Our Story

Our Story
Pemaksa



" Sebentar!" Teriak dari dalam. terdengar suara membuka kunci, pintu terbuka dengan pelan. Memperlihatkan wanita tua yang tergesa saat menghampirinya.


" Mas Aiman?" Sapa ramah Bik Imah, Aiman tersenyum dan sedikit mengangguk.


" Yasminnya ada bik?" Tanya Aiman.


" Mbak Yasmin belum pulang mas." Jawab Bik imah.


Aiman mengerutkan kening melihat jam tangannya sudah menunjukkan waktu sore, tapi Yasmin belum pulang dari sekolahnya. Apa gadisnya masih ada kegiatan sekolah, atau dia sedang bermain dengan sahabatnya.


Tapi tidak mungkin Yasmin bermain dengan temannya. Apa lagi di saat Ibu Yasmin mengalami sakit seperti ini. Lalu kemana gadisnya?


" Mbak Yasmin kerja mas?" Ucap Bik Imah, dan membuat Aiman yang masih dengan pikirannya menatap Bik Imah.


" Yasmin kerja?" Ulang Aiman.


" Iya Mas, mbak Yasmin kerja. Pulangnya malam. Mungkin sekitar jam sepuluh sampai rumah." Jawab Bik Imah.


Menjelaskan pada Aiman yang bibik yakini lelaki di hadapannya ini kekasih Yasmin. Karna begitu jelas bagaiman Yasmin manja dengan lelaki dewasa di hadapannya ini, dan lelaki yang selalu mengirimkan makanan lewat ojek online ke rumah Yasmin setiap hari.


" Kerja di mana Bik, dan sejak kapan Yasmin bekerja?" Tanya Aiman.


Pasalnya Yasmin tidak pernah bilang padanya, bila akan bekerja. Yang Aiman tau, kekasih sibuk mengurusi mamanya dan jarang sekali membalas pesan padanya bila tidak malam hari.


" Kerja di toko roti mas. Sudah tiga hari ini mbak Yasmin bekerja." Jelas Bik Imah.


Tiga hari Yasmin sudah bekerja, dan selama empat hari pula ia tidak bertemu dengan Yasmin. Terakhir bertemu di mana Ibu kekasihnya ini mencoba bunuh diri, dan saat itu pula ia begitu sibuk dengan urusannya. Pekerjaan yang di limpahkannya dari Papanya dan juga cefenya yang mulai ramai.


Ia sangat sibuk, tapi tak lupa dengan perhatian pada kekasihnya. Dan ia sadar perhatian saja tidak cukup, karna yang di butuhkan Yasmin sekarang adalah uang. untuk kebutuhan hidupnya dan juga pengobatan ibunya.


Bagaimana dengan sekolahnya?


" Yasmin sudah tidak sekolah bik?" Tanya Aiman.


Ada rasa takut, bila Yasmin tidak sekolah. Apa lagi gadis ini bekerja di usia yang sangat muda.


" Mbak Yasmin masih sekolah kok mas Aiman? Sepulang sekolah langsung ke tempat kerja, mangkanya enggak pulang ke rumah." Jelas Bik Imah.


Ada rasa sedikit lega, Yasmin tidak putus sekolah. Tapi juga ada rasa cemas, Yasmin bersekolah sambil kerja. Rasanya tidak tega kekasihnya bekerja. Bukannya masa remaja harus di habiskan dengan indah, sebelum beranjak jadi dewasa dan mengenal pahitnya hidup yang sesungguhnya. Nyatanya, Yasmin sudah mengenal pahitnya hidup sebelum menginjak dewasa dan dia harus menjadi pulang punggung keluarga di usia muda.


Menyedihkan.


" Alamat tempat kerja Yasmin di mana Bik?" Tanya Aiman.


" Kalau itu bibik gak kurang tau mas, Mbak Yasmin gak bilang di mana alamat tempat kerjanya. Yang bibik cuma tau ya itu, kerja di toko roti punya mama temannya. Sering ke sini sama mas Bimo, Mas?" Jawab Bik Imah.


Memang Yasmin tidak menceritakan begitu rinci di mana tempat kerjanya. Yang Bik Imah tau, Yasmin bekerja di tempat toko roti punya ibunya Lintang. Dan Lintang sahabat Yasmin setelah Bimo.


Bimo.


Aiman teringat, Yasmin pernah bilang padanya bila mempunyai teman baik selain Bimo dan teman itu yang pernah membelanya saat di bully oleh kakak kelasnya. Ya, Aiman mengingatnya, tapi ia tidak tau siapa nama teman baik Yasmin. Yang Aiman ingat dari cerita Yasmin, temannya gadis tomboy, gadis pemberani dan juga pekerja keras.


Banyak yang belum Yasmin ceritakan tentang sahabatnya itu padanya. Ia harus bertanya pada Bimo, Ya. Harus, karena Bimo yang fau segalanya tentang Yasmin.


" Ya sudah bik, makasih. Kalau begitu saya pulang dulu, nanti malam saya akan ke sini lagi." Pamit Aiman.


" Ia Mas, hati-hati." Ucap Bibik mengangguk dan tersenyum.


Sebelum Aiman berbalik, ia kembali menatap Bik Imah. " Oh iya bik, gimana keadaan Mamanya Yasmin." Tanya Aiman.


" Kapan cek up kembali?"


" Sekitar seminggu lagi Mas?" Jawab Bik Imah.


" Tolong kabarin saya ya bik kalau mau ke rumah sakit kembali, biar saya antar." Kata Aiman, memberi kartu nama pada Bik Imah. Agar bik Imah bisa menghubunginya dan sewaktu-waktu bila terjadi apa-apa bik imah bisa juga memberi kabar padanya.


" Iya mas." Jawab Bik Imah, menerima kartu nama dari Aiman.


Mungkin benar, bik Imah harus menerimanya. Suatu saat pasti akan membutuhkan Aiman, apa lagi Bik Imah tak mempunyai nomer siapapun yang bisa di hubungi. Kecuali Yasmin dan Ranti, mamanya Yasmin.


Aiman meninggalkan rumah Yasmin, mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dalam hati dan pikiran hanya tertuju kekasihnya, ia akan kembali ke rumah Yasmin nanti. begitu banyak yang ingin di bicarakan dan di dengar dari Yasmin. Berharap kekasihnya tidak akan mengalami kesulitan dalam bekerja.


****


" Kamu masak apa?" Tanya Satya, memperhatikan Lintang di dapur dengan berbagai sayuran dan bumbu dapur yang di kupasnya sendiri.


" Cuma masakin sop sama ungkep ayam. Biar nanti malam tina tinggal masak ayam dan manasin sayur saja. Kasihan kan, bila pulang kerja masih harus ulekin bumbu-bumbu." Jawab Lintang, menjelaskan apa yang sedang ia lalukan di dapur lagi.


Padahal selesai membersihkan rumah singgah yang sedikit kotor dan piring serta gelas dalam cucian di bak terlihat menggunung membuat gadis itu begitu sibuk di tambah lagi harus menyiapkan makan malam untuk anak-anak singgah nanti. Apa gadis di hadapannya ini tidak lelah?


" Aku bantu ya?" Kata Satya.


" Apa yang harus di bantu? Ini sudah selesai." Kata Lintang tersenyum. " Kamu sudah selesai bantu ngerjain tugas mereka?" Tanya Lintang, sambil menaruh ayam ungkep ke dalam kulkas dan duduk di depan Satya di meja makan.


" Sudah, Mereka sekarang mau tidur. Ngantuk katanya." Jawab Satya. Membuat Lintang mengangguk mengerti.


" Mau makan?" Tawar Lintang.


" Kamu sudah makan?" Tanya balik Satya.


" Belum, masih kenyang. Kalau kamu mau makan aku ambilin." Kata Lintang.


" Aku mau makan, kalau kamu mau nemenin aku." Jawab Satya.


" Dihh!! Kayak anak kecil aja, minta di tungguin. Sudah di tawarin malah ngelunjak." Gerutu Lintang. " Ogah! Aku belum selesai ngerjain tugas. Kalau mau makan, udah ambil sendiri saja sana!" Ketusnya, beranjak dari duduknya. Melangkah melewatinya, tapi tangannya di cekal oleh Satya.


" Temani aku... Aku lapar, Aku malas makan sendiri. Gak kasihan aku apa Lin!" Melas Satya, berharap gadis pujaannya mau menemaninya makan.


Lintang mengendus dan berdecak sebal, memukul tangan Satya untuk minta di lepaskan. Dirinya berbalik menuju rak piring dan mengambil nasi serta sendok.


" Nih makan!" Kata Lintang, lagi-lagi tangannya di cekal Satya.


" Duduk. Temani aku makan." Kata Satya.


" Iya!! Resek. Lepasin." ketus Lintang, membuat Satya tersenyum lebar melepaskan tangan Lintang yang cemberut dan duduk tenang di hadapannya.


Entah kenapa Lintang mau saja menuruti Satya dan menemani kakak kelasnya makan dengan lahap. Membuat perutnya tiba-tiba berbunyi.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃