Our Story

Our Story
Ungkapan



" Kalau nangis kelihatan sekali jeleknya." Kata Satya, mengusap ke dua pipi Lintang yang basah.


" Biarin, biar kamu gak suka." Jawab acuh Lintang.


" Malah aku semakin suka, gemas juga lihatnya. Ini hidungnya sampai merah banget gini." Sambil memencet hidung setengah lancip Lintang.


Lintang memukul tangan Satya, terbiasa sekali suka menarik-narik hidungnya selesai menangis seperti ini.


" Sakit Satya!" Seru Lintang, membuat Satya tertawa.


" Mangkanya jangan nangis. Ayo pulang." Ajak Satya, memakaikan helm di kepala Lintang.


" Iya iya!" Cibik Lintang sambil memanyunkan bibirnya. Ia pun kembali naik ke atas motor Satya.


" Makan ya, laper?" Ucap Satya.


" Ke tempat biasanya ya.. Aku pengen makan bakso." Pinta Lintang.


" Oke."


Kembali melajukan motornya menuju ke tempat makan favoritnya. Makanan yang tidak ada bosannya bagi Lintang, setelah pulang dari pemakaman ibunya.


Satya pun juga sudah terbiasa mengikuti makanan kesukaan Lintang. Tapi ia tidak seperti Lintang yang suka sekali makan makanan pedas hingga terkadang membuat perutnya sakit dan asam lambung naik.


Sudah di peringatkan berkali-kali, tetap saja Lintang orangnya sangat pembangkang dan tak muda kapok dengan makanan pedas sampai perutnya sakit.


Satya saja sudah ngilu lihat kuah bakso Lintang penuh dengan warna merah akibat sambal tanpa saos atau kecap. Lintang paling tidak suka dengan saos, entah kenapa.


Apapun yang di sukai Lintang dan tidak, Kebiasaan Lintang apa, Satya selalu mengingatnya. Sampai dirinya sudah hafal apa saja yang ada di diri Lintang. Hanya Satya yang tau buruk baiknya gadis itu. Rapuh dan senangnya dari mata gadis yang di sukainya.


Tidak pernah lelah, Satya mengejar Lintang. Dari di tampar, di benci dan perlahan menjadi teman dalam kesepian. Satya selalu mengejarnya, selalu menemaninya. hingga ia tidak tau sendiri kenapa sebegitu menariknya Lintang di mata dan hatinya.


Seperti Lintang sudah mengikatnya dan ada di hati tanpa bisa lagi berpaling dari yang lain. Lintang spesial, hanya Lintang yang bisa membuatnya jatuh cinta.


Satya terkejut, saat dua tangan melingkar di perutnya dan bahu terasa sedikit berat kala dagu gadis di belakangnya menyandar.


Satya tersenyum, tidak bisa menahan rasa senangnya saat gadis di sukainya memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu kekarnya.


Ia tidak memaksa, Lintang melakukannya sendiri dan terasa nyaman dengan pelukan tanpa paksaan.


" Sat, makasih ya." Ucap Lintang, semakin mengeratkan pelukannya dari belakang.


Satya, mengusap lembut tangan Lintang. Sedikit melirik wajah Lintang dari sepion, ia ikut tersenyum melihatnya. Untuk pertama kali suara Lintang terdengar merdu di telinganya, ucapan makasih membuat hatinya berdebar. Antara bahagia karena Lintang memeluknya atau karena gadis itu bersikap manis padanya.


" Mau ke puncak?" Ajak Satya.


" Boleh? Sekarang?" Jawabnya antusias, membuat Satya terkekeh dan menggenggam tangan Lintang yang masih menyetir motor.


" Sudah sore, besok saja. Mau? Kalau sekarang nanti aku di bunuh sama ayah teguh, bawa anak gadisnya ke puncak sore-sore." Kekeh Satya.


" Hhmm, okelah." Jawabnya. Pasrah dengan perkataan Satya.


Ternyata Satya bukan hanya bisa menaklukkan hati Lintang saja, mendekati ayah Lintang pun juga ia bisa. Ya, walaupun awalnya sangat galak kesan pertama saat berkenalan dengan ayah Lintang. Berbagai pertanyaan dan juga intograsi dari Ayah Lintang ia bisa jawab dengan mudah tapi juga setengah gugup. Apa ini yang namanya bertemu calon mertua?


Sejak kapan?


Bukan Satya yang meminta berkenalan dengan ayah Lintang, melainkan ayah Lintang yang meminta Satya bertamu di rumahnya saat tengah malam sedang menunggu putrinya pulang. Satya jelas sedikit takut, pasalnya ia tidak pernah bertamu di rumah Lintang apa lagi bertemu dengan orang tua Lintang.


Ya, meskipun ia sering sekali mengantar gadis yang di sukainya pulang ke rumahnya. Tetap saja, Lintang tidak pernah menyuruhnya masuk ke rumah ibu sambungnya. Mungkin Lintang tau, bila itu tidak akan nyaman baginya. Sudah menampung hidup di rumah ibu sambung, tapi sekarang malah membawa lelaki ke rumah. Sungguh tidak tau malu itu namanya.


Ibu sambungnya tidak pernah melarang Lintang membawa temannya ke rumah, malah seperti bebas Lintang membawa siapa saja. Asal jelas, siapa yang di bawa Lintang ke rumah dan punya sopan santun pada orang tua.


*****


" Kamu mau?" Tanya Aiman, duduk di samping kekasihnya sambil menikmati angin malam di taman mungil depan teras.


" Iya, aku kak." Jawab Yasmin tersenyum.


" Sudah siap?"


" Siap, cuma sedikit takut saja."


"Takut kenapa? Takut orang tua kakak jahat?"


" Tidak kak?" Jawab cepat Yasmin.


Sebenarnya Yasmin juga takut bila orang tua Aiman jahat, tapi ia tidak ingin bilang begitu pada kekasihnya. Gila saja kalau Yasmin mengatakan begitu, padahal ia belum bertemu dengan orang tua Aiman dan bagaimana ia bisa menafsirkan itu.


Gugup dan takut.


Kemungkinan itu yang di rasakan Yasmin di dalam pikiran dan hatinya.


" Terus kenapa takut?" Masih mempertanyakan ketakutan Yasmin, menatap lekat manik mata kekasihnya.


Ada keraguan dan juga ketakutan.


Menghembuskan nafad berat, Yasmin mendongak menatap langit malam.


" Aku cuma takut, orang tua kakak gak akan merestui hubungan kita." Ucap Yasmin. " Kakak tau bagaimana pekerjaan mamaku dulu, gimana keadaan mama sekarang dan bagaimana ekonomi keluargaku. Mustahil bila ada kata restu kak." Imbuhnya.


Kegelisahan itu yang di rasakan Yasmin sekarang. Ya, mustahil mendapat restu dari orang tua Aiman. Apa lagi status mereka berbeda jauh. Antara bumi dan langit. Bila bisa memilih, Yasmin ingin kembali di masa dulu.


Di mana ada Ayah yang mencukupi kehidupan keluarga dan juga bisa membuatnya terasa terlindungi. Bukan hanya itu saja, bebannya juga tidak akan seberat ini. Menanggung semuanya sendiri. Walaupun ada mama, tetap Yasmin tidak bisa memaksanya untuk bekerja atau sekedar keluar rumah.


Mamanya sudah di nyatakan sembuh dari depresi, dan kini hanya masa trauma yang masih menghantui pikiran mamanya. Hingga mamanya sendiri tidak ingin keluar rumah atau bertemu orang asing. Mamanya pun selalu meminta maaf padanya, karena tidaklah bisa menjadi ibu yang baik dan juga bertanggung jawab pada anaknya.


Tidak masalah, yang terpenting sekarang mamanya sembuh dan tidak lagi membuatnya khawatir.


Aiman mengusap rambut Yasmin, ketakutan Yasmin tidak bisa ia salahkan dan juga tidak bisa ia hakimi. Aiman memaklumi keresahan dan juga ketakutan Yasmin. Tapi percayalah, orang tuanya tidak akan memandang rendah orang-orang yang lebih bawah dari keluarganya.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃