Our Story

Our Story
Mengingat kenangan



Hari demi hari dan berganti minggu, Yasmin begitu telaten serta sabar merawat dan menemani mamanya sepanjang waktu setelah pulang dari sekolah.


Dua hari setelah kejadian mamanya di labrak oleh istri dan anak dari lelaki yang menjadi kekasih mamanya itu. Mamanya terlihat depresi dan ketakutan. Ia bingung harus membawa mamanya kemana, dan Yasmin teringat akan sahabat mamanya.


Yasmin mencari nomer telpon sahabat mamanya, meminta tolongnya untuk datang ke rumahnya serta menceritakan semua kejadian di rumahn hingga membuat mamanya sangat depresi dan ketakutan.


Tentu saja sahabat mama Yasmin terkejut, dia juga tau tentang hubungan mamanya dangen pria beristri. Sudah memperingatkannya pula untuk tidak berpengaruh dengan rayuan dari pria yang di kencaninya.


Tapi Ranti tetaplah Ranti, yang sudah jatuh hati dengan pria beristi dan mau bila di jadikan istri ke dua, karena pria itu juga mencintainya dan memberikan harapan baru baginya serta anaknya. Ralat, tapi baginya sendiri, Yasmin tidak setuju dan tidak mau mamanya menjalin hubungan dengan lelaki yang sudah beristri. Dan juga sudah melarang mamanya untuk tidak menikah lagi, apa lagi di jadikan istri ke dua dan menikah sirih.


Menikah sirih, sebagian orang memandangnya remeh dan juga wanita bodoh. Mau-maunya di jadikan istri ke dua, apa lagi istri pertama tidak setuju dengan kehadirannya. Hingga membuat kembali istri ke dua di hina.


Hari minggu, tiada hari tanpa bersenang-senang. Minggu yang biasa ia habiskan waktunya sendiri dalam rumah sunyi atau biasa ia akan selalu ke tempat cafe kekasihnya. Kini harus merawat mamanya di rumah. Mamanya terlihat depresi dan ketakutan. terkadang berteriak, menangis atau tertawa dengan sendirinya. Tapi Mamanya sering sekali melamum, tatapan kosong dan diam tanpa merespon ucapan siapapun.


Pagi ini Yasmin membawa mamanya ke halaman rumah. Ada taman kecil dan kolam ikan yang dulu di buat ayahnya. Rumput kecil tumbuh subur, terdapat bunga-bunga dalam pot terjejer rapi dan mekar. Bik Imah selalu merawatnya, selalu memberikan makan ikan dan membersihkannya kolam satu bulan sekali.


Pagi ini sinar matahari tak terlalu terik, dan baik bagi tubuh untuk memberikan kehangatan. Yasmin menjemur mamanya, duduk di taman dengan dirinya yang menyirami bunga-bunga serta memberikan makan ikan.


" Mama dulu suka menyirami bunga, Ayah suka memberi makan ikan. Aku di marahi ayah kalau mandi di kolam ikannya, Ayah takut ikannya mati. Mama ingatkan?" Ucap Yasmin, menoleh ke mamanya yang masih diam menatap bunga-bunga.


" Terus mama ingat gak, dulu mama marah karna ayah lupa sama janjinya... Mau ngajak kita liburan ke kebun binatang tapi enggak jadi. Mama marah, sampai goreng itu ikannya ayah, biar ayah enggak lagi mentingin ikan." Imbuhnya dengan senyum.


mengingat dulu mamanya kesal dan marah, ayahnya sudah berjanji akan mengajaknya ke kebun binatang, tapi ayahnya seakan lupa dan malah pergi ke penampungan ikan begitu lama, pulang-pulang membawa satu kantong plastik penuh dengan ikan-ikan hias. Mamanya geram, hingga sore itu mamanya mengambil jaring ikan. Menangkap beberapa ikan, di biarkan mati begitu saja, di goreng dan di hidangakan makan malam di meja makan.


Ayahnya tentu terkejut, ingin sekali marah. Tapi saat melihat mamanya mengomel menangis membuat Ayahnya terdiam dan sadar bila Ayahnya juga salah. Ayahnya tidak pernah membentak mamanya, tidak pernah memukul mamanya. Ayahnya bila marah akan diam dan juga akan selalu minta maaf terlebih dulu pada mamanya. Hingga tidak akan lagi mengulangi kesalahannya.


Aku kangen ayah." Gumam Yasmin.


Sesak, menarik nafas panjang menghembuskannya dengan perlahan. Ia tidak ingin menangis di dapan mamanya, ia tidak boleh sedih. Ya, dirinya harus kuat dan tersenyum untuk mamanya.


" Sudah mau panas ma? Ayo masuk ma? Kita sarapan bersama ya." Kata Yasmin, menuntun mamanya masuk kembali ke dalam rumah. membawanya ke dalam kamar, mendudukkannya di ranjang sambil menyalakan tv.


" Aku ambilin dulu makannya ya ma? Mama lihat tv dulu. Sinetron ke sukaan mama kan?" Tanyanya, tapi tak ada jawaban dari bibir mamanya. matanya hanya fokus ke depan bukan ke arah tv.


Yasmin menutup pintu kamar, mendesah. Sesak saat mamanya tak pernah merespon ucapannya. Yasmin, seakan berbicara dengan patung hidup. Setetes air mata kembali membasahi pipinya. Ia berharap semoga mamanya tidak depresi berkepanjangan. Sungguh ia takut, takut akan ucapan dokter waktu itu.


" Mbak Yasmin?" Panggil Bik Imah lirih.


Yasmin menghapus air mata, mendongak menatap wanita paruh baya yang setia menemani keluarganya sampai saat ini. Yasmin tidak tau harus berbalas apa, rasa terima kasih tak akan cukup untuk membalas kebaikan dan setianya bik Imah pada keluarganya. Hanya bik Imah yang selalu ada di saat susah maupun senang.


" Mbak, ini makanan mama." Ucap Bik Imah, membawa nampan berisi makanan dan minuman.


" Makasih ya Bik?" Kata Yasmin dengan senyum tulus.


Bik Imah tau, bila anak majikannya menangis, menyembunyikan tangisannya darinya. Agar terlihat kuat dan baik-baik saja, padahal anak majikannya ini sangatlah rapuh.


Yasmin mengangguk, tersenyum manis dan mengambil nampan dari bik Imah.


" Makasih bik, makasih sudah nemenin Yasmin sama mama sampai saat ini." Kata Yasmin.


Bik Imah mengusap lengan Yasmin. " Sama-sama, mbak Yasmin sama mama sudah bibik anggap seperti keluarga juga. Jangan sungkan ya mbak, cerita sama bibik. Siapa tau bibik bisa bantu." Ucap tulus Bik Imah.


" Iya bik." Jawab Yasmin, mengangguk tersenyum. " Ya sudah Bik, aku masuk dulu. Mau suapin mama." Imbuhnya.


" Iya mbak." Kata Bik Imah, membuka pintu kamar majikannya mempersilahkan Yasmin masuk ke dalam kamar mamanya.


Semoga semuanya cepat membaik Tuhan." Doa Bik Imah dalam hati.


Langkah bik Imah berhenti, saat mendengar suara tekutan pagar cukup keras. Bik Imah sedikit panik, berjalan cepat keluar rumah melihat siapa yang bertamu di siang hari. Bik Imah takut, bila istri pria mantan pacar majikannya datang kembali.


" Cari siapa mas?" Tanya Bik Imah, membuka pagar setengah. Melihat wajah lelaki yang seperti tak asing untuknya.


" Yasminnya ada Bik?" Ucap Lelaki berperawakan tinggi.


" Oh.. Mbak Yasmin? Ada mas, silahkan masuk." Kata Bik Imah, membuka pagar sedikit lebar mempersilahkan tamu Yasmin masuk ke dalam rumah.


dan Bik Imah baru mengingat siapa lelaki yang mencari Yasmin. Lelaki yang pernah datang ke rumah malam-malam mencari Yasmin dan meninggalkan jaketnya.


" Duduk dulu mas, saya pang-,"


" Bik Imah!!! Tolong Bik!!" Teriak Yasmin dari dalam, membuat Bik Imah terkejut dan juga lelaki yang masih berdiri di hadapan bik Imah.


" Bik Imah!!" Teriaknya lagi, dengan cepat Bik Imah berlari di ikuti lelaki itu yang juga khawatir dengan teriakan Yasmin.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃