Our Story

Our Story
tangisan pilu.



Tangan hampir saja menyentuh pipi Lintang bila Lintang tidak melangkah mundur memberi jarak padanya.


Rosa menurunkan tangannya, ada rasa sedikut kecewa pada perlakuan Lintang, tapi itu tidak apa-apa. Karena dirinya juga tau bila Lintang sangatlah marah padanya saat ini.


Ya. mungkin saja.


" Lintang? apa kabar nak?." Ucap Rosa, tersenyum hangat pada Lintang.


Lintang hanya menatapnya datar, tatapan yang sangat tak ramah di perlihatkannya pada wanita di hadapannya. Wanita yang sudah menyakiti hatinya, dan juga mentalnya. Ibu yang seharusnya ada di sisinya, ibu yang seharusnya siap menjadi keluh kesahnya itu seakan sirna sudah di mata Lintang.


Ya, wanita itu ibunya. Wanita cantik itu datang ke rumah ibu tirinya untuk menemuinya.


Kenapa baru sekarang? Kemana dia selama ini?


Hidup sendiri penuh dengan derita tanpa bantuan dari orang-oran terdekat maupun ke dua orang tuanya membuat Lintang sudah kebal akan dunia kejamnya.


" Mama kangen Lintang?" Ucap Rosa, membuat Lintang semakin menatapnya datar.


Abbas yang mendengar itu pun terkejut. ' Mama' Itu artinya wanita yang membuat keributan di rumahnya adalah Mama Lintang dan mantan istri ayah tirinya.


Saskia, meneteskan air mata. Saat melihat Lintang yang hanya diam mematung menatap Ibu kandungnya. Saskia seakan bis merasakan bagaimana hati dan juga mental putri tirinya itu. Masalah dengan suaminya sedikit demi sedikit Lintang mulai bisa memaafkan, dan ini kehadiran orang baru sebagai ibu kandungnya membuat Lintang kembali emosianal dan juga menambah beban baru di hati serta otak kepala putri tirinya.


Teguh, mendengar dan melihat Rosa yang ingin sekali menunjukkan dirinya pada Lintang bila itu ibu kandung yang sudah pasti di mengerti Lintang hanya bisa mengepalkan tangannya. Sedangkan lelaki yang bersama Rosa hanya bisa tersenyum samar, bagaiman Rosa terlihat sangat merindukan putri kandungnya.


" Lintang enggak kangen mama?" Tanya Rosa, mencoba mendekat kembali untuk meraih tubuh putrinya. Semakin mendekat, semakin Lintang melangkah mundur tanpa expresi wajah. Dan itu membuat Rosa kembali terdiam.


" Ini Mama Nak?" Kata Rosa, menunjukkan siapa dirinya. Takut bila Lintang sudah tidak mengenal lagi ibu kandungnya.


Bagaimana bisa melupakan ibu kandung, hanya tiga tahun saja mereka tak hidup bersama. Dan memori Lintang masih teringat jelas siapa wanita di hadapannya ini. Walaupun tak perlu menunjukkan siapa dirinya.


" Bunda?" Panggil Lintang, tatapannya masih mengunci pada Rosa. Tapi bukan Rosa yang di panggilnya, melainkan ibu tirinya.


" Bun?" Panggilnya sekali lagi, dengan Lintang beralih menatap Saskia yang masih terkejut saat anak tirinya memanggilnya 'Bunda'.


Bukan Saskia saja yang terkejut. Teguh, Abbas dan juga Rosa sama terkejutnya mendengar panggilan Lintang.


" Iya Nak?" Jawab Saskia, berjalan ke arah Lintang.


" Aku ke kamar dulu ya Bun. Sekolahku terlalu banyak pelajaran. Aku capek, ingin istirahat." Kata Lintang. KalanSaskia sudah ada di sampingnya di antara Rosa dan dirinya.


" Iya. Habis ini Bunda bawakan makan siang di kamar ya Mbak." Ucap lembut Saskia, membuat Lintang mengangguk tersenyum.


Lintang menoleh ke Rosa, kembali tatapannya tak bersahabat. " Saya permisi dulu.. Tante?" Pamit Lintang pada Rosa. Hingga semua orang yang mendengar panggilan Lintang pada Rosa kembali terkejut


Lintang melangkah dengan santai menuju tangga, sambil memijat tengkuk leher dan juga menggerakkan kepalanya. Pandangan semua orang tertuju pada punggung Lintang. Begitu santai dan tidak ada kesedihan di matanya.


Rosa masih mematung, menatap tangga yang sudah tidak terlihat putrinya. Lelaki yang bersama Rosa, kini merengkuh bahunya membuatnya sedikit terkejut dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


" Lain kali, kita akan coba bertemu Lintang lagi." Bujuk lelaki itu lembut, membuat pertahanan Rosa hilang dan menumpahkan air matanya di dalam rengkuhan Lelaki itu.


" Maaf, sudah membuat keributan." Ucap sopan lelaki bersama Rosa pada Saskia. Saskia hanya mengangguk dan hanya membalas senyum sebelum Rosa dan lelaki itu melangkah keluae rumahnya.


Lintang masuk kedalam kamar, berjalan melepar tasnya ke atas ranjang, duduk di samping ranjang dan membuka satu persatu sepatu serta kaos kakinya. Menghembuskan nafas panjang, merasa lelah dengan tubuhnya hingga tanpa sadar air mata jatuh di atas rok abu-abunya.


Lintang meremas kuat sprei di ke dua tangannya. Menahan gejolak amarah yang akan keluar dari hatinya. Sesak di dada, seakan batu besar menimpanya sehingga dirinya tak lagi mampu menahannya. Ia butuh tempat, tempat dimana dirinya bisa meluapkan semua isi hati yang sudah penuh dengan keluhan.


Suara ketukan pintu membuat Lintang segera menghapus air matanya dan beranjak dari duduknya menuju ke tempat gantungan baju. saat pintunya terbuka memperlihatkan Saskia yang berjalan menuju laci dekat ranjang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


" Di makan ya mbak, Bunda taruh di sini." Ucap Saskia, menoleh ke arah Lintang yang berdiri menatapnya.


" Iya, makasih." Jawab Lintang, membuat Saskia tersenyum.


Saskia ingin sekali duduk berdua dengan Lintang, bertanya tentang keadaannya dan ingin menjadi pendengar untuk keluh kesah putri tirinya. Tapi, tatapan putri tirinya seakan tak ingin sekali membahas apa yang terjadi di bawah tadi. Lintang ingin sendiri, ingin menenangkan diri tanpa harus di ganggu terlebih dulu.


Mendekati putrinya, mengusap lembut lengan Lintang dan tersenyum hangat padanya


" Bunda keluar dulu.. Kalau kamu sudah tenang, Bunda siap menjadi pendengar buat kamu. Jangan berbuat nekat ya mbak? Bunda gak ingin terjadi sesuatu sama kamu." Nasehat Saskia. Mata sudah berkaca-kaca menatap putri tirinya.


Lintang hanya mengangguk, sedikit melengkungkan bibir untuk menjawab. Rasanya matanya juga sudah mulai perih, mulai berkabut tapi dia tetap ingin menahannya, tak ingin dirinya lemah di hadapan siapapun. Termasuk di hadapan ibu tirinya yang baik.


Setelah Saskia keluar dari kamarnya, Lintang dengan cepat mengunci pintu kamar. menyandar di balik pintu, duduk mendekap ke dua kakinya dan menangis pilu meredam suaranya dalam dekapan kaki dan tangannya.


Kenapa? Kenapa Tuhan. Kenapa?


Selalu saja itu yang di keluhkan Lintang. Haruskah ini terjadi padanya, tapi kenapa? Apa karna dirinya kuat, atau dirinya yang lemah. Hingga selalu saja Tuhan memberinya kesedihan selama tiga tahun ini.


Mengeluh, hanya mampu mengeluh pada Tuhan. Mengadu, dan hanya mengadu pada Tuhan pula. Berbagi cerita kesedihan pada teman-temannya, tidak akan mungkin. Karena dirinya tak ingin sekali di kasihani.


Lebih baik menyimpan sendiri, lebih baik ia menderita sendiri, mengasihani diri sendiri dan hancur dengan sendiri. Bila tak sanggup, mungkin jalan terbaik adalah mengakhiri. Tapi Tuhan, tak suka bila umat menyerah.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃