
" Rokok yang putih itu satu mbak." Tunjuk Lintang belakang kasir terjajar rapi berbagai merek rokok. " Sama korek satu." Imbuhnya.
" Sudah ini saja mbak, gak tambah lagi." Tanya Kasir. mulai mensesor semua barang yang di beli Lintang.
" Sudah itu saja mbak."
" total semuanya, Seratus lima puluh empat." Lintang menyodorkan dua lembar uang merah pada kasir. Mengambil plastik di atas meja kasir dan juga mengambil kembaliannya.
Duduk di depan minimart, menaruh belanjaan di atas meja bundar. Membuka bungkus rokok dan pematicnya, tidak peduli tatapan heran orang lewat atau parkir di depannya. Ia sungguh membutuhkan nikotin siang ini, untuk menjernihkan pikiran yang masih kalut tersarang di otaknya.
Semalaman ia tidak bisa tidur meskipun sudah menginap di rumah Yasmin. Menyentuh rokok pun tidak punya kesempatan karna Bimo membawa rokoknya dan entah di sembunyikan di mana. Dan tau pagi-pagi sekali, bungkus rokok serta korek api berada di tong sampah yang tidak berbentuk lagi.
Sial, sumpah serapah dan cacian ia keluarkan untuk Bimo sahabatnya. Sahabatnya itu sungguh membuatnya semakin sebal, niat ingin menenangkan diri, justru semakin membuat kepalanya hampir pecah. Menginap di rumah Yasmin ternyata bukan saran yang baik, bila ada Bimo di sana. Kenapa juga bisa, Bimo nginap di rumah Yasmin.
Ah.. Lupa, bila Bimo tidak bisa masuk ke dalam rumahnya sendiri di saat ibu ratu sudah mengunci pagar rumah di atas jam sepuluh malam.
Menyedihkan.
Tapi untungnya, Bimo mempunyai cadangan rumah ke dua untuk bisa tidur. Rumah Yasmin sebagai pelarian, bila Bimo tidak bisa masuk ke dalam rumah. Bimo hanya takut dengan ibunya dan tidak akan takut bila dengan yang lain. Hanya saja, sahabatnya itu lebih suka menghindari masalah dari pada membuat masalah dan ujung-ujungnya akan bertengkar hingga membuat ibunya kembali mengomel-ngomel sampai hatinya terasa puas.
Sekali lagi, Lintang menghembuskan asap rokok. Menatap lurus jalan raya penuh pengendara lalu lalang dan juga halaman minimart terparkir motor serta mobil tak rapi.
Banyak orang memandangnya, melihat bagaimana anak remaja perempuan merokok di tempat umum tanpa malu. Sungguh, Lintang sama sekali tidak pedulikan itu. Biarkan orang akan beransumsi tentang dirinya yang tidak-tidak. Mungkin kebanyakan orang akan menganggapnya remaja nakal.
Di saat dirinya akan menghisap rokok kembali, seorang lelaki berdiri di sampingnya. Membuat Lintang mendongak dan mengurungkan hisapan rokok di bibirnya.
Lintang mengerutkan kening, kembali berwajah datar saat ingat siapa lelaki di depannya. mematikan rokok di dalam asbak dan minum air dingin yang sudah di bukanya.
" Yasmin mana?" Tanya Lintang, menatap lelaki di sebelahnya yang sudah duduk di sampingnya terhalang meja bundar.
" Masih di rumah." Jawab lelaki itu. Lintang mengangguk dan kembali menatap jalanan.
" Kamu ngerokok?" Tanyanya, membuat Lintang tersenyum kecil melirik lelaki di sampingnya.
" Iya, kenapa." Kata Lintang, menoleh pada lelaki yang semalam tidur di rumah Yasmin, yang di akui Yasmin sebagai kekasihnya.
" Takut... Yasmin ikut jejakku!" Imbuhnya tersenyum sinis.
Ya, siapa lagi bila bukan Aiman. Kekasih Yasmin yang sekarang duduk di depannya. Memandang aneh padanya, seakan menunjukkan wajah tidak suka mengetahui sahabat kekasihnya yang ternyata gadis perokok. Apa lagi menghirup nikotin di tempat umum dan banyak orang yang melihat kelakuannya.
Miris sekali!
Belum ada jawaban dari kekasih Yasmin, Lintang sudah menduga di dalam otak kekasih Yasmin sedang memikirkan hal negatif padanya. Tersenyum sinis kembali melihat kekasih Yasmin.
" Tenang saja... Aku bukan teman yang suka menjerumuskan teman lain untuk mengikuti jejakku. Aku ngerokok juga tidak di depan Yasmin, Kekasih kamu juga tidak tau kalau aku perokok. Kalau dia tau.. Itu berarti dari kamu yang bilang." Kata Lintang.
Kata terakhir, seperti kata sindiran bila dirinya akan mengatakan apa yang di lihatnya tentang sahabat kekasihnya.
Aiman bukan cowok suka mengadu, bukan pula suka mengurusi hidup orang. Tapi ini sahabat kekasihnya, masih gadis tapi sudah mahir menghisap rokok. Apa bisa di percaya sahabat Yasmin satu ini, bila tidak akan mengajak atau mengajari Yasmin merokok.
" Kamu peminum juga." Tanya Aiman, membuat Lintang kembali menoleh.
Peminum, Bukan bodoh tidak mengetahui apa maksud ucapan Aiman. Apa rokok juga harus di sandingkan dengan minuman alkohol.
" Alkohol ya?" Sedikit mengerutkan kening, dan tersenyum manis pada Aiman. " Belum pernah coba... Tapi makasih sarannya, mungkin lain kali aku akan coba gimana rasanya. Bisa menjernihkan pikiran apa enggak." Imbuhnya. Membuat Aiman melototkan mata.
" Jangan pernah sekali-kali minum-minuman itu! Itu akan membuat kamu tidak sadarkan diri, apa lagi minumnya bersama lelaki." Larang Aiman. Hanya tatapan dan senyuman sinis Lintang tunjukkan pada Aiman.
Kekasih sahabatnya ini baru mengenal sudah menasatinya. Apa lagi kalau sudah mengenal, pasti akan mengaturnya hidupnya.
Lintang berdiri dari duduknya, mengambil kantong plastik di atas meja. Sebelum beranjak dari hadapan lelaki itu Yasmin berucap.
" Jangan pernah memberi perhatian pada wanita lain, selain kekasih kamu... Karna dari perhatian kecil saja akan bisa saling jatuh hati dan bisa menyakiti yang lain." Ucap Lintang. berjalan menuju motornya yang terparkir di sisi kanan pojok toko.
Aiman mengerutkan kening, mendengar ucapan Lintang. Apa maksudnya.. Memberi perhatian wanita lain dan bisa menyakiti yang lain. Aiman melebarkan mata, Apa yang baru saja di katakan Lintang memperingatkan dirinya. Yang sudah mempunyai kekasih, tapi masih memberi perhatian wanita lain.
Dan contohnya, seperti dirinya barusan. Saat ia tanpa sadar melarang sahabat kekasihnya untuk tidak mencicipi minuman haram. Dan itu seperti ia memberi perhatian kecil pada Lintang. Padahal ia tidak bermaksud memberi perhatian pada sahabat kekasihnya, Hanya menasehatinya. Tapi ucapannya seperti memberi perhatian.
Oh.. Bodohnya Aiman. Sejak kapan ia peduli dengan orang selain Yasmin, Ia tidak sadar akan hal itu. Aiman menatap Lintang di atas motornya yang sudah memakai helm, Lintang tersenyum dan menganggukkan kepala dengan sopan saat motornya sudah menyala dan melaju meninggalkan minimart.
Aiman menghembuskan nafas berat. Sahabat kekasihnya tidak bisa di beri pengertian dan sifatnya seperti gadis keras kepala. Berbeda dengan kekasihnya, Tapi tunggu. Kenapa dirinya sekarang membeda-bedakan sahabat kekasihnya dan juga kekasihnya. Ah... sekali lagi Aiman menghembuskan nafas kasar, menggeleng-gelengkan kepala mengusir pikiran negatif dan tidak ingin lagi membahas sahabat Yasmin.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃