
" Gak Apa-apa tante, kalau aku kerjanya selesai pulang sekolah?" Tanya Yasmin, duduk di depan Saskia yang hanya terhalang meja kerja dan di sampingnya ada Lintang juga Bimo berdiri di belakangnya.
" Enggak apa-apa Yas? Kan memang kamu masih sekolah.. Pokoknya di sini kerjanya harus rajin, saling mengerti sesama teman. Harus kerja samalah? Mengerti kan?" Kata Saskia, menatap teman Lintang.
Sejujurnya Saskia tidak tega mempekerjakan gadis masih berstatus pelajar. Saskia takut, bila gadis di hadapannya ini akan sulit membagi sekolah dan pekerjaannya. Apa lagi ia khawatir bila akan mengganggu pelajaran Yasmin.
Gadis seumuran anak sambungnya itu harusnya tidak boleh bekerja. dia masih butuh kesenangan dan juga perhatian di masa remajanya, tapi sayang, takdir berkata lain. Harus menerima cobaan berat seperti putri sambungnya dulu.
Ya, Saskia sudah tau tentang permasalahan keluarga Yasmin dari Lintang. Putri sambungnya menceritakan semua musibah yang di alami sahabatnya itu. Dan putrinya juga meminta tolong padanya untuk menerima Yasmin bekerja di toko kuenya.
Awalnya menolak, karna tidak mungkin harus mempekerjakan anak pelajar. Dan juga, tidak ada lowongan di tokonya. Karyawan empat sudah cukup bagi Saskia dan bisa mengatasi semua pelanggan. Tapi karena putri sambungnya memohon dan meminta tolong padanya, mau tidak mau sebagai ibu sambungnya yang ingin melihat putrinya senang akhirnya ia menyetujuinya.
Miris juga rasanya bila ada di posisi Yasmin. perempuan muda harus menanggung beban keluarga, apa lagi Yasmin sudah tidak mempunyai ayah. Ibunya juga mengalami depresi, dan masih trauma untuk keluar rumah.
Yasmin bisa saja putus sekolah. Tapi, mencari pekerjaan dengan ijasah smp sangat sulit untuk di terima. Mempunyai ijasah sma saja juga masih sulit mencari pekerjaan, apa lagi ijasah smp. Beruntungnya, Lintang dengan cepat mencarikan pekerjaan untuk Yasmin dan itu di toko ibu sambungnya.
" Mengerti tante." Angguk semangat Yasmin. " Makasih tante, Yasmin boleh kerja di sini." Imbuhnya dengan senyum dan mata berkaca-kaca.
" Sama-sama Yasmin. Kamu kerjanya mulai besok saja, Sekarang masih di interviw dan ini baju kerja kamu." Kata Saskia, memberi dua baju kerja berwarna hitam. Yasmin menerimanya dengan semangat, tersenyum dan menaruhnya di tas sekolahnya.
" Iya, makasih tante." Ucap Yasmin sekali lagi, membuat Saskia mengangguk tersenyum.
" Lin!!" Seru Yasmin lirih menoleh ke Lintang yang diam mendengarkan ucapan Yasmin dan ibu sambungnya.
Lintang tersenyum, mengangguk. Membuat Yasmin dengan cepat memeluk sahabatnya.
" Makasih ya!" Ucapnya, menangis di pelukan Lintang.
Lintang menepuk-nepuk bahu Yasmin, " Sama-sama, semangat ya, besok kerjanya." Kata Lintang, menyemangati sahabatnya dan tersenyum ke arah bundanya.
Mengucapkan kata pada bunda tanpa bersuara. " Makasih bunda."
Saskia tersenyum, dan mengangguk pada putri sambungnya. Ia juga terharu dengan perubahan Lintang, yang kini menjadi gadis hangat, penyayang dan juga sudah mempunyai teman dekat. Bisa membuka hatinya perlahan-lahan, memaafkan semua kejadian di masa lalu dan juga bisa menerimanya sebagai ibunya. Ya, walaupun terkadang Lintang masih kaku dengannya, setidaknya anak sambungnya sudah berusaha menjadi anak baik.
" Semangat Yas." Ucap Bimo, juga menyentuh lengan Yasmin mengusapnya dengan lembut. Rasanya tidak tega sekali melihat sahabatnya ini harus bekerja di saat masa remajanya harus hilang.
Yasmin melepas pelukannya dari Lintang, mendongak menatap Bimo dengan senyum. Bimo juga sahabat yan berarti baginya.
" Makasih Bim." Ucap Yasmin, Bimo mengangguk tersenyum dan mengacak rambut Yasmin.
" Ayo aku teraktir makan bakso, nanti kalau kamu sudah gajian, jangan lupa traktir aku sama Lintang." Kata Bimo, mengajak Yasmin dan Lintang untuk makan bersama.
" Ayo... Di tempat biasa ya!" Seru Lintang semangat.
" Cih.., masalah gratisan kamu paling cepet." Gerutu Bimo.
" Iya lah... gak boleh di sia-siakan dapat rejeki." Jawab Lintang sambil tertawa. " Iya kan Bun?" Tanyanya pada Saskia.
" Iya." Jawab Saskia sambil tertawa. Lintang tersenyum bangga menghadap Bimo, Bimo berdecak dan mengerucutkan bibir.
" Udah ayo." Ajak Bimo. " Tante mau di bungkusin?" Tanya Bimo.
" Iya Bun." Jawab Lintang, berdiri dari duduknya dan mencium tangan ibu sambungnya sebelum pergi dari toko bundanya.
Yasmin dan Bimo juga mengikuti Lintang, mencium tangan Ibunya Lintang dan pamit dengan senang.
Niat ingin makan di tempat, tapi Yasmin mengurungkannya. Ia lupa bila harus pulang secepatnya, hingga itu Lintang dan Bimo tidak mempermasalahkan. Justru dua sahabatnya mengikuti Yasmin pulang ke rumahnya dan ingin juga melihat keadaan ibu Yasmin.
" Pintunya terbuka?" Gumam Yasmin, sedikit terkejut dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Takut bila terjadi pada ibunya.
Lintang dan Bimo mengikutinya dengan langkah lebar. Mereka juga takut akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
Saat memasuki rumah. Dalam rumah terlihat sepi, Yasmin membuka pintu kamar mamanya dengan gerakan cepat. Membuat dua orang di dalam kamar terkejut.
" Mama? Bik Imah?" Panggilnya dengan suara takut. Lintang dan Bimo ada di belakangnya dan melihat orang di dalam ibu Yasmin.
" Mbak Yasmin sudah pulang?" Tanya Bik Imah ramah. " Ibu sudah selesai makan, sama minum obat juga. Mau Bibik siapin makan Mbak?" Kata Bik Imah.
" Bik Imah... Masih di sini?" Tanya Yasmin lirih.
Bik Imah mendekat. " Kenapa? Mbak Yasmin gak suka kalau bibik masih di sini?" Tanya Bik Imah.
" Bu.. Bukan gitu Bik!" Jawab Yasmin cepat. " Tapi, ak-,"
" Bibik gak akan ninggalin mbak Yasmin sama ibu." Potong Bik Imah. " Bagaimana pun, bibik sudah anggap ibu dan mbak Yasmin sebagai anak bibik sendiri. Bibik akan selalu ada sama mbak Yasmin." Imbuhnya, dengan senyum hangat menatap anak majikannya.
" Ini Bibik kembalin. Bibik gak mau, dan ini bisa buat pengobatan Mama mbak Yasmin." Bik Imah mengembalikan Amplop yang semalam di berikan Yasmin.
Wanita tua ini tidak mau meninggalkan majikan dan anak majikannya di saat keluarga mereka sedang mengalami ujian begitu berat. Bik Imah juga tidak tega membiarkan Ranti sendiri di kala anaknya sudah mendapatkan pekerjaan. Dirinya juga kasihan, bila Yasmin harus merawat ibunya sendiri.
Bik Imah sudah menganggap Ranti dan Yasmin sebagai keluarganya, sebagai anaknya juga. Bik Imah juga mempunyai anak yang sudah menikah tinggal di desa dan tidak perlu khawatir dengan anaknya karna hidupnya bersama menantunya juga sudah makmur. Bik Imah membelikan sawah dan juga sapi dari hasil bekerjanya selama ini di keluarga Yasmin.
Setidaknya, Bik Imah bisa membalas budi kebaikan keluarga Yasmin yang sudah membuat keluarganya tak semenderita dulu.
Air mata Yasmin keluar, ia menghambur memeluk Bik Imah. Menangis dalam pelukan membantu yang sudah lama bersamanya di saat susah maupun senang. Wanita tua ini tak pernah meninggalkan keluarga, Bik Imah selalu bersamanya. Selalu ada untuknya, dirinya tidak akan kesepian lagi sekarang. Hanya bik Imah dan Mamanya yang dirinya punya sekarang.
" Sayang Bik Imah." Lirih Yasmin.
" Bibik juga sayang mbak Yasmin." Jawab Bik Imah, mengusap rambut Yasmin dengan sayang.
Lintang meneteskan air mata, pemandangan yang sangat mengharukan. Bimo tersenyum dan lega, Yasmin tidak sendiri.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃