
" Kamu pagi sekali ke sini? Nanti di cariin orang tua kamu gimana?" Kata Lintang.
keluar dari kamar inap setelah Tina selesai sarapan dan kini bergantian dirinya yang akan sarapan sebelum Tina pulang ke rumah singgah untuk mengambil keperluannya dan juga melihat adik-adiknya. Serta meminta Tina untuk istirahat dan kembali malam nanti. sebelum dirinya pulang bergantian hingga esok sore datang lagi ke rumah sakit.
Ya, hanya dirinya dan Tina yang kini hanya bisa menjaga Ferdi bergantian. Tidak mungkin meninggalkan Ferdi di saat kaki Ferdi belum pulih sepenuhnya.
Untuk masalah anak-anak rumah singgah pun, Sepulang sekolah ia akan ke rumah Singgah. membelikan kebutuhan dapur dan juga melihat keadaan anak-anak singgah sebelum bergantian dengan Tina.
Lelah, pasti. Tidak masalah yang terpenting Ferdi tidak terlantar sendiri di rumah sakit. Soal bagaimana menghadapi ke dua orang tuanya, Itu urusan nanti belakangan. Sudah kebal bagi Lintang di marahi ayahnya, Kalau soal bundanya ia akan mengajak kerja sama bersama yasmin. Meskipun berdosa karna sudah membohongi ke dua orang tuanya.
Dosa, bisa ia tanggung sendiri. tapi dosa Yasmin, tidak mungkin bisa ia tanggung. Biarlah... Sekali-kali mengajak temannya untuk berdosa, dosa pun juga demi kebaikan. Ya, walaupun ia tahu tidak ada kebaikan dalam dosa.
Menyedihkan?
" Sudah minta ijin tadi sama mama, kalau keluar mau nemuin calon mantu." Jawab Satya, duduk di samping Lintang dengan senyum lebar.
" Dih!!" Decak Lintang, memutar mata bola malas. Lintang membuka sebungkus nasi. Nasi campur lauk ayam, sungguh menggiurkan membuat perut terasa lapar.
" Tinggal dua, satunya buat siapa?" Tanya Lintang.
" Aku."
" Ya sudah ini makan, jangan liatin aja." Ketus Lintang. mengambil bungkusan nasi di dalam plastik, memberikannya pada Satya.
Lintang yang akan menyuapkan makanannya ke dalam mulut melotot sempurna saat Satya menuangkan nasinya di atas nasi punya dirinya.
" Mau makan berdua? Biar romantis. gak apa gak pakai piring, kertas minyak juga Sho swuuitt!!" Kata Satya, mengerlingkan sebelah matanya tepat di depan Lintang yang masih melototkan mata.
Satya sudah menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya, Sedangkan Lintang menatap sebal lelaki seenak jidat menuangkan sebungkus nasi ke dalam makanannya. Lintang menghembuskan nafas sabar, berusaha tidak terprovokasi dengan tingkah jail Satya yang membuatnya ingin mengumpat kasar dan juga menabok wajahnya dengan sambal.
Lintang mulai memakan, satu kertas makan warna coklat untuk berdua. Dengan nasi dan lauk begitu menggunung di atasnya, tidak peduli sekarang banyak perawat, ob, atau penjaga pasien menatap dirinya dan Satya makan dengan porsi begitu menggunung.
Sungguh Satya membuatnya malu, tapi rasa lapar mengalahkan rasa malu itu di wajahnya. Tidak peduli, urusan perut nomer satu sekarang dari pada dirinya yang akan sakit dan tidak bisa menjaga Ferdi.
" Mau di suapin kayak ferdi." Kata Satya, membuat Lintang kembali mendongak melototkan mata.
Kini matanya sangat lebar sekali, sebelum pelototan pertama. Rasa ingin menelan Satya hidup-hidup, lelaki di hadapannya ini sungguh membuatnya semakin naik darah dan mati secara mendadak.
" Mau di suapin Lin?" Sekali lagi satya mengucap, sambil tersenyum lebar.
" Mau di suapin?" Tanya Lintang, berusaha sabar dan tersenyum manis. Satya mengangguk antusias dan membuka mulut sedikit lebar.
Menggelikan.
Lintang yang tak kehabisan akal dan juga sudah dongkol hatinya. Ia mengepalkan nasi di atasnya di berikan sambal dan juga satu lombok utuh serta lauk tempe saja. Satya yang melihat tentu saja menutup mulutnya kembali, meneguk seliva saat Lintang mengepalkan nasi dengan sambil begitu banyak dan mengulurkan tangannya padanya.
" Ayo buka mulutnya." Perintah Lintang.
" Lin.. Itu sambalnya kebanyakan!" Kata Satya.
" Ini sambalnya cuma dikit, itu sambalnya masih banyak. Mau di tambahin lagi?" Jelas Lintang. Mata menunjuk tumpukan sambal di ujung kertas yang tersisihkan olehnya.
" Tapi itu banyak loh Lin!" satya sambil menggelengkan kepala pelan.
" Enggak mau? Padahal aku sudah baik, mau nyuapin kamu." Ucap Lintang menundukkan pandangan seolah-olah sedih karna Satya menolak suapan darinya.
" Ya sudah, Aa.." Pasrah Satya, membuka mulutnya kembali lebar.
Lintang yang melihat wajah Satya pasrah tersenyum lebar, tidak sia-sia dirinya mencoba akting manja. Padahal ia tidak pernah sekali alay seperti ini di hadapan lelaki, rasa ingin muntah. Ingin memaki diri sendiri, karna geli.
Satu suapan nasi mendarat di mulut Satya, walau pedas tapi sangat manis karna Lintang menyuapinya dengan senyum lebar.
Oh.. Astaga! Menggelikan.
" Enak?" Tanya lembut Lintang, wajah Satya merah padam menahan pedasnya sambal di dalam mulutnya.
Hanya mengangguk pasrah dan menelan nasi begitu cepat. Agar bisa segera meminum air menghilangkan panas di tenggorokan. Sungguh, lebih panas dari judesnya Lintang!
Merasa tak tega, Lintang segera membuka tutup botol air minum. Memberikan pada Satya, dan lelaki itu meminumnya hingga setengah botol.
Bibirnya jelas merah sekali, mulut seperti terbakar. Ini untuk ke dua kali ia makan super pedas. Padahal bila di lihat juga tidak terlalu pedas sekali, hanya saja dirinya tidak bisa makan-makanan pedas dari dulu. Dan pastinya akan meninmbulkan... Ah!! Semoga saja tidak.
Malu, bila Lintang tau kelemahannya.
Seperti kepanasan, Satya berusaha membuka mulut sambil mengeluarkan tiuapan. Rasanya seperti terbakat air panas. Lintang kembali mengulurkan tangannya berisi nasi putih dengan lauk ayam ke hadapan Satya. Tentu saja Satya diam menatapnya, ada rasa takut bila Lintang kembali memberikan sambal padanya.
" Ini enggak ada sambalnya... Ayo cepat buka mulut!" Perintah Lintang ketus. Sedikit ragu, tapi melihat wajah Lintang kembali galak membuatnya percaya bila gadis ini tidak akan mengerjainya.
Lintang tidak membohonginya, tidak ada sambal dalam nasinya. Beberapa kali Lintang menyuapinya hingga tidak terasa nasi di atas kertas coklat sudah tandas di makan berdua, dengan Lintang yang menyuapinya.
Sungguh, aji mumpung.
Tak apalah sekali merasakan derita sambal, yang terpenting bisa di suapin Lintang.
Romantiskan?
Tapi tidak untuk Lintang.
" Habis ini kamu mau pulang?" Tanya Satya, selesai mencuci tangan di wastafel dalam ruang inap Ferdi dan duduk kembali berdua dengan Lintang di luar.
" Enggak, nanti sore. Biar Tina dulu yang pulang istirahat, kasihan semalaman jagain Ferdi. sedangkan aku tidur pulas di sini." Jawabnya.
" Kamu tidur? Di luar? Sendiri? " Ulang Satya, terkejut mendengarnya. Sedangkan semalam Lintang bilang akan tidur di dalam ruang inap bersama Tina, Nyatanya gadis ini berani sekali tidur di luar.
Lintang hanya mengangguk, tidak mungkin juga bilang bila dirinya tidak tidur sendirian di. luar. Kekasih sahabatnya menemaninya, malah ia bersandar di bahu Kekasih sahabatnya.
Menjijikkan.
Tidak perlu di ingat lagi.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃