Our Story

Our Story
Sandaran



Apa ini yang di namakan pengorbanan sayang. Apapun akan di lakukan, baginya tak seberapa sakit dirinya dari pada harus melihat orang yang di sayang ikut menderita karenanya.


Bukan tidak sayang, justru sangat sayang. Tapi seharusnya cara mengorbankan sayang bukan seperti itu. Dan membuat siapa saja akan salah paham dengan keputusan yang di ambilnya sendiri, Hingga menimbulkan rasa marah, benci dan kecewa. Karna orang yang di sayang juga tidak tau apa penyebabnya dia mengambil resiko begitu besar. Samai melibatkan hati yang tertusuk anak panah hingga mengalirkan darah kebencian.


Seharusnya dia bilang, berbicara baik-baik dan mengambil keputusan yang tidak akan menimbulkan kesalah pahaman di antara keluarga kecilnya. Bukan dua orang saja yang menderita, tapi dia juga ikut menderita. Dan yang paling parah menderitanya adalah seorang anak.


Mental anak harus di uji, fisiknya harus kuat, batinnya tidak boleh menangis. Meskipun sudah di lakukan, tetap saja. Anak tidak setegar orang tuanya. Mental, fisik dan batin anak begitu lemah, meskipun mencoba tegar di depan semua orang. Nyatanya ia lebih memilih menyendiri untuk menangis, memilih menenangkan diri dengan kebiasaan barunya.


Sungguh, rasanya sangat tersiksa. Tidak ada yang bisa mengerti hatinya yang sudah hancur berkeping-keping mendengar kedua orang tuanya akan bercerai dan tak lagi ada keutuhan dalam keluarga kecilnya.


Saat mengetahui apa penyebab perceraian ke dua orang tuanya. siapa yang mengajukan dan kenapa alasannya. Hati anak mana yang tidak kembali merasakan hancur dan sedih sekali.


Bukan masalah orang ke tiga, bukan masalah kekerasan juga. Ternyata itu semua demi pengorbanan. Agar ia dan ayahnya tidak akan merasakan kesedihan serta kesengsaraan seperti yang di alami mamanya.


Seharusnya! Seharusnya mamanya melibatkan dirinya dan Ayahnya. Tidak apa ia dan Ayah ikut merasakan kesedihan, juga kesengsaraan bersama. Biarkan ia dan ayahnya bekerja sama merawat dan mencari biaya untuknya sembuh, Asalkan tidak ada kata perceraian dalam ke dua orang tuanya.


Menyesal kah! Sangat di menyesalkan. Keputusan ibunya sungguh sangat di sayangkan. Tak seharusnya dia menyimpan sendiri, Hingga membuat ayah dan dirinya membencinya. Andai bisa di ulang, mungkin tak akan ada kata kebencian, kekecewaan dan kemarahan yang mendalam.


Di sinilah malam yang penuh dengan emosi, remaja sekolah menyendiri di atas penyebrangan, sambil menghisap nikotin yang sudah menghabiskan setengah batang kotak rokok.


Menatap bawah jalanan, yang tak pernah sepi dengan pengendara lalu lalang. Tidak peduli, bila ada orang yang menatapnya dengan heran. Ia butuh ketenangan, ia butuh pikiran yang jernih. Agar tidak terlalu dalam berlarut-larut dalam kesedihan.


Nyatanya? Ia butuh sekali sandaran, butuh ketelampiasan untuk semua kesedihannya. Tidak cukup hanya hisapan nikotin, ia butuh sesuatu yang lebih.


" Sudah malam, ayo pulang?" Ucap seorang lelaki dari samping, Membuatnya menoleh sekejab dan kembali lagi menatap kendaraan lalu lalang.


" Aku masih ingin di sini?"


" Sudah tengah malam, Bunda sama ayah kamu sudah nyariin kamu Lintang? "


Ah.. Lintang lupa akan hal itu. Sudah pasti Bunda akan mengkhawatirkannya dan Ayahnya pasti akan memarahinya.


Tapi ia seperti tidak peduli sekarang, karna ia lebih mengkhawatirkan Mamanya yang ada di rumah sakit dari pada dirinya yang akan terkena amarah dari ayahnya.


" Aku ingin kembali ke rumah sakit Sat? Aku ingin menemani mama?" Lirih Lintang, matanya kembali berkaca-kaca. Seolah ia merasa sangat salah.


" Aku tau? Tapi kamu juga harus butuh istirahat Lintang. Jaga kesehatan, bila ingin menemani mama kamu esok pagi." Ucap Satya.


Ya, hanya remaja lelaki itu yang selalu ada di saat Lintang kesepian, di saat Lintang ingin menyendiri, lelaki itu tetap menunggunya dari kejauhan. Hanya Satya yang mengerti suasana hati Lintang, mengerti perubahan wajah Lintang dan mengerti sifat Lintang.


Membalikkan tubuhnya ke arah Satya, tepat di hadapan remaja lelaki itu Lintang menunjukkan matanya yang kembali basah.


Satya berjalan dua langka, menghapus air mata Lintang yang mengalir kembali membasahi pipi. Ia tau, Lintang sangatlah rapuh. Ia juga tau bila Lintang membutuhkan sandarannya, dan dirinya merengkuh tubuh Lintang membawanya ke dalam pelukannya di atas jembatan penyebrangan tengah malam.


" Aku enggak ingin kehilangan mama Sat, Enggak... Aku enggak mau!" Isak Lintang dalam depakan Satya.


Satya mengusap rambut Lintang, menepuk pelan bahu gadis yang bergetar hebat dalam pelukannya. Ia tahu bila Lintang adalah anak yang baik, hanya saja perceraian ke dua orang tuanya membuatnya seperti ini.


" Mama kamu pasti baik-baik saja, tante Rosa akan sembuh! Percaya sama Tuhan." Ucap Satya, menenangkan Lintang dengan kata lembut.


Sebenarnya ia juga tidak yakin, Mamanya Lintang bisa sembuh atau tidak. Karna ia sudah mendengar bila mamanya Lintang mengidap leukimia stadium empat. Dan kemungkinan untuk sembuh pun hanya sedikit, bertahan hidup pun tak mungkin akan lama. Karna penyakit mama Lintang sudah menjalar ke saraf otaknya.


" Aku tidak mau perca-,"


" Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah menyalahkan Tuhan. Semua sudah takdir Lintang, dan kamu harus menerimanya." Selanya, membuat Lintang terdiam dan ke dua tangan melingkar pada tubuhnya begitu erat.


" Sekarang aku antar kamu pulang ya. Besok pulang sekolah, aku jemput kamu. Kita ke rumah sakit lihat mama dan Ferdi." Sambil mengusap rambut Lintang.


Lintang mengangguk dalam pelukan Satya, dan ke dua ramaja mulai melepas pelukan. Satya tersenyum lembut, membenarkan rambut Lintang dan juga mengeringkan pipi Lintang yang basah.


Perhatian kecil Satya membuat Lintang ikut tersenyum dan tersentuh dengan perilaku baik mantan kakak kelasnya. Yang selama ini selalu ada di saat ia sangat membutuhkan sandaran berbagi keluh kesah.


" Ayo pulang." Ajak Satya, Lintang mengangguk tersenyum tipis.


Satya meraih tangan Lintang, membawanya berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam.


Malam ini Lintang tidak berbicara sendiri, tidak lagi menangis dalam malam gelap kesendirian. Satya menemaninya, menjadi sandaran pertamanya berbagi keluh kesah. Menjadi pendengar dan juga menjadi saran yang baik. Walaupun sebenarnya ia tidak pernah membenci Tuhan. Hanya sedikit marah, tapi ia tahu. dirinya hanya umatnya, tidak sepatutnya membenci sang penciptanya.


Lintang yakin, Tuhan tidak akan memberikan kesengsaraan yang lebih dalam padanya. Dan dirinya akan selalu berdoa, meskipun nantinya akan ada air mata kesedihan yang mendalam padanya.