Our Story

Our Story
menakutkan



" Lapar mbak!" Goda Satya, menahan tawa saat melihat Lintang juga ikut mengambil nasi begitu banyak dari biasanya yang dirinya lihat.


" Enggak!" Ketus Lintang. Cuek dengan Satya yang menatapnya dengan senyum.


Tidak peduli sekali dirinya di lihat Satya seperti itu, entah kenapa dirinya merasa lapar saat melihat lelaki di hadapannya ini makan dengan lahap tanpa mempedulikannya yang di suruh menemaninya tanpa menawarkannya lagi.


Ya begini bila gengsi di besarkan. Ingin menahan lapar, tapi sayang perut tidak bisa di ajak kompromi. Hingga mempermalukan diri sendiri mengambil makanan begitu rakus, tanpa lagi mempedulikan lelaki yang menatap geli.


Sungguh memalukan.


Masa bodoh, yang terpenting perut kenyang. Apa pedulinya, toh bukan pacarnya juga. Meskipun itu pacarnya, Lintang juga akan menjadi diri sendiri menunjukkan sifat asli dan bagaimana kelakuannya. Terima tidak terima itu urusannya, mau tidak mau ya sudah.


Satya tersenyum, ketusnya gadis di hadapannya sangat menggemaskan. Gadis ini tidak pernah menutup-nutupi sifat aslinya, gadis ini apa adanya dan Satya semakin suka dengannya.


" Kalau enggak lapar, kenapa makan?" Kata Satya.


" Pengen nyobain aja masakan Tina, enak apa enggak." Elak Lintang, padahal ia sudah sering makan masakan Tina dan juga lumayan masakan Tina tidak jauh seperti masakannya.


Satya mengulum senyum, gadis di hadapannya masih saja mengelak. " Incip kok ambilnya banyak!" Sindir Satya.


" Ih.. Terserah aku lah! Mau ambil banyak atau enggek. Kok kamu yang repot sih!! Lagian juga pasti habis." Ketus Lintang, masih saja mendapatkan protes dari Satya.


Memang menyebalkan.


" Yakin habis?" Ulang Satya, tidak yakin bila Lintang bisa menghabiskan nasi di piringnya begitu banyak.


Seperti porsi kuli bangunan, tapi masih mending kuli bangunan yang memang harus membutuhkan makanan banyak. Apa lagi minuman dingin akan habis dua teko besar di siang hari.


dirinya saja makan tidak sebanyak Lintang. Ya, memang terkadang khilaf saat bulan puasa saja. Makan begitu banyak dan tidak mempedulikan perut sudah begitu begah dan sulit untuk berjalan.


" Yakin!" Seru Lintang, rasanya juga tidak akan mungkin habis dan baru tersadar bila dirinya mengambil nasi begitu banyak.


Kenapa baru tersadar?


Ah... Bagaimana cara menghabiskannya, sudah terlanjur juga percaya diri bila bisa menghabiskannya. Apa lagi lihatlah, Satya menahan tawa di hadapannya.


Oh... Sial, ini semua karna Satya. Karena lelaki itu sudah menjebaknya untuk tetap duduk di meja makan dan menemaninya yang sedang makan dengan lahap.


Nasi tinggal setengah piring, tapi perut sudah mulai terasa kenyang. Satya masih saja menunggunya, seakan mengawasinya seperti anak kecil yang sulit sekali makan.


Lintang harus menghabiskannya, tidak mungkin kan dirinya berhenti di saat menjawab ucapan Satya dengan percaya diri bila bisa menghabiskan makanannya.


Nasi di piring tinggal seperempat, tapi Lintang sudah tidak kuat lagi untuk menyuapkan nasi di mulutnya. perutnya benar-benar kenyang, dan rasanya sulit sekali bergerak.


" Kalau ambil nasi itu di kira-kira sayang.. Ambil sedikit dulu, kalau masih laper baru nambah lagi. Mubazir, kalau di buang nasinya gini." Tutur lembut Satya, mengambil piring Lintang membawanya di hadapannya, mengambil ayam goreng dan, sambal. mulai memakan makanan Lintang hingga membuat Lintang terkejut.


" Eh.. Jangan di makan!" Seru Lintang. menarik kembali piringnya dari hadapan Satya.


" Kenapa? Mau di buang?" Tanya Satya, sambil menguyah suapan nasi pertama.


" Enggak." Geleng Lintang." Mau aku makan lagi." Imbuhnya, dengan cepat menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Bisa-bisanya nih lelaki makan sisa Lintang tanpa jijik. Hingga membuat Lintang malu sendiri, dan dengan cepat menarik makanannya kembali dari hadapan Satya.


Tidak pantas saja mengasih sisa makanan pada siapapun. Lintang tidak suka itu, lebih baik makan bersama dan menghabiskan bersama. Masih pantas dan hati tak merasa bersalah.


" Aku masih lapar, tolong suapin aku?" Pinta Satya, membuat Lintang mendongak dengan dahi mengerut.


" Suapin... Akh!" Ujar Satya lagi, mencondongkan tubuh dan sedikit membuka bibirnya lebar. Lintang berdecak, kembali menatap piring di hadapannya dan makan tanpa mempedulikan Satya yang masih melihatnya.


" Ambil sendiri sana kalau masih lapar!" Seru Lintang, sedikit rakus untuk makan kembali dan sedikit menjauhkan piringnya dari Satya. Lintang takut bila Satya akan mengambil kembali makanannya.


Satya tersenyum menggelengkan kepala, melihat Lintang menggeserkan piringnya sedikit jauh darinya. Mungkin takut bila ia akan mengambilnya lagi. Tapi juga kasihan Lintang tersiksa dengan makanannya yang belum habis itu.


" Kalau gak mau bagi, aku akan buang makanan itu!" Ancam Satya, Membuat Lintang kembali menoleh kepadanya.


" Aku gak bohong Lintang." Imbuhnya sedikit menekan. dan wajahnya berubah datar.


Bukan Lintang namanya kalau gadis ini takut dengan ancaman. Mata lintng tidak seramah pagi tadi, wajahnya juga tak selembut saat bertemu dengan Satya. Gadis ini berdiri dari duduknya, membawa piringnya dan berjalan menunu tong sampah. Membuang sisa makanan di dalam piringnya dan menaruh piring kotor di tempat pencucian piring serta mencuci tangannya.


Membuka kulkas, mengambil air dingin dan berjalan keluar dari dapur tanpa mempedulikan Satya yang setia menatap pergerakannya.


Satya mendesah, melihat kepergian Lintang. Gadis keras kepala dan pemarah, gadis yang tidak suka di paksa dan tidak takut dengan kata ancaman. Ia salah sudah mengancam Lintang, hingga membuat gadis itu kembali mendiaminya. Sekali lagi Satya mendesah, bagaimana gadis ini bisa di luluhkan dan menurut dengannya.


Susah, sangat susah.


Satya membersihkan meja makan, membawa piring kotornya dan mencuci piring kotor di tempat cuci piring. Ia bergegas menuju ke kamar Lintang, saat ia akan membuka pintu kamar Lintang ternyata kamarnya terkunci dari dalam. membuat Satya menghembuskan nafas.


Ternyata marahnya diam lebih menakutkan.


Dan itu terbukti sekarang, Satya kelimpungan dan takut.


****


" Bik! Aku pulang!" Seru Yasmin suara terdengar lelah. Melangkah masuk ke dalam rumah, dan melihat lelaki duduk di sofa sedang berkutat dengan ponselnya.


" Kak Aiman?" Sapa Yasmin, membuat Aiman mendongak tersenyum dan menaruh ponsel di atas meja.


" Sudah makan?" Tanya Aiman. Mendekat ke arah Yasmin, terlihat jelas wajah kekasihnya begitu lelah. Tapi berusaha di sembunyikan.


" Belum." Jawab jujur Yasmin. " Kakak malam-malam ke sini? Dari tadi?" Tanyanya.


" Barusan. Aku kangen sama pacar kakak." Jawab Aiman tersenyum.


" Mbak Yasmin sudah pulang? Dari tadi mbak? " Ucap Bik Imah, keluar dari kamar ibunya.


" Barusan bik? Mama tidur bik?" Tanya Yasmin, sedikit menggeser tubuhnya dari Aiman untuk melihat Bik Imah.


" Sudah tidur mbak. Bibik siapin makan ya mbak. Mas Aiman dari tadi nunggu mbak, katanya ingin makan bareng sama mbak Yasmin." Kata Bik Imah. membuat Yasmin melirik ke arah kekasihnya.


" Iya bik. Makasih." awab Yasmin. Bik imah melenggang pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan malam anak majikannya yang susah pulang dari tempat kerjanya.


" Ih.. Kakak!" Seru Yasmin, mendapat jawaban bohong saat bertanya pada Aiman tentang kedatangannya.


Aiman tertawa, dan dengan cepat menarik tubuh Yasmin ke dalam pelukannya.


" Tubuhku bau pulang dari kerja." Ucap Yasmin, tapi ia membalas pelukan Aiman menenggelamkan wajahnya di dad* Aiman dan setetes air mata jatuh di pipinya.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃