
" Kamu mau kemana sayang?" Tahan lelaki melihat istrinya berjalan keluar menuju pintu utama.
" Aku mau ketemu sama Lintang lagi Mas?" Jawab istrinya, Rosa. berhenti menatap suami yang sudah menemaninya dan juga merawatnya dengan lembut selama ini.
Suami Rosa, berjalan menghampirinya. Menyentuh lengannya dan tersenyum padanya.
" Jangan sekarang, beri waktu Lintang dulu buat dia menenangkan pikirannya." Kata Suami Rosa, Roy.
" Tapi, aku ingin ketemu anakku mas! Sudah lama aku enggak bertemu dengannya. Aku kangen sama putriku!" Kembali Rosa bersedih. Bagaimana dirinya telah bersalah karna menelantarkannya dan membiarkannya hidup menderita selama ini.
Rosa baru tahu tentang putrinya yang ternyata tinggal di panti asuhan kala ibunya meninggal satu tahun lalu dan lebih parahnya dirinya juga tidak mendengar kabar ibunya yang meninggal itu.
Rosa selama ini pergi ke luar kota. Bekerja dan menyembuhkan penyakitnya tanpa ada yang tau tentang penyakit yang di deritanya saat ini.
Penyakit di deritanya empat tahun lalu sebelum bercerai dari ayah Lintang. Penyakit yang akan merenggut nyawanya saat dirinya belum mendapatkan donor tulang sum-sum sama dna dengannya.
Rasa derita selama ini selalu di tutupin dari orang-orang tercinta, termasuk mengorbankan rumah tangganya yang hancur karna tidak ingin suami dan anaknya tau tentang penyakitnya.
Pergi menjauh memang bukan pilihan tepat, tapi memang harus dirinya menjauh. Mencari pekerjaan dan juga pendonor tulang sum-sum yang sama dengannya. Sulit rasanya, mencari donor yang sama, karna donor tulang sum-sum yang sebenarnya ada pada keluarganya. Dan Rosa tak ingin mengorbankan itu. Biarkan dirinya mencarinya, meskipun tidak menemukannya dan mati lebih cepat, Ia tidak akan menyesal. Karna Rosa sudah berkorban demi orang-orang tercintanya.
" Mas tau.. Tapi bukan ini saatnya sayang?" Lembut Roy, merengkuh tubuh Rosa membawanya dalam pelukannya.
" Kemarin kita tidak bertamu dengan baik di rumah ayah Lintang, pastinya sekarang di dalam rumah itu masih di selimuti amarah dan juga belum ada ketenangan. Jadi kita gak boleh ke sana dulu, nunggu waktu yang tepat ya." Tutur Roy lagi.
memberi saran baik dan lembut, agar istrinya tidak bertindak gegabah seperti kemarin. Di mana mantan suaminya marah-marah karna ulah Rosa, membuat anaknya menderita dan tertampung di panti asuhan. Rosa tidak terima dengan tuduhan mantan suaminya, Memarahi balik dan juga saling menyalahkan karna suaminya juga tak pernah menjenguk atau memberi kabar pada putrinya.
Kesalah pahaman membuat mantan istri dan mantan suami bertengkar hebat. Keributan di dalam rumah membuat siapa saja mendengar hingga di depan rumah dan itu juga di dengar oleh anak-anak yang baru pulang dari sekolah.
pertemuan yang seharusnya terharu bahagia, malah menjadi menyedihkan dan mengecewakan. Anak yang seharusnya senang dan menangis melihat ibunya datang, justru anak itu menatapnya datar dan tidak ada tangisan atau sapaan ramah dari bibir gadis berseragam sma.
Gadis itu seakan membenci ibu kandungnya. Matanya sudah terlihat jelas akan kesedihan dari masa lalunya. Dan ucapan tenang itu menyimpan banyak kekecewaan.
Ya, anak mana bisa terima akan perlakuan ibu dan ayahnya begitu saja. Seenaknya pergi dan datang kembali dalam hidupnya yang penuh dengan penderitaan karna ulah mereka tanpa mengerti perasaan dan keinginan anaknya apa. Bukan itu saja, mentalnya di uji begitu berat, memaksanya untuk memahami masalah ke dua orang tuanya di saat usianya belum beranjak dewasa.
Rosa menangis dalam pelukan suaminya, hanya pria itu sekarang yang dia miliki. Menerima dirinya yang mempunyai penyakit dan juga merawatnya dengan kelembutan serta membiayai pengobatannya begitu mahal tanpa mementingkan kebangkrutan.
Ya, suaminya. Roy, mempunyai bidang bisnis rumah makan. Beberapa cabang sudah menguasai kotanya. Roy, seorang duda tua di tinggal mati istri dan anak tunggalnya dalam kecelakaan sepuluh tahun yang lalu. Hidup sendiri, tanpa perhatian dari seorang wanita tak membuat Roy luluh. Tapi siapa sangka, lelaki itu menyukai wanita yang selalu datang siang hari ke tempat makannya dengan senyum ramah saat membayar makanan di kasir. Dari situ, Roy perlahan-lahan mendekati Rosa. Mengajak kenalan dan mengajaknya berteman.
Bukankah begiti? Awal mula pendekatan yang baik?
Roy melepas pelukannya, menyentuh pipi Rosa mengusap lembut ke dua pipinya yang basah dan mencium kening istrinya begitu lama.
" Mas antar ke kamar ya, istrihat jangan banyak pikiran. Jangan lupakan obatnya, Mas juga akan terus cari pendonor buat kamu." Kata Roy.
" Tidak ada kata merepotkan. Kita sudah suami istri sekarang. Ayo, kita ke kamar." Ajak Roy, merengkuh bahu istrinya dan menuntunnya berjalan menuju kamar mereka.
Setidaknya Rosa bersyukur telah di cintai lelaki seperti Roy.
****
Suasana meja makan masih kembali hening, hanya terdengar deting garpu dan sentok. Tidak ada percakapan di antara ibu dan Anak malam hari.
Yasmin, menikmati makan malamnya dengan diam dan Ranti juga sama menikmati makannya dengan diam tapi pikirannya tertuju pada yang lain.
Rasanya gelisah saat ingin mengatakan sesuatu pada Yasmin. Dan dirinya takut bila Yasmin akan marah padanya.
" Yas?" Panggil Ranti, membuat Yasmin mendongak dan menatapnya.
" Mama ingin mengatakan sesuatu sama kamu." Ragu Ranti.
" Apa?" Jawab Yasmin, meluhat mamanya yang ragu untuk mengatakannya.
" Eemm... Mama di ajak nikah siri sam-,"
" Aku enggak akan ijinin Ma." Potong Yasmin, membuat Ranti berhenti bicara dan menatap putrinya yang mulai terlihat marah.
" Nikah siri? itu berarti mama menjadi istri ke dua dari lelaki yang sudah mempunyai istri! Mama ingin membuat Yasmin malu lagi! Mau di bilang pelak*r lagi! Aku capek ma... aku juga gak mau! Sudah cukup, mama kerja sebagai wanita pengh*bur dari pada harus menjadi simpanan lelaki beristri." Kata Yasmin, tidak peduli ucapannya kasar dan menyakiti hati mamanya saat ini.
Rasanya ia juga harus mengeluarkan semua unek-uneknya yang di pendam selama ini untuk mamanya. Mentalnya tidak terlalu kuat bila harus kembali menerima gunjingan dan pembulyan dari orang-orang yang mengenal mamanya. terutama teman sekolahnya, susah cukup. Tidak ingin lagi.
Yasmin ingin tenang, ingin bebas seperti yang lain tanpa harus takut atau minder karna ibunya. Tidak apa-apa ibunya bekerja sebagai wanit* penghibur, tapi ibunya harus tau batasannya. dari pada harus menjadi istri ke dua yang di sembunyikan dan bayangan takut selalu menghantuinya.
Yasmin menyudahi makan malamnya, berdiri dari duduknya dan menatap mamanya sebelum pergi.
" Jangan buat aku menjadi di bully lagi ma. Aku takut." Ucap Yasmin, dengan mata berkaca-kaca dan melangkah pergi dari meja makan. tanpa mempedulikan mamanya yang juga sama menangisnya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃