Our Story

Our Story
di terima



Dua pihak keluarga berkumpul di ruang tamu yang sederhana terbilang dari kata mewah. ruang tamu yang jauh lebih besar di bandingkan ruang tamu miliknya.


Tapi tak membuat sang tamu merasa sesak, justru rumah sederhanalah membuat sang tamu merasa betah dan mengingat kenangan-kenangan dulu kala.


Menjadi orang kaya tidak membuat sepasang suami istri lupa akan dirinya yang dahulu. Di mana suami istri merintis usaha kecil berdua dengan modal nekat meminjam uang bank. dan jatuh bangun berkali-kali untuk mendapatkan kesuksesan serta kejayaan perusahaan sampai dekarang yang berdiri kokoh tanpa lagi takut akan tersaingi.


Komitme sepasang suami istri selalu di tamankan pada anak dan menantunya kelak.


Kepercayaan dan saling menguatkan.


Karena?


Dalam berumah tangga, tidak ada yang namanya tenang seperti air danau dan tidaklah mulus, seperti jalan tol.


Dan kini suami istri yang sudah menikah lebih dari tiga puluh lima tahun, melamarkan anak bungsu pada keluarga kekasih anaknya. Siapa lagi bila bukan Aiman, anak terakhir yang sudah menemukan jodohnya tanpa harus menjodoh-jodohkan di jaman modern ini.


Tidak mau meniru atau mengukuti tradisi seperti orang-orang kaya yang menjodohkan anaknya dengan rekan bisnis atau sesama orang kaya. Orang tua aiman tidak suka seperti itu, karena itu tidak membuat anak-anaknya bahagia.


Apa yang di pilih anak-anaknya, itulah yang akan di terima orang tuanya. Asal anak-anaknya tidak akan menyesali dengan pilihan dan keputusannya sendirin.


Kebahagiaan anak, adalah kebahagian orang tua. Dan kesedihan anak, kesedihan orang tua.


Yasmin, duduk di samping ibunya. Menggenggam tangan ibunya dan saling memberikan kekuatan.


Di depan Yasmin, sudah ada orang tua Aiman dan juga Aiman dengan penampilan yang sangat menawan dan sederhana, meskipun ia dan ibunya tau bila harga pakaian mereka sangatlah mahal.


Rasa gugup dan juga cemas di rasakan ibunya, ia tau bila ibunya tidak percaya diri dengan keadaannya sekarang. Ia takut bila putrinya tidak di terima baik oleh keluarga Aiman karena masa lalu kelamnya.


Tapi percayalah, orang tua Aiman tidak akan memandang rendah orang-orang seperti keluarganya. Walaupun mereka sudah tau masa kelam ibu Yasmin, tapi mereka tak akan pernah membahas masa lalu di depannya atau orang lain.


Orang tua Aiman akan menutupi dan juga akan melindungi Yasmin atau ibunya dari orang-orang masa lalu yang tau tentang pekerjaan Ibu Yasmin.


Mama Aiman tidak masalah dan tidak mempermasalahkan tentang masa lalu pekerjaan ibu Yasmin. Karena dari sudut pandangnya sebagai wanita, ibu Yasmin bekerja di dunia malam juga pasti bukan kemauannya. Dan sebagai wanita yang di janjikan untuk hidup lebih baik dari lelaki yang baik juga tidaklah masalah. Hanya saja, lelaki itu tidak mengatakan jujur bila masih mempunyai istri.


Itu sebabnya Ibunya Yasmin di cap sebagai pelakor dan hampir merusak rumah tangga orang. Tapi percayalah, bukan sepenuhnya itu kesalahan Ibu Yasmin. Iya juga tidak akan mau menjadi pelakor atau bekerja sebagai wanita penghibur. Tapi kehidupan yang keras membuatnya harus rela bekerja sebagai wanita penghibur.


Itulah kenapa wanita selalu menyalahkan sepihak tanpa mengetahui apa yang sebenarnya di lakukan suaminya terlebih dulu. Bila bukan karena rayuan, janji manis dan juga kehangatan perhatian yang di berikannya untuk wanita lain selain istrinya.


" Buk, Mbak Yasmin?" Panggil Bik Imah, membuat Yasmin dan ibunya menoleh dan mengangguk bersamaan.


" Mari Pak, Buk. kita makan dulu, Bibik sudah siapkan makan malam buat kita." Ucap Ibu Yasmin ramah.


" Mari tante, om. Kak?" Inbuh Yasmin tersenyum.


Aiman dan ke dua orang tuanya tersenyum nengangguk, ikut berdiri dan berjalan di belakang Yasmin beserta ibunya menuju ruang makan.


" Enggak apa-apa mbak, malah ini lebih dari kata sederhana? Di rumah kita juga makan seperti ini." Balas Mama Aiman.


" Ini semua bibik yang masak, bibik antusias sekali orang tua Aiman datang." Jelas Ibu Yasmin. " Bik?" Panggilnya, saat melihat bik Imah akan pergi dari hadapannya.


" Iya buk." Ucap Bik Imah.


" Duduk sini bik, kita makan bersama." Perintah Ibu Yasmin. Membuat orang tua Aiman menatapnya.


" Bik Imah, sudah kami anggap sebagai keluarga kami. Beliau yang merawat putri saya dan saya selama ini." Jelasnya.


" Tidak buk, saya tid-,"


" Mari bik Imah, kita makan malam bersama." Sela Mama Aiman dengan senyum tulus.


" Iya mari, kami malah senang bisa makan bersama. Tidak ada yang harus di beda-bedakan." Tambah Papa Aiman.


Yasmin dan ibu saling berpandang, dan tersenyum saat orang tua Aiman benar-benar baik, tidak pernah memandang rendah orang lain.


" Ayo bik kita makan bersama." Kini Aiman yang mengajak Bik Imah untuk ikut makan bersama.


Bik Imah bimbang dan malu. Ia malu menerima ajakan makan bersama dengan calon besan dari anak majikannya. Tapi ia juga terharu, melihat calon mertua anak majikannya yang ternyata baik.


Bik Imah menatap Yasmin dan Ibunya, Majikan dan anak itu tersenyum mengangguk. membuatnya ikut tersenyum dan menyetujui ajakan makan malam bersama dengan mereka.


Suasana dalam meja makan begitu hangat dan penuh dengan canda dari mama Aiman dan juga Ibu Yasmin. Semangat dan ramah tamah dari mama Aiman lah yang membuat ibu dan anak menjadi tidak canggung dan lepas seperti bertemu dengan kerabat dekat.


Selesai makan malam dan kembali ke ruang tamu sebelum Aiman dan orang tuanya pulang. Mereka mulai membicarakan hal serius untuk putra dan putrinya.


" Jadi? Dua minggu lagi?" Ulang Ibu Yasmin.


" Iya, dua minggu lagi sudah kami putuskan untuk Aiman cepat menikahi Yasmin." Jelas Papa Aiman. " Apa anda keberatan." Imbuhnya.


" Kalau saya, apa terserah Yasmin saja. Hal baik tidak boleh di tolak. Saya juga sudah mengenal Nak Aiman. Anak anda terlalu baik pada kami." Kata Ibu Yasmin.


Ya, begitu baiknya Aiman pada keluarga Yasmin. Tidak pernah ada cela kejelekan yang terlihat dari Aiman. Lelaki itu begitu sabar, dewasa dan penyayang. Beruntungnya bila Yasmin menikah dengan Aiman.


" Yas?" Panggil, Ibunya. Membuat Yasmin menoleh dan menatap sang ibu.


Usianya masih muda, apa ia bisa melakukan pernikahan di umur yang masih belia ini. Tapi ia juga tidak bisa menolak lamaran Aiman, karena ia sudah sangat mencintainya.


" Iya, saya mau menikah dengan kak Aiman. Tante, om." Ucap Yasmin, membuat Orang tua Aiman dan Aiman tersenyum lebar. Begitupun dengan ibu Yasmin, yang juga tersenyum mendengarnya.