
Memasuki area parkir mobil, Lintang segera menghubungi Satya. Mengatakan bila dirinya sudah sampai di rumah sakit, dan tidak mungkin bila akan menanyakan informasi tentang ferdi pada resepsionis. Karna nama Ferdi mungkin belum terdaftar di rumah sakit. Mungkin masih di tangani.
Turun dari mobil pun, Lintang masih mencoba menghubungi Satya sambil berjalan tergesa-gesa dengan Aiman yang membuntutinya.
" Aku sudah sampai di rumah sakit! Kamu di mana!" Ucap Lintang dari sambungan telpon.
" Masih di UGD, kamu langsung ke sini saja." Jawab Satya.
" Iya." Lintang mematikan telpon, sampai di lobby rumah sakit.
Lintang melihat jalur papan arah untuk yang di tuju. Tidak perlu bertanya dari lima meter jarak lobby sudah terlihat nama papan ugd. Lintang masuk dengan cepat, berjalan mencari Ferdi di antara beberapa pasien yang belum di pindahkan ke ruang inap.
" Satya." Panggil Lintang, membuat Satya menoleh ke arahnya.
" Gimana ferdy." Tanyanya, dan menoleh ke arah brankar terdapat ferdi yang berbaring dengan infus, pelipis yang di jahit serta kaki kiri yang di gip.
" Ya Tuhan.." pekik lirih Lintang, terkejut dengan keadaan Ferdi yang sangat mengenaskan.
Lintang menggeser tubuhnya untuk lebih dekat pada Ferdi dan Tina di sisi kananya.
" Ferdi... Astaga! Kenapa bisa sampai begini!" Lintang menunjukkan wajah cemasnya, sungguh mengenaskan keadaan ferdi saat ini.
" Bagaimana ceritanya?" Tanyanya lagi, Lintang ingin meminta penjelasan kronologi tentang kecelakaan Ferdi dan menatap Tina serta Satya bergantian.
" Ferdi di tabrak mobil dari belakang mbak, orang yang nabrak melarikan diri." Jelas Tina, sama takutnya dengan Lintang dan terlihat matanya sedikit sembab. Mungkin dia juga terkejut, takut akan keadaan ferdi saat ini.
Walaupun bukan sedarah, tapi Ferdi dan Tina sudah lama dalam pertemanan, menganggap sebagai saudara. Suka duka mereka lalu dalam rumah singgah, saling bahu membahu dan juga saling bekerja sama.
" Emang Anj*ng itu orang." Maki Lintang, merasa tak terima dengan keadaan ferdi. Apa lagi pengendara yang menabrak Ferdi melarikan diri, tidak mau bertanggung jawab atau berurusan dengan polisi.
" Apa sudah di tangani?" Tanya Lintang.
" Sudah.. Dokter memutuskan rawat inap. Sekarang masih cari kamar kosong. Maaf, kalau aku memutuskan ambil kelas dua buat ferdi rawat inap." Kata Satya.
Lelaki ini hanya bisa mengambil kelas dua untuk rawat inap, biaya yang di keluarkan Satya juga lah tidak sedikit. Tabungan yang belum seberapa banyak, harus terpotong sebagian untuk biaya atministrasi rumah sakit, tindakan di ugd dan juga dp kamar inap.
Satya yang notabena hanya seorang mahasiswa, kemana-mana harus meminta uang pada ke dua orang tuanya dan juga rela membantu pekerjaan ibunya agar mendapatkan upah yang lebih banyak atau merayu pada kakak perempuannya yang sudah bekerja di bank, sungguh ironis menjadi anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia rasanya malu dengan Lintang, yang masih pelajar sudah bisa mencari uang sendiri. Apa lagi bisa membangun yayasan tanpa bantuan orang tuanya.
Apa dirinya bisa seperti Lintang?
Pasti bisa, bila mempunyai kemauan. Tapi pekerjaan sampingan apa yang cocok dengan dirinya? Selama ini yang Satya lakukan hanya mengantar ibunya ke pasar, atau jadi tukang driver bagi kakaknya yang malas menyetir mobil. Atau juga membantu membersihkan mobil Ayahnya tiap minggu agar terlihat kinclong.
Sangat menyedihkan kan?
Rasanya malu sendiri bila nantinya Lintang tau apa pekerjaannya selain di rumah.
Menjadi pembantu ke dua dari keluarganya sendiri.
" Enggak apa-apa, itu juga sudah cukup baik. Makasih Sat." Ucap Lintang, tersenyum tulus padanya.
Andai bila tidak ada Satya, mungkin Ferdi tidak akan di tangani lebih dulu sebelum membayar administrasinya. Ferdi akan terlantar hingga berjam-jam di igd. Bukankah begitu sebagian rumah sakit?
" Enggak, di antar sama pacar Yasmin." Jawab Lintang. " Mungkin dia sudah pulang." Imbuhnya, tidak melihat batang hidung Aiman di dalam igd.
Mungkin karna dirinya lebih dulu masuk ke rumah sakit dan meninggalkan Aiman di parkiran. Dan mungkin dia juga tidak tau kemana harus mencarinya, mangka itu Aiman pasti memilih pulang saja. Dari pada harus mencarinya seperti orang bodoh.
Perawat datang, mengatakan bila Ferdi akan di pindahkan ke ruang kelas dua di lantai tiga. Lintang, Tina dan Satya mengikuti dua perawat yang mendorong brankar menuju ke lift.
" Lintang? Mau di pindah ke mana?" Suara bariton berdiri dari tempat duduk kursi panjang. Mengikuti langkah Lintang dan dua perawat mendorong brankar.
" Kak Aiman." Terkejut Lintang melihat Aiman yang ternyata masih mengikutinya. Satya dan Tina juga melihatnya sedikit mengerutkan kening melihat lelaki menghampiri Lintang.
" Aku pikir, kamu sudah kembali lagi ke rumah Yasmin." Kata Lintang, mulai melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka. berdiri di tengah antara Aiman dan juga Satya, di samping brankar.
" Kalau semuanya sudah selasai, aku akan kembali ke rumah Yasmin." Jawab Aiman, membuat Lintang hanya mengangguk.
Lantai tiga, ruangan yang ternyata hanya di isi dua orang di dalam sana, dengan sekat tirai kain hijau. Tidak terlalu buruk dan juga bersih, Ferdi di pindahkan di sisi kanan tepat sebelah jendela. Hanya ada satu tempat duduk pendamping, laci meja dan juga colokan di atas meja.
" Mohon maaf, hanya satu orang saja yang bisa mendampingi pasien. Yang lainnya harap tunggu di luar." Kata Perawat. Membuat Lintang dan tiga temannya mengangguk mengerti. Dan mengucapkan terima kasih sebelum perawat itu pergi.
" Mbak Lintang pulang saja, biar ferdi aku jaga." Kata Tina.
" Aku tunggu di luar saja Tin, nunggu Ferdi siuman. Aku belum tenang dari tadi dia gak buka mata." Khawatir Lintang.
Ya, saat Lintang datang dan terkejut melihat wajah dan tubuh ferdi yang menyedihkan, remaja ini sama sekali terlihat lemas, belum merespon ucapannya dan juga lebih banyak menutup matanya.
Apa karna obat bius? Mungkin saja.
Tina hanya mengangguk, membiarkan Lintang menemaninya malam ini di rumah sakit. Tina juga takut bila sendiri dan keadaan Ferdi belum juga membaik.
Lintang, Satya dan juga Aiman memutuskan keluar, Lintang duduk di kursi panjang depan ruang rawat. Lintang menghembuskan nafas berat, terasa sangat lelah dan mengantuk. Tapi ia belum tenang sama sekali dengan keadaan Ferdi.
" Kamu enggak akan pulang ke rumah Yasmin?" Tanya Aiman, membuat Lintang hanya meliriknya berdiri di samping dirinya dan tersenyum tipis.
Bukannya Aiman sudah dengar, bila dirinya tidak akan kembali ke rumah Yasmin malam ini. Terus kenapa bertanya lagi?
" Aku mau menemani temanku." Jawab Lintang. " Ini sudah jam satu malam, mungkin Yasmin sudah tidur." imbuhnya, melihat jam di pergelangan tangannya.
" Iya terakhir telpon jam dua belas nanyain teman kamu sama kamu." Sambung Aiman.
Lintang sedikit merasa bersalah membuat sahabatnya itu tertidur larut malam hanya karna menunggu kabar darinya. Esok pagi ia akan menelpon Yasmin. Ya, bila dirinya tidak sibuk.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃