bulan kemudian.
Suara hiruk piruk kegembiraan dan tangisan kelegaan di lapangan sekolah menjadi saksi atas kerja kerasnya kelas dua belas menuntut ilmu serta menguras otak ulangan akhir semester terbayar sudah dengan mereka yang lulus sekolah tanpa ada satupun siswa yang mengulang kembali di sekolah tahun depan.
Ya, Lintang, Yasmin, Bimo dan Galuh saling berpelukan sambil berputar-putar setelah melihat papan pengumuman nama kelulusannya. Empat remaja, lulus dengan nilai memuaskan. Terutama Lintang, nilai yang sangat bagus dan menjadi siswi dengan nilai kelulusan terbaik.
" Kita lulus!!" Seru Yasmin, senang karena kelulusannya. " Dan kamu, nilai yang paling tinggi sekali Lintang! Selamat!!" Imbuhnya, bangga pada sahabatnya. Mendapatkan nilai hampir begitu sempurna.
Pada dasarnya Lintang memang pintar, hanya saja dulu ia merasa tak perlu menjadi pintar. karena tidak ada orang yang pasti akan menyanjung dan membanggakannya dengan tulus. kecuali, ke dua orang tuanya mungkin. Bila dulu orang tuanya sangat senang melihat nilai Lintang, tapi tidak setelah bercerai seakan mereka melupakannya dan hilang entah kemana. Meninggalkannya sendiri di saat ia sangat membutuhkan dukungan ke dua orang tuanya.
Tapi itu dulu, sebelum ke dua orang tuanya saling memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. Dan kini hidup dengan tenang dengan pilihan masing-masing. Dan Lintang juga merasa bahagia.
" Ya, Kamu pinter buanget Lintang. Nilai kamu hampir sempurna, sumpah aku gak percaya kalau kamu itu pintar." Puji Galuh, setengah tak percaya dengan kepintaran sahabatnya.
" Kalau aku percaya, buktinya dia bisa bangun rumah singgah sendiri." Timpal Bimo, takjub dengan apa yang Lintang lakukan semasa bersama dengannya.
Ya, Lintang membangun rumah singgah itu sendiri. Bekerja ofline menguras otak dan juga pikirannya. Dan gadis itu tidak pernah lelah, ambisinya begitu tinggi tanpa mau berhenti saat apa yang di inginkan belum tercapai.
Sekarang, rumah singgah sudah terdaftar resmi dalam pemerintahan. Tidak perlu khawatir lagi soal pendidikan dan kebutuhan untuk anak-anak singgah. Karena sebagian sudah terjamin pemerintah serta beberapa donatur tetap di rumah singgah.
Rasanya begitu melegakan, dan sangat membanggakan bisa membangun rumah untuk anak-anak terlantar seperti Lintang dulu.
" Aku gak suka di puji, kalian juga pintar." Kata Lintang.
Selain teman yang cuek, pemarah, tomboy. tapi sebenarnya Lintang sangat baik dan juga saling pengertian satu sama lain. Saling membantu dan saling melindungi. Seperti Yasmin yang dulu selalu mendapatkan bullyan dari kakak kelas dan membelanya hingga berani menentang serta berkelahi dengan kakak kelas.
Lintang tipikal gadis yang tak suka di injak-injak, ia akan melawan meskipun harus berurusan dengan orang tuanya. Karena Lintang, gadis yang tidak mudah di tindas.
" Masih pintaran kamu, nilai mereka aja ada di urutan paling akhir. Untungnya masih lulus." Kata Yasmin, menatap Bimo dan Galuh bergantian.
" Gak paling akhir juga kali Yas!" Cibik Bimo, seperti tak terima tuduhan Yasmin. Meskipun itu benar adanya, dari tiga puluh siswa di kelas Galuh dan Bimo berada di urutan dua puluh dua dan dua puluh tiga.
Ajaib sekali, seperti sekongkol menyontek.
" Udah-udah." Lerai Galuh. " Mau coret-coret gak, aku bawa ini." Imbuhnya, sambil membuka tas dan menunjukkan pylok cat semprot pada sahabatnya.
Cat semprot yang sangat identik di kala kelulusan sekolah.
Tiga sahabat saling menatap, saling tersenyum dan berteriak.
" Ya!!" Teriak bersamaan.
" Apa! Ada yang melamar kamu!" Pekik Bimo, terkejut mendengar ucapan Yasmin. yang saat ini mereka sedang berkumpul di rumah Yasmin, setelah merayakan kelulusan sekolah.
Berada di meja makan dengan berbagai menu makanan siang yang di hidangkan bik sum setelah mengetahui anak majikannya lulus sekolah.
Makan siang begitu menggiurkan dan terbilang sangat enak. Karena memang mereka sangat lapar, merayakan kelulusan dengan corat-coret seragam sekolah serta konvoi mengelilingi jalanan. Sangat-sangat membuat para pelajar senang.
Dan empat sahabat memutuskan pulang, saat mereka tak perlu lagi mengikuti konvoi hingga petang. Memilih singgah di rumah Yasmin, pilihan yang sangat bijak. Selain bisa makan besar dan beristirahat ternyata ada kejutan besar yang sangat membuat Bimo, Lintang dan Galuh benar-benar terkejut.
Pernikahan.
" Iya, ada lelaki yang sudah melamar ku. dia ingin menikahi aku." Kata Yasmin, ada rasa canggung, takut serta terpancar rasa bahagia di matanya.
Tidak bisa di pungkiri, memang Yasmin sangat bahagia menikah dengan lelaki yang mencintainya dan menerima keluarganya. Tapi di sisi lain, ia takut kebahagiannya hanya sementara saja. Karena dirinya belum bertemu dengan orang tua Aiman.
Masa lalu ibunya sangat menghantuinya, membuat Yasmin selalu berpikir keras akankah ia bisa bahagia, atau malah sebaliknya. Dan itulah kenapa Yasmin, belum menjawab ajakan Aiman menikah hingga saat ini.
" Siapa?" Tanya Bimo, mengerutkan kening menatap Yasmin. Seakan ia bisa menebak siapa lelaki yang melamar Yasmin, tapi tidak mengatakannya terlebih dulu.
" Kak Aiman." Lirih Yasmin menundukkan kepala menatap makanannya yang tinggal sedikit.
" Kak Aiman?" Ulang Galuh, seperti tidak asing mengenalnya. " Itu bukannya orang yang donatur di rumah singgah ya." Tebaknya, mengingat nama dan lelaki bernama Aiman.
" Iya." Ucap Lintang.
Galuh, memang sudah lama berteman dengan Yasmin dan Bimo. Tapi mereka baru akrab dan bergabung dengannya setelah Lintang menjadi siswi baru di kelasnya. Dan Galuh, juga baru menjadi sahabat Bimo saat mereka bolos sekolah bersama. Kedekatan itu terus berlanjut hingga sekarang, ya walaupun belum sepenuhnya Galuh mengerti semuanya.
Dan soal Aiman, Galuh hanya dua kali bertemu dengannya dan itupun sangat kebetulan. Di rumah singgah dan juga rumah sakit Ferdi di rawat.
" Gak usah kaget, Yasmin sudah kenal lama sama kak Aiman." Imbuh Bimo. Membuat bibir Galuh hanya ber,o ria serta mengangguk mengerti.
" Kamu menerimanya?" Kini Lintang bertanya, sebagai sahabat dan sesama wanita yang saling mengerti perasaan.
Sering kali Yasmin bercerita padanya dan juga sering melihat kemesraan serta perhatian Yasmin atau Aiman saat bersama. Dirinya hanya sedikit terkejut saja ternyata hubungan Yasmin dan Aiman akan berlanjut ke jenjang pernikahan.
Sebagai sahabat tentu saja Lintang senang dan ikut bahagia. Tapi, ia juga takut bila Yasmin menikah di usia muda. Bukankah menikah di usia muda sangatlah belum cukup untuk memahami rumah tangga yang sesungguhnya? Apa lagi di usia Yasmin seharusnya mengejar cita-citanya yang belum tercapai.
Tapi itu terserah Yasmin, karena ia juga tidak ingin menggurui Yasmin di saat ada lelaki yang baik dan juga menerima kekurangan keluarganya mengajaknya menikah. Bukankah itu suatu keberuntungan dan juga hadirnya kebahagian baru setelah mengalami kesengsaraan.
Ah..Ya. Seharusnya Yasmin menerimanya dan menentukan keputasan baiknya.