Our Story

Our Story
Kabar baik



" Kamu sudah punya pacar Ai?" Tanya Wanita itu yang melamar Aiman bersama ke dua orang tuanya.


Tidak punya malu, seorang wanita melamarnya lebih dulu. Dan lebih parahnya, membawa ke dua orang tuanya ke rumahnya, bertemu dengan mama dan papanya.


Ralat.


Orang tua wanita itu mengenal baik orang tuanya dan wanita itu belum tau tentang identitasnya yang selama ini di sembunyikannya. Bila bukan orang tua wanita itu yang menunjukkan identitas aslinya. Dan menginginkannya sebagai menantu dan besan orang kaya.


Cih.. Selalu saja serakah.


" Ya, aku sudah mempunyai pacar." Jawab Aiman tegas. Membuat wanita di depannya itu menggeleng tak percaya.


Aiman sudah mempunyai kekasih, dan sudah bisa melupakannya. Selama ini ia kira Aiman tidak akan melupakannya dan pasti tetap akan mau berhubungan kembali dengannya. Ternyata dugaannya salah, rasa percaya dirinya begitu hilang saat mengetahui Aiman mempunyai kekasih dan membuang namanya dari hatinya.


Seualas senyum terbit di bibirnya, Tidak mungkin Aiman membuang namanya di hatinya. Aiman masih mencintainya. Ya, masih mencintainya. Itu terlihat saat mereka pernah berciuman dan juga beberapa kali keluad bersama. Aiman masi mempunyai rasa padanya, dan tidak mungkin memilik pacar. Itu hanyalah akal-akalan Aiman saja, agar tidak mau menerima lamaran, karena masih marah padanya. Ia tidak akan mau lagi kehilangan Aiman, apa lagi ia sudah mengetahui status keluarga Aiman yang tidak peenah ia tau waktu dulu masih berpacaran dengannya.


" Siapa pacar kamu Aiman?" Tanya papanya menatap putranya lekat.


Ia tidak pernah mendengar putranya berpacaran lagi, setelah putus hubungan dengan gadis di hadapan putranya itu. Yang ia tau, hanya gadis masih berstatus pelajar sering sekali menghabiskan waktu bersama Aiman dan mereka tidak pernah menjalin kasih. Hanya berstatus teman, atau Aiman menganggapnya hanya adiknya saja.


" Ada Pa? Tapi, Belum saatnya aku ngenalin dia ke papa sama mama." Ucap Aiman.


" Kamu berbohong ya Ai?" Sela wanita di hadapan Aiman. membuat Aiman menoleh dan setsenyum miring.


" Buat apa aku berbohong.. Marsya!" Tekan Aiman, menatap cemooh mantan kekasihnya.


Marsya diam menatap manik mata Aiman yang telah berubah dan tak selembut dulu saat mereka masih menjalin kasih.


Ya, keluarga wanita yang melamarnya dan orang tua yang ingin menjodohkannya dengan putrinya itu adalah mantan kekasih Aiman dulu. Mantan kekasih yang pernah ia cinta sebelum Aiman di tinggal begitu saja oleh Marsya. Dan membuatnya sangat marah, hingga tidak ingin lagi mengenal cinta.


Tapi ternyata, seiring waktu berjalan. Selalu bersama dengan gadis pelajar, ada tumbuh rasa yang sulit sekali di artikan sebagai adik. Aiman kira ia tidak akan jatuh cinta dengan Yasmin, ternyata ia salah. Aiman merasa nyaman, senang dan sayang dengan gadis yang masih duduk di bangku sma itu.


Aiman jatuh cinta dengan Yasmin, entah sejak kapan. Mungkin, bila tak ada terjadinya dulu saat Yasmin memergokinya berciuman dengan mantan kekasihnya. Mungkin... Ia akan tetap mennyembunyikan perasaan cintanya pada Yasmin.


Awalnya ragu untuk jatuh cinta dengan Yasmin, karna jarak umur terpaut lebih banyak. Yasmin juga masih pelajar dan juga masih harus mengejar cita-citanya dulu. Tidak mungkin, Aiman harus menunggu gadis itu lebih lama. Pasalnya ia juga harus menikah, usianya juga sudah hampir menginjak dua puluh enam tahun, dua bersaudara.


Aiman anak bungsu, mempunyai kakak perempuan yang sudah menikah dan mempunyai dua anak.Sedangkan dirinya masih menyendiri, menikmati harinya tanpa seorang kekasih. Hingga itu, ke dua orang tuanya mengira Aiman mempunyai kelainan setelah di tinggal mantan kekasihnya. Mamanya takut bila Aiman berbelok, tidak seperti Papanya terlihat Santai tidak mungkin anaknya berbelok. Apa lagi Aiman seperti dirinya, yang sulit jatuh cinta dan sekali jatuh cinta tidak akan pernah di lepaskan.


" Kita selesaikan makan dulu?" Tegur mama Aiman. Sebenarnya mamanya juga ingin bertanya lebih pada putranya itu, Tapi... di hadapannya ini masih ada tamu dan terlihat wajahnya tak secerah pertama kali menginjakkan kaki di rumahnya membahas perjodohan.


" Habis ini kita bisa ngobrol lagi di depan. Iya kan, jeng?" Imbuhnya dengan senyum.


" Ah.. Iya buk?" Jawab Mama Marsya, membalas senyumannya dengan paksa.


Marsya menatap sebal Aiman. Aiman hanya menatap sinis dan kembali makan dengan tenang. Tidak mempedulikan Marsya yang menatapnya, Aiman hanya mengaggapnya angin berlalu.


****


" Yas, bunda ku bilang masih butuh pegawai satu orang. Kamu mau?" Tulis pesan Lintang.


" Iya, aku mau Lin. Kapan aku bisa kerja?" Balas Yasmin. duduk di ranjang, tersenyum lebar saat ia mendapat kabar gembira dari sahabatnya.


Ya, ini harapan Yasmin yang di tunggu-tunggu dari Lintang. Yasmin begitu senang mendapatkan pekerjaan dari Lintang.


" Besok siang aku antar ke toko Bunda, ketemu saja kamu sama bunda. Kapan bisa mulai kerjanya."


" Tapi apa gak apa-apa Lin, aku kerja minta siang hari? Aku takut nanti bunda kamu marah." Tulis Yasmin.


Sedikit ragu dan takut bila nanti ibu sambungnya Lintang tidak jadi menerimanya karna statusnya masih palajar. Dan lagi, pekerjaannya tidak bisa di rolling oleh pegawai lain.


" Gak apa-apa katanya, yang peting giat kerjanya." Jawab Lintang.


" Makasih Lintang sayaaanggg. Cinta cinta kamuuu." Balas Yasmin dengan senyum mengembang.


"Cih... Najis!" Balas Lintang, dan membuat Yasmin tertawa.


Terima kasih Tuhan." Ucap Yasmin dalam hati. Bersyukur ia tidak mencari kerjaan ke sana kemari, dan bersyukur mendapatkan pekerjaan yang di inginkan.


Kini masalahnya tinggal dua, Siapa yang akan menjaga Mamanya dan bagaimana harus mengistirahatkan bik Imah. Ia takut mengucapkan kata-kata perpisahan pada Bik Imah dan juga takut ia tidak bisa memberikan pesangon cukup untuk Bik Imah yang sudah lama bekerja dengan keluarganya.


Menghembuskan nafas perlahan, berjalan menuju lemari, membuka laci kecil yang terkunci dan mengambil Amplop coklat di dalam laci. Menatap Amplop coklat sedikit tebal.


Apa sebanding pesangon ini untuk Bik Imah? Rasanya tak sebanding dengan bik Imah yang sudah belasan tahun bekerja di rumahnya dan merawatnya hingga besar. Yasmin takut, uang di amplop ini tidak akan cukup rasa terima kasihnya pada bik Imah.


Sepuluh juta." Gumam Yasmin. mendesah, menutup mata mencoba mencari keberanian untuk berbicara pada Bik Imah.


Yasmin berjalan keluar kamar, menuruni anak tangga dan melihat Bik Imah keluar dari kamar mamanya dengan membawa nampan berisi piring kotor.


" Bik Imah.. Mama sudah makan?" Tanya Yasmin, membuat Bik Imah menoleh menatapnya.


" Sudah mbak Yasmin. Makanannya habis?" Jawab Bik Imah tersenyum. Membuat Yasmin mengangguk tersenyum.


" Emm.. Bik. Aku ingin bicara sama bibik, Ayo duduk di sana ya Bik." Ucap Yasmin, menunjuk sofa ruang tamu.


" Bibik taruh ini dulu ya mbak?" Kata Bik Imah, membuat Yasmin mengangguk dan berjalan terlebib dulu menunggu Bik Imah di sofa, sambil memikirkan bagaimana caranya berbicara yang benar.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃