
Lintang, duduk di depan jendela menghadap belakang rumah yang masih di kelilingi dengan rumput ilalang menjulang tinggi memenuhi luasnya tanah yang belum ada penduduknya.
Rumah ke dua Lintang, Rumah kita yang di sewa Lintang setelah dirinya paham arti dari di asingkan dan di buang di panti oleh kerabat mamanya.
Rumah yang mungkin cocok bagi Lintang, meskipun sedikit kumuh dan sedikit menjauh dari pemukiman warga. Itu yang membuatnya lebih senang, karna ketenangannya dan juga anak-anak tak akan ada yang menguksinya. Rumah yang di sewa hasil darinya mendapatkan pekerjaan onlinenya. pekerjaan yang bisa membuatnya mencukupi anak-anak rumah kita tanpa mempedulikan kebutuhannya.
Toh, kebutuhannya juga sudah terpenuhi dari orang tuanya sekarang. Tidak perlu lagi dirinya harus menderita seperti dulu. Menahan lapar hanya demi membahagiakan anak-anak panti atau rumah kita.
Membuka dua jendela, sambil kembali menghisap nikotin yang ke dua kali. Di sinilah dirinya sekarang, menenangkan pikiran yang belum sepenuhnya jernih hanya karna masalah keluarga dan orang di masa lalu yang sudah menyakitinya.
Ingin rasanya Lintang kembali seperti anak kecil. Tidak ada beban hidup yang harus di pikulnya sendiri. Walau kenyataannya anak di singgah rumah kita, nasibnya jauh lebih menderita darinya. Anak yang tidak di inginkan, di buang di tepi jalan dan di jadikan pengemis untuk menyambung hidup.
Lintang masih beruntung, dan masih memiliki kenangan indah meskipun hanya sebentar saja. Kenangan yang akan di ingat bila dirinya merindukannya dan marah saat dirinya kembali di telantarkan.
Suasana tenang di dalam kamarnya, seakan menjadi saksi bisu Lintang yang suka sekali menghisap nikotin tanpa ada yang menganggu atau menegurnya. Nisapan Nikotin dan keluaran asap dari bibir dan hidungnya seakan membuat pikiran Lintang sedikit tenang dan melupakan masalah keluarganya.
Suara ketukan pintu membuat Lintang menoleh kebelakang. Dan ia membuang sisa putung rokok ke tiganya sebelum membuka pintu kamar untuk melihat siapa yang sedang mengganggunya di hari tenangnya siang ini.
" Kamu!" Ketus Lintang, mengerutkan kening melihat lelaki yang selalu mengganggunya di manapun dirinya berada.
Bukan menjawab, justru menyelonong masuk ke dalam kamar Lintang yang berukuran tiga kali enam banya terdapat kasur di bawah lantai, kursi dan meja kayu di depan jendela terbuka. Siapa lagi bila bukan Satya.
Di atas meja terdapat laptop, beberapa buku tersusun rapi, tempat alat pensil dan juga sebungkus rokok dengan di atasnya ada pematik.
" Keluar gak!" Pekik Lintang, membuat Satya menatapnya.
" Kalau aku gak mau?" Senyum jail Satya.
" Aku geret kamu."
" Coba saja kalau bisa." Tantang Satya, membuat Lintang geram. Dan menyentuh tangan Satya, menggeret lelaki itu keluar dari kamarnya tapi justru dirinya yang tergeret dan membentur tubuh Satya yang tinggi.
" Kamu ngerokok lagi? Sudah habis berapa?" Tanya Satya, menatap lekat mata Lintang dari jarak lima senti saja.
" Bukan urusan kamu!" Ketus Lintang. Mendorong Satya agar menjauh darinya, dan Lintang berjalan menuju tempat meja belajarnya. Menutup laptop, juga menyembunyikan bungkus rokok dan pematik di laci meja.
" Sudah aku bilang, jangan ngerokok Lintang! Enggak baik buat kamu!"
" Bosen tau gak sih.. kamu selalu ngingetin itu!"
" Tapi aku gak bosen ngingetin kamu jangan ngerokok Lin!" Balas cepat Satya, mengahampiri Lintang yang menaruh buku di tasnya.
" Lin! Jangan lagi." Ucap lembut Satya.
" Kamu ngapain sih kesini! Pergi sana, aku ingin tidur. Capek otakku." Usir Lintang ketus tanpa mempedulikan lelaki itu marah atau tidak padanya.
Lintang mulai merebahkan dirinya di atas kasur busa di bawah lantai tanpa ranjang. Tidur miring menghadap tembok, membelakangi Satya yang masih berdiri menatap punggungnya.
Gadis ini begitu tidak peduli atau sangat berani tidur di hadapan lelaki yang bukan temannya.
Satya duduk di kursi, memperhatikan punggung Lintang bernafas dengan tenang. Masih memakai seragam sekolah, dan terlihat rok Lintang sedikit menyingkap ke atas dan memperlihatkan jenjang mulus kaki serta pah* yang berbuka. Satya menghembuskan nafas berat, matanya mencari sesuatu di ujung kasur dan menemukan selimut berwarna biru terlipat rapi.
Satya mengambilnya dan menyelimuti Lintang mulai dari pinggul hingga bawah kaki. Agar tidak terlihat kaki serta pah* mulus Lintang yang terespos jelas di matanya. Dan kembali duduk di depan meja Lintang, membuka laptop dan menyalakannya.
Lintang merasakan selimut di tubuhnya, hanya bisa menyimpulkan sinyumnya dan kembali melanjutkan tidur. Tidak mau berdebat dengan Satya, keras kepala dan kukuh melayani berdebatan dengannya.
****
" Oh.. Ternyata masih jalan toh.. Sama mantan!" Ucap Yasmin.
" Enggak.. Aku gak jalan sama dia." Jawab Aiman, masih belum paham apa yang di sindir Yasmin padanya.
" Yakin? Gak jalan sama mantan?" Pancing Yasmin lagi, bersendekap menatap Aiman duduk tenang di sofa sambil menatap laptopnya.
" Iya dek Yasmi! Aku gak jalan sama dia.. Tadi itu hanya kebetulan saja ketemu dia di depan cafe."
" Terus yang minggu lalu gimana? Makan di luar malam-malam sama teman siapa Kak?" Kata Yasmin, mengingat pesan Aiman dimana dia pernah bila sedang di ajak makan dengan temannya. tanpa bilang atau bertanya teman lelaki atau perempuan.
Aiaman menaikkan alisnya, menatap Yasmin yang masih berdiri bersendekap dad* di depannya dengan senyum paksa hingga dirinya menyadari ada yang ganjal pada senyuman Yasmin.
" Laki-laki apa perempuam kak." Tanya Yasmin.
Aiman diam, ingin menjawab jujur tapi takut Yasmin marah, ingin berbohong tapi takut juga Yasmin semakin merah. Karna insting wanita selalu benar dan sulit untuk di bohongi.
" Mantan kan?" Tebak Yasmin.
" Iya. Tapi cuma sakali, itu juga terpaksa. Soalnya dia maksa." Jawab Aiman.
" Oh!" Riang Yasmin, berjalan menuju tempat duduk favoritnya, menatap jendela.
" Yas?" Panggil Aiman.
" Apa?" Jawab Yasmin tanpa menoleh.
" Marah?" Tanya Aiman, melihat Yasmin kembali duduk dan diam.
" Marah kenapa?" Tanya balik Yasmin.
" Marah karna aku gak bilang sama kamu."
" Enggak lah... Ngapain marah. Orang juga itu terserah kakak!" Sewot Yasmin.
Bila marah tentu saja dirinya marah, di bohongi oleh kekasihnya yang ternyata makan malam bersama mantan pacarnya. Ya, meskipun itu hanya sekali. Dan itu di paksa oleh mantan pacar.
Jelas, suara Yasmin begitu marah padanya. Tapi gadis itu tak ingin menunjukkan rasa marahnya padanya. Mungkin gengsi, antara marah dan cemburu, hanya berbeda sedikit saja. Aiman mendekati Yasmin, duduk jongkok di hadapannya dan menyentuh ke dua tangann Yasmin.
" Maaf, aku salah. Kakak janji gak akan ngulangi lagi." Lembut Aiman, mengecup ke dua tangan Yasmin yang membuat Yasmin terkejut akan perlakuan manis dari kekasihnya.
Rasa marah pun seakan luntur hanya dengan sentuhan dan rayuan manis dari bibir Aiman. Ah.. Yasmin lemah akan hal itu!
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃