
Bisakah ini di gambarkan dengan kebahagian, kesenangan, dan senyuman yang mengembang sempurna tanpa paksaan. Apa yang di rasakannya jauh lebih expentasinya selama ini.
Tak pernah di bayangkan bila ia bisa kembali tertawa lepas dan senyum senang bermain seperti anak-anak remaja pada umumnya. Walaupun bukan bersama dengan keluarga, ternyata bahagia tidak perlu mahal, cukup dengan membawanya pada permainan anak-anak dan melepas penat sekejak membuatnya otak dan hatinya rileks.
Apa yang di rasakan Lintang saat ini, sungguh ia merasa lebih-lebih senang dan juga bahagia. Selama lebih dari empat tahun, semenjak perpisahan ke dua orang tuanya dan juga hidupnya yang menderita. Lintang tak pernah lagi, menjejakkan kakinya di wahana permainan yang tidak terlalu ramai dengan pengunjung.
Ya, Satya membawanya di tempat sisata wahana permainan bukan Mall. Tidak protes malah justru senang, Satya membawanya ke sini.
Bianglala menjular tinggi, terlihat begitu jelas saat dirinya sudah memasuki wahana permainan. Tapi bukan itu tujuan pertamanya.
Satya membawanya memutari tempat wahana terlebih dulu. Membawanya berhenti di sebuah wahana kora-kora. Wanaha perahu yang di ayunkan maju mundur dengan perlahan dan semakin kencang hingga membuat orang menaikinya berteriak histeris.
" Takut?" Tanya Satya. Membuat Lintang menoleh.
" Enggak lah. Ayo!" Seru Lintang, berjalan terlebih dulu untuk ikut mengantri.
Seakan menantangnya untuk ikut menaiki wahana yang tidak seberapa mengerikan di mata Satya.
Duduk di samping Satya, memegang besi panjang di depannya dengan kuat saat perlahan-lahan perahu itu mulai bergerak. Terlihat jelas wajah Lintang cerah, itu membuat Satya tersenyum lebar. Dan tidak sia-sia ia harus merogoh uang cukup dalam untuk memasuki wisata wahana ini bersama Lintang.
Dia yang mengajaknya dan dia juga yang harus mengeluarkan uang. Tidak mungkin kan? Satya bilang harus bayar sendiri-sendiri masuk ke dalam wisata ini. Bisa-bisa dirinya akan di bilang cowok gak bermodal. Mengajak gadis yang di sukainya dan mengajaknya di taman sambil minum es nutrimas dalam plastik tanpa makan.
Memalukan.
Gak bermodal.
Setidaknya mengesankan dikit lah.. Jangan terlalu pelit. Bukankah cewek lebih suka cowok royal dan gak perhitungan. Tapi juga jangan terlalu bodoh menjadi budak cinta, belum menikah sudah meminta ini itu. Kalau putus bisa gak balik modal, malah merugi.
Lintang dan Satya sudah turun dari wahana kora-kora. Mendesah lega, dengan senyum mengembang. Lintang menatap ke arah wahana lain yang lebih seru.
" Kesana yuk!" Seru Lintang, menunjuk wahana ayunan tinggi berputar seperti jarum.
Belum sempat Satya menjawab, tangannya sudah di tarik Lintang setengah berlari menuju wahana yang juga sama mengantrinya.
Mengantri kembali, tidak membuat Lintang jenuh dan lebih semangat mencoba semua wahana yang ada di sini.
Wahana ontang-anting ke dua, Lintang duduk di sendiri di ayunan, di depan sebelah kanan tak jauh darinya Satya juga duduk mengamati Lintang semangat menatapnya dengan senyum mengembang. Satya juga membalasnya tersenyum, mengacungkan jempol jari ke arah Lintang.
Kali ini Lintang berteriak sangat kencang, berpegangan kuat tanpa menutup mata. Rasanya sungguh sangat menyenangkan, tak mempedulikan Satya yang menatapnya cemas saat dirinya mencoba melepaskan ke dua tangannya dan merentangkan ke dua tangannya. Seakan ia berada di bukit tinggi dengan udara yang sejuk.
Oh Tuhan... Lintang!" Gumam Satya.
Kembali turun dari wahana. Satya menatap Lintang, dan berkata. " Jangan lepaskan tangan kamu dari pegangan Lin." Cemas Satya. Sungguh tadi membuat Satya sangat cemas dan takut bila terjadi apa-apa pada gadis ini.
" Iya?" Jawab Lintang, yang kali ini tidak berdebat dengan Satya. membuat Satya sedikit bingung dengan sikap.
" Aku mau naik itu... Ayo?" Ajak Lintang, kembali menarik tangan Satya. Kali ini menuju wahana roll coster.
Wahana kereta dengan kecepatan tinggi. membuat jantung seakan copot dari tubuhnya.
" Pegangan!" Perintah Satya, duduk di samping Lintang yang semangat empat lima tanpa lelah.
" Iya... Bawel." Lirih Lintang ucapan terakhir, tapi masih di dengar oleh Satya.
Bukan Lintang yang takut, tapi justru Satya yang saat ini merasakan tangannya dingin. Jantungnya sudah begitu berdebar rasa ingin sekali turun. Tapi sudah terlambat, kala kereta mulai naik perlahan-lahan, membuat dirinya semakin mencekram sabuk pengaman, menutup mata, dan merapalkan doa-doa yang dirinya hapal. Bukan doa keselamatan, melainkan surat-surat kecil hingga doa makan pun Satya ucapkan dalam bibirnya komat kamitnya.
Ini akibatnya bila pelajaran agama dirinya selalu malas dan tak pernah belajar penghapalan. Hingga setiap pelajaran agama dirinya sering sekali mendapatkan hukuman bersama teman lainnya.
Sungguh, dirinya harus mulai belajar agama dengan serius kali ini.
Lintang menatap Satya, tertawa kecil karna bibir cowok itu tak bisa diam. Terus merapalkan doa-doa yang bisa di dengar olehnya.
Lucu sekali? Itulah yang ada di pikiran Lintang. Hingga suara teriakan histeris mulai terdengar. Kereta meluncur dengan cepat. Lintang ikut teriak, sekali-kali juga melirik Satya yang semakin takut dan tegang.
Oh... Sungguh, menyenangkan sekali melihat Satya ketakutan.
Kali ini Lintang tak akan membiarkan Satya tenang. Selesai bermain wahana roll coster. Kini Lintang menarik tangan Satya, berjalan cepat menuju wahana Halilintar. Wahana yang berputar tiga puluh enam derajat itu sungguh membuat Satya menelan ludahnya dengan serat. Wahana yang belum sama sekali dirinya naiki, Dan rasanya sangat menakutkan di bandingkan roll coster.
Oh... Tuhan.
" Takut?" Tebak Lintang, membuat Satya menatapnya.
" Enggak." Elaknya dengan wajah tegas.
Mana boleh dirinya takut di hadapan Lintang, Pamornya akan hilang bila dirinya jujur. Lebih baik berbohong, demi mengejar cinta.
Bullsh*t.
" Ayo." Ajak Lintang, membuat Satya mengangguk mantap dan tersenyum mengikuti Lintang yang sudah berbaris mengantri di depannya.
Lintang menahan senyum dan tawa. Melihat Satya yang sangat jelas tak bisa menyembunyikan ketakutannya. Menjaili Satya sekali-kali, tak apakan? Lelaki itu selalu saja membuatnya sebal. Dan ini adalah pembalasannya.
Maaf ya... Tapi aku senang." Gumam Lintang.
Dan hal yang membuat Lintang mesara bersalah kali ini. Saat mereka turun, Satya terlihat pucat. bibir terkunci rapat, berlari meninggalkannya menuju ke tong sampah. Memuntahkan semua yang ada di dalam perut, membuat Lintang dengan cepat menghampirinya dan memijat tengkuk leher Satya yang masih membungkuk di depan tong sampah.
Ternyata bukan Satya saja yang mual. Ada beberapa pengunjung juga merasakan mual akibat putaran halilintar.
" Kamu enggak apa-apa?" Pertanyaan bodoh macam mana Lintang bertanya seperti itu. Sudah pasti Satya tidak baik-baik saja.
Satya sudah selesai dengan adegan mualnya, kini menatap Lintang. Terlihat cemas dan takut.
" Kamu gak pusing?" Tanya Satya. Membuat Lintang menggelengkan kepala.
" Kita duduk sana dulu!" Tunjuk Lintang, kini Satya yang mengangguk. rasanya masih lemas dan pusing akibat halilintar sial*n.
Kini dirinya merasa malu dengan Lintang.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃