
Dalam seperti ini Yasmin butuh sandaran, butuh teman curhat dan butuh orang yang bisa ia ajak berbagi kesedihan.
Yasmin kini berada di ruang tamu, setelah mengantarkannya di kamar membersihkan tubuh mama, mengolesi luka-luka di tubuhnya, menenangkannya dan juga menemani mamanya hingga mamanya mulai tertidur tenang.
Dua sahabatnya, Bimo dan Lintang. Ya, dirinya butuh dua sahabatnya. Hanya mereka yang bisa mengerti keadaannyan.
Menulis pesan di grubnya.
" Lin, Bim. Aku butuh kalian, tolong datang ke rumah."
Tulis Yasmin, menggenggam erat ponselnya setelah menulis pesan di grub. Berharap dua sahabatnya bisa memenuhi permintaannya, karna ia benar-benar butuh teman saat ini.
Menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. mengangkat ke dua kakinya ke atas memeluk tubuhnya dan menangis menahan isakan agar tidak terdengar oleh mamanya dan juga bik Imah yang sedang berada di belakang.
Sungguh hatinya sangat rapuh saat ini, lebih rapuh saat melihat Aiman bercium*n dengan mantan kekasihnya.
Apa dirinya juga harus mengirim pesan pada Aiman, memintanya datang ke rumah. Rasanya tidak perlu, ia tidak ingin aiman tau tentang permasalahannya, tentang mamanya. Ia malu bila Aiman tau apa yang sudah di lakukan mamanya. Apa pekerjaan mamanya dan juga permasalahannya saat ini. Biarkan Yasmin menyembunyikannya dari kekasihnya, dan biarkan waktu yang akan membongkar tentang dirinya dan keluarganya suatu saat nanti.
Ya, itu lebih baik. Tapi tidak akan baik dengan hubungannya nanti bersama Aiman. Apa lelaki itu menerimanya atau keluarga Aiman akan setuju dengan hubungannya.
dua puluh menit Yasmin diam merenungi nasib mamanya. Terdengar suara langkah kaki masuk begitu tergesa-gesa, memanggil namanya membuat Yasmin menatapnya. Dan berlari menghambur ke dalam pelukannya.
" Bim." Isak Yasmin, dalam pelukan Bimo. Membuat Bimo sedikit terkejut dan tersadar mendengar isakan Yasmin memilukan.
Bimo membalas pelukan Yasmin, mengusap punggunngnya dan menenangkannya. Sahabatnya menangis pilu bergetar begitu hebat dan begitu ketakutan.
" Yas? tenang... Ada apa. Cerita?" Ucap Bimo, sambil mengusap punggung Yasmin.
" Mama?"
" Tante kenapa?" Tanya Bimo cepat.
" Mama di pukulin Bim... Mama babak belur!! Mama di labrak!!" Isak Yasmin kesenggukan.
" Tante di pukul? Siapa yang mukulin, Kenapa bisa!" Berondong Bimo, belum mengerti apa permasalahan mama Yasmin. Hingga mama Yasmin mendapatkan labrakan.
" Yasmin!!" Teriak dari ambang pintu, terdengar suara Lintang. Berjalan cepat menuju Bimo dan Yasmin.
" Yas?" Panggil Lintang, melihat Yasmin menangis dalam pelukan Bimo. " Ini kenapa?" Tanyanya pada Bimo. dan mengusap punggung Yasmin yang masih bergetar.
" Mamanya di labrak, di pukulin orang." Jawab Bimo.
" Apa! Di pukulin." Terkejut Lintang, Bimo mengedikkan bahu ia juga belum tau pasti apa permasalahannya. Hingga membuat Yasmin menangis ketakutan seperti ini.
" Kita duduk dulu." Perintah Lintang, membuat Bimo mengangguk dan menuntun Yasmin kembali ke sofa.
" Lin?" Ucap Yasmin, beralih menatap Lintang membuat Lintang memeluk tubuhnya. Sungguh sahabatnya ini sangat menyedihkan dan terlihat rapuh.
" Mas Bimo, mbak Lintang?" Sapa Bik Imah. membawa segelas minuman untuk Yasmin, dan melihat dua sahabat anak majikannya datang dan memeluk Yasmin. Membuat bik Imah menetas kembali air mata.
Bimo menatap Bik Imah, Bila pembantu Yasmin menangis itu berarti Bik Imah juga tau permasalahan Mama Yasmin.
" Minum dulu Yas?" Ucap Bimo, menerima segelas air dari tangan Bik Imah.
" Bik?" Panggil Bimo.
" Biar mbak Yasmin yang cerita semuanya mas? Bibik mau lihat ibu dulu." Pamit Bik Imah.
berjalan menuju kamar mama Yasmin. Untuk melihat majikannya dan juga melihat keadaannya, takut bila majikannya mendengar Yasmin menangis dan membuatnya kembali menangis histeris.
Yasmin sudah mulai tenang, mengontrol tangisannya dan menarik nafas untuk mulai bercerita pada temannya.
" Mamaku menjalin hubungan dengan suami orang lagi?" Lirih Yasmin.
Lintang sedikit terkejut, tapi tidak dengan Bimo. Bimo sudah menduganya, dan juga sudah tau pekerjaan kotor mama Yasmin sebagai wanita penghibur hingga terjerumus lebih dari pekerjaannya. Menjadi selingkuhan pria kaya.
" Istri pria itu ke sini bersama dua anaknya. melabrak mama dan mereka memukuli mama." Imbuhnya, kembali meneteskan air mata.
Sesak untuk menceritakan apa yang selama ini di pendamnya sendiri, Yasmin malu.. Sungguh malu. Ia takut sahabatnya akan menjauhinya, takut tidak akan ada orang yang mau berteman dengannya. Bimo sudah mengerti dan tidak masalah dengan pekerjaan mama Yasmin, tapi bagaimana dengan Lintang. Apa lagi ini dengan kasus yang begitu memalukan. Kasus ibunya menjadi simpanan lelaki beristri.
Bimo memahami kesedihan Yasmin, dan sakit saat melihat Yasmin seperti ini. Bimo merengkuh tubuh Yasmin, kembali membawanya ke dalam pelukannya. Ia tau, sebagai seorang anak juga merasakan bagaimana sakit hati dan juga malu karena kelakuan ibunya.
" Aku malu Bim.. Aku gak kuat!" Isak kembali Yasmin.
Mungkin, Bimo lah yang bisa memahaminya. Bisa menguatkannya dan bisa menjadi pendengar terbaik untuknya di kala seperti ini. Apakah Yasmin egois... Di saat sedih, Ia akan menceritakan semuanya pada Bimo. Dan di kala senang, ia simpan sendiri, tidak ingin berbagi pada Bimo.
Oh... Sungguh. Ia merasa berdosa.
Lintang yang sudah tersadar kembali menatap Yasmin dan juga Bimo. Ia belum tau semua tentang permasalahan Yasmin, memang belum tau karna dirinya juga baru berteman dengan Yasmin. Dan dirinya kembali teringat, saat pertama kali menginjak kantin bersama Yasmin dan Bimo. Dan disitulah Yasmin di bully kakak belasnya, mengatainya anak pelak*r.
Lintang pikir itu masa lalu, ternyata kini terulang kembali. Lintang mengusap punggung Yasmin membuat Bimo menatapnya.
" Kamu kasihan denganku Lin... Atau kamu malu punya teman seperti aku." Kata Yasmin, melepas pelukan Bimo dan menatap Lintang.
" Aku enggak tau apa arti kasihan dari persahabatan. Tapi yang aku tau, saat ini sahabatku butuh dukungan, dan butuh teman saat dia sedang sedih." Jawab Lintang. " Bukan menghindar dan juga meninggalkannya dalam keterpurukan." Imbuhnya lagi, Menatap dalam Yasmin.
Ucapan Lintang membuat mata Yasmin kembali berkaca-kaca, seulas senyum terbit di bibirnya. Lintang tulus berteman dengan dirinya. Bukan hanya Yasmin yang terharu, Bimo juga. Gadis di samping Yasmin memang gadis tomboy dan sedikit nakal, tapi bukan berarti dia tidak setia dengan temannya. Lintang benar tulus berteman dengannya, dan Bimo ikut tersenyum.
" Sudah jangan nangis lagi... Apapun masalahnya aku akan bantu kamu, selagi aku mampu. Bukankah itu yang namanya persahabatan? " Ucap tulus Lintang mengusap ke dua pipi Yasmin yang basah dan tersenyum lembut pada sahabatnya.
" Makasih Lin, makasih sudah mau menjadi sahabatku. Makasih sudah mau datang dan mendengarkan ceritaku." Kata Yasmin.
" Aku akan selalu menjadi pendengar yang baik, bukan cuma Bimo saja! Jadi.. jangan ada kata sungkan lagi. Oke?" Timpal Lintang, tersenyum lebar membuat Yasmin ikut tersenyum dan mengangguk.
" Cih..!! Gak ada main drama pelukan lagi nih nantinya!!" Ucap Bimo, membuat Yasmin memukul lengan Bimo dan Bimo tertawa karna pukulan Yasmin.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃