
" Kata dokter gimana, hasil ronsennya?" Tanya Yasmin.
Yasmin sudah mengabari pagi hari, bila malam ini akan menjenguk Ferdi di rumah sakit bersama Aiman tentunya. yang sekarang sedang duduk tak jauh dari dirinya dan Yasmin. bersama Satya, hanya saja dua lelaki itu tak mengobrol, sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Mungkin belum terlalu kenal, baru kemarin dua lelaki itu saling mengenalkan diri.
" Kakinya patah, kemungkinan bisa pulih, tapi lama." Jawab Lintang.
Ada rasa syukur, tapi juga khawatir. Kata 'kemungkinan' dari dokter seperti di ragukan Lintang. Apa bisa benar-benar pulih, atau hanya kata untuk menenangkan saja agar pasien dan juga keluarganya tidak perlu terlalu cemas.
Lintang hanya takut, bila nanti Ferdi akan di operasi kaki pemasangan pen untuk perekat tulang yang patah. Masalah biaya, tidak akan lagi ia pedulikan apapun akan Lintang lakukan demi kesembuhan Ferdi. Meskipun itu harus meminjam uang pada bunda atau ayahnya dan terus terang pada mereka, untuk apa uangnya.
" Pasti bisa sembuh... Kita berdoa ya. aku sama kak Aiman akan bantu kamu Lin." Ucap Yasmin, mengusap tangan sahabatnya untuk menenangkan kegundahan hatinya.
Lintang mengangguk tersenyum tipis. " Makasih Yas." Ucap Lintang, ia memang sedang membutuhkan dukungan dan juga dana untuk biaya pengobatan Ferdi yang mungkin tak seberapa.
Dan ia sudah tidak mungkin untuk menanggung sendiri, apa lagi saat ini akan ada banyak ujian sekolah hingga membuat pekerjaan onlinenya sedikit mengganggu. Dan tidak begitu stabil keuangannya, sungguh membagi pekerjaan online dan juga ujian akhir kelulusan sangat sulit sekali di bagi.
" Bimo baru pulang dari luar kota, mungkin besok dia baru bisa njenguk Ferdi." Sambung Yasmin.
" Dia sudah tau?" Tanya Lintang.
" Kamu gak buka pesannya?" Tanya balik Yasmin.
" Ponselku mati, batrainya habis dari tadi siang." Keluh Lintang.
Dan dirinya juga pasti tak akan bisa memegang ponsel lantaran terlalu sibuk ke sana kemari mengurus keperluan Ferdi. Hingga sedikit melupakan makan siang bila tidak di ingatkan Satya, dan membelikannya kembali makanan untuk dirinya.
Ya, Satya ikut menemaninya. Sampai malam ini lelaki itu tidak beranjak pulang dari rumah sakit. Beruntungnya Lintang di temani Satya, bila tidak ada Satya mungkin Lintang akan capek sendiri.
" Pantasan di telpon gak bisa." Gumam Yasmin. Lintang lagi-lagi hanya mengangguk, ia juga belum mengabari bundanya sedari tadi pagi. Pasti Bundanya khawatir dengannya, apa lagi malam ini dirinya belum pulang.
" Yas, apa Bundaku tel-,"
Belum sempat di jawab, suara ponsel Yasmin berdering. Yasmin merogoh ponselnya di tas, dan terpampang jelas nama panggilan di ponselnya.
Tante Saskia.
" Bunda kamu telpon Lin?" Kata Yasmin. baru. memikirkannya ibu tirinya itu sudah menelpon di nomer Yasmin. Padahal bukan sedarah, tapi kenapa begitu erat sekali ikatan anak dan ibu tirinya itu.
Luar biasa?
Lintang mengambil ponsel Yasmin, menghembuskan nafas panjang sebelum dirinya mengangkat telpon dari bundanya.
" Hallo Bunda?" Ucap Lintang.
" Dimana mbak? Sudah malam, kok belum pulang? Di telpon juga enggak aktif nomernya?" Cacar Saskia di sebrang telpon.
Terdengar suara khawatir dari bundanya. Itu membuat Lintang tersenyum, hatinya sedikit lega. rasa lelah dan sedih ingin sekali ia keluhkan pada ibu tirinya, tapi itu tidak mungkin. Lintang sulit sekali membagi keluh kesahnya pada siapapun, meskipun itu ke dua orang tua atau sahabatnya.
" Mbak Lintang di mana? Sudah pulang dari rumah Yasmin apa belum?" Tanyanya lagi dari sebrang telpon.
Mendesah, matanya berkaca-kaca. Andai, bundanya itu bukan ibu tiri. Menggelengkan kepala. Tidak, tidak. Tidak boleh membanding-bandingkan siapapun.
" Mbak kenapa?"
" Aku enggak kenapa-napa bun? Aku habis ini pulang. Maaf, sudah buat Bunda khawatir. Batrai hpku habis lupa gak di cas tadi." Jawab Lintang cepat. Tidak ingin bundanya khawatir padanya.
" Sudah malam, cepat pulang mbak." Perintah Saskia.
" Iya.. Ini mau pulang Bun." Jawab Lintang.
" Hati-hati, jangan ngebut."
" Iya." Jawab Lintang, mematikan sambungan telpon. Mengembalikan benda pipih pada sang pemiliknya.
" Bunda mu marah?" Tanya Yasmin, menaruh kembali ponselnya di dalak tas.
" Enggak. Cuma tanya saja, kapan pulang." Jawab Lintang, menoleh ke arah pintu kamar inap menghembuskan nafas lelah.
" Tina pasti bisa jaga. Kamu juga perlu istirahat dan pulang Lin." Yasmin ikut menatap pintu yang tertutup.
" Hhmm." Angguk Lintang kecil.
" Iya, aku pamit ke Tina dulu." Ujar Lintang, berdiri dan masuk ke dalam ruang inap bersama Yasmin. Dan tak beberapa lama kembali keluar, menuju dua lelaki yang masih sibuk dengan ponselnya.
" Ayo pulang kak?" Ucap Yasmin, membuat Aiman dan Satya mendongak, mematikan ponsel dan berdiri dari duduknya.
Kompak sekali.
" Sudah pamitan?" Tanya Aiman.
" Sudah? Ferdi tidur, Tina juga mau tidur." Kata Yasmin, Aiman menganggukkan kepala.
" Lin ayo bareng sama kita, Biar kak Aiman antar kamu pulang." Sambung Yasmin.
Menumpang mobil bersama Aiman? Oh... Rasanya tidak perlu lagi. Apa lagi kejadian pagi tadi. Canggung rasanya?
" Enggak usah, Aku nebeng saja sama Satya." Ujar Lintang, membuat Satya menoleh satu alis terangkat.
Apa dirinya tak salah dengar?
Seulas senyum tipis terbit di bibirnya.
Yasmin tersenyum menggoda, ia tidak bisa menjelaskan keajaiban apa Lintang dengan senang hati mau sendiri menumpang motor mantan kakak kelasnya itu. Yang pasti ini adalah langkah pertama Lintang untuk mencoba membuka hati pada Satya.
Sedangkan Aiman hanya menatap datar. Sama seperti Lintang, ada rasa canggung untuk bertatap muka dan bersyukur Lintang menolak ajakan Yasmin untuk menumpang di mobilnya.
" Ya sudah, kalau gitu." Ucap Yasmin, untung sahabatnya ini tidak memaksa.
Berjalan beriringan masuk ke dalam lift, keluar dari rumah sakit dan berpisah di parkiran yang berbeda.
Lintang dan Satya sudah berada di parkiran motor.
" Cuma bawa helm satu?" Kata Lintang.
" Iya.. gak apa-apa, tenang saja, malam-malam gak akan ada polisi." Jawab enteng Satya.
" Ayo naik?" Imbuhnya.
" Kalau sampai kena tilang, aku gak mau tanggung jawab." Tekan Lintang. Duduk di atas jok motor Satya.
" Aku yang akan tanggung jawab. Nikahin kamu sekarang juga gak pa-pa." Goda Satya, menoleh kebelakang dengan senyum.
" Akunya yang gak mau!" Ketus Lintang. memutar kepala Satya untuk kembali menghadap depan.
" Udah ayo jalan!" Perintahnya.
Bukannya jalan malah kembali menoleh kembali kebelakang. " Kenapa gak mau?" Tanya Satya mengerutkan kening. " Padahal aku tampan." Imbuhnya.
Percaya diri sekali ini lelaki, tapi memang tampan. Apa lagi bila senyum, terlihat lesung ke dua pipinya. Manis sekali!
Tidak berlaku bagi Lintang.
" Dih!! Udah ayo jalan... Kalau enggak mau jalan, aku turun nih!"
" Jangan jangan!" Cegah Satya, Mimpi apa Lintang minta sendiri di antarin pulang. Malah mau di sia-siakan.
Oh... Tidak bisa.
" Ya sudah! Ayo jalan!!" Seru Lintang sebal.
" Iya, iya!" Jawab Satya, mulai menyalakam motornya keluar parkiran rumah sakit untuk mengantar Lintang pulang ke rumah, sambil menggoda gadis yang di sukainya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃