Our Story

Our Story
Kecerewetan



" Udah apa belum sih!" Tanya Lintang ketus.


" Belum" Jawab Satya, memang masih terdengar suara erangan nikmat saling bersautan antara lelaki dan wanitanya.


Sebegitu nikmatkah rasa yang belum halal?


" Lama banget, Mainnya berapa durasi sat!" Keluh Lintang, sungguh ia merasa sesak sekaligus jantungnya berdecak tak menentu saat ini.


Apa lagi posisi dirinya dan Satya sangatlah membahayakan. Di peluk dari belakang oleh Satya dan kakinya menompang di atas pahanya di tambah telinganya yang di tutup erat oleh Satya. Ia juga bisa merasakan detak jantung Satya, embusan nafas dan juga.. Kehangatan dari tubuh lelaki yang selalu menemaninya.


Ini bukan yang pertama Lintang di peluk Satya, tapi ini sungguh yang pertama Satya memeluknya dengan posisi tidur di atas kasur seperti ini.


Rasa Hatinya sungguh nano nano.


" Sial." Umpat Lintang dalam hati, menggingit bibir dan semakin mengeratkan matanya.


" Ya ampun Lin! Bibir kamu bisa diem gak, jangan terlalu ceplos gitu ngomongnya."


" Aku tanya sat!"


" Tapi pertanyaan kamu sesat!"


" Sesat dari mana! Yang sesat itu mereka, kalau mau ***-*** itu ya nikah dulu baru kawin." Jawab Lintang ketus, semakin membuat Satya tercengang dan frustasi mendengar jawaban Lintang.


Tangan satu Satya menyelinap ke bawah kepala Lintang. Menjadikan bantal kepala Lintang dan sekalian membekap bibir gadisnya yang mengoceh dengan kata vulgar itu.


" Eemm.. Emm."


" Udah diem jangan protes. Pusing aku Lin dengerin ucapan kamu yang nglantur kemana-mana." Kata Satya, Semakin mengeratkan dekapannya.


Ia menjadi bingung, dari mana Lintang mengerti kata kata seperti itu. Dan bagaimana bisa Lintang berkata vulgar di hadapannya. Belajar dari mana gadisnya. Dua tahun mengenal Lintang, ia tidak pernah mendengar Lintang berkata vulgar. Hanya ucapan ketus dan umpatan-umpatan seperti remaja lakukan.


Sungguh ini membuatnya semakin bingung saja. Sebegitu dewasakah gadisnya sekarang. Menjaganya juga harus lebih extra, ia tidak ingin Lintang masuk ke pergaulan yang lebih bebas. Sampai-sampai ia mengatakan durasi dalam permainan ranjang.


Anj*ng emang kamar sebelah.


Satya harus mati-matian menahan diri, ia tidak boleh tergoda dengan suara erangan nikmat dari kamar sebelah dan juga posisinya yang sangat-sangat membahayakan.


Kepala Satya rasanya ingin meledak, jantung ingin sekali melompat. Ia bisa merasakan hangatnya kulit Lintang, harum vanila dalam tubuhnya dan harum sampho buah yang menyegarkan.


" Eemm..eemm." Teriak Lintang, mencoba memberontak. Tapi begitu kuat dekapan Satya yang tak sedikit pun longgar.


" Kalau kamu berontak aku akan cium kamu atau, bisa lebih dari itu." Ancam Satya, membuat Lintang melototkan mata dan seketika diam melemas mendengarnya.


Mencium?


Melakukan yang lebih?


Oh Tuhan... Satya gila!


Dirinya memberontak juga karena posisi Satya tidaklah baik untuk jantungnya. Kenapa sekarang dia mengancam ingin berbuat yang lebih?


Sungguh, ancaman satya kali ini tidak akan main-main. Ia lebih baik diam dan mengalah, tidak ingin membuat kesalahan serta setan ajaib yang kapan saja bisa membisiki dirinya atau Satya.


Yang namanya setan ya tetap setan. Emang setan iblis!


Lintang kembali memejamkan mata, mencoba sebiasa mungkin dan menghilangkan rasa gugup di hatinya.


*****


" Makasih ya Yasmin sudah mau ke rumah mama? Kapan-kapan ke sini lagi, biar mama ada temannya. Di rumah mama sendirian. Mas Aiman sama Papanya selalu sibuk." Ucap Mama Aiman, mengeluhkan suami dan anak lelakinya yang jarang sekali pulang ke rumah.


Sedangkan anak perempuannya sudah menikah dan jauh dari keluarga. Sudah mempunyai hidup yang damai bersama keluarga suaminya dan tidak mungkin untuk anaknya tarik ke rumahnya.


Menantu lelakinya anak tunggal dari keluarga sepadan dengannya. Meskipun begitu tidak membuat besannya sombong dan semena-mena dengan putrinya. Besannya melalukan putrinya seperti anaknya sendiri, bahkan sayangnya melebihi orang tuanya.


Bersyukur mempunyai besan menerima putrinya dengan tangan terbuka. Hingga ia dan suaminya tidak perlu khawatir lagi. Memang juga sudah kewajiban seorang istri untuk ikut suaminya, kemana pun suaminya melangkah di jalan yang benar.


Yasmin tersipu malu dan terharu, di perlakukan baik dengan orang tua kekasihnya. Terutama Mama Aiman, begitu tidak sabarnya ingin bertemu mamanya.


" Secepatnya ma." Jawab Aiman.


" Kapan!"


" Sabar dong ma? Yasmin kan baru lulus sekolah." Kata Papa Aiman. Menenangkan istrinya yang merengek ingin mempunyai menantu dan cucu. Agar tidak sendirian di rumah.


Mama Aiman berdecak, sebal dengan suaminya. " Yasmin mau kan nikah sama anak Mama. Kalaupun umurnya sudah tua, tetap masih ganteng kok sayang?"


" Ma?" Pekik pelan Aiman.


" Emang benar kan? Umur kamu sudah dua puluh tujuh Aiman. sudah tua, waktunya nikah. Jangan nunda terus! Papa saja umur dua lima sudah punya anak." Cibik Mama Aiman.


" Udah, mama gak mau tau.. Secepatnya kamu nikahin Nak Yasmin. Dan cepat bawa ke rumah, biar mama gak kesepian." Imbuhnya. Membuat Aiman pasrah dan memijat pelipisnya.


Sedangkan Yasmin menahan gugup menggigit bibirnya. Antara senang di terima keluarga Aiman dan sedih bila nanti akan meninggalkan Mamanya.


" Aiman mau anterin Yasmin pulang ma, sudah sore." Pamit Aiman, tidak ingin berdebat dengan ratu rumah.


" Yasmin pulang dulu Ma."


" Hati-hati ya sayang. Kalau sudah sampai rumah kabarin mama. Sudah simpan nomer mama kan?"


Yasmin mengangguk tersenyum. Bukan dirinya yang meminta nomer calon mertuanya, tapi mertuanya sendiri yang meminta nomernya.


Sunggu di luar dugaan.


Yasmin pikir orang tua Aiman pendiam seperti Aiman. Ternyata salah, Mama Aiman lebih terbilang cerewet dan juga baik. Kekasihnya lebih mirip Papanya. Yang selalu pasrah akan perintah dari ratu rumah.


Mungkin nanti Yasmin akan selalu terbiasa mendengar Mama mertuanya yang heboh sana sini tanpa henti. Membayangkan saja sudah membuatnya tersenyum lebar.


Setelah berpamitan dan meninggalkan rumah orang tua kekasihnya. Di dalam mobil Aiman melirik kekasihnya.


" Mama cerewet ya?" Kata Aiman, membuat Yasmin menoleh ke arahnya.


" Namanya juga ibu-ibu kak. Malah aku suka sama kalau kayak gitu." Kata Yasmin.


Jelas lebih baik melihat kecerewetan dari pada pendiam. Apa yang di lakukan Lintang setelah menikah nanti pasti tidak akan bebas.


" Mama emang begitu, kalau sudah bertemu sama orang yang di sukainya. Ya cerewetnya keluar. Biasanya mama pendiam, kalau enggak kenal sama orang. Kadang jutek."


" Masak sih kak?"


" Iya, mama juga gak suka sama orang bermulut besar. Mama itu anti sekali bergosip, enggak suka ngomongin orang. Prinsip mama itu satu, jangan pernah ganggu kehidupan keluarganya kalau enggak mau di usik Mama balik. Gitu katanya" Terang Aiman.


" Wahh.. Mama kak Aiman orangnya pemberani kalau gitu." Kagum Yasmin.


" Mama itu gak ada takut-takutnya, semuanya di lawan sama beliau. Papa saja sampai geleng-geleng kepala lihat kelakuan mama dulu kalau berantem sama wali murid kakak."


" Hah!" Terkejut Yasmin.


" Panjang sayang ceritanya." Ucap Aiman dengan tertawa kecil.


" Jadi.. Adek mau, terima lamaran kakak?" Kata Aiman. Menatap lekat wajah kekasihnya, tepat di pemberhentian lampu merah.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃