
" Nunggu jemputan lagi?" Tanya Satya, berdiri di samping Lintang yang sedang mengotak atik ponselnya di pinggir jalan.
" Iya." Jawab Lintang, menoleh sekilas dan kembali melihat ponsel.
" Duduk di sana dulu, mungkin jemputan kamu lama datangnya. Sudah setangah jam aku lihat kamu berdiri terus." Saran Satya, membuat Lintang meliriknya sinis.
Kenapa begitu repotnya, memperhatikan Lintang lama?
" Kurang kerjaan! Sampai memperhatikan orang lama begitu!" Sinis Lintang, membuat Satya tersenyum lebar.
" Emang salah ya, merhatiin orang? Yang di perhatiin juga gak peka." Jawab Satya. Semakin Lintang sinis meliriknya.
" Berarti belum pernah di colok itu matanya."
" Emang bisa mata di buat colokan? Kan gak ada listrik di badanku." Ucap Satya tersenyum lebar. Sedangkan Lintang berdecak sebal.
Lelaki ini menggodanya atau mengerjainya. Menjengkelkan sekali. Batin Lintang.
" Capek? Duduk dulu yok." Ajak Satya.
" Ogah." Tolak Lintang.
" Aku antar pulang, mau gak."
" Enggak. Makasih." Ketus Lintang. Sambil melototkan mata, semakin gemas untuk di lihatnya.
" Jangan ketus-ketus napa? Cantik kamu hilang nanti." Ucap Satya. Mendapat pelototkan dari Lintang, Bibir ingin mengucap tapi terurung karna suara Abbas memanggilnya.
Lintang melengos dan berjalan menuju Abbas dengan mata memicing. Tak di gubris Lintang, Abbas malah menatap Satya yang tersenyum pada Lintang dan dirinya.
Batin Abbas bertanya-tanya, Siapa? Dan apa itu temannya?
" Ayo jalan Bas!!" Seru Lintang.
" Iya!!" Balas Abbas. melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Satya, melihat kepergian Lintang dengan senyum dan menggelengkan kepala. Gadis itu masih sama ketusnya seperti dulu, tak ada yang berubah.
Bertemu dengannya kembali membuatnya senang. Dan betapa senangnya kini satu sekolah dengannya. Tapi sayang, Lintang tak pernah menggubrisnya. Dirinya masih saja ketus dan juga lebih memilih menghindar darinya.
Entah kenapa?
Semakin menghindar semakin membuatnya penasaran. Semakin ketus, semakin membuatnya gemas. Lama tak bertemu, semakin imut. Dia gadis yang sulit sekali bagi Satya dekati. Gadis yang membuat otaknya selalu memikirkannya dulu. Kini bertemu kembali, adalah keajaiban baginya.
****
Yasmin merebahkan tubuhnya di ranjang, siang ini dirinya malas sekali untuk kemana-mana. Ke tempat cafe Aiman pun rasa sudah tak perlu lagi. Hatinya sudah sakit, sakit melihat Aiman berci*man dengan wanita.
Yasmin menggeleng-gelengkan kepala. Mengusir bayangan itu dalam pikirannya, entah kenapa rasanya sakit hati. Padahal dirinya bukan kekasih Aiman, bukan pula wanita spesial Aiman. Dirinya saja yang terlalu berharap pada Aiaman, hingga melupakan kenyataan sebenarnya.
Nada ponselnya berbunyi. Yasmin merabah ponsel di dalam tas sekolahnya dan mulai membuka aplikasi chat untuk melihat siapa yang mengirim pesan pada.
Kak Aiman.
" Yas, sudah pulang?"
Hanya tersenyum simpul, kembali menutup pesan Aiman. dan meletakkan ponsel di sampingnya. Enggan sekali membalas pesan dari Aiman dari semalam.
Sudah terhitung berapa pesan dan panggilan dari Aiman yang tidak di jawabnya sama sekali.
Kenapa? Kenapa harus perhatian?
Jangan, jangan lagi.
Ponsel Yasmin kembali berdering, bukan pesan melainkan panggilan dan nama yang sama.
Kak Aiman.
Di tempat cafe, Aiman sudah beberapa kali mencoba menghubungi Yasmin dan juga mengirim pesan pada gadis itu. Tapi entah kenapa, pesan dan panggilan darinya tak pernah di jawab atau di balas oleh Yasmin.
Tidak pernah Yasmin mengabaikan telpon atau pesan darinya. Gadis itu selalu mebalas dan mengangkat telponnya Atau gadis itu yang lebih dulu mengirimi pesan semangat dan ucapan selamat malam menjelang tidur padanya.
Tapi kini, Yasmin seperti menghindar darinya. Atau memang gadis itu marah padanya karena tak pernah dirinya mau memenuhi permintaan sederhananya. Meskipun Yasmin marah, tak pernah Yasmin mendiamkannya seperti ini. Gadis itu masih saja mengirim dan membalas pesannya.
Aiaman tentu saja khawatir dan juga sedikit marah akan gadis yang sudah membuatnya tak bisa berhenti memikirkannya semalaman.
Salah apa dirinya pada Yasmin. Dan Yasmin kemarin tidak mengunjungi tokonya. Yang dirinya tau di setiap hari itu Yasmin akan pergi ke suatu tempat dan tak akan berkunjung ke cafenya hingga esok hari.
Tapi ternyata dirinya mendapatkan telpon dari Bimo, menanyakan keberadaan Yasmin yang belum pulang di malam hari, hingga ibunya menanyakannya.
Aiman semalaman menelpon Yasmin yang nomernya tak aktif dan mengirim pesan yang baru di buka Yasmin pagi hari. Hingga sekarang Aiman masih menunggu balasan pesan Yasmin. Dan kenapa gadis itu hingga sekarang tak membalas atau menelpon balik padanya.
Sungguh Aiman sangat penasaran.
" Nanti malam, Aku akan ke rumah kamu." Tulis Aiman, mengirimkannya pada Yasmin.
Berharap dengan ini Yasmin akan membalas pesannya. Dan kembali bekerja memeriksa kebutuhan cafe.
Yasmin yang baru selesai mandi, menyegarkan tubuhnya. Kini sedikit merasa segar. Yasmin yang akan kembali melihat ponsel terurung kala pintu kamar di ketuk dari luar.
" Yasmin.. Ayo makan siang." Ucap Ranti, mengajak putrinya makan siang bersama.
" Iya." Jawab Yasmin.
" Cepat turun... Mama tunggu di meja makan!" Perintahnya. Dan melangkah pergi turun dari kamar Yasmin.
Yasmin kembali meletakkan ponselnya, melangkah keluar kamar, menuju dapur untuk makan bersama dengan mamanya. Pertengkaran semalam tak akan di bahas lagi oleh Yasmin maupun Mamanya. Bila mamanya sudah menyapanya terlebih dulu, itu berarti susah melupakan kejadian pertengkaran dengannya.
Meskipun bersitegang dan saling bertengkar tapi tak membuat ke Yasmin dan Mamanya saling menghindar atau mendiamkannya lama. ibu dan anak itu tau, mereka hanya berdua dan mereka tidak punya siapa-siapa lagi selain ibu atau anak. Yang tak pernah saling mengeluh, tapi selalu perhatian serta kasih sayang dengan cara berbeda.
Kali ini Mamanya tidak duduk di meja makan sendiri. Ada sahabat mama datang berkunjung ke rumahnya.
" Sayang Yasmin!! Apa kabar sayang." Ucap Molly. teman mama dalam satu pekerjaan.
" Sehat tan." Jawab singkat Yasmin. " Mau pergi?" Tanyanya, dan sudah pasti tau dengan jawaban tante Molly padanya.
" Iya. Mau ajakin mama kamu ke salon, sekalian ketemu sama teman." Jawab Molly.
Yasmin hanya mengangguk. Mulai mengambil nasi dan lauk.
" Kamu gak keluar Yas?" Tanya Ranti.
" Enggak. Lagi malas keluar."
" Mau mama belikan apa nanti pulang." Tanya Ranti.
" Terserah." Jawab Yasmin, membuat Ranti hanya menghela nafas. Anaknya begitu datar menjawabnya.
Molly melihat perubahan Ranti. Menyenggol kaki Ranti membuat Ranti menatapnya dan membalas senyuman paksa pada Molly sahabatnya.
Molly tau, ibu dan anak itu tak pernah akur sama sekali. Dan selalu Yasmin menjawab mamanya dengan singkat serta sedikit ketus.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃