Our Story

Our Story
Puncak



Ternyata benar, Aiman bukanlah orang biasa sepertinya. Di lihat dari depan pagar yang menjulang tinggi, sudah di pastikan bila Aiman adalah anak orang kaya. Kini ia tau, kenapa kekasihnya itu gampang sekali memberikan kartu kredit padanya dan menyetujui menjadi donatur tetap di rumah singgah milik Lintang.


Itu karena Aiman ingin menyumbangkan sepuluh persen pendapatan setiap bulannya dari hasil cafenya. Cafe yang selalu ramai dan mempunyai dua cabang di daerah yang berbeda. Tidak tau berapa keuntungan Aiman setiap bulan, tapi yang pasti keuntungan dari cafe kekasihnya sangatlah banyak.


Sebagai kekasih, ia tidak berani bertanya tentang keuntungan cafe apa lagi meminta ini itu pada kekasihnya. Dirinya bukan wanita mata duwitan, meskipun sebenarnya ia memang membutuhkan uang. Tapi bukan berarti bisa memanfaatkan kekasih kayanya juga.


Ya, terkadang selalu di paksa Aiman untuk membelanjakan kartu kreditnya. Kalau tidak, Aiman sendiri yang akan membelikan kebutuhan rumahnya. Pemaksa, tapi menguntungkan bagi Yasmin.


Gerbang terbuka, ada tiga mobil terparkir rapi di halaman rumah mewah bercat putih. Masih bertanya-tanya dalam otak Yasmin.


Apakah keputusannya benar, menerima ajakan Aiman untuk datang ke rumah orang tuanya? Rasanya ia salah besar. Nyalinya mulai menciut, saat melihat rumah Aiman dua kali lipat lebih besar dari rumahnya.


Apakah orang tuanya akan menerimanya?


Atau ia akan di tolak mentah-mentah?


Rasanya sungguh membuatnya gelisah setengah mati.


" Lin.. Seharusnya aku gak dengerin kata kalian!" Gumamnya dalam hati. Menyesali pendapat para sahabatnya yang menyuruhnya untuk menerima ajakan Aiman.


" Yasmin?" Panggil Aiman. Membuatnya tersadar dan menoleh pada Aiman.


" Lagi nglamunin apa?" Tanyanya lembut.


" Enggak ada kak." Jawabnya, tersenyum paksa.


Aiman tau, bila Yasmin pasti sedang memikirkan tentang dirinya yang tidak jujur siapa dirinya sebenarnya.


Aiman menggenggam lembut tangan Yasmin di atas pahanya


" Ayo keluar, mama sudah nunggu tuh di depan pintu." Ucapnya, dan Yasmin terkejut mendengarnya. Ia pun menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar dengan seorang wanita tua cantik berdiri di tengah jalan.


Seperti sedang menyambut seseorang.


" Yasmin?" Panggilnya lagi. Yasmin kembali menoleh masih dengan tatapan bimbang. " Ayo!" Ajaknya, tersenyum hangat untuk menenangkan hati Yasmin.


Yasmin tersenyum dan mengangguk, tidak peduli dengan hati gelisah tak karuan. Ia pun sudah bertekat dan juga lapang dada bila nanti akhirnya tidak akan di terima oleh orang tua kekasihnya.


Ingat kata-kata kekasihnya semalam.


" Aku tidak akan memuji orang tuaku, Kamu akan mengerti sendiri bagaimana sifat orang tuaku nanti saat bertemu, Terutama Mama."


Dan inilah yang di lihat Yasmin saat ini, seorang wanita lebih tua mamanya menyambutnya dengan hangat dan tangan terbuka.


" Selamat datang Nak Yasmin?" Sapa ramah Mama Aiman. Memeluknya tanpa basa basi.


" Mama sudah nunggu kalian dari tadi, ayo masuk." Semangatnya setelah melepas pelukan dan beralih menggenggam tangan kekasih putranya.


Yasmin sempat melirik Aiman. Aiman mengangguk tipis dan tersenyum. Ya, begitulah mamanya. Sangat antusias mendengar kabar bila dirinya akan membawa calon menantunya ke rumah. Dan ini mamanya, membawa pergi masuk kekasihnya untuk di perkenalkan seluruh orang-orang dalam rumah terutama suaminya.


" Pa! Calon mantu kita sudah datang." Sedikit berteriak memanggil Papa Aiman.


Hati Yasmin menghangat tapi beralih lagi menjadi berdebar, karna akan bertemu Papanya Aiman. Apa ia bisa menjawab semua pertanyaan dari ke dua orang tua Aiman.


Apa pekerjaan orang tuanya, apa pendidikannya dan status keluarga dari apa.


Rasanya sungguh menakutkan akan pertanyaan seperti itu.


*****


" Ayo!" Semangat Lintang.


" Pamit dulu sama Ay-,"


" Ayah sama Bunda enggak ada di rumah." Potong Lintang.


" Om sama Tante gak di rumah? Memang kemana?" Sambil mengerutkan kening.


Pantas saja ia tidak melihat batang hidung Ayah Lintang. Biasanya Ayah Lintang menyambut kedatangannya di teras rumah sambil ngeteh dan membaca koran. Ralat, sudah kebiasaan Ayah Lintang selalu berada di teras bila pagi-pagi sekali, bukan menyambut kedatangannya.


" Abbas?" Tanya Satya.


" Biasa, main basket sama temannya. Udah ayo! Jangan tanya-tanya lagi, aku enggak tau kalau kamu tanya tetanggaku lagi ngapain!"


Satya tertawa, mendengar gerutuan Lintang. Lintang naik ke atas motor Satya. Ia pun begitu semangat untuk ke puncak, di mana tempat itu selalu membuatnya tenang minikmati keindahan alam. Untuk ke tiga kali, ia ke puncak bersama Satya.


" Kamu sudah makan?" Tanya Satya, melajukan motornya dengan kecepatan sedang saat masih berada di komplek rumah Lintang.


" Udah, kamu?" Tanya balik Lintang, mulai terbiasa melingkarkan tangannya di perut Satya.


Sepertinya Satya tidak perlu mencari kesempatan atau memaksa lagi pada Lintang untuk melingkarkan tangannya di perutnya.


Satya benar-benar senang?


" Satya?"


" Hhmm, sudah kok?" Jawabnya. " Ya, sudah gak perlu mampir-mampir kalau gitu. Biar cepat nyampeknya."


" Oke." Jawab Lintang.


Sebenarnya Satya bisa memakai mobil menuju puncak. Satya juga sudah mahir mengendarai mobil dan sudah mempunyai sim mobil di saat ia masih menduduki bangku sekolah. hanya saja Lintang lebih suka memilih naik motor.


Bagi Satya itu tidak masalah, malahan ia sangat semangat kali ini mengendarai motor sportnya menuju puncak kali ini. Bisa berduan dan juga Lintang yang mulai menempel padanya.


Ah.. Bikin hangat.


Tidak ada lagi masuk angin menghantui punggungnya.


Perjalanan ke puncak membutuhkan waktu tiga jam. Dalam perjalanan pun dua kali Satya berhenti di pengisian bensin. Lintang menawarkan diri untuk bergantian, tapi Satya melarang. Asalannya ia takut bila Lintang yang menyetir motornya.


Apa lagi jalanan menuju puncak begitu padat. Lintang bukan gadis manja, sekali ia belajar Lintang sudah mengerti. Ya walaupun awalnya sedikit kaku. Dan Satya yang mengajarinya mengendarai motor sport miliknya.


Sejak kapan?


Sejak Lintang mengatakan bila ingin belajar menaiki motor gede. Awalnya melarang, tapi melihat muka Lintang yang cemberut ia tidak bisa melarangnya. Pada akhirnya, ya harus mengalah dengan gadis yang di cintainya.


Dua kali beristirahat, pada akhirnya mereka sudah sampai di puncak. Dengan suasana sedikit mendung dan hawa angin terasa sangat sejuk.


" Mendung, keliatannya mau hujan." Kata Lintang.


" Kita datang di musim hujan." Ucap Satya.


Bukankah dataran tinggi selalu hujan, ya walaupun bukan di musim hujan saja. Tapi musim hujan, selalu rawan di dataran tinggi.


" Kita pulang?" Kata Satya.


" Kamu gak capek." Tanya Lintang.


" Sedikit." Jawabnya. Memang sedikit melelahkan, perjalanan jauh dengan berkendara motor. Dan sangat di sayangkan, cuaca mendung saat berada di puncak.


Lintang tidak mungkin memaksa Satya kembali pulang. Ia juga sangat lelah, di tambah motor sport Satya membuat pinggangnya encok.


" Satya, kita nginap di sana saja. Gimana?" Kata Lintang, sambil menunjuk bangunan bertingkat dengan tulisan.


Motel madam.


" Eh!!" terkejut Satya.


.


.


.


.