
Pada akhirnya Satya dan Lintang memang harus berteduh di tempat yang tidak pernah sekali mereka singgahi. Meskipun beberapa kali selalu di tawarkan oleh jasa ojek, menawarkan penginapan bagi para wisata yang sedang ke puncak.
Motel madam.
Lintang dan Satya bukan remaja yang polos. Mereka tau yang di singgahinya tempat apa, tapi mau bagaimana lagi. Mereka terpaksa harus berteduh di kala hujan mulai turun dan semakin lebat.
" Maaf mas, kamar yang kosong tinggal satu." Ujar lelaki lebih tua dari Satya, sebagai resepsionis.
" Satu?" Ulang Satya dan di anggukkan mantap resepsionis itu.
" Enggak ada lagi Bang?" Tanya satya.
" Enggak ada mas. Kalau mas mau ambil silahkan, kalau enggak mau biar mas itu yang ambil." Terang resepsionis, sambil mata mengarahkan ke tamu yang baru datang bersama pasangannya.
" Kita ambil Bang!" Sahut Lintang cepat.
" Heh!" Terkejut Satya mendengarnya.
Belum sempat melihat pengunjung datang, Lintang sudah memutuskan lebih dulu mengambil kamar yang hanya tertinggal satu. Ia pun juga bingung harus bagaimana. Yang dia inginkan dua kamar, tapi yang ada hanya Satu.
Apa ini keberuntungan atau musibah.
Membawa anak orang dan di inapkan di tempat sangatlah terlarang.
Apa dirinya bisa menahan hawa panas di tempat terlarang ini. Apa lagi hawanya sangatlah mendukung. Hujan melanda, dan kehangatan sangat di perlukan.
" Oh.. Tuhan. Tolong jauhkan nafsu dan pikiran kotorku." Gumam Satya dalam hati.
" Oke mbak. tiga ratus sehari ya mbak." Kata resepsionis.
" Biar aku saja Lin yang bayar." Cegah Satya yang tersadar saat Lintang mengambil dompet dalam tasnya.
" Ya sudah bayar Sat." Kata Lintang. Kembali menaruh dompetnya di dalam tas, dan mulai melihat luar motel yang semakin deras hujannya.
Setelah membayar dan mendapatkan nomer kamar inap di lantai dua. Satya berjalan terlebih dulu, di ikuti Lintang dari belakang. Dan melihat-lihat kanan kiri dengan pintu kamar tertutup rapat.
Seperti tempat kost, ukura kamarnya juga sama. Di dalam kamar juga terdapat kamar mandi. Mirip dengan hotel, hanya saja di motel tidak ada pendingin ruangan. Hanya ada kipas angin, tv yang tertancap di dinding. Tempat tidurnya juga tidaklah terlalu luas, cukup untuk berdua. terdapat kursi dan juga meja di sudut ruangan.
Satya menjadi canggung saat Lintang masuk ke dalam kamar yang di sewanya. Lintang berjalan ke arah tirai yang tertutup, menyibak tirai dan memperlihatkan pemandangan di luar jendela. Awan gelap, di sertai angin kencang serta hujan semakin deras, seakan dirinya dan Satya di larang untuk pulang ke kota.
Menghembuskan nafas panjang, niat ingin berlibur malah terkurung di tempat keramat bagi para kekasih yang ingin mencari kehangatan tanpa adanya gangguan.
Menyedihkan
Lintang kembali menutup tirai, berbalik badan dan melihat Satya yang masih berdiri di belakang pintu yang tertutup.
" Kenapa?" Tanya Lintang mengerutkan kening.
" Kenapa apanya?" Tanya balik Satya.
Ia juga bingung harus bagaimana, ini sungguh membuatnya gugup sendiri. Padahal sudah sering sekali Satya keluar masuk ke kamar Lintang yang berada di rumah singgah. Hanya saja di rumah singgah pintu kamar Lintang selalu terbuka hingga tidak membuatnya canggung seperti ini sekarang.
Tapi lihatnya di Motel Madam, pintu harus tertutup. hujan dan hawa dingin mulai menusuk tulangnya. Di tambah lagi pikiran kotor Satya mulai menghantui otaknya.
Sungguh, satya bukan lelaki remaja lagi. Yang tidak tau apa-apa tentang suasana dan tempat seperti ini. Tapi lihatlah, Lintang seakan tidak takut dan gugup bersamanya. Lintang terlihat santai, tanpa beban dan seperti biasa.
" Malah tanya balik sih! Kamu itu kenapa di situ dari tadi sat! gak capek apa berdiri terus." Seru Lintang. Menaruh tas ransel di atas meja dan berjalan menuju ranjang.
Bila sudah menemukan kasur empuk, Lintang tidak akan menyia-nyiakan punggungnya. Ia pun merebahkan diri di atas kasur dengan kaki yang masih menyentuh lantai.
" Hah.. Enaknya!" Gumam Lintang, memejamkan mata sesaat.
" Gak usah canggung kayak gitu Sat! Kita di rumah singgah juga pernah gini kan di kamar." Terang Lintang, jengkel sekali melihat perubahan Satya.
" Udah biasa aja, anggap juga ini seperti rumah singgah. Walaupun kamar ini penuh dosa." Enteng Lintang. kembali duduk melepaskan sepatu dan kembali lagi merebahkan tubuhnya dengan benar di atas kasur empuk berukuran sedang.
" Aku ngantuk, kalau kamu mau tidur tidur saja. masih muatkan, guling di tengah sebagai penghalang. Jadi aman, Gak akan aku perk*sa kamu, tenang saja."
" Astaga! Lintang!" Saut Satya. Frontal sekali ucapan gadisnya.
Seharusnya Lintang yang takut dengannya, secara dia lelaki normal dan bisa melakukan kapan saj. Tapi malah dirinya di buat tercengang dengan ucapan Lintang.
Tidak menghiraukan seruan Satya, Lintang meringkukkan tubuhnya menghadap Satya yang duduk di sofa sambil memejamkan mata. Ia tidak peduli Satya mau duduk sofa terus menerus atau pindah ke kasur.
Satya menatap Lintang. Tidak ada berubah sekali saat bersamanya, semua selalu di tunjukkan padanya. Satya hanya bisa menggelengkan kepala, melihat kelakuan gadis yang di sukainya.
Sayup-sayup terdengar suara rintihan wanita ketika kamar Satya begitu sunyi. Dan suara rintihan semakin jelas dan semakin vulgar, membuat Satya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.
" Apa seenak itu sih, suaranya sampai kayak gitu!" Ucap Lintang. masih memejamkan mata tanpa mau membukanya.
Yang semula mengantuk berat kini malah terjaga karena mendengar suara aneh dari kamar sebelah. Yang membuatnya sedikit merinding.
" Hah!" Satya, menatap Lintang.
Satya berpikir Lintang sudah tidur dan tidak akan mendengar suara wanita yang merintih di atas kasur. Tapi nyatanya? Gadisnya belum tertidur dan bisa mendengar suara rintihan dari kamar sebelah.
Oh.. Ya Tuhan!
" Tutup telinganya Lintang!" Perintah Satya.
" Ngapain! Udah kedengeran dari tadi. Gak perlu di tutup juga telingaku."
" Astaga! Lintang, tutup telinganya." Perintah Satya lagi, geram dengan gadisnya yang selalu menolak akan perintahnya.
" Enggak mau." Jawab Lintang.
Toh, dia tidak peduli dengan suaran rintihan yang sialan itu sampai terdengar di kamar dan telinganya.
Kenapa suara itu keras sekali!
Apa senikmat itu!
Dan kenapa tidak bisa di pelankan suara keramat itu!
Lintang bergedik ngeri, semakin memejamkan mata dan mengeratkan tangan yang bersendekap di dada.
Lintang terkejut, saat ada tangan yang menutup telinganya. Dan tubuh itu berada tepat di belakangnya.
" Sat-,"
" Diem Lintang." Tegas Satya, Mengunci tubuh gadisnya dengan satu kaki menompang di atas tubuhnya dan tangan semakin erat menutup telinga Lintang.
Tidak peduli dengan posisinya sekarang, Satya mendekap tubuh Lintang dari belakang.
" Aku enggak ingin telinga kamu ternodai dengan suara sialan itu Lin!" Ucap Satya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃