Our Story

Our Story
kabar duka



Seperti biasa bila sudah di depan layar laptopnya, Lintang akan mengubah ponselnya dalam mode diam. Ia tidak ingin di ganggu saat bekerja merangkai kata-kata di setiap paragraf menulisnya.


Lintang lebih suka menyendiri di dalam ruangan tanpa adanya sang penggangu, entah itu di rumah singgah atau di rumahnya sendiri. Baginya inspirasi otaknya bekerja saat ia sendiri dan tak ada orang yang mengusik atau mengajaknya bicara.


Begitu pula dengan ponselnya, ia tidak akan menyentuh ponselnya hingga pekerjaannya benar-benar sudah selesai dalam satu atau dua episode. Butuh waktu sekitar dua jam, untuk mendapatkan rangkaian dua ribu kata. Sungguh sangat menguras otak dan pikirannya.


Kali ini Lintang bisa menyelesaikan tiga episode dalam waktu dua jam Karena itu moodnya begitu senang. Mungkin karena Satya akan kembali dari tournya dan sudah berjanji membawakan dirinya oleh-oleh dari luar kota.


Tidak di bawakan pun juga tidak apa, yang terpenting bagi Lintang, Satya akan selalu bersamanya lagi setiap malam. Tiga hari tidak ada Satya, Lintang kesepian. Ia juga seperti menuruti perkataan Satya, untuk tidak keluar malam bila bukan bersamanya.


Kata-kata Satya seperti membuatnya terhipnotis. Setiap hari Lintang selalu membalas chat Satya, kali ini Lintang membalasnya begitu cepat dan tidak menunggu lama bagi Satya. Lintang juga menelponnya, untuk pertama kali. Menanyakan keadan dan juga bertanya kegiatan apa saja yang di lakukan Satya.


Lintang bernafas lega, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi belajar. Lintang pun mengambil ponselnya, yang memang sengaja ia balikkan layarnya.


Saat membuka, ia mengerutkan kening. Terdapat lima puluh lebih panggilan dari empat nama dan chat pesan yang begitu banyak.


Bimo.


Yasmin.


Galuh.


Abbas.


Ia pun penasaran, kenapa begitu banyak panggilan dari sahabat dan adiknya. Ia ingin menelpon balik, tapi saat melihat pesan dari Satya. Lintang memilih membuka terlebih dulu chat Satya, yang membuatnya bisa tersenyum. Satu pesan suara, yang membuat matanya berkaca-kaca dan juga tertawa sendiri mendengarnya.


" Lin, aku ingin ungkapan hati aku untuk kamu. Kalau kamu dengar ini pasti akan geli. Tapi ini, memang harus aku ungkapin. Meskipun berkali-kali akan kamu tolak, Tapi please.. Jangan menolak lagi ya. Hatiku gak sekuat baja Lintang auliya..! Padahal wajahku juga gak pas-pasan, ya.. meskipun dompetku belum setebal Ronaldo. Tapi aku jamin Cintaku ini tulus, setulus nanti akan aku bawa sampai mati. Lintang.. Aku sayang sama kamu. Love you Baby." Pesan suara dari Satya dua jam yang lalu.


Lintang mulai mengetik pesan untuk Satya.


" Kalau kamu sudah sampai, nanti aku kasih jawaban." Tulis Lintang dan mengirimnya pada Satya.


Setelah mebalas pesan Satya, ia pun mencoba membuka pesan dari Abbas.


" Mbak!" Panggil lelaki dengan suara tergesa-gesa, membuka pintu kamar Lintang dengan kasar tanpa mengetuk terlebih dulu.


Lintang menoleh ke belakang dan mengerutkan kening melihatnya.


" Aku mau.. telpon kamu Bas." Kata Lintang, dan menaruh ponselnya di atas meja.


" Mbak sudah dengar kabar belum dari Mas Bimo." Tanya Abbas. Membuat Lintang kembali mengerutkan kening.


" Kabar apa?" Tanya balik Lintang. " Ini aku mau telpon Bimo, dari tadi dia telpon." Imbuhnya.


" Lintang!" Teriak Bimo, sama seperti Abbas. wajah panik dan juga tergesa-gesa.


Abbas dan Lintang menatap Bimo. Abbas menggelengkan kepala, sedangkan Lintang mengerutkan kening.


" Bus yang di tumpangi Satya.. Mengalami kecelakaan di tol." Ucap Bimo, membuat tubuh Lintang membeku dan mata membulat sempurna.


****


Suasana malam di kediaman rumah berlantai dua. terdapat banyak orang-orang berkumpul di teras maupun luar rumah, untuk melihat ataupun berbela sungkawa atas tragedi kecelakaan yang menimpa salah satu anak pemilik rumah, yang terbilang sangat baik dan ramah dalam lingkungan perumahan.


Rumah yang kini menjadi tangisan pilu bagi seorang ibu, yang kehilangan anaknya saat mengikuti tour kampus di luar kota. Saat mendengar dan melihat mobil ambulan berhenti tepat di depan rumahnya.


Mendapat kabar dari pihak kampus, bahwa bus yang di tumpangi anak bungsunya mengalami kecelakaan. Beliau pun meninggalkan pekerjaan, bergegas menuju rumah sakit yang sudah di beritahukan padanya.


Awalnya tidak percaya, dalam doa seorang ayah pada Tuhan. Beliau meminta agar anak bungsunya baik-baik saja dan selamat dalam kecelakaan itu. Tapi sayang, doanya seakan tak tersampaikam pada Tuhannya.


Merengkuh istri dan putrinya dalam pelukannya. Saling menguatkan dan tabah atas kepergian putra bungsunya.


Dari kejauhan Lintang bisa mendengar dan melihat, betapa sedih dan dukanya keluarga lelaki yang mencintainya. Betapa hancurnya seorang ibu kehilangan putra yang mewarnai dalam rumahnya.


Lintang bisa merasakannya.


" Mbak?" Panggil Abbas, menyentuh lengan Lintang untuk menyadarkannya. " Ayo." Ajaknya.


Lintang tidak menjawab, ia pun mengikuti Bimo dan Abbas berjalan menuju rumah lelaki yang selalu menemaninya.


Tidak ada expresi kesedihan dalam wajah Lintang. Saat mendengar kabar Bus Satya mengalami kecelakan, ia hanya terkejut tanpa adanya tangisan di matanya.


Entah, ia tidak bisa menangis atau apa. Wajahnya terlihat dingin dan datar.


Semakin mendekat, semakin mendengar isak pilu. dari para kerabat ataupun dari ibu dan kakak yang tidak bisa berhenti menangisi kepergian lelaki yang sudah mengisi hatinya.


Langkah kaki tegar seakan mulai melemas, mata sangat panas, jantung berdetak tak karuan dan tangan mengepal begitu saja saat ia sudah tiba di depan pintu terbuka lebar. Memperlihatkan suara tangisan dan pelukan di depan jenasah yang berbujur kaku.


" Satya." Gumam Lintang.


" Aku pamit ya?"


" Ke hati kamu, selamanya?"


" Jangan nangis, jangan cengeng. Apapun keadaannya jangan nangis, ada aku di sini."


" Lintang?" Bimo, menyadarkannya dari lamunan kenang-kenangan ucapan Satya.


Lintang berjalan di belakang Bimo, berdiri tepat di hadapan Ayah Satya.


" Om, saya Bimo. Kamu Temannya Mas Satya. Kami turut berduka kepergian Mas Satya. Semoga amal beliau di terima sisi Tuhan." Ucap Bimo, mewakilkan Lintang dan Abbas yang ada yang di belakangnya.


" Amin. Om juga tidak menyangka Satya akan pergi selamanya dari kami. Maaf kalau Satya selama ini punya salah pada kalian, Kalau satya mempunyai hutang atau apa tolong bilang ke om ya. Biar anak om nanti tenang di sana."


" Mas Satya enggak punya salah sama kita om, justru mas Satya sering bantu kita di rumah singgah." Sela Bimo.


" Kalian pengurus anak singgah." Tanya Ayah Satya, membuat Bimo mengangguk. Dan tatapan ayah Satya berpindah pada gadis yang ada di belakang Bimo.


Lintang terus menatap jasad Satya di dan juga ibu Satya yang duduk di hadapan jasad anaknya.


" Silahkan duduk kalau kalian ingin mendoakan Satya." Kata Ayah Satya.


" Baik om, terima kasih." Jawab Bimo, sedikit membungkukkan badan dan berjalan menuju jasad Satya di tempat tidur.


" Ayo mbak." Kata Abbas, Lintang menoleh dan mengangguk.


Lintang sedikit mengulam senyum pada ayah Satya, dan di anggukkan lelaki tua menatap lekat gadis yang di sukai putranya.