Our Story

Our Story
lamaran



" Pekerjaan?" Ulang Lintang dan Bimo bersamaan. Yasmin mengangguk mantap, mengatakan pada temannya bila ia sedang butuh pekerjaan.


" Iya, aku butuh pekerjaan." Ulang Yasmin. " Kalian tau kan! Mamaku sudah tidak lagi mau keluar rumah, apa lagi bekerja sebagai... Rasanya aku juga bersyukur mamaku gak kerja kotor itu lagi." Imbuhnya.


Ada rasa kelegaan di hati Yasmin mamanya tidak bekerja lagi sebagai wanita penghibur, hingga membuat mamanya terjerumus lebih dalam dan bisa mengakibatkan kerugian ke dua pihak. Ya, baru pertama kali ini mamanya terkena balasnya sendiri dan shock berat, trauma sangat mendalam hingga tidak berani keluar rumah atau bertemu dengan orang-orang.


Depresi mamanya membuat Lintang harus membawanya berobat dan mengeluarkan uang banyak, tidak peduli berapa pun biaya pengobatan mamanya. Asal mamanya bisa sembuh dan tidak menyakiti diri sendiri. Seperti minggu itu, hampir bunuh diri dan ingin bersama dengan ayahnya di alam baka.


" Ada pekerjaan buat aku gak." Tanya Yasmin, pada dua sahabatnya.


" Sebentar lagi kita kelas tiga Yas, Kamu bisa bagi sekolah sama kerja?" Ucap Bimo.


" Aku akan ngambil pekerjaan setelah pulang sekolah."


" Mama kamu?" Sela Lintang.


Yasmin menghembuskan nafas berat. " Ada Bik Imah. Tapi, mungkin bik Imah akan aku istirahatkan. Aku gak sanggup bayar Bik Imah. Dan Mama? terpaksa harus aku tinggal sendirian kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan sampingan." Jawab Yasmin.


Pilihan sulit, ingin mempertahankan bik Imah yang sudah lama bekerja di rumahnya, tapi bagaimana bisa di pertahankan. Ia sendiri bingung harus membayar Bik Imah, uang tabungan mamanya tidak akan cukup untuk menghidupinya selama dua bulan. Belum lagi soal terapi dan obat-obatan mamanya, Yasmin sungguh bingung.


Lintang dan Bimo saling menatap, miris memang kehidupan Yasmin penuh dengan lika liku, penuh dengan cobaan. Sama seperti Lintang, tapi tidak sama dengan Bimo. Keluarga yang termasuk damai dalam hidupnya. Ya, meskipun ada permasalahan, keluarganya kompak dan saling membantu tidak ada kata saling menyalahkan. Walaupun ibunya sangat begitu cerewet, tapi tetap membuat rumah menjadi ramai dan berwarna.


" Kamu mau cari kerjaan apa?" Tanya Lintang.


" Enggak tau, aku masih bingung mau cari kerja apa." Ucap Yasmin.


Memang bingung sekali mau mencari pekerjaan apa, pasalnya ia juga masih berstatus pelajar. Menjadi pelayan restoran atau penjaga toko mungkin cocok untuknya. Ya, mungkin itu sangat cocok baginya.


" Aku coba lamar di toko atau restoran aja, Mungkin di terima." Imbuh Yasmin.


" Nanti coba aku tanyakan sama ibu sambungku, masih ada lowongan gak di toko rotinya. Kalau masih ada.. Itu rejeki kamu." Kata Lintang.


" Ibu tiri kamu punya toko?" Tanya Bimo, menyimak pembicaraan dua sahabatnya.


Lintang mengangguk. " Iya, sudah lama. Setelah cerai sama suaminya dulu. Ibu sambungku merintis toko roti kecil-kecilan. Sekarang udah banyak pelanggannya. Mau buka cabang baru katanya." Jelas Lintang.


Ia mendengar cerita ibu tirinya dari Abbas beberapa waktu lalu. Ibu tiri penyabar, penyayang dan wanita kuat menghadapi ujiannya dulu.


Wanita tangguh demi menghidupi ke dua anaknya tanpa bantuan suaminya dulu hingga sekarang. Tidak sepersen pun ibu tirinya meminta bantuan menyekolahkan atu kebutuhan ke dua anaknya, semua murni hasil dari bekerjanya sendiri.


Dan tentang ayahnya, Lintang tau ayahnya pria yang bertanggung jawab, setiap bulan ayahnya selalu memberi uang gajiannya pada ibu tirinya. Dan Lintang salut, ibu tirinya menerima uang ayahnya, membelanjakan dengan sangat teliti serta memberikan kebutuhan ke tiga anaknya. Terutama pada dirinya, ibu tirintya seakan pilih kasih, lebih sayang terhadap dirinya dari pada dua anak kandungnya. Tapi itulah ibu tirinya, hingga membuat hati Lintang terenyuh.


" Wauuww hebat." Puji Bimo, Lintang dan Yasmin mengangguk.


" Tolong kabari ya Lin kalau masih ada lowongan di toko ibu kamu." Pinta Yasmin.


" Iya, nanti aku kabarin." Jawab Lintang.


" Makasih." Ucap Yasmin tersenyum.


" Jangan ucap makasih dulu! Aku takut nanti kecewain kamu." Kata Lintang.


" Setidaknya kamu sudah berusaha bantu aku Lin." Balas Yasmin.


" Aku gak di ucapin terima kasih juga nih!!" Seu Bimo, membuat Yasmin berdecak dan Lintang menggelengkan kepala sambil tersenyum.


" Makasih ya... Bimo yang ganteng udah selalu ada buat aku juga." Ucap Yasmin, dengan Bimo tersenyum bangga.


****


Pria yang tadinya semangat ingin pulang ke rumah kekediaman orang tuanya, kini matanya menatap kesal pada wanita di hadapannya. Wanita yang memanfaatkan ke dua pihak keluarga. Termasuk mama dan papanya.


" Bagaimana Pak?" Tanya pria paruh baya dari pihak anak perempuan.


" Saya suka." Jawab pria paruh baya dari pihak lelaki.


Dua orang tua dari anak perempuan merasa senang, ayah dari lelaki yang di sukai anak perempuannya. Suka dengan anaknya dan menyetujui perjodohan ini.


Ralat, lamaran dari pihak perempuan.


" Tapi... Saya terserah semuanya pada anak saya. Dia mau atau tidak, karna yang menikah bukan saya." Imbuhnya, dengan iringan tawa kecil. Hingga istrinya berdecak.


" Maaf sayang?" Ucap suaminya tersenyum lembut.


" Ibu suka dengan anak saya?" Tanya ibu dari pihak perempuan.


" Saya juga suka sama anak kamu... Cuma ya itu, sama seperti suami saya. saya serahkan semuanya pada Anak saya saja." Jawabnya dengan senyum, tapi tidak dengan perempuan di hadapan anaknya. Yang menunjukkan senyum paksa.


" Gimana, Aiman?" Tanya Mamanya, menoleh di sampingnya.


Aiman tersenyum, tidak menyangka bila ke dua orang tuanya tidak menirukan jaman siti nurbaya. Perjodohan kolot di jaman sekarang ini, mana ada yang mau! Bila bukan terpaksa dan di paksa untuk menyetujuinya.


Ternyata ke dua orang tuanya menyerahkan semua pilihan pada dirinya. Ke dua orang tuanya memang setuju dan suka dengan wanita di hadapannya. Tapi tidak dengan dirinya. Yang enggan sekali menerima perjodohan, atau lamaran dari wanita ini.


Ya, ke dua orang tua wanita ini yang melamarnya. Bukan orang tua Aiman yang menjodoh-jodohkan dan mengundang keluarga wanita ini ke rumahnya. Melainkan keluarga wanita ini yang datang bertamu ke rumahnya


Memalukan.


Wanita ini justru memalukan dirinya sendiri, sudah di tolak oleh Aiman tetap saja tidak gentar mengejarnya kembali. Dulu Aiman yang bodoh, sekarang tidak lagi.


Oh.. Sial.


Kenapa wanita ini mengejarnya, dan kembali ingin bersamanya lagi. Apa karna?


Dasar mata duwitan.


" Gimana nak Aiman? Bukannya kalian sudah saling mengenal dan juga menjalin kasih?" Ucap Ibu wanita itu dengan percaya diri. Ke dua orang tau Aiman hanya diam dan memperhatikan anaknya.


" Itu dulu, bukan sekarang." Jawab Aiman. membuat dua orang tua wanita itu menatap Aiman.


" Ai?" Panggil wanita itu lembut.


Aiman tersenyum miring. Ternyata mantan kekasihnya ini tau siapa dirinya yang sebenarnya. Hingga rela datang jauh-jauh demi untuknya.


" Maaf Marsya, aku sudah mempunyai kekasih." Ucap Aiman. membuat semua orang terkejut.


Dan dirinya benci harus mengatakannya di saat waktu yang tidak tepat.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃