
Pulang sekolah, Yang seharusnya Lintang pulang ke rumah malah drinya membelokkan motornya menuju rumah sakit kala Tina menelponnya.
Menelpon dengan keadaan bingung, Lintang melupakan sesuatu. Seharusnya ia memberikan uang pada Tina untuk jaga-jaga menebus obat yang harus di bayar tunai. Dengan mengendarai motor begitu kencang tidak membutuhkan waktu lama bagi gadis itu sampai di rumah sakit dengan masih memakai seragam sekolah. Tidak mempedulikan pengunjung rumah sakit, perawat atau security yang menatapnya.
Ia berjalan menelusuri lorong, menaiki Lift menekan angka tiga untuk menuju ruang inap Ferdi. Masuk ke dalam ruang inap, melihat tina sedang membantu Ferdi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Lintang mengambil infus di tangan ferdi dan Tina menuntun tubuh ferdi menuju ranjang pasien.
" Resepnya mana? Biar aku yang tebus obatnya." Kata Lintang.
" Maaf, aku sudah ngerepotin mbak Lintang." Sungkan Ferdi.
" Apaan sih Fer!! Kita kan sudah seperti keluarga. gak perlu seperti itu!" Tekan Lintang, tidak suka bila Ferdi merasa bersalah sudah merepotkannya.
Sungguh, gadis ini tak pernah merasa di repotkan. Dirinya memang sudah seharusnya bertanggung jawab, karna dirinya sendiri sudah membangun rumah singgah dan menjadi pimpinan rumah singgah yang harus sepenuhnya di penuhi di dalam rumah penuh dengan anak-anak terlantar.
Tidak ada kata mengeluh, walaupun sebenarnya ia ingin sekali mengeluh. Saat ia benar-benar sudah tidak bisa menahan sendiri beban yang ia pikul. Tapi demi kebahagiaan anak singgah, demi pendidikan anak-anak singgah dan juga perut anak singgah tidak lagi berbunyi kelaparan seperti dulu gelandangan di jalanan. Lintang harus kuat dan harus bekerja keras demi anak-anak singgah. Mencoba melegalkan Yayasan rumah singgah agar mendapatkan perhatian serta bantuan sedikit dari pemerintah.
Lintang hanya ingin anak-anak singgah bersekolah.
Mendapatkan pendidikan yang baik seperti dirinya, meskipun mereka nantinya hanya bisa duduk sampai di bangku menengah atas, setidaknya itu sudah lebih baik dan layak untuk mencari pekerjaan.
Bukankah pekerjaan sekarang sangat sulit? Apa lagi tidak mempunyai ijasah.
" Tapi aku sudah buat mbak Lintang susah, pengobatanku juga menguras uang banyak. Aku janji mbak, akan kembalikan uang pengobatanku."
Sungguh, Ferdi sangat malu dan merasa bersalah karna Lintang masih saja bersikap baik dengannya. Tidak pernah memarahinya, apa lagi saat seperti ini, di rumah sakit menyebabkan diriny harus di rawat inap dan juga mengeluarkan uang tabungan Lintang begitu banyak.
" Uang hasil kerja keras kamu juga sudah banyak keluar buat anak-anai singgah?" Kata Lintang. " Kalau kamu itung-itungan seperti gitu! Berarti kita impas? Gak perlu ada lagi yang bilang nyusahin aku, mau gantiin uang pengobatan, mau nebus semuanya. Kalau pemikiran kamu seperti itu, itu berarti seperti aku gak iklas banget bantuin kamu!." imbuhnya lagi.
" Bukan begitu mbak!" Geleng Ferdi.
" Apa aku dari dulu pernah sih Fer.. Ngeluh soal ini soal itu! Enggak kan? Aku gak pernah juga minta ngembaliin apa yang selama ini aku berikan pada kalian. Aku iklas, ingin bangun rumah singgah buat anak-anak terlantar biar mereka bisa punya masa depan yang baik. Begitupun juga kamu dan Tina."
Menatap dua remaja yang selalu menemaninya dulu di saat ia mencoba menjadi gadis penolong dan membantu mereka yang terlantar di jalanan tanpa tau arah tujuan hidup.
" Jadi jangan pernah lagi merasa sungkan gitu sama aku, kita sudah seperti keluarga, sudah seperti saudara. Kamu masih ingatkan? Bagaimana perjuangan kita sampai di titik ini. Bagaimana kita sudah berjanji untuk saling membantu dan menguatkan, tidak boleh meninggalkan rumah singgah, bagaimanapun keadaannya. Bagaimana kita berupaya supaya mereka mendapatkan kehidupan yang layak. Masih ingat kan?"
Ferdi diam, Tina sudah menundukkan kepala menangis saat ia mengingat bagaimana perjuangan Lintang memberikan tempat teduh, pakaian yang layak dan makanan yang baik untuknya dan Ferdi dulu sebelum ada anak-anak yang lain masuk ke dalam rumah singgah. Lintanglah, orang pertama yang memberikan kehidupan layak dan tak pernah memandang remeh atau jijik padanya.
" Mbak?" Isak Tina
Lintang pun memeluk Tina. Sama dengan gadis itu, Lintang ikut menangis. Ferdi dan Tina orang pertama yang menjadi teman kesepiannya dan teman seperjuangan. Ferdi ikut menangis menundukkan kepala, Lintang mengusap lengan Ferdi, membuat lelaki selisih dua tahun dengannya menghambur kedalam pelukannya bersama Tina. Sungguh, bila tidak ada Lintang, bagaimana nasibnya dengan Tina saat ini. Pastinya masih akan tetap menjadi pemangen jalanan.
" Mas Ferdi? Kita periksa dulu ya?" Ucap Suster, membuka kain penyekat. Tiga remaja saling melepas pelukan, mengalihkan muka untuk menghapus air mata. Dan mencoba tersenyum ramah pada suster dan juga dokter.
" Sudah di tebus resepnya?" Tanya suster.
" Belum sus, sebentar lagi saya akan tebus." Kata Lintang, dan meminta serep pada Tina.
Lintang mendengarkan semua saran dan anjuran dari dokter muda. Serta mendengar semua keluhan apa saja yang di rasakan Ferdi. Hingga Lintang bernafas lega saat Dokter mengatakan bila kaki ferdi tidak perlu di oprasi atau di pasangkan pen. Dan kemungkinan dua hari kedepan Ferdi di perbolehkan pulang, beristirahat di rumah.
Setelah mengucapkan terima kasih pada dokter dan suster yang memeriksa Ferdi, kini Lintang turun ke lantai dasar untuk menebus obat di apotik rumah sakit. Lintang mengantri menebus obat, sambil membuka ponselnya.
" Suster, tolong!" Teriak lelaki menggendong wanita dengan tergesa-gesa. Lintang yang sedikit terkejut mendongak untuk melihat orang yang berteriak begitu kencang.
Matanya menyipit, alisnya mengerut dan tak lama mata Lintang melebar saat tau siapa lelaki yang berteriak meminta tolong pada suster dan wanita yang baru saja di baringkan di atas brankar.
" Mama!" Lirih Lintang. mengikuti pandangan brankar dan orang-orang yang mendorongnya menuju igd.
" Mama!" Ulangnya. Seperti Lintang tak pernah salah mengenali wajah orang tuanya, termasuk wanita tak berdaya di atas brankar dan lelaki yang sangat begitu khawatir.
Lintang beranjak dari duduknya, melangkah cepat menuju ruang igd. Iya ingin memastikan bila itu bukanlah orang yang sedang Lintang ucapkan. Sungguh ia sangat penasaran dan juga takut bila itu benar-benar nyata.
Masuk begitu saja ke ruang igd. ada beberapa pasien di atas brankar dan tepat di ujung ruangan ada beberapa gerombolan suster dan dokter sedang menangani pasien yang baru datang.
Lintang melangkah secara perlahan, mencoba mengintip dari celah tubuh suster dan terlihat jelas siapa pasien yang sedang di tangani para dokter.
" Mama?" Ucap Lintang, terkejut melihatnya.
" Mama!" Ucapnya sekali lagi, dengan berteriak histeris hingga membuat semua orang melihatnya, termasuk Roy, suami mamanya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃