Our Story

Our Story
mengatakannya



" Sakit?" Kejut Teguh, mendengar ucapan putrinya.


" Iya, mama sakit. Sekarang masih di rawat di rumah sakit. Mama mengidap sakit leukimia stadium empat Yah, Bun." terang Lintang. Tidak bisa lagi untuk menyembunyikannya.


Ayahnya harus tau tentang mamanya, meskipun mereka sudah bercerai dan tidak bisa lagi bersama. Bukan maksud untuk membuat ibu tirinya sakit hati karna dirinya mengatakan tentang sakit mamanya pada Ayahnya. Bukan! Dirinya hanya ingin Ayahnya tau saja, dan tidak perlu lagi dendam dengan mamanya. Itu saja.


Saskia sama terkejutnya dengan Teguh, tidak menyangka mantan istri suaminya mempunyai sakit begitu parah, dan bisa mengakibatkan kematian. Saskia bukan wanita pemarah, justru ia merasa kasian. Bagaimana dengan hati Lintang kali ini, Pastinya hancur mengetahui mamanya sakit berat.


Ia menatap suaminya, wajahnya sangat terlihat jelas begitu khawatir dengan mantan istrinya. Bukan berarti masih cinta, hanya menunjukkan empati dengan mantan istrinya. Delapan belas tahun hidup bersama dengan mantan istrinya, sangatlah sulit melupakan kenangan manis dalam hidup rumah tangga apa lagi sudah mempunyai anak semata wayangnya. Dan begitu tiba-tiba saja mendapatkan kabar tentang sakitnya Rosa yang menyedihkan.


Lintang menarik nafas panjang, menahan air mata yang akan jatuh dan kembali menatap ayahnya.


" Aku ingin, Ayah menjenguk Mama. Sekali saja.. Ini permintaanku yah. Tolong maafkan mama." Ucapnya, mengahapus air mata yang tiba-tiba mengalir membasahi pipinya.


Entah kenapa, Lintang meminta ayahnya memaafkan mama dan memintanya untuk menjenguknya. Lintang tau, ayahnya masih marah dengan Mamanya. Dan membenci mamanya hanya karna mamanya yang menceraikannya.


" Mbak?" Saskia Usap lembut bahu Lintang, menenangkan putri sambungnya yang kini menangis.


" Lintang ke kamar dulu bun?" Pamit Lintang. Rasanya malu, menangis di hadapan Ibu tirinya.


Saskia mengangguk tersenyum, membiarkan Lintang pergi ke kamarnya. Kini tinggal dirinya dan Teguh yang masih terdiam memikirkan ucapan Lintang.


" Mas?" Panggil Saskia, membuat Teguh mendongak menatapnya.


" Mas ngantuk mau ke kamar dulu." Pamit teguh, beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamarnya meninggalkan Saskia sendiri di ruang tamu.


Kepergian Ayah dan Anak, membuat Saskia tau bila meraka sedih mendengar kabar mengejutkan itu dari orang yang di sayangnya dulu. Terutama Lintang, gadis itu sangatlah terpukul mendengar sakit mamanya.


Saskia menghembuskan nafas berat, matanya menatap atas menahan air mata yang akan jatuh. Rasanya seperti sakit, melihat Suaminya yang entah, sulit seperti mengatakannya.


Apa masa lalunya sangatlah sulit untuk di lupakan, ataukah suaminya masih ada rasa dengan mantan istrinya. Atau apalah itu, sungguh saskia sangat bingung mengatakannya.


Sekali lagi saskia menghembuskan nafas panjang, mengusir kegundahan hatinya dan rasa sedikit cemburu melihat wajah khawatir suaminya pada mantan istrinya. Hingga dirinya mendongak menatap anak lelakinya yang memanggilnya.


" Sudah malam, kenapa bunda belum tidur?" Kata Abbas, berjongkok di hadapan Bundanya dan menyentuh ke dua tangannya dengan lembut.


" Ini bunda mau tidur, barusan ngobrol sama Ayah sama mbak Lintang. Mas Abbas dari mana?" Kata Saskia.


" Dari rumah teman Bun." Jawab Abbas. " Ya sudah bunda sekarang masuk ke kamar, tidur! jangan banyak pikiran. Abbas tidak ingin bunda sakit, abbas sayang bunda." Imbuhnya. Membuat mata saskia kembali berkaca-kaca mendengarnya.


" Bunda juga sayang Mas Abbas." Kata Saskia, mengusap lembut pipi putra sulungnya dan tersenyum hangat.


Saskia bangkit dari duduknya, sekali lagi mengusap pipi putranya sebelum melangkah pergi menuju kamarnya.


Pemikiran yang sngat dewasa untuk seusia abbas. Lelaki ramaja itu selalu dii ajarkan ibunya untuk bersabar berbuat baik dan juga mengendalikan kemarahan. Tidak pernah sedikit pun abbas meninggikan suaranya pada ibunya, saat ia sudah mengerti bagaimana sengsaranya seorang ibu memberikan kebahagian dan kehidupan anak-anaknya setelah berpisah dengan ayahnya.


Abbas menghembuskan nafas berat, berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya di atas. Melewati kamar Lintang, terdengar suara isak kecil dari kamar kakak tirinya. Abbas berhenti, menatap kamar yang tertutup rapat. Untuk pertama, ia mendengar suara Lintang menangis.


Dengan keberanian, Abbas membuka pintu kamar Lintang pelan. Kamar begitu gelap, Ia mencari saklar dan menyalakannya. Terlihat Lintang duduk di bawah ranjang, dengan ke dua kaki di lipat, ke dua tangan memeluk kakinya dan membenamkan kepalanya di atas lutut.


Lintang terdiam, tidak lagi menangis saat mendengar suara pintu kamar terbuka dan lampu menyala. Lintang mendongak, tatapan matanya bertemu dengan Abbas. Ia pun menurunkan pandangannya, menghapus pipi yang basah berganti duduk bersila.


Abbas duduk di samping Lintang, menyandarkan tubuhnya dan menatap Kakak iparnya.


" Aku gak sengaja dengar suara tangis di kamar mbak." Kata Abbas. " Ternyata mbak bisa nangis juga ya?" Imbuhnya sambil tersenyum.


Lintang ikut tersenyum, kelopak matanya bengkak hingga membuat matanya terlihat sipit. Saling diam, pandangan menatap pintu kamar tertutup.


" Aku lihat Bunda tadi hampir menangis. Tatapan Bunda sama seperti dulu, saat mengetahui suaminya selingkuh." Kata Abbas memulai bicara terlebih dulu. Terlihat tenang dan tidak marah.


Lintang menoleh, terkejut mendengarnya?


Ibu tirinya menangis?


Apa itu karna perkataan darinya?


Sungguh, Lintang menyesal. Tidak seharusnya ia mengatakan itu semua di hadapan Ibu tirinya. seharusnya ia berbicara berdua dengan ayahnya.


" Bunda gak apa-apa, Bunda pasti tau kalau akan ada masa lalu yang belum usai dari ayah. Bunda juga akan mengerti itu." Imbuhya dengan senyum tipis pada Lintang.


" Maaf Bas, seharusnya aku tidak menceritakan ini di hadapan Bunda. Bunda pasti sakit hati mendengarnya?"


" Gak apa-apa mbak, lebih baik cerita dari pada di sembunyikan. Bunda paling benci itu, mbak tau kan?" Jawab Abbas.


Ya, Lintang tau Bundanya paling benci dengan kebohongan ataupun menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi ingatlah, Bunda tidak pernah membencinya. Entah kenapa, tapi yang pasti Bundanya mengerti tentang dirinya.


Lintang mengangguk, mengusap air mata. Bersyukur, mempunyai saudara tiri bijak dan baik. Tidak menghakimi kesalahannya sendiri ataupun menyalahkannya. Sifat Abbas seperti bundanya, Bijak dan sabar. Ya, meskipun awalnya menyebalkan dan tidak pernah bertegur sapa dengannya.


" Sudah malam, mbak harus tidur. Jangan nangis terus, masalah tidak akan selesai dengan menangis. Besok mbak ada ujian juga?" Ingatkan Abbas.


Ya.. Masalah tidak akan selesai bila menangis, dan tidak tau kenapa Lintang akhir-akhir ini selalu menangis. Mungkin, ia sudah mendapatkan sandaran bahu untuknya berkeluh kesah dan selalu ada untuk dirinya.


" Hhmm, iya." Jawab Lintang tersenyum mengangguk. " Makasih Bas." Imbuhnya, dengan tulus. membuat Abbas ikut tersenyum dan mengangguk.