Our Story

Our Story
mengolesi luka



Tok tok tok.


Lintang yang sudah selesai mengganti baju dan akan duduk di meja belajar. Berbalik arah menuju pintu dan membuka untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


" Tante?" Lirih Lintang.


" Tante boleh masuk?" Ucap Saskia dengan senyum. Membuat Lintang membuka pintu kamarnya dan mengangguk.


Masuk ke kamar Lintang ke tiga kalinya. Menutup pintu dan berjalan ke arah Lintang yang sudah duduk di meja belajar.


Kamar Lintang, hanya dua kali saskia masuk ke dalam kamar putri sambungnya. Pertama mengantarkan Lintang saat putrinya itu datang menginjakkan rumahnya bersama suaminya. Menunjukkan kamar yang sudah di decore dan dirancang olehnya penuh semangat.


Pertama kali melihat reaksi Lintang, hanya diam, muram dan menatapnya sekilas. Saskia pikir Lintang tak suka dengan warna biru muda atau tidak suka dengan dirinya, hingga itu putri sambungnya hanya diam saja. Ternyata salah, putri sambungnya diam bukan karena tak menyukai kamarnya, tapi karena gadis itu marah dengan suaminya. Yang memaksanya untuk ikut dengannya.


Ke dua, saat Lintang sakit demam dan ayahnya sedang berada di luar kota. Mengompres, merawat dan menunggunya semalaman di kamar Lintang hingga putri sambungnya membaik.


saat itulah lintang mengucapakan terima kasih dan juga mulai mau berbicara dengannya meskipun hanya sekali atau dua kali saja. Yang terpenting Lintang tak sekaku dulu aaat bertemu dengannya.


" Ada apa Tan." Tanya Lintang.


" Sini duduk sebelah tante." Pinta Saskia, menepuk sisi ranjang sebelahnya.


Lintang mengerutkan kening tapi tetap mengikuti perintah ibu tirinya itu. Dan duduk di samping saskia.


Saskia merogoh laci di sebelah tempat tidur Lintang. Mengambil kotak p3k kecil, menaruhnya di atas laci dan mulai membuka kotak untuk mencari sesuatu di dalam sana.


" Tante gak sengaja lihat tangan Lintang tergores. Bisa tante lihat tangannya?" Tanya Saskia. membuat Lintang mengerutkan kening, Saskia tersenyum meminta tangan Lintang untuk menunjukkannya.


Lintang mengulurkan tangannya yang terluka akibat cakaran dari teman Viola. Saskia memegang tangan Lintang, memulai memberikan obat pada tangan putri sambungnya itu.


" Ini kenapa?" Tanya lembut Saskia, mengoleskan salep dengan hati-hati.


" Habis bertengkar." Jawab jujur Lintang, membuat Saskia tersenyum.


Putri sambungnya begitu jujur dan tidak menutupi kebohongan yang pastinya sudah di mengerti oleh semua orang. Tiga goresan panjang di tangan lintang, bila bukan karena orang lain.


" Lagi?" Di anggukkan Lintang. " Bertengkar sama teman kelas."


Lintang menggeleng. " Bukan, sama kakak kelas." Lirihnya, serta menahan perih dari saleb ibu tirinya.


" Kenapa bisa bertengkar sama kakak kelas." memberikan tiupan luka yang sudah di olesinya.


Lintang menatap dalam perlakuan baik ibu tirinya begitu baik dengannya. Sampai-sampai mau meniupkan luka yang perih di tangannya. Padahal dirinya hanya anak tiri bukan anak kandung, memperlakukannya seperti anak kandungnya saja.


" Teman sebang aku ibunya di hina. Katanya ibunya gak benar." Ucap Lintang.


Entah kenapa dirinya bisa cerita pada ibu tirinya.


" Kamu membelanya?"


" Iya?"


" Alasannya."


" Enggak terima saja, orang tua di hina. Apa lagi seorang ibu." Jawab Lintang. Seulas senyum kembali menghiasi bibir Saskia.


Saskia tau bila Lintang anak yang baik, anak yang penyayang meskipun anaknya sedikit ketus, kasar dan juga pembangkang. Mungkin itu semua karena perceraian ke dua orang tuanya. Dan karena dirinya di telantarkan ke dua orang tuanya hingga itu sikap Lintang berubah.


Tapi bila dengan anak bungsunya, Ali. Lintang tak pernah berbicara dengan kasar ataupun membentak Ali. Justru Lintang sangat lembut dan sangat perhatian dengan adik kecilnya.


" Berarti kalau suatu saat tante di hina orang. Lintang bakalan belain tante gak." Tanya Saskia.


" Iya. bakal belain tante. Tante orang baik, gak mungkin nyakitin orang." Jawab Lintang, membuat Saskia sekali lagi tersenyum lebar.


Lintang yang merasa sadar dengan ucapannya. Menundukkan kepala, malu telah mengatakan jujur pada ibu tirinya.


" Istirahat ya. tidur siang, prnya nanti malam saja di kerjakan." Kata Saskia, menaruh kembali kotak obat ke dalam laci. Dan berdiri daei duduknya.


" Tante akan bilang sama Ayah, kalau aku habis bertengkar di sekolah." Tanya Lintang, mengangkat kepala untuk melihat ibu tirinya.


" Selagi itu baik. Enggak akan tante bilang ke ayah. Dan jangan di ulangi lagi." Jawab Saskia.


Sebenarnya bukan hal baik bertengkar di sekolah. Tapi karna tak ingin anak tirinya berprasangka buruk padanya. Mungkin itulah sedikit tepat jawabannya.


" Aku gak janji." Jawab Lintang, membuat Saskia mengangguk tersenyum.


" Tan?" Panggil Lintang, sebelum ibu tirinya keluar kamar. " Aku ingin gurami asam manis." Ucap Lintang.


" Akan tante buatkan" Kata Saskia.


" Makasih tan." Saskia mengangguk tersenyum dan berjalan keluar dari kamar Lintang.


Hati siapa yang tak senang, anak tirinya kini mau berbicara panjang dan juga mau meminta sesuatu padanya. Saskia begitu semangat untuk membuatkan makan malam yang di inginkan Lintang.


*****


Dering ponsel berbunyi ke sekian kali. Membuat teman di sampingnya mengendus sebal.


" Angkat lah Yas... Budek lama-lama telingaku bunyi hp kamu gak ada berhentinya!" Seru Bimo. menoleh ke arah Yasmin yang sedang telungkup di atas ranjang.


" Memang siapa yang telpon." Tanya Yasmin, masih setia membaca buku novel.


" Gak tau!" Ucap Bimo, berdiri dari duduknya dan melihat ponsel Yasmin di meja belajar.


Berdecak melihat nama si pemanggil. " Kak aiman tu yang telpon." Ucap Bimo, Membuat Yasmin duduk bersila menghadap Bimo dan tangan menjulur ke arahnya. Seperti meminta ponselnya.


" Ini!" Seru Bimo, melangkah pergi keluar kamar Yasmin.


" Mau kemana?"


" Makan!" Jawab ketus Bimo.


" Tutup pintunya Bimo!!" Seru Yasmin. Selalu, Bimo keluar dan masuk tak pernah menutup kamarnya. Dan selalu terbuka lebar, meskipun dirinya sudah sering memperingatkan Bimo untuk menutup pintu. Tapi tak pernah di gubris. Dan membiarkan pintu kembali terbuka.


Menghembuskan nafas, mengangkat telpon yang kembali berbunyi dengan Nama yang sama.


" Hallo?"


Bimo. mengendus sebal, berjalan turun menuju dapur untuk mencari sesuatu di sana. Bimo sudah terbiasa main di rumah Yasmin pulang sekolah, bila mengantar Yasmin ke rumahnya kala Yasmin tidak membawa motor.


Mama Yasmin juga tak ada masalah dengannya. Justru Mama Yasmin senang anaknya mempunyai teman seperti Bimo.


Dua tahun berteman dengan Yasmin, tak membuat sungkan lagi menjelajah rumah Yasmin berlantai dua. Masuk ke dalam dapur, membuka tujung saji dan melihat makan siang sangat menggiurkan.


" Makan mas Bimo?" Ucap Bik sum dari belakang rumah membawa ember di tangannya.


" Laper bik." Cengir Bimo.


" Ya makan to mas.. Itu makanan sudah bibik siapin. Mbak Yasmin gak turun Mas." Tanya Bibik, memgambil piring, menuangkan nasi dan memberikannya pada Bimo.


" Bentar lagi juga turun bik itu anak." Jawab Bimo. " Makasih bik." Imbuhnya, mulai mengambil lauk dan sayur. Dan menyantapnya tanpa menunggu pemilik rumah yang pastinya sedang asyik mengobrol lewat ponsel.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃