
Keterkejutan mama dan papanya sudah ia duga selama ini dan ini membuatnya mendesah. Bagaimana tidak terkejut, pasalnya anak bungsunya, yang sudah tidak muda lagi berpacaran dengan gadis bersekolah.
Gadis sma dan baru akan menginjak kelas dua belas. Dalam pikiran mamanya anaknya ini lebih suka wanita yang masih bersekolah dan bisa di sebut sebagai pedovil.
Astaga!
Kenapa anaknya lebih memilih gadis yang masih sekolah, dan kenapa tidak memilih yang sama dengan umurnya. Tidak habis pikir, dimana otak anak lelakinya ini. Apa ia harus senang, atau malah harus marah dengan anaknya memilih wanita yang masih kecil untuk di nikahinya.
Cucunya saja sudah dua, usia cucunya yang paling besar delapan tahun dan yang paling kecil berumur empat tahun. Sedangkan anak perempuannya sudah berumur tiga puluh tahun, selisih lima tahun dengan anak lelakinya. Apa masih pantas anak lelakinya menikahi gadis berumur delapan belas tahun itu?
Dan ia serta suaminya sudah hampir menginjak umur lima puluh tahun. Sepertinya kekasih anaknya itu lebih pantas menjadi anaknya saja. Dan gadis seumuran itu pasti masih memiliki sifat yang berubah-ubah. Takut saja, bila tidak mungkin bisa mengimbangi watak gadis belia. yang tentunya pasti akan banyak percecokan dalam rumah tangga nanti.
" Gadis itu masih sekolah?" Tanya mama.
" Iya ma." Jawab Aiman, membuat mamanya menghembuskan nafas.
" Kamu gak salah.. Pacaran sama gadis yang masih sekolah?" Ucap Mama.
" Apanya yang salah ma? perasaan itu wajar saja." Kata Aiman, sedikit mengangkat bahunya.
" Itu pantasnya menjadi adik kamu.. bukan pacar, Mas!" Seru mamanya. " Jarak umur kamu sama dia lumayan loh Mas.. Apa lagi anak seusia dia masih labil-labilnya."
Ya, memang benar. Umur seusia Yasmin masih terbilang labil dan pendirian belum tetap. Apa lagi bila di ajak berumah tangga, pasti akan ada banyak percecokan dan perselisihan. Belum lagi, terkadang amarah belum bisa terkendalikan.
Tapi, Aiman sudah tau sifat dan perilaku Yasmin selama ini. Tidak ada yang di sembunyikan dari sifat aslinya dan perilakunya tidak seperti gadis-gadis lain. Ya, meskipun sedikit manja bila bersamanya.
" Tapi dia enggak seperti gadis lain Ma? Yasmin gadis mandiri dan baik... Mama pasti suka." Kata Aiman.
Mama Aiman mendesah, menatap anaknya yang sepertinya sudah mencintai gadis bersekolah itu. Ia menatap suaminya yang hanya diam memperhatikannya berbicara dengan Anak lelakinya.
" Ya sudah, terserah mas saja... Bawa pacar kamu ke rumah Mas. Kenalkan mama sama dia. Mama jadi sangat penasaran sekali.. Gimana bisa anak laki mama ini kepincut sama gadis muda." Pasrah mamanya, seakan tidak ada pilihan selain merestui hubungan anaknya dengan gadis bersekolah. Lagia juga tidak ada salahnya dengan perbedaan usia, semoga saja semua berjalan lancar.
Aiman mengangguk antusias tersenyum manis pada mamanya. Ia tidak menduga mamanya seakan mendukung dirinya berpacaran dengan anak sekolah. Dan ia tidak akan di paksa lagi untuk cepat menikah karena kekasihnya masih berstatus pelajar. Padahal dirinya juga sudah siap untuk menikah, meskipun Yasmin masih seorang pelajar.
Dan papa Aiman, masih diam menatap anak lelakinya. Ia tau sekarang, siapa gadis yang di pacarinnya. Papa Aiman kira, Anak dan gadis itu hanya berteman dan Aiman menganggapnya seperti adiknya sendiri. Nyatanya salah, Ia kecolongan, mengetahui kebenaran dari bibir anak bungsunya itu.
Apa Aiman sudah mengetahuinya, atau Aiman tidak tau tentang keluarga gadis itu. Hingga Aiman merasa tidak keberatan menjalin hubungan dengan Yasmin. Tapi, Ini sangat beresiko dan akan ada yang sangat menentang.
Papa Aiman menghembuskan nafas kasar, dan terdengar oleh istri juga anaknya.
" Kenapa Pa?" Tanya Mama Aiman.
" Hhmm, enggak apa-apa ma? Tolong ambilkan minum ma, nasinya masih nyangkut di tenggorokan." Jawab Papa Aiman, dengan cepat mamanya mengambilkan minum memberikannya pada suaminya.
" Mangkanya kalau makan jangan ngelamun dong Pa!" Khawatir Mama aiman.
" Iya?" Jawab papa Aiman dengan senyum.
*****
" Yas!" Teriak Bimo di pinggir jalan, melihat Yasmin dan lainnya yang sudah menutup toko roti.
Yasmin mengedarkan pandangannya, tersenyum saat melihat Bimo tidak jauh dari tokonya.
" Kamu kok di sini? Habis dari mana?" Tanya Yasmin.
" Dari rumah teman.. Udah malam, mamaku pasti sudah ngunci pintu pagar. Aku numpang tidur di rumah kamu ya?" Melas Bimo, membuat Yasmin berdecak.
Sudah biasa bila Bimo pulang malam pasti akan terkena omelan dari mamanya dan juga malas sekali bila harus berteriak-teriak di luar pagar yang terkunci. Mamanya sangat menyebalkan, bila bukan ayahnya yang membukakan mungkin dirinya akan berakhir tidur di luar pagar.
" Ayo cepat pulang. Aku ngantuk ini Yas!" Ajak Bimo.
" Iya, iya!" Seru Yasmin, berjalan menuju motornya yang masih terparkir di depan toko.
Yasmin mengendarai motor terlebih dulu, di ikuti Bimo dari belakang hingga sampai di depan rumah.
Yasmin membelalakkan mata kala melihat mobil Aiman terparkir di depan rumahnya, ia lupa bila Aiman sekarang lebih sering ke rumahnya malam hari setalah ia pulang dari kerja.
" Mobil siapa?" Tanya Bimo, melihat mobil terparkir di depan rumah Yasmin.
Belum sempat menjawab pintu pagar di dorong hingga terbuka lebar. Yasmin dan Bimo menoleh ke belakang. Bimo sedikit terkejut dan Yasmin hanya diam menatapnya.
" Mas Aiman?" Ucap Bimo. " Kenapa malam-malam ada di rumah kamu." Imbuhnya lirih.
" Hai Bim." Sapa Aiman tersenyum.
" Iya mas." Jawab Bimo tersenyum mengangguk.
" Masukkan dulu motor kamu Bim." Perintah Yasmin. memasukkan terlebih dulu motornya di dalam garasi rumah. Bimo sedikit mengangguk kaku, lalu mengikuti Yasmin dari belakang menuntun motornya.
Aiman menutup kembali pagar rumah, dan menatap dua remaja melepas helm serta berjalan menghampirinya.
" Kak Aiman di sini?" Tanya Yasmin dengan wajah terlihat takut.
Ya, Yasmin takut bila Aiman akan mengatakan semuanya pada Bimo. Tentang hubungannya dengan Aiman. Entahlah... Kenapa ia bisa takut seperti ini. Seperti dirinya ketahuan selingkuh, padahal mereka hanya sahabatan saja.
" Bik Imah telpon aku, mama kamu-,"
" Mama? Mama kenapa?" Potong Yasmin cepat, terlihat khawatir mendengar mamanya.
Yasmin berlari cepat masuk ke dalam rumah, Aiman segera mengejarnya di ikuti Bimo dari belakang yang juga sangat khawatir pada Mama Yasmin.
" Mbak Yasmin!" Ucap bik Imah, melihat anak majikannya membuka pintu kamar ibunya begitu tergesa-gesa.
Pintu terbuka, memperlihatkan mamanya yang terbaring di ranjang dengan mata tertutup.
" Mama?" Lirih Yasmin, yang akan berjalan ke arah mamanya. Berhenti saat tangannya di cekal Aiman.
" Mama kamu barusan tenang, sekarang bisa tidur pulas, jangan di ganggu." Larang Aiman, mencegah Yasmin menghampiri mamanya.
Aiman takut, bila nanti mamanya Yasmin akan kembali terbangun dan mengamuk seperti sebelumnya. Yasmin hanya bisa menatap sedikit jauh, mamanya tertidur dengan lelap dan benar, Yasmin tidak boleh mengganggunya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃