
" Dia enggak di jemput? Mau kemana dia." Gumam Satya, menatap kepergian Lintang dengan ojek online berlawanan arah dari jalan yang seharusnya menuju rumahnya.
Satya menyalakan motornya, mengikuti Lintang dari belakang dan sedikit jauh agar tak kentara bila sedang ia ikuti. Lintang sangat jeli, dan jangan mengerti situasi sekitar saat dia merasa sedang ada yang mengintai.
Gadis itu terlalu sulit untuk di dekati apa lagi untuk di untit. Karena Satya pernah mengikuti Lintang diam-diam sampai ke rumahnya dua kali dan pernah juga mendapatkan peringatan dari Lintang dengan tatapan tajam mengerikan. Meskipun begitu Satya tak pernah takut akan peringatan dari Lintang.
Ojek Lintang berhenti, tepat di samping perlintasan rel kereta api. Mengamati Lintang yang memberi uang juga mengembalikan helm pada ojek online. Dan berjalan masuk ke dalam gang kecil perlintasan rel kereta api.
Satya mengikuti Lintang dengan jarak jauh menaiki motornya begitu pelan. Tak mungkin juga dekat, bisa-bisa Lintang akan tau kembali dirinya mengikuti gadis itu yang entah menuju kemana.
Semakin dalam melewati perkampungan kumuh, dan berhenti tepat di rumah sederhana bertulisan ' Rumah kita'. Lintang di sambut gembira oleh anak-anak dari dalam, mengerubuni Lintang dan beberapa memeluk anak kecil memeluk pinggang lintang.
terlihat jelas bagaimana Lintang tersenyum dan tertawa bahagia serta tulus pada kerumbulan anak-anak. Lintang berjalan masuk ke rumah beriringan bersama anak-anak. membuat Satya lebih penasaran hingga memarkirkan motornya di salah satu rumah orang tak lupa mengunci ganda motornya dan berjalan pelan ke arah rumah bertulisan 'Rumah kita'.
" Kita buat kue mbak? Sudah di titipkan beberapa kue ke toko sama warung mbak. Untungnya juga lumayan mbak." Senang salah satu anak perempuan paling besar di antara tujuh anak lainnya.
" Oh.. ya? Waahh... Hebat ini kalian buat kue, minta resep dari siapa?" Tanya Lintang, merasa senang dan bangga dengan anak asuhnya.
" Mbak Tina belajar dari tetangga mbak!" Jawab anak laki-laki berusia enam tahun.
" Mbak Tina hebat! Sudah berapa minggu nitip kuenya di toko sama warung. Terus modal buat kuenya?" Tanya Lintang. Memangku salah satu anak paling kecil perempuan sekitar umur empat tahun.
" Baru satu bulan mbak." Jawab Tina. " Uang yang mbak selalu kirim tiap bulan itu modal buat kita bikin kue."
" Terus kalian gak jajan gitu!"
" Nahan sementara dulu mbak jajannya.. buat demi usaha kecil-kecilan. Kita juga pengen ngeringanin beban mbak Lintang. Kita gak mau nyusahin mbak Lintang terus. Tiap bulan mbak Lintang datang, bawa keperluan makan dan juga uang jajan buat kita." Jelas anak lelaki seumuran dengan Tina bernama Ferdi.
" Jangan nahan-nahan jajan lagi, kalian juga butuh jajan kan. Makannya juga harus teratur, gak boleh lagi ngemis atau ngamen di jalan. Aku gak suka lihat kalian kembali seperti itu lagi." Lintang memperingatkan pada semua anak-anak yang duduk melingkar bersama di alas tikar.
" Iya mbak?" Jawab kompak semua anak-anak asuh Lintang. Membuat Lintang tersenyum dan mencium gemas anak perempuan kecil di pangkuannya.
" Ayo mbak makan siang bersama. Tadi aku sudah masak. Lauknya juga masih ada." Ajak Tina, Lintang mengangguk dan bangkit dari duduk untuk membantu Tina menyajikan makanan di tempat duduk mereka sekarang.
Di luar teras, Satya yang mendengar semua ucapan dari anak-anak asuh Lintang tercengang dan tidak percaya bila Lintang memberikan uang makan dan jajan setiap bulannya pada mereka. Dan lebih tercengang dari mana Lintang mendapatkan uang sebanyak itu untuk menghidupi anak-anak di dalam rumah mungil ini.
Ah.. Jangan tanya. Lintang Anak orang kaya, dan pastinya uang jajan Lintang juga banyak hingga mampu memberikan uang pada mereka.
" Mas siapa?" Tegur Anak laki-laki dari belakang Satya, membuat Satya terkejut dan berbalik menatapnya.
" Oh!!"
" Mas siapa? Kok ada di rumah kita." Tanya kembali laki-laki berumur delapan tahun dengan membawa kotak tranparan putih berisi kue yang mungkin tinggal sedikit.
" Emm.. aku temannya Lintang." Jawab Satya, tak mungkin bila tidak menjawab pertanyaan laki-kali kecil di hadapannya ini dengan wajah penuh curiga padanya. bisa-bisa dirinya akan babak belur bila anak kecil ini berteriak maling.
" Oh...!! temannya mbak Lintang!" Seru anak itu dengan mengangguk-anggukkan kepala. Satya mengangguk dan tersenyum.
" Boni? Siapa?" Tanya Lintang dari ambang pintu, membuat Satya berbalik cepat dan kembali tersenyum lebar menunjukkan gigi putihnya.
" Mas ini teman mbak Lintang ya." Tanya Boni, membuat Lintang menaglihkan tatapannya pada Boni.
" Iya. Masuk dulu sana, Mbak Tina sudah nyiapin makan siang buat kalian." Perintah Lintang, membuat Boni mengangguk tersenyum dan pergi masuk meninggalkan Satya sendiri di hadapan Lintang.
Satya laki-laki yang sudah tiga kali menguntitnya. Dan tak pernah kapok saat Lintang memarahi dan memperingatkannya untuk tidak mengikuti dirinya. Satya sungguh lelaki menyebalkan, membuat dirinya selalu naik darah.
" Lin... Maaf." Ucap Satya dengan dua tangan berbentuk v sebagai tanda perminta maafnya.
" Hii...!!!" Sebal Lintang. " Pulang sana." Usirnya dengan mata melotot.
" Enggak mau." Sahut cepat Satya. " Mau makan, lapar!" Imbuhnya mengusap perutnya. Berusaha bernegosiasi dengan Lintang dan berharap Lintang yang galak mau mengasihaninya. Karna dirinya juga ingin sekali mencoba dekati Lintang.
" Rumah ini bukan warung.. Cepat pergi!" Usir Lintang ketus. Membuat Satya mengerucutkan bibir. Gadis di hadapanya memang gadis pemarah dan juga ketus padanya.
" Mbak? Gasnya habis.. Aku ke warung sebentar beli gas." Kata Ferdi, membawa tabung gas ukuran tiga kilo dan menatap Lintang serta berganti laki-laki di hadapan Lintang.
" Sama aku saja, biar cepat. Ayo." Kata Satya. membuat Lintang menajamkan mata dan Ferdi mengerutkan kening.
" Aku temanya Lintang, satu sekolah juga." Ucap Satya, mengenalkan dirinya pada Ferdi.
" Oh.!!" Angguk Ferdi mengerti.
" Ayo aku antar, pasti sedikit jauh dari sini."
" Iya Mas sedikut jauh."
" Ya sudah ayo. Dari pada jalan kaki, pasti lama." Kata Satya.
" Iya mas. Aku tinggal dulu mbak." Jawab Ferdi mengangguk dan berjalan lebih dulu. Satya kembali tersenyum pada Lintang dan mengacungkan dua jari berbentuk V.
Lagi-lagi Satya membuat ulah seenak jidatnya, dan Lintang hanya bisa menatapnya sebal dengan kelakuan lelaki itu.
Lintang kembali ke dalam rumah, menghembuskan nafas berat bagaimana dirinya bisa kecolongan kembali saat Satya mengikutinya sepulang sekolah.
Kenapa begitu sukanya lelaki menyebalkan itu menguntit dan juga tak lelah mengejarnya. Padahal Lintang sudah sering membentak, mengusir dan juga menghindar darinya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃